
Tim pencari Cresen mengeledah setiap barang yang dibawa oleh tim musuh yang tertangkap. Namun tidak menemui anti serumnya. Sehingga ketua tim pencari mengantikan posisi kakek dengan caranya.
"Cepat katakan di mana penawarnya!"
"Kenapa tanya padaku, cari saja sendiri. Ha! haha... hahaha... kalian tidak akan mendapatkannya. Jadi sebaiknya menyerah saja. Atau kita lakukan pertukaran. Seluruh kekayaan kalian dan juga Cresen untuk penawarnya?"
Ketua tim tersenyum lalu melepaskan satu pukulan di wajah pria yang masih angkuh meski telah menjadi tawanan.
"Bagaimana kalau kita ganti pertukarannya. Penawar diganti dengan nyawamu?" tanya Ketua tim pencari Cresen
"Apa kamu pikir aku takut mati anak muda? Hahaha... naif sekali."
Satu pukulan pun mendarat lagi.
"Bunuh saja aku, ayo kita mati bersama-sama. Atau mari kita tenar bersama-sama. Habisi manusia-manusia itu. Lalu kita ambil alih pulau ini!"
"Solanum Tuberusum... kamu benar-benar tidak tahu malu. Tapi yang akan mati itu adalah kamu. Kami tidak akan mati!" ujar kakek kemudian.
"Hahaha... cucumu sekarat. Tinggal menunggu waktunya dia meledakkan diri dan meledakkan bumi ini! Kamu pikir bisa selamat?"
Kakek tidak menjawab. Ia menggeledah tas ranselnya sendiri dan mengambil sebuah kotak putih dengan tanda positif dan berwarna merah. Lalu mengambil sebuah jarum suntik.
"Kamu mau menyuntikku? Apa kamu ingin membuatku tertular?" tanya Solanum Tuberusum tanpa rasa khawatir.
"Ya aku akan menyuntikmu, tapi bukan untuk menjangkitimu dengan virus. Tapi mengambil anti virus itu sendiri dari darahmu!" seru kakek tersenyum.
Lalu kakek menyuruh salah satu dari mereka untuk mengambil darah Solanum Tuberusum. Dan seketika senyum di wajah orang itu hilang.
"Kenapa? Kamu terkejut? Aku juga terkejut. Kamu berani bawa virus tanpa anti serum. Jadi aku berpikir kalau hanya ada satu kemungkinan. Yaitu kamulah anti serum itu sendiri."
"Ah, dasar! Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Solanum Tuberusum.
Ia mulai panik saat jarum suntik mulai menyentuh kulitnya. Dan meronta untuk melepaskan diri. Akhirnya darahnya berhasil diambil. Lalu pria yang mengambil darahnya menyuntikkan darah itu pada luka putri cenayang.
Benar dugaan kakek, ternyata darah Solanum Tuberusum sudah mengandung anti serum. Dan dengan cepat putri cenayang pulih. Lalu ia membuka lapisan pelindung yang dibuat mamanya.
Saat lapisan pelindung itu terbuka, Cenayang ambruk. Ia tidak berhasil menyadarkan Cresen. Dan meminta maaf pada Panthera Tigria karena ia tidak bisa membantu.
Kakek menyuruh seseorang untuk membawa Cresen. Tapi hal itu dicegah putri Cenayang. Dan juga Panthera Tigris.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan? Aku ingin membawa cucuku pulang untuk menyembuhkannya! Minggir dan jangan menghalangi!" teriak kakek pada suami Kepala Suku.
"Kalian tidak boleh membawa putraku!" teriak Panthera Tigris marah.
"Apa yang kamu katakan? Apa kalian ingin cucuku mati dan meledakkan bumi ini? Kalian mau mati?" tanya kakek.
Solanum Tuberusum tertawa. Menertawakan dua orang yang tidak saling mengerti itu. Dan bahkan ada aksi dorong mendorong saat beberapa orang mencoba mengambil Cresen namun dihalangi oleh penduduk pulau. Mereka mengelilingi Cresen dan Kepala Suku.
"Kalian bayi jahat. Kalian tidak pantas menyentuh putraku!" hardik Panthera Tigris.
Semakin anggota tim kakek berusaha mengambil Cresen maka penduduk pulau semakin marah. Dan akhirnya memukul mundur tim anggota kakek. Sampai akhirnya terjadi aksi saling todong senjata.
"Tahan!" teriak kakek.
Para anak buah kakek menurunkan senjatanya begitu pun para penduduk pulau. Lalu Panthera Tigris membungkus Cresen dan menggendong Kepala Suku. Kemudian membawa keduanya pergi.
"Hei, kembalikan cucuku!" teriak kakek.
Penduduk pulau membuat pagar betis dan para anggota tim pencari Cresen mencoba mengejar Panthera Tigris yang kabur. Dan di tengah jalan Panthera Tigris memanggil burung raja wali.
