
"Tuan, anda tidak akan bisa menyimpan makhluk besar itu sendirian. Seluruh dunia akan segera mengetahuinya."
"Dokter mengancamku?" balas kakek bertanya.
Dokter itu diam, ia ciut mengingat saat ini kakek dijaga oleh orang-orang hebat dan setia padanya. Ia pun diam dan pergi meninggalkan kakek.
Saat dokter itu pergi, kakek menemui Ketua Tim saat pencarian Cresen.
"Pak, Musa Paradisiaca boleh kita bicara sebentar?"
"Tentu, Tuan apa yang ingin anda bicarakan?"
Sesaat mereka pun mencari tempat yang aman untuk berbicara empat mata. Lalu melanjutkan obrolan mereka.
"Aku ingin membawa cucuku dari tempat ini secepatnya. Dan mengembalikan wanita besar itu ke asalnya. Aku tidak ingin ia menjadi korban dari keserakahan manusia gila kekayaan tersebut."
"Baiklah kalau begitu kami akan segera mempersiapkan pesawat untuk mengembalikan wanita itu ke hutan."
Musa Paradisiaca segera memanggil anggota timnya. Menanyakan kondisi pesawat mana yang siap untuk melakukan perjalanan jauh. Dan tentunya membuat sedikit perombakan dalam pesawat agar Oryza Sativa merasa nyaman saat di perjalanan. Sementara kakek pergi melihat cucunya.
"Cresen... bagaimana kondisimu?" tanya kakek setelah tiba di ruangan cucunya.
Saat itu Cresen sedang memperlihatkan kehebatan benda pipih di tangannya. Dengan laptop ia mengajarkan dan mengenalkan banyak hal pada Oryza Sativa. Dan tentu saja itu membuat mama angkatnya sangat kagum.
Cresen mulanya hanya bermaksud untuk menghibur Oryza Sativa dengan memperlihatkan hewan-hewan yang diedit bisa menari dan menyanyi. Membuat Oryza Sativa meminta Cresen untuk mengeluarkannya dari laptop agar bisa ia letakkan di atas telapak tangannya.
"Hahaha itu tidak bisa, hewan ini hasil sihir!" seru Cresen. Ia tahu kalau Oryza Sativa tidak akan bisa mengerti walau dijelaskan saat itu.
Kakek yang baru saja tiba melihat kedekatan mereka. Ia terdiam sejenak dan berjalan dengan perlahan. Saat tiba di tepi ranjang Cresen ia pun meletakkan telapak tangannya pada pundak kiri anak itu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya kakek. Cresen menoleh dan tersenyum.
"Belum pernah aku merasa senyaman ini sebelumnya. Aku bahkan merasa kalau aku bisa hidup seribu tahun lagi," kata Cresen. Kakek memeluknya lembut dari samping.
Ucapan Cresen terasa menyedihkan buat kakek. Sebab ia tidak yakin kalau jantung Cresen bisa bertahan lama. Mengingat jantung buatan putranya saja tidak bisa bertahan lama.
"Aku penasaran, bagaimana para dokter memperbaiki jantung cucuku?" batin kakek seraya melepas pelukannya. Dan menatap Cresen dalam-dalam.
__ADS_1
"Ada apa kakek?" tanya Cresen.
Melihat wajah serius kakek, Cresen menggeser laptop di tangannya dan menyerahkannya pada Oryza Sativa. Dengan semangat wanita itu menerimanya dan menikmati tontonan yang ada di sana.
"Cresen, bisakah kita bicara empat mata?" kata kakek. Cresen menatap kakek dengan memicingkan matanya lalu, menoleh pada mama angkatnya.
"Dia tidak akan paham ucapan kita," ujar Cresen pelan.
Oryza Sativa yang sadar diperhatikan sesaat oleh Cresen menoleh sebentar dan tersenyum. Lalu lanjut menonton dengan asik.
"Kami akan mengembalikannya ke tempat aslinya. Bagaimana menurutmu?" tanya kakek. Cresen terdiam.
"Jika kita membiarkannya berlama-lama di sini, dia bisa berada dalam bahaya," lanjut kakek. Seketika ia mengingat tawaran para dokter.
"Apa harus secepat itu?" tanya Cresen. Ada rasa tidak rela dalam nada bicaranya.
"Memangnya apa lagi yang kamu tunggu. Kamu akan menjalani masa pemulihan di rumah saja. Dan wanita itu akan segera dikirim. Sebab keadaannya baik-baik saja. Semua keputusan ada di tanganmu. Tapi pikirkan demi kebaikan dan keamanannya."
Cresen menghela napas. Dan akhirnya menyetujui rencana kakek memulangkan Oryza Sativa secepatnya.
