Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Ujian


__ADS_3

Cresen yang merasa malu memilih undur diri. Tidak ingin ikut campur dengan tingkah laku adiknya. Dan Corazòn menikmati tiap langkah yang ia jalani. Tersenyum sepanjang jalan. Hingga tiba di kelas barunya.


Semua murid yang berjumlah enam orang, memandang anak itu dengan tatapan yang aneh. Tapi tidak ada seorangpun berani berkomentar. Dan hanya mengawasi Corazòn dengan tatapan mereka.


Saat Corazòn memasuki ruang kelas untuk pertama kali. Sebuah kamera bergerak membidiknya. Dan tampak sebuah tayangan pada sebuah laptop yang sekarang ada di tangan para penduduk pulau.


Meskipun cuaca sudah malam, mereka sangat bersemangat untuk melihat kegiatan Corazòn saat berada di ruang kelas.


"Lihat! Lihat... itu Panthera Leo!" seru seorang penduduk.


"Bukan... itu Corazòn. Lihat warna matanya," jawab Cenayang membalas pernyataan salah satu penduduk.


"Hei, jangan dorong-dorong...!" ujar yang lain saat ada yang mencoba melihat lebih dekat ke arah layar laptop.


Lalu keadaan kembali tenang setelah melihat seseorang masuk ke kelas.


"Selamat pagi murid-murid," ujar sang guru. Yang ternyata adalah Aves.


"Selamat pagi, dokter," jawab keenam murid.


"Selamat pagi, dokter? Ini kan sekolah, kalian harus jawab selamat pagi Pak."


Semua orang menoleh pada Corazòn. Begitu juga dengan Aves. Lalu dia berdehem. Namun tidak seorang pun yang mengerti. Kemudian ia berdehem kembali. Bahkan sampai ketiga kali. Hingga akhirnya ia terbatuk. Dan menatap tajam pada keenam murid-murid.


"Se-selamat pagi Pak...!" seru mereka setelah menyadari kesalahan mereka.


Sebab sehari sebelum masuk ke kelas, semua orang yang ada di sana diberikan pengarahan. Tentang seperti apa suasana sekolah. Sebab saat ini semua anak-anak yang sekelas dengan Cresen, sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan secara formal.


Mereka sudah diculik dan dididik dengan cara "Papa". Sehingga saat ditawarkan tugas menjadi seorang murid sekolah, hanya mereka berenam yang bersedia. Selainnya lebih suka menyelesaikan bahan percobaan mereka.


Tapi pada akhirnya, mereka juga jadi penasaran. Seperti apa suasana sekolah. Sehingga mereka ikut menyaksikan kegiatan belajar mengajar di ruangan itu. Dengan mengintip dari luar kelas.


"Pak guru, apa kita tidak melakukan upacara bendera hari ini?" tanya Corazòn.


"Tidak, karena hari ini bukan hari senin," jawab Aves.


Lalu pandangan Corazòn beralih ke jendela. Dan melihat ada banyak orang berdesakkan di luar.


"Kenapa ada banyak orang mengintip di luar? Apa para orang tua takut kalau anak-anak mereka menangis kalau ditinggal?" tanya Corazòn seperti menggumam lalu menoleh pada teman-teman sekelasnya.


"Hhmm... pasti merek itu anak-anak cengeng. Padahal mereka bukan bayi lagi. Tapi harus dijagain." Corazòn menepuk keningnya.

__ADS_1


Anak itu melihat ingatan Cresen saat pertama kali masuk kelas TK. Banyak para orang tua, yang menunggui anak-anak mereka. Sebab ada beberapa anak yang menangis saat pertama kali ditinggalkan oleh orang tua mereka. Kecuali Cresen. Sebab itu adalah saat pertama kalinya Cresen merasa sehat. Bisa keluar dari kamar rumah sakit tanpa membawa selang infus.


Aves mulai mempersiapkan pelajaran pertama. Dengan membagikan buku pelajaran. Tapi lagi-lagi Corazòn bercicit.


"Pak guru, apa kita tidak berkenalan dulu?" tanya Corazòn. Mengingat Cresen selalu melakukan hal itu di awal masuk sekolah baru.


"Ya baiklah, kita berkenalan dulu. Ayo Corazòn kamu duluan yang mulai."


Corazòn berdiri dengan tegak. "Nama saya Corazòn," ujarnya lalu duduk.


Seluruh kelas terbegong. "Hah, hanya seperti itu?" bisik mereka bertanya satu dengan yang lain. Tapi kemudian mereka ikut melakukan hal yang sama. Pada saat giliran mereka tiba.


