
"Hadiah? Hadiah apa? Dia itu cucu dari penyandang dana terbesar di pulau ini. Memangnya dia masih membutuhkan hadiah?" tanya para dokter.
"Biar pun Cresen dan Corazòn adalah orang yang berbeda. Maksudku ... kalian pasti mengerti. Cresen itu cucu asli. Corazòn tidak.Tapi perlakuan tuan besar pada keduanya sama. Pasti apapun yang ia inginkan akan diberikan oleh tuan besar. Tidak penting, apakah anak itu dalam keadaan bermata biru atau pun bermata merah."
"Kita coba saja apa yang dikatakan oleh dokter Aves. Walaupun gagal, kita masih punya stok. Dan jika berhasil stok untuk bahan percobaan akan bertambah," ujar Aji.
"Ya, baiklah kalau begitu. Kita akan mencoba membujuk anak itu."
"Tidak perlu, biar Aku saja. Anak itu cukup dekat denganku."
"Baiklah dokter Aves. Semoga berhasil," ujar para dokter lainnya.
Hari berikutnya Corazòn berangkat ke sekolah. Dan semua murid mengenakan bedak di wajah dan tubuh mereka seperti yang dilakukan oleh Corazòn. Dan hanya satu orang anak yang tidak. Dia adalah Aji. Murid baru di kelas itu.
Semua terjadi karena tadi malam ia meminta untuk bergabung dalam tugas menjadi murid sekolah. Dan Aves setuju.
"Tapi jangan mengikuti tingkah anak itu. Sebab ia membawa pengaruh buruk untuk teman sekelasnya. Kamu pasti mengerti, kan? Sebab kamu juga salah satu penonton proses belajar mengajar di kelasku," pesan Aves malam itu.
Lamunannya terhenti saat seorang murid menegurnya. "Hei, kenapa belum memakai bedak? Itu adalah syarat untuk menjadi bintang kelas."
"Aku tidak perlu menjadi bintang kelas," jawab Aji.
Saat itu Corazòn menoleh padanya. "Kenapa kamu tidak ingin menjadi bintang kelas? Lalu untuk apa kamu pergi ke sekolah? Apa kamu datang hanya untuk bermain ayunan?"
"Hah, apa maksudmu?" tanya Aji pada Corazòn.
"Ayolah, jangan berbohong. Kalau tidak mau belajar, alasan orang masuk sekolah adalah agar bisa bermain. Memangnya ada hal lain?" Corazòn membalas.
"Aku ingin berbicara pada kakakmu," jawab Aji.
"Apa katamu? Berbicara pada kakakku? Hadapi Aku dulu, baru kamu bisa berbicara dengan kakakku."
Corazòn mengambil ancang-ancang seolah-olah bersiap membalas jika Aji memukulnya. Semua itu karena ia melihat dalam ingatan Cresen bahwa, jika ada yang mengatakan ingin berbicara, artinya mengajak untuk berkelahi.
Tapi Aji hanya mengangkat satu alis. Lalu membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan sebotol bedak.
"Ini untukmu, jika kamu mengizinkanku berbicara dengan kakakmu," ujar Aji.
"Apa kamu pikir bisa menyuapku dengan bedak? Aku tidak akan menjual saudaraku sendiri. Da-" ucapnya terputus.
"Ada perlu apa denganku?" tanya Cresen.
Manik mata sebelah kanan berubah berwarna biru.
"Kakak, jangan takut. Aku akan melindungimu!" seru Corazòn.
__ADS_1
"Tenang saja, dia tidak mungkin melukaiku." Cresen menjelaskan pada Corazòn.
Bell berbunyi. Aves memasuki ruang kelas. Seluruh murid sudah membedaki diri mereka masing-masing. Melihat Aji belum memakai bedak sedikitpun, Corazòn dengan cepat membuka kertas penutup lubang botol bedak.
"Tidak perlu berterima kasih padaku," ujar Corazòn membedaki wajah Aji.
Tindakan tiba-tiba itu membuat Aji tidak bisa berbuat apa-apa. Cresen tersenyum.
"Baiklah, kita bertemu setelah pulang sekolah," ujar Cresen.
Di depan mata Aji, manik mata yang berwarna biru kembali menjadi berwarna merah. Aji ingin menghapus bedaknya tapi Corazòn menahannya.
"Jangan dihapus. Nanti kamu bisa dihukum. Aku tidak akan mengizinkanmu bertemu dengan kakakku jika, kamu menghapus bedak itu. Karena Aku tidak ingin kakakku berteman dengan murid baru yang tidak taat peraturan," ujar Corazòn.
"Tapi," ujar Aji terpotong