Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Rusak Tanpa Bisa Dihentikan


__ADS_3

Keesokan harinya sang Kelinci pun mengalami pertumbuhan pada bagian kaki kirinya. Setelah mendapatkan suntikan dari bahan uji coba. Cresen dan Aji pun melanjutkan penelitian dengan cara membuat data yang lebih akurat. Agar pertumbuhan kaki kiri si kelinci bisa dibatasi mengikuti ukuran bentuk dari kaki kanan.


"Sepertinya kita butuh cetakan kaki. Seperti buah yang dibungkus dengan plastik yang berbentuk sesuatu. Maka buah itu akan mengikuti bentuk pembungkusnya," ujar Aji.


Hal itu dikatakan oleh Aji mengingat buah apel yang dibungkus dalam wadah plastik yang berbentuk perahu. Mengakibatkan perkembangan buah apel itu membesar menyerupai bentuk perahu.


"Ya baiklah, tapi siapa yang bisa melakukan hal tersebut. Jika kita melakukan semuanya sendirian. Sisa waktuku untuk tinggal di sini tidak akan cukup."


"Aku mengenal seseorang yang bisa melakukannya. Sebentar, Aku akan segera menghubungi orang tersebut."


Aji pun pergi ke luar ruangan dan mengambil ponselnya di dalam loker. Benda itu sengaja ditinggalkan di luar ruang laboratorium untuk mencegah efek samping yang terjadi akibat radiasi. Lalu Aji pun menghubungi kenalannya yang juga tinggal di pulau tersebut.


Dua hari kemudian percobaan pun membuahkan hasil. Kaki sang kelinci kini utuh. Cetakan kaki kiri sudah bisa dibuka. Untuk pertama kalinya sang kelinci terlihat kebingungan dengan kaki barunya. Namun tidak butuh lama sampai ia bisa menyesuaikan bagian tubuh yang baru tumbuh itu, dengan bagian tubuh lainnya.


"Untungnya jaringan pada kaki baru itu bisa terhubung dengan jaringan otot pada bagian tubuh si kelinci sehingga kita tidak perlu khawatir kaki baru itu akan membusuk jika tidak mendapatkan asupan dari luar," ucap Aji.


"Kelihatannya kita perlu mencobanya pada manusia, terutama mereka yang memiliki golongan darah sama sepertiku," ujar Cresen.


"Baiklah. Aku akan mencari data tentang pemilik golongan darah A di rumah sakit," jawab Aji.


"Aku akan ikut membantu," balas Cresen.


"Ternyata jumlahnya cukup banyak," ujar Cresen beberapa menit kemudian. Setelah berhasil membobol keamanan data rumah sakit.


"Ya tapi tidak semuanya bisa kita gunakan," ujar Aji sambil terus mencari.


"Ini dia data yang kita butuhkan, data para calon pasien kita," lanjut Aji beberapa menit kemudian.


Di tempat lain terjadi kekacauan di sebuah lab. Sebab jantung dari mama Cresen mengalami kerusakan akibat memompa darah dan bergerak lebih cepat 10 kali lipat.


"Gawat! Hentikan seluruh aliran!" ujar Aves.


"Tapi semua sudah dirancang otomatis!"


"Hancurkan!" ujar Aves.


Semua orang kebingungan. Mereka pun mengambil tabung pemadam kebakaran dan mencoba menghentikan aliran darah dengan memutuskan beberapa selang. Tapi selang itu tidak mundah di hancurkan karena terbuat dari bahan khusus yang bahkan tidak mudah ditembus peluru.


Lampu merah menyala, alarm tanda bahaya berbunyi. Akhirnya jantung dari mama Cresen meledak. Setelah dipaksa memompa darah saat jantung itu tidak lagi elastis, seperti saat pemiliknya masih hidup.


"Kita telah salah perhitungan," sesal para dokter.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah layar menyala dan menampilkan wajah kakek Cresen di sana.


"Apa yang telah terjadi di sana?" tanya kakek marah.


Semua dokter terdiam membuat kakek semakin kesal.


"Kenapa kalian diam saja! Apa terjadi sesuatu pada putra dan menantuku!" teriak kakek.


Lalu tampak kakek segera meninggalkan kamera dan kemudian keluar dari ruang pemantauan.


Sementara Aji dan Cresen telah keluar dari laboratorium mereka untuk menemui calon relawan. Dan melihat kakek beserta beberapa pengawal datang.


"Apa kakek ingin melihat hasil uji coba secara langsung?" tanya Cresen kemudian.


Tapi kakek bahkan tidak menggubris pertanyaan itu. Dan langsung menuju laboraturim tempat putra serta menantunya berada.


"Kakek pasti masih sangat kesal padaku," batin Cresen.


