
Cresen yang terbaring di tempat tidur rumah sakit terlihat bingung lalu memberikan jawaban pada wanita itu. "Anda bukan mamaku."
"Sayang... ini mama, Nak.... Kenapa kamu lupa. Tunggu... Mama punya sesuatu yang akan membuatmu ingat pada mama," ujar wanita itu.
Lalu perlahan ia mengangkat sebuah buku. Cresen tidak tahu buku itu berasal dari mana. Ia menatap buku itu dengan tatapan kosong.
"Lihat... ini adalah buku harianmu. Coba bacalah... agar kamu ingat pada mama!" bujuk wanita itu menepuk-nepuk sampul buku tersebut dengan pelan.
Cresen mengernyitkan jidadnya dan membaca sampul buku itu.
*Anak Genius Namaku Aji. Karya: Tompealla Kriweall*
"Wanita ini mau menipuku ya? Apa dia pikir aku tidak pernah sekolah? Sehingga aku tidak bisa membaca. Aku bahkan bisa membaca banyak bahasa."
"Ambillah, dan coba baca." Wanita itu menyerahkan buku tersebut. Sebab Cresen tampak diam saja.
Cresen menerima buku tersebut dengan terpaksa. Lalu membaca isinya, untuk menuruti ucapan wanita tersebut. Namun ia makin bingung dengan isi buku tersebut.
"Ini bukan buku diary. Bibi jangan menipuku, karena Aku mengenali wajah mamaku."
Cresen segera bergerak turun dari tempat tidur. Dan seorang pria berseragam putih masuk. Lalu wanita itu berdiri di depan Cresen. Seolah ingin melindungi Cresen.
"Jangan mendekat!" teriak wanita itu.
"Nyonya, tenanglah. Aku hanya ingin memeriksa kondisi pasien."
"Jangan pura-pura berbohong padaku. Dasar penjahat. Kalian sudah membunuh suamiku. Dan sekarang kalian juga ingin membunuh putraku! Tidak akan kubiarkan!" Wanita itu berteriak dan mengambil buku, lalu memukuli pria berseragam putih itu.
Pria itu diam tidak melawan, dan hanya melindungi wajahnya dengan lengan. Sementara pandangannya tertuju pada Cresen. Lalu ia mundur dan keluar ruangan itu. Wanita tersebut segera mengunci pintu. Dan mendorong Cresen ke sudut.
"Cepat sembunyi sebelum orang itu mengambil sesuatu yang penting dari dirimu!" pesannya.
Cresen tidak mengerti apa yang terjadi. Ia malah ikut berjongkok saat wanita itu menariknya ke bawah kolong tempat tidur.
__ADS_1
"Diam di sini, kita akan keluar jika saatnya tiba. Dan kita akan segera pulang," kata wanita itu lagi.
Saat berkata demikian ia menarik napas dalam-dalam. Lalu melepaskannya perlahan. Memicingkan mata dan mencondongkan telinga kirinya. Perlahan ia merangkat ke aran pintu dan mengintip dari sela-selanya.
Dengan cepat ia kembali ke posisi Cresen. Dan berdiri di sisi tempat tidur. Mengambil selimut dan menarik tangan Cresen, agar keluar dari bawah kolong.
"Pakai ini, agar mereka tidak mengenalimu. Kita harus segera pergi, sebelum mereka mengambil bola mata, dan membuang kakimu, seperti yang lainnya."
Cresen terkejut mendengar ucapan wanita itu. Dengan ragu-ragu ia mengenakan selimut itu.
"Tutupi wajahmu!"
"Kalau aku menutupi semuanya, bagaimana aku bisa melihat?"
"Mama akan menuntunmu! Dengar aba-aba mama, ya! Kamu mengerti?"
Cresen menggeleng. Tapi wanita itu tidak melihat gelengan kepala Cresen, sebab ia tengah fokus mengintai dari celah pintu.
"Ayo jalan!" katanya membuka pintu dan menarik tangan Cresen bersamaan.
Wanita itu segera membuka selimut Cresen dan memeriksa lukanya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Cresen. Lalu wanita itu menutupi kepala Cresen. Dan menuntunnya ke luar.
Seorang pria berseragam putih melihat mereka. Wanita itu segera berpaling dan menghadap ke dinding. Pria itu melanjutkan perbincangannya sesaat lalu pergi.
