
Meski mengatakan demikian, Cresen tidak bisa melepaskan daging yang ada di tangannya. Dan ia juga menangis. Membuat orang-orang kebingungan.
Tapi Cenayang dan Oryza Sativa menyadari kalau dua jiwa di tubuh itu sedang bertengkar. Yang satu berusaha makan daging. Tapi yang lain berusaha untuk tidak memasukkan daging itu ke mulutnya. Namun mereka tidak tahu harus berpihak pada siapa. Pada Cresen ataukah pada Corazon?
Dan pada akhirnya mereka hanya membiarkan Cresen jadi tontonan para bayi. Yang mengejeknya karena terlihat bodoh.
"Kenapa menangis, ayo makan!" seru bayi tertua.
"Iya ayo makan, apa kamu tidak tahu cara makan daging?" Lalu mempraktekkan caranya.
"Lakukan seperti yang kulakukan." Yang lain ikut mengajari.
"Aku tidak sebodoh itu!" kesal Cresen. Saat ini manik matanya berwarna biru.
"Ya sudah makan. Ayo coba makan!" kata para bayi menantang Cresen.
Cresen yang mencoba membuang daging di tangannya justru tampak seperti sedang mengibas-kibaskan daging itu. Sebab Corazon berusaha memasukkannya ke dalam mulut. Tapi sebelum berhasi Cresen sudah menarik tangannya.
Para bayi menjadi gemas dan berpikir untuk membantu Cresen. Sebagian memegangi kepalanya, sebagian memegangi tangannya yang memegang daging. Lalu mengarahkan daging itu ke mulut Cresen.
Kesempatan itu dimanfaatkan Corazon untuk memakan daging tersebut. Dan dengan cepat mengunyah dan menelan daging itu. Karena berhasil pada gigitan pertama, ia pun mencoba menggigitnya lagi. Tapi kali ini gagal.
Cresen menguasai tubuh itu. Sebab lambungnya menolak daging tersebut. Dan ia pun muntah. Para bayi mundur. Mereka ketakutan. Cresen terus muntah sampai Oryza Sativa datang dan memeluknya.
"Panthera Leo... tenang... tenangkan dirimu!" katanya.
Tapi Cresen terus muntah sampai ia hampir kekurangan cairan di tubuhnya. Ia berkeringat di sekujur tubuh. Cenayang datang dan meniup ubun-ubunnya barulah ia tenang.
Cresen menjadi sangat lemah. Oryza Sativa membawanya ke rumah. Cenayang memeriksa Cresen dan mengatakan kalau anak itu tidak bisa makan daging. Oleh karena itu ia harus dijauhkan dari makanan tersebut.
"Kenapa ia tidak bisa memakannya?" tanya Oryza Sativa heran.
"Cresen takut saat melihat hewan diolah jadi makanan. Jiwanya tidak tenang, maka jiwanya menolak daging itu keluar setelah ditelan," terka Cenayang.
"Baiklah aku mengerti," kata Oryza Sativa.
Cenayang pun pergi ke luar mencari putrinya. Saat melihat Cenayang, para bayi ketakutan. Mereka menangis karena mengira kalau akan dihukum. Sebab mereka telah membuat Cresen muntah.
__ADS_1
"Maafkan kami Cenayang. Kami hanya ingin mengajarinya cara makan daging. Panthera Leo pikir hanya dengan menangis dan marah, daging itu akan berpindah ke perutnya," ujar salah satu dari mereka membela diri.
"Iya betul, maka dari itu kami memberitahunya cara makan daging yang benar," kata bayi lain sambil menangis.
Tapi mereka diam saat Cenayang mengangguk lalu menyuruh mereka untuk melanjutkan makan. Dengan cepat mereka diam kemudian saling pandang dan tersenyum. Maka mereka pun lanjut makan.
Cenayang memanggil putrinya dan berpesan agar putrinya membawa makanan dan minuman ke rumah Kepala Suku. Tapi tidak boleh ada daging yang dibawa. Putri Cenayang yang adalah pengasuh Cresen itu mengangguk. Lalu membawakan pesanan tersebut.
Saat tiba di rumah Oryza Sativa, ia melihat Cresen terbaring lemah. Dan Kepala Suku bilang putranya hanya ingin tidur. Tenggorokannya terasa sakit.
"Baiklah kalau begitu, makanan ini saya taruh di sini," kata pengasuh Cresen. Oryza Sativa mengangguk.
Cresen yang pada akhirnya tertidur, mulai membuka mata saat matahari tenggelam. Dan ia pun merasa lapar. Dengan cepat ia keluar dari pelukan mamanya dan mengambil buah.
Cresen mengunyah buah itu dan menelannya. Tiba-tiba ia menangis sebab tenggorokannya terasa sakit. Oryza Sativa terbangun dan melihat putranya di dekat keranjang makanan. Lalu satu potongan besar buah apel di tangannya.
