
Cresen terkejut dan sempat kehilangan keseimbangannya. Tapi kemudian ia marah.
"Kenapa Kamu memukulku?!" tanyanya dengan sedikit berteriak.
Bukan mendapat jawaban dua orang datang dan memukulnya lagi. Kali ini tepat di batang lehernya. Membuat rahang Cresen mengeras. Dengan kesal ia mencengkram leher orang yang memukulnya dari tadi.
"Aku tanya, kenapa kalian memukulku?"
Cresen tidak menyadari ada seseorang yang datang lagi dan memukulnya dengan tongkat besi. Kesabaran Cresen habis. Tanpa bertanya ia melempar kedua orang yang ada di tangannya. Lalu menangkap orang yang terakhir memukulnya.
"Rasakan ini!" teriaknya sambil melayangkan pukulan.
Orang itu pingsan. Lalu seseorang bertepuk tangan. Lampu di pulau itu pun menyala. Tampak anak remaja duduk di sebuah kursi. Dekat dengan wanita yang mengira Cresen putranya. Mulut wanita itu ditutup dengan kain.
"Siapa kamu? Kekuatanmu sangat hebat. Ayo bergabunglah denganku!" seru orang itu.
"Lepaskan mamaku!" perintah Cresen.
Orang itu memicingkan matanya. Lalu menggeser posisi duduknya.
"Apa katamu? Mamamu?" tanyanya.
"Apakah wanita ini menikah lagi setelah suaminya meninggal? Kenapa tidak ada yang memberikan informasi ini padaku?" tanya orang itu pada anak buahnya.
"Itu tidak benar. Wanita itu hanya punya satu putra. Dan selama ini dia gila," jawab pria bertato naga.
"Hahaha apa ini? Anak kecil, kamu mau menipuku?" tanya orang itu pada Cresen. Setelah mendengar jawaban anak buahnya.
"Anak kecil? Siapa yang anak kecil? Kamu lebih pendek dariku! Kamulah yang anak kecil." Kata-kata Cresen mengalir begitu saja.
__ADS_1
"Berani sekali dia," ujar lawan bicara Cresen pada pria bertato naga.
Dan tanpa basa basi lagi Cresen berjalan mendekati kursi tempat mama Aves diikat. Orang-orang yang ada di sana menodongkan senjata. Tapi sang bos menahan mereka dengan kode. Lalu menggerakkan jari telunjuk ke arah pintu. Sehingga semua orang kini berbaris di sana dan menghalangi jalan.
Cresen yang tanpa perduli situasi di tempat itu melepas sang wanita lalu bersiap membawanya pergi. Dan dari luar terdengar suara kendaraan yang mendekat. Aves turun. Beberapa pria menodongkan senjata padanya.
"Di mana mamaku?" tanya Aves marah.
Lalu menyelinap masuk melewati pagar betis di depan pintu gedung itu. Kemudian meliha Cresen telah ada di sana. Dan memapah mamanya.
"Ternyata kamu sangat licik!" geram Aves pada Cresen.
"Wow peran utama sudah datang. Kenapa tidak memberi salam pada papa?" ujar sang bos.
Papa adalah panggilan anak-anak yang ia culik padanya. Dan mendengar ia mengatakan hal itu membuat Aves semakin geram. Mengingat kisah kelamnya bersama sesama korban penculikan.
Dan saat keluar dari kurungan gelap ia dibawa ke kamar mandi. Diberi 1 set pakaian. Lalu setelah mandi ia dibawa ke sebuah ruangan makan yang luas. Di sana ada banyak anak-anak. Mulai dari yang baru bisa duduk sampai yang sebaya Aves. Mereka makan di meja masing-masing.
Tidak ada yang menatap ke arah lain selain makanannya. Bahkan para bayi. Yang pada akhirnya Aves ketahui kalau bayi-bayi itu adalah bayi jenius. Mereka semua memakai seragam dengan nomor yang tertera di bagian dada kanan. Sama dengan baju yang dia pakai.
"Duduk! Dan ini makananmu!" ujar seorang wanita dengan tidak ramah.