"Beliau pasti sibuk," gumam Aji.


Mereka pun fokus untuk menemui para calon relawan.


Semua itu terjadi saat Oryza Sativa membawa kulit kayu yang penuh dengan tulisan Cresen dan Corazòn. Lalu wanita itu meminta agar Musa Paradisiaca mengajarinya. Tetapi tulisan itu terlalu rumit baginya. Jadi Musa memberikan pelajaran sederhana.


"Apel, anggur, pisang, semangka, labu," ujarnya.


"Lihat ada satu lambang yang sama pada kelimanya," ujar para penduduk pulau.


Mereka lebih tertarik mencocokkan huruf-huruf yang ada pada tiap kata. Terutama huruf A. Karena huruf itu ada di tiap kata.


"Coba kita cari benda lagi dan suruh dia untuk mengukir lambangnya," kata para penduduk.


Mereka pun datang membawa hewan yang bisa diangkut dengan perahu kayu. Dan hanya dua ekor yang bisa mereka tunjukkan pada Musa Paradisiaca.


"Ulat, Keong," ujar Musa Paradisiaca sambil menuliskan nama hewan tersebut.


"Ternyata lambangnya berbeda-beda. Tidak ada yang sama." Para penduduk berdiskusi.


Sepertinya mereka cukup kecewa dengan bentuk lambang dari benda yang dibawa kali ini.


Di saat semua orang lebih tertarik cara penulisan nama-nama benda, Oryza Sativa lebih tertarik pada hal lain. Tapi ia bingung mengatakannya.

__ADS_1


Ia ingin membuat tulisan untuk mengungkapkan rasa sayangnya pada suami dan kedua putrannya.


"Kenapa anda bersedih?" tanya Musa Paradisiaca sambil memasang tampang sedih.


Lalu dengan iseng ia menuliskannya di sebuah kayu pipih sebagai papan tulis dengan arang.


"Se-dih," ujarnya sambil membaca serta mempraktekkan tulisannya.


Oryza Sativa mengernyitkan keningnya. Menatap pria yang tampak kecil di dekatnya.


"Anda sebaiknya tersenyum," kata pria itu lagi.


"Se-nyum," eja pria itu sambil menulis dan tersenyum.


Oryza Sativa akhirnya melakukan sesuatu. Ia menampar pipinya lalu bertingkah seolah kesakitan. Kemudian pria itu memikirkan kata yang tepat, lalu menuliskannya. Para penduduk jadi ikut-ikutan membuat gerakan. Ada yang tidur, ada yang duduk, ada yang membungkuk.


"Mereka lucu sekali ya, sangat mudah tertarik pada hal-hal baru," para anggota tim Musa Paradisiaca saling bergumam.


Bahkan para anggota tim merasa lebih lucu lagi, saat para penduduk berbaris rapi. Hanya untuk bergiliran melakukan sebuah gerakan. Meski pada akhirnya kebanyakan gerakan sudah dilakukan oleh yang lain.


"Hei, tunggu! Kenapa sekarang kalian melakukan gerakan yang sama semua?" tanya Musa Paradisiaca melalui gerakan panthomin.


"Dia bilang apa?" tanya para penduduk saling menebak.


"Mungkin kita harus melakukannya bersama-sama."


"Bukan, mungkin gerakan kita tidak sama."


"Baiklah kalau begitu aku ada ide, bagaimana kalau kita melakukan gerakan yang lebih mudah."


Setelah berbincang beberapa saat para penduduk berdiri sejajar di depan para pria berseragam. Lalu mereka bergerak serentak duduk, kemudian berbaring sambil memejamkan mata.


"Hahaha, sudahlah Pak, sepertinya mereka mengatakan kalau mereka sudah lelah dan ingin beristirahat," ujar para anak buah Musa Paradisiaca.


Musa Paradisiaca pun mengangkat arang dan papan ke atas lalu meletakkannya di atas lantai perahu. Untuk menandakan kelas hari ini telah selesai. Para penduduk tampak kecewa. Tapi Musa Paradisiaca hanya bisa menampilkan deretan giginya.


Oryza Sativa melihat ke atas menatap rembulan yang belum berubah bentuk. Masih bulan sabit. Dan ia mengambil papan dan arang tersebut lalu memberikan pada Musa Paradisiaca. Kemudian membuat sebuah gerakan.


Mulanya ia menepuk dadanya, lalu membelai perutnya dan membuat gerakan seperti menggendong bayi. Dengan meletakkan tangan kiri di siku lengan tangan kanan. Kemudian membuat gerakan seolah sedang mencium seorang bayi. Lalu Oryza Sativa mengambil kulit kayu yang berisi tulisan kedua putranya.


"Bagaimana lambangnya?" tanya Oryza Sativa.

__ADS_1


__ADS_2