"Ada apa Corazon?" tanyanya. Sebab saat ini mata anak itu merah.
"Leherku sakit...," adunya pada Oryza Sativa.
Kepala Suku mencoba menenangkan putranya lalu memberinya madu. Berharap putranya bisa berhenti menangis. Dan putranya berhenti menangis. Bukan itu saja, ia juga memakan buah yang ada.
Cresen berpikir sambil makan. Ia melihat-lihat sekelilingnya. Lalu melihat alat yang digunakan untuk menggiling obat-obatan. Kemudian menyuru Oryza Sativa untuk mencucinya. Tapi Kepala Suku justru mengambilkan yang baru untuk putranya.
"Ini untuk membuat obat. Jika kamu ingin memakainya untuk bermain, pakai yang ini saja," katanya.
Cresen menerimanya lalu memasukkan buah apel dan menghancurkannya sampai halus. Lalu meminum airnya yang sudah disaring. Melihat hal itu mama angkatnya membantu Cresen mengiling seluruh buah yang mengandung air. Sampai semuanya habis.
"Mama mau coba?" tanya Cresen.
Oryza Sativa menerima tempurung kelapa berisi air sari buah tersebut. Dan meminumnya. Rasanya enak. Tapi ia merasa lebih puas jika mengunyahnya sendiri.
"Mama suka?" tanya Cresen.
"Ya ini manis," jawabnya.
"Di kota ini disebut jus," kata Cresen.
__ADS_1
Menyebut kata kota Cresen tiba-tiba ingat pada kakeknya. Ia terdiam dan melamun. Berpikir dalam hati bagaimana kabar kakek sekarang. Oryza Sativa menyadari perubahan pada putranya yang diam. Lalu memeluknya.
Cresen menangis.
Di tempat lain kakek berada di sebuah kamar. Melihat album foto. Di saat Cresen berada di rumah sakit, saat ia baru sadar setelah menjalani proses operasi. Kakek merasa sedih dan meneteskan air mata.
"Mungkin ini sudah takdirmu. Agar kamu tidak merasa sakit lagi," gumamnya.
Ia memeluk album foto itu. Dan menguatkan hatinya agar bisa melepas cucu semata wayangnya tersebut. Dengan mengingat masa-masa sulit yang Cresen rasakan saat akan menjalani operasi.
Ia juga membayangkan berapa kali tubuh kecil Cresen harus keluar masuk ruang operasi dan mendapat luka yang sama di tempat yang sama. Meski Cresen tidak mengeluh, kakek tahu anak itu kesakitan.
"Cresen... baik-baiklah di sana, kakek juga akan baik-baik di sini. Jangan nakal. Patuh pada orang tuamu. Meski bukan darah daging mereka sendiri. Kamu diperlakukan dengan sangat baik. Kamu harus tahu membalas budi," gumam kakek sambil menatap ke luar jendela.
Album foto tersebut ia letakkan di dekat sebuah buku kesayangan istrinya yang berjudul Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku karya Neyna. Buku novel yang kisahnya mirip dengan kisah kakek dan istrinya. Yang dijodohkan pada cinta pertama mereka.
Sekilas kakek tersenyum mengingat betapa khawatirnya dia saat pertama kali mendengar kabar kalau ia akan dijodohkan. Padahal saat itu ia sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Tapi ia tidak tahu kalau orang tuanya telah lama menyelidiki tetang wanita yang ia sukai lewat sahabatnya.
Lalu mereka berencana menjodohkan keduanya setelah melihat latar belakang gadis tersebut yang sesuai dengan keinginan mereka. Dan hal itu merupakan hadiah istimewa bagi putra mereka saat tahu kalau ia dijodohkan dengan gadis pujaannya saat pertama kali bertemu.
"Aku sangat beruntung bisa memilikimu, meski waktu kita bersama sangat singkat." Kenang kakek.
"Permisi...," seseorang mengetuk pintu kamar kakek.
"Ya silahkan masuk!" seru kakek.
"Tuan, arsitekturnya sudah datang. Dia menunggu di ruangan tuan," kata Musa Paradisiaca. Dia kini menjadi pengawal pribadi kakek.
Kakek pun pergi bersama dengan Musa Paradisiaca. Menemui Anak Jenius bernama Aji. Kakek berbincang hal sederhana sebelum kembali ke topik utama.
"Baiklah apa nama pronyek yang anda tawarkan?" tanya kakek.
"Sebuah sekolah untuk anak-anak pintar yang akan menjadi penemu-penemu baru," ujarnya. Lalu menyerahkan sebuah buku besar.
Di sampul buku itu ditulis dengan huruf besar.
ANAK JENIUS NAMAKU AJI
__ADS_1
Kakek membuka buku itu dan membaca sekilas. "Baiklah, aku setuju, segera buat kontrak kerjasamanya," ujar kakek kemudian pada Musa Paradisiaca.