Burung itu masih terluka. Namun tetap datang dan membawa ketiga orang tersebut. Mereka di bawa ke tempat para penduduk pulau mengungsi.
Panthera Tigris segera menurunkan Cresen dan istrinya. Penduduk pulau terkejut.
"Ambilkan obat untuk putraku!" teriak suami Oryza Sativa.
Maka penduduk pulau segera membawa berbagai jenis obat-obatan. Dan Panthera Tigris mencoba setiap obat. Tapi hasilnya tidak ada. Cresen tetap tidak sadarkan diri. Bahkan ketika pasukan kakek berhasil menemukan mereka.
Saat itu Panthera Tigris sudah meneteskan air mata. Ia putus asa. Tapi melihat para tim kakek datang segera ia menghapusnya. Dan mengangkat senjata.
"Tenanglah...! Kami bukan musuh...!" seru anggota tim kakek. Sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahunya.
Lalu ia menunjuk ke arah Cresen.
"Kami harus membawanya. Kami harus membawanya ke kota. Kerumah sakit!" Sambil mengarahkan jari telunjuk yang diarahkan pada Cresen ke arah lain.
Panthera Tigris diam. Penduduk pulau mengerutkan kening mereka. Walau tidak paham kata-kata anak buah kakek, mereka bisa menebak kalau Cresen ingin dibawa pergi.
Pria tersebut mencoba menjelaskan. Ia mengambil ranting besar dan ranting kecil. Saat menyentuh ranting besar dengan tangan kiri ia menunjuk ke arah Oryza Sativa dengan tangan kanan. Saat menyentuh ranting kecil dengan tangan kiri ia menunjuk Cresen dengan tangan kanan.
__ADS_1
Lalu ia menyusun ranting-ranting kecil mengelilingi ranting Oryza Sativa dan Cresen. Saat menyentuh ranting-ranting itu iya menunjuk penduduk pulau satu persatu.
Penduduk pulau diam, lalu salah satu penduduk pulau maju dan mengambil salah satu ranting. Dan menggantinya dengan ranting yang lebih besar dan panjang. Yang ukurannya sama dengan ukuran Oryza Sativa.
Melihat hal itu para penduduk menoleh penduduk yang satu itu. Dan yang dilihat tersebut hanya menunjukkan ranting yang ia ganti dan dirinya bergantian.
"Itu rantingku," ujarnya santai.
Para penduduk pulau akhirnya membubarkan diri dan mengambil ranting yang menurut mereka sesuai untuk menjadi ranting mereka lalu mengganti ranting-ranting yang di
hadapan pria tim kakek.
Sejenak pria itu terpelongo. Lalu menghela napas dan mencoba berbicara lebih lanjut. Sementara rekannya sudah menutup mulut menahan tawa.
"Baiklah kita lanjutkan," kata pria tim pencari Cresen.
"Tuan Cresen punya jantung," katanya lalu mengambil ranting Cresen.
Sambil menunjuk dadanya dengan tangan kiri, ia membuat gerakan mengunkuncup dan mengembang dengan tangan kanan. Para penduduk secara spontan menyentuh dada mereka dan merasakan detak jantung mereka sendiri.
"Dan sekarang jantungnya sudah rusak," katanya.
Sambil menunjukkan gerakan menguncup lalu dengan cepat membuat gerakan jari mengembang. Tapi kali ini tangannya dihempaskan ke bawah. Dan ia pun merubuhkan badannya sambil memegangi dadanya.
Tidak lupa memperagakan orang muntah darah. Lalu ia bangkit sesaat dan menetesi bibinya dengan darah dari luka di tangan temannya.
Pantheta Tigris dan penduduk pulau terdiam saat pria asing yang berakting itu diam sambil memeluk ranting Cresen di dadanya. Tidak pria itu bangun dan menunjuk tangan yang memperagakan denyut jantung.
"Jika ini tidak diobati ...," katanya terhenti sejenak. Lalu ia mengunyah daun dan mengoleskan tangannya dengan kunyahan.
"Di kota," lanjutnya menunjuk ke arah yang jauh.
"Maka tubuh tuan Cresen akan hancur!" serunya sambil mengacungkan ranting sebagai Cresen pada para penduduk. Lalu menghancurkan ranting itu.
Seluruh penduduk terkejut. Dan pria tersebut menunjukkan sekitar. Dan memumukul-mukul tanah. Meraup segegam tanah dan menghambur-hamburkannya. Begitupun dengan sesuatu yang ada di tanah. Diambil dan dihamburkan ke atas.
Kemudian mengambil ranting-ranting lalu menghancurkannya satu persatu. Saat ia mengambil satu ranting seukuran milik Oryza Sativa pemiliknya segera merampas ranting itu dan menyimpannya di balik punggung.
"Kamu tidak mau hancur? Maka izinkan kami membawa tuan Cresen."
__ADS_1