Melihat pria berseragam putih pergi, ia melanjutkan rencananya dan menarik tangan Cresen. Meninggalkan tempat tersebut. Setiap ia melihat orang-orang berseragam putih, maka ia akan berhenti dan memalingkan wajahnya ke dinding. Sampai orang-orang itu pergi.
Akhirnya mereka berdua keluar gedung tersebut. Dan selimut penutup Cresen dibuka. Mereka kini berada di sebuah tempat yang tampak seperti taman. Dengan langkah berjinjit-jinjit ia menarik tangan Cresen. Lalu bersembunyi di balik tanaman yang berdaun lebat.
"Kamu lihat orang itu?" tanya wanita itu sambil menunjuk seseorang yang berada di kursi roda.
"Kemarin aku melihatnya masih punya dua kaki. Dan hari ini kedua kakinya sudah tiada. Lihat wajahnya sedih sekali. Pasti ia sangat menderita. Apa kamu juga mau seperti itu?" lanjutnya. Cresen menggeleng ketakutan.
__ADS_1
"Dan lihat wanita itu, matanya diperban. Pasti matanya sudah diambil. Apa kamu mau seperti itu?" Lagi-lagi wanita itu bertanya.
Cresen menggeleng lagi dan menutup mata dengan telapak tangan. Namun manik matanya yang berwarna merah dapat dengan jelas melihat situasi di halaman gedung itu. Dan wanita itu terus berbicara tentang orang-orang yang ada di tempat tersebut.
Lalu ia menepuk jidadnya. "Astaga. Buku harianmu ketinggalan!" pekiknya.
"Tunggu di sini. Dan jangan keluar. Jika kamu keluar dan tertangkap. Mereka pasti akan mengambil kulit wajahmu juga. Seperti orang itu. Kulit tubunya pasti sudah diambil dan kini ia hanya bisa pasrah diam di kursi roda," celotehnya.
Wanita itu keluar dan mengunci pintu dari luar. Cresen menautkan alisnya. Lalu terdiam. Dan melalui kaca jendela yang tertutup tirai ia melihat wanita itu mengendap-endap menuju gedung tempat buku yang tertinggal.
Cresen memperhatikan dengan seksama. Hingga wanita itu menghilang dari pandangannya. Dan ia mulai mengalihkan perhatiannya pada suasana di rumah itu.
Ruangan itu seperti ruang tamu biasa. Dan ada foto wanita itu dengan suaminya di meja dengan seorang bayi kecil dalam gendongan sang suami. Cresen lalu menelusuri tempat itu dan ia melihat sebuah pintu.
Ia memegang gagang pintu lalu menekannya ke bawah. Kamar itu ternyata tidak dikunci. Cresen penasaran dengan isinya. Lalu memutuskan untuk melihat. Dan saat ia hendak membuka kamar itu ia terkejut.
"Sedang apa kamu? Apa kamu seorang mata-mata? Apa yang kamu cari?" tanya seseorang.
Dari suaranya Cresen bisa menebak kalau orang yang ada di belakangnya adalah seorang pria. Dan Cresen sangat ketakutan. Suara itu mirip dengan suara pria yang dipukuli oleh wanita pemilik tempat itu.
Tapi kemudian Cresen memberanikan diri dan berpaling. "A-aku ti-tidak mencuri. Bu-buat apa aku mencuri di rumah mamaku sendiri," jawab Cresen dengan nada suara yang bergetar.
Pria yang ada di hadapannya memicingkan mata. Lalu mendekati Cresen, menjulurkan tangannya ke arah leher anak itu. Dan mencengkram kerah bajunya.
"Coba katakan sekali lagi!" suruhnya.
"Aku, tidak mencuri! Ini rumah mamaku!" ujar Cresen lebih tenang kali ini.
"Kamu dibayar berapa? Siapa yang mengutusmu? Jika kamu mau... Aku akan membayarmu dua kali lipat."
"Apa maksudmu? Bayar apa? Lipat apa?" tanya Cresen bingung dan mengernyitkan keningnya.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu berpura-pura menjadi putra wanita itu? Dan berapa bayaran yang telah kamu terima?" bisik pria itu di telinga Cresen.
__ADS_1
*Bruk...!
Sebuah pukulan mendarat dengan manis di kepala pria itu.