"Baiklah perkenalan sudah selesai. Apa ada lagi yang harus dilakukan Corazòn?" tanya Aves.


"Tidak ada Pak Guru," jawab Corazòn.


"Ok, baguslah itu artinya kita sudah bisa belajar, kan?" tanya Aves memastikan. Corazòn mengangguk dengan pasti.


Buku pelajaran pun dibagikan. Semua tampak antusias untuk melihat seperti apa isi buku tersebut. Tapi akhirnya mereka mengerutkan keningnya.


"Kenapa isinya seperti ini?" tanya mereka saling berbisik.


"Selesaikan membaca buku ini selama lima menit. Lalu kita akan mengadakan ujian." Aves menatap arloji di tangan kanannya.


Corazòn tampak gugup. Membaca satu buku selama lima menit lalu menghadapi ujian diawal masuk. Dengan cepat-cepat ia membalikkan halaman buku. Dan melihat dari atas sampai bawah. Lalu melakukan hal yang sama pada halaman berikutnya. Pada akhirnya ia tidak tahu apa-apa.


"Sekarang tutup bukunya. Kita akan mulai ujian."


Beberapa orang masuk setelah mendapat kode. Dan meletakkan beberapa mangkuk putih yang tertutup.


"Baik ujiannya adalah menjawab isi dari setiap mangkuk, dan setiap orang yang berhasil menjawab akan mendapat hadiah." Aves menjelaskan caranya.


"Sekarang buka mangkuk yang berangka satu lalu jawab apa isi mangkuk tersebut setelah memencet bell. Satu, dua, tiga!"


Semua membuka mangkuk pertama. Dan menekan bell bersamaan. Kecuali Corazòn. Ia mengangkat tangan. Sebab di TK jika ingin menjawab pertanyaan harus mengangkat tangan.


Dan saat bell di meja murid lain bersinar, para penduduk yang menyaksikan acara belajar mengajar itu tercengang.


"Mereka bisa membuat cahaya yang cantik!" ujar mereka.


Sementara para murid melanjutkan kegiatan belajar, yaitu menjawab dengan cepat.

__ADS_1


"NaCl!" jawab setengah kelas dengan serentak.


"Natrium Klorida!" seru yang lainnya.


"Garam!" jawab Corazòn.


Aves terdiam sesaat. Lalu memilih yang menjawab dengan benar dan cepat. Lalu meminta anak itu ke depan untuk memilih kotak hadiah di atas meja. Ujian dilanjutkan kembali.


Mangkuk ke-dua dibuka. Dan anak-anak menekan tombol. Corazòn kembali mengangkat tangan.


"Sukrosa!"


"C12H22O11!"


"Gula pasir!" jawab Corazòn.


Satu anak dipilih lagi dan ujian terus berlanjut. Ke-enam anak sudah berhasil menjawab dan tersisa satu mangkuk. Setelah hitungan ketiga mangkuk dibuka dan ternyata isinya kosong.


"Mangkukku isinya kosong," ujar anak di kursi pertama.


"Iya, punyaku juga."


"Kok kosong?" tanya yang lain.


Aves diam saja tidak menanggapi. Sementara Corazòn mengangkat mangkuknya. Memastikan kalau tidak ada yang terlewat. Lalu memutar seluruh permukaan mangkuk. Tapi tetap saja tidak ada apapun di sana.


Sampai akhirnya iya mendapat sebuah ide. Ia mengangkat tangan. Tapi diacuhkan. Sebab peraturan harus menekan bell.


"Pak Guru...! Pak Guru...!" teriaknya berkali-kali.


Akhirnya ia kesal. Sebab semua murid menoleh padanya tapi Aves tidak. Untuk pertama kalinya Corazòn menatap pada tombol dan mengangkat tangannya. Lalu memukul tombol itu dengan telapak tangan.


Lampu menyala. Seluruh penduduk pulau di laut bersorak gembira.


"Akhirnya Corazòn berhasil membuat sihir!" teriak mereka.


Tapi akhirnya mereka langsung terdiam. Sebab meja di hadapan Corazòn terbagi dua.


Semua orang menatap pada Corazòn yang mematung. Selama beberapa detik. Baik yang menyaksikan dari laptop, maupun dari balik jendela ruang kelas. Aves pun akhirnya berdehem.


"Baiklah, Corazòn apa jawabanmu?" tanya Aves dengan santai, seolah tidak terjadi apapun.

__ADS_1


__ADS_2