Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Pendatang dan Penduduk Pulau


__ADS_3

"Lalu bagaimana sekarang?" tanya yang lain.


"Kita tunggu saja."


Ketiga orang bertubuh besar kembali pada ketiga orang tim pencari. Lalu mereka menggendong tim pencari dan membawa mereka keluar lorong.


"Lepaskan teman kami!" ujar tim pencari Cresen yang ada di luar.


"Siapa lagi mereka?" tanya salah satu penduduk asli pulau tersebut.


"Sudah bawa saja mereka. Kasihan jika kita meninggalkan mereka di sini."


"Ya. Sepertinya mereka sudah pasrah dan berencana menunggu ajal menjemput. Karena benjolan kecil mungkin sudah banyak di tubuh mereka," ujar penduduk pulau menebak-nebak.


Ketiga orang tersebut adalah beberapa orang yang selamat dari cacar setelah pergi meninggalkan perkampungan. Namun sayangnya salah satu dari mereka telah terjangkit. Akhir menjangkiti yang lainnya.


Tiga dari mereka akhirnya meninggal dunia dan yang lain berhasil sembuh. Setelah sembuh mereka mengambil tubuh teman seperjalan mereka yang sudah diawetkan. Lalu mengantarkannya ke gua yang merupakan tempat pemakaman.


Sehingga kini mereka bisa bertemu dengan anggota tim penyelamat Cresen.


"Lepaskan teman kami!" Sekali lagi perintah diucapakan.


Tapi yang dibawa oleh penduduk asli pulai itu malah memberi isyarat agar tidak melakukan perlawanan.


"Kalian kalau ingin ikut dengan kami, ayo ikut saja," jawab salah satu penduduk pulau pada akhirnya.


"Hah? Apa?" tanya anggota tim pencari bingung.


Lalu ia melihat gerakan tangan dari temannya yang berada dalam gendongan penduduk pulau. Mereka bingung. Tapi kemudian memilih diam saja, saat mereka juga digendong lalu dimasukkan ke dalam keranjang. Yaitu tempat untuk membawa jezanah yang telah diletakkan di ujung lorong.


Di tempat lain, para anggota yang diutus oleh penculik Cresen kini tiba di hutan lain, berkat arahan dari salah satu ketiga penculik.


"Kamu bawa kami ke mana hah?!" bentak salah satu dari mereka dan marah.


Setiap kali salah satu dari penculik bayaran itu ditanya tentang arah, selalu saja mereka menghadapi bahaya.

__ADS_1


"Kami membawamu agar kamu menunjukkan jalan yang aman, kamu tahu!" bentak pria tegap pada si penculik bayaran.


Teriakannya bisa saja terdengar oleh musuh, seandainya sedang ada perang di hutan itu. Tapi ia menjadi kalap karena berkali-kali dihadapkan dengan bahaya.


"Sepertinya mereka bertiga menipu kita! Apa lebih baik kita tinggalkan saja mereka. Dengan begitu kita lebih mudah bergerak?" tanya rekan orang yang berteriak itu.


"Setuju! Lagi pula tidak ada gunanya membawa mereka. Posisi Cresen sudah jelas ada di pulau ini. Jadi kita tinggal mencari gedung yang merupakan markas boss mereka!" seru yang lain menimpali.


Maka tiga orang yang melakukan penculikan pada Cresen diikat pada sebuah pohon. Lalu ditinggalkan begitu saja.


"Semoga beruntung!" ujar mereka meninggalkan tiga penculik bayaran tersebut.


Tiga penculik bayaran melihat sekeliling mereka dan berharap tidak ada binatang buas yang akan mendekat. Namun sayangnya tempat mereka adalah hutan yang jarang di lalui oleh manusia. Tapi sering dilalui binatang buas.


Seekor harimau melintas dan mencium aroma darah yang mengalir dari hidung dan bibir mereka yang pecah, akibat dihajar. Serta luka-luka lainnya.


"Gawat! Kita akan jadi santapan harimau. Mimpi apa aku tadi malam?"


"Sudahlah, sakitnya hanya akan sebentar."


"Jangan bicara begitu. Aku belum mau mati!" ketus Paula.


Paula semakin gemetaran. Bayangan dicabik-cabik oleh taring harimau, sudah menakutinya terlebih dahulu.