"Sayang sekali. Padahal aku belum mengajaknya berkeliling kota," batin Cresen.
"Bawa ia ke rumah sebelum mengantarnya pulang," lanjut Cresen. Kakek mengangguk.
"Cresen, dari mana laptop itu berasal?" tanya kakek.
"Oh, itu. Seorang perawat memberikannya padaku untuk mengisi waktu luang. Aku_ " ucapan Cresen terhenti saat melihat kakek waspada.
"Tidak, tidak ada apa-apa," ujar kakek. Ia tidak ingin cucunya was-was.
Musa Paradisiaca datang lalu mengabarkan kalau butuh dua hari lagi agar pesawat yang dimodifikasi selesai dan siap untuk terbang jauh. Kakek mengangguk dan mengatakan pada Ketua Tim saat pencarian Cresen kalau mereka akan segera pulang.
Kakek mengajak Musa Paradisiaca untuk pergi ke luar. Sebab ia merasakan sesuatu yang mencurigakan. Lalu mereka membahas cara membawa Oryza Sativa ke rumahnya.
Sementara itu Oryza Sativa masih asik menyaksikan vidio lucu yang sama. Cresen tidak tertarik untuk ikut bergabung. Dan memilih berbaring di ranjangnya sambil memperhatikan reaksi yang ditampilkan oleh Oryza Sativa.
Oryza Sativa yang terlihat santai tiba-tiba menjadi membeku. Cresen mengernyitkan keningnya dan bangkit duduk. Lalu melihat Oryza Sativa yang menatap layar laptop dengan serius. Wajahnya terlihat khawatir.
__ADS_1
Lalu ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Dan menyaksikan proses melahirkan tersebut dengan ditutupi selimut pula
"Memangnya apa yang ia tonton?" batin Cresen.
Cresen segera turun dari ranjangnya dan menghampiri Oryza Sativa hendak mengambil laptop. Niatnya untuk menganti tontonan di laptop tersebut. Tapi Oryza Sativa bahkan melarang Cresen membuka selimut agar tidak melihat tayangan di laptop itu.
Hal itu justru makin membuat Cresen mencoba menyibak selimut yang menutupi Oryza Sativa. Juga ingin tahu vidio apa yang dilihat mama angkatnya pada laptop di tangan Oryza Sativa.
"Jangan... kamu tidak boleh lihat," kata Oryza Sativa tiba-tiba menyembulkan kepalanya saja.
"Huh... apanya yang tidak boleh dilihat?" tanya Cresen dalam hati.
Setiap ia mencoba mendekat Oryza Sativa pasti mendorongnya dengan pelan. Cresen hanya bisa menebak dari suara vidio. Suara jeritan wanita. Lalu ia mendengar suara bayi.
"Vidio apa itu?" batin Cresen. Tapi ia hanya duduk diam di ranjangnya.
Lalu Vidio berubah lagi secara otomatis. Oryza Sativa terlihat melakukan sesuatu di dalam selimut. Dan kemudian keluar dari selimut. Wajahnya tampak bingung. Lalu ia membuka selimut, dengan hati-hati. Kemudian ia seperti sedang mencari sesuatu.
"Ada apa?" tanya Cresen.
"Cari apa?" tanya Cresen lagi saat Oryza Sativa tampak seperti sedang mencari.
"Bayi...," jawab Oryza Sativa.
Cresen menghela napas dan menepuk jidad.
"Padahal tadi bayinya ada di dalam. Tapi tiba-tiba hilang. Aku rasa bayinya terjatuh," kata Oryza Sativa menatap bagian belakang laptop.
"Tapi kotak tipis ini tidak berlubang," kata Oryza Sativa menyentuh dagunya dengan jari telunjuk dan jempol.
"Hah gawat! Jadi bayinya hilang? Bagaimana kalau nanti terinjak?" tanya Cresen mengerjai mama angkatnya.
Oryza Sativa membelalakkan matanya dan dengan cepat turun dari ranjangnya. Melihat bagian bawah tempat tidur. Memeriksa selimut, barangkali bayi yang ia lihat menempel di sana, pikirnya. Tapi tidak ada apa-apa di sana.
"Hahaha... Oryza Sativa... tenanglah... bayi itu hanya sihir. Dia tidak sungguhan. Tidak perlu mencarinya." Dengan cepat Cresen pun menenangkan wanita yang berbadan besar itu.
Oryza Sativa menghela napas dengan lega. Lalu ia mengambil laptop secepatnya saat melihat Cresen hendak mengambil benda pipih itu.
__ADS_1
"Hei... baiklah... pakai saja sesukamu," kata Cresen. Lalu ia mundur dan duduk kembali di ranjangnya.