Rasa lapar membuat Aves segera duduk tanpa pikir panjang. Lalu melahap hidangan lezat di hadapannya. Tapi anak-anak lain justru terlihat makan tanpa menikmati rasa makanan yang melewati lidahnya.
Setelah makan Aves di bawa ke sebuah ruangan untuk menguji daya ingatnya, kemampuan menganalisa dan kemampuan lainnya. Sehingga ia ditempatkan di sebuah ruangan yang berisikan anak-anak sepertinya.
Kondisi Aves yang masih lemah setelah dikurung berhari-hari membuatnya tidak berani berpikir untuk kabur. Apalagi melihat banyak penjaga dan CCTV di mana-mana.
Ia dan beberapa orang di tempatkan di ruang biologi, banyak raga yang sudah tidak bernyawa di ruangan itu. Seorang anak menutup hidung dan berpaling. Mengakibatkan ia kehilangan satu ruas jarinya.
__ADS_1
"Jangan ada yang mencoba membuat gerakan tidak penting di kelasku!" ujar seorang pria di ruangan itu.
Seseorang akhirnya memberikan pelajaran biologi tentang bagian tubuh manusia. Yang membuat Aves merasa mual. Satu persatu anak-anak kehilangan anggota tubuh mereka. Dan Aves berhasil mempertahankan anggota tubuhnya di hari pertama.
Sejak itu ia pun mengerti kenapa hidangan lezat tidak membuat anak-anak di meja makan dengan lahap. Dan di hari kedua Aves kehilangan selera makannya. Meskipun pada malam hari ia tidak mendapat makan malam.
Dan tantangan untuk hidup dengan tubuh lengkap sangat berat di pulau itu. Sebab pada akhirnya ia harus melakukan hal yang sama pada teman sekelasnya. Seperti saat pembimbingnya melakukan pembedahan pada orang-orang yang diculik dari luar pulau.
Aves yang mulanya menolak harus menelan pil pahit. Melihat papanya diperlakukan dengan tidak manusiawi. Sebab ternyata mereka diculik di hari yang sama.
"Jika kamu masih menolak, kami akan mempertemukanmu dengan wanita yang telah melahirkanmu ini!" ancam seseorang. Sambil memperlihatkan mama Aves yang menangis memeluk tubuh suaminya.
Bertahun-tahun di pulau itu, Aves akhirnya bertemu anak bernomor baju 011009. Dan mereka sering bertugas dalam misi yang sama. Anak itu pendiam dan tidak banyak bicara. Aves bahkan sempat mengira kalau ia bisu.
Anak itu suka membawa buku dan munggoreskan kukunya di sana. Aves mengira itu efek dari obat yang mereka konsumsi. Ia pun mengecek kukunya sendiri. Memastikan tidak ada hal aneh pada kukunya. Tapi setelah sekian lama ia tidak menemukan hal janggal apa pun.
Suatu hari ia pergi ke perpustakaan. Dan di sana seseorang ditangkap lalu dibawa ke aula. Anak itu disiksa dan saat itu anak nomor 011009 membisikkan satu kalimat.
"Carikan catatanku di dalam buku yang Aku baca tadi malam," ucapnya pelan. Lalu beberapa orang menangkapnya
"Apa maksud anak itu?" tanya Aves dalam hati.
Diam-diam ia pergi ke perpustakaan dan mencari buku yang tadi malam dibaca oleh nomor baju 011009. Ada beberapa buku yang sama. Dan Aves berhasil menemukan buku yang dibaca anak itu.
Ada bekas kuku di ujung buku itu. Jika tidak diperhatikan maka tidak akan ada yang menyadarinya. Namun Aves mengetahui itu karena ingat akan kebiasaan anak tersebut.
Aves membolak-balikan halaman buku, sampai halaman terakhir. Namun tidak ada selembar kertas pun yang terselip di dalam buku itu.
"Di mana catatannya? Apa dia menjebakku, agar melakukan hal yang mencurigakan?" gumam Aves gusar dan was-was.
__ADS_1