"Kenapa bisa sesial ini? Kalau kita tidak menerima tawaran untuk menculik anak itu, mungkin kita masih bisa menikmati cemilan di bioskop," sesalnya.


Mereka sebenarnya berencana menggunakan uang bayaran, dari hasil menculik Cresen untuk memperbaiki kehidupan mereka. Namun sayangnya belum sempat menikmatinya, sekarang mereka malah harus menghadapi maut, akibat dari pilihan salah yang sudah mereka ambil.


Namun salah satu pria yang sudah membual tentang pulau sejak awal, masih belum menyerah. Ia berhasil mengeluarkan pisau lipat yang ia curi saat sedang menerima pukulan. Dan akhirnya ikatannya lepas.


"Ambil ini!" serunya pada pria lain dari antara mereka bertiga.


Ia pun berlari meninggalkan kedua rekannya. Mengambil beberapa batu dan melempari harimau itu. Sehingga harimau mengejarnya. Ia sempat berhenti berlari, pada saat melihat orang-orang berbadan besar berjalan berpasangan.


Kemudian ia memilih menghindar dan berlari berbelok ke kanan. Sempat ia melihat sekilas ke arah orang-orang bertubuh besar itu. Mereka mengeluarkan busur dan hendak memanah.

__ADS_1


Karena takut ia pun berusaha berlari makin kencang. Di luar dugaan harimau masih terus mengejarnya, kini tinggal beberapa jengkal darinya. Dan bayangan harimau itu menutupi cahaya yang menyinari orang tersebut.


"Habislah riwayatku!" seru orang itu.


"Awas!" teriak kedua rekannya dari jauh.


Harimau melompat ke arahnya dan darah pun menetes. Ternyata harimau terkena panah dari busur penduduk pulau. Dan harimau itu tewas bersimbah darah, menimpa orang itu.


Kedua rekannya yang berhasil melepaskan diri berlari ke arahnya. Penduduk pulau mendekati harimau yang menimpa orang itu dan mengangkatnya. Ketika salah satu orang mencoba meraih tubuh yang ditimpa oleh harimau, orang tersebut bangun.


"Arghk...! Pergi...!" teriaknya.


Penduduk pulau hanya ingin membantunya berdiri. Tapi ia sudah ketakutan dan akhirnya melempar apa saja yang ia dapat. Daun-daun kering yang bersimbah darah.


"Bayi siapa ini?" tanya salah satu penduduk pulau pada temannya.


"Tidak tahu, sepertinya hanya pasangan Kepala Suku yang pulang lebih awal. Apa mungkin Kepala suku sudah melahirkan tiga bayi?" Sambil menghitung jumlah orang yang berukuran lebih kecil dari mereka.


"Tunggu, dia bukan bayi," ujar salah satu dari penduduk pulau menunjuk pada Paula.


Paula terkejut saat dirinya ditunjuk dan bergerak mundur. Sedangkan pria yang tertimpa harimau bergerak mendekati rekannya dengan berlari.


"Hei mereka mau ke mana?" tanya salah satu penduduk pulau.


"Sepertinya mereka kebingungan. Ayo kita bawa ke desa!" seru yang lainnya.


Mereka mengejar tiga orang penculik bayaran itu. Dan akhirnya ketiganya berhasil ditangkap. Tentu saja ketiganya tidak diam saja. Mereka terus meronta di sepanjang jalan. Melakukan segala cara agar terlepas.


"Tenang saja, kami akan bawa kalian ke orang tua kalian. Kalau mereka masih ada di hutan, mereka pasti tahu mencari kalian ke mana!" seru seorang pria yang menembakkan panahnya tadi.


Tapi salah satu pria dari penculik itu justru melakukan serangan dengan pisau lipat di tangannya ke mata pria yang menggendongnya. Meski orang itu sempat menghindar pelipisnya berhasil kena sayatan pisau.


"Ugh! Bayi nakal!" serunya melepas orang yang ia gendong.


Dengan segera orang itu berdiri dan mengarahkan pisau pada penduduk pulau. Tapi penduduk pulau tidak bergeming. Membuat orang itu memilih untuk menyerang.

__ADS_1


"Matilah kalian!" teriaknya kalap.


Bersambung...


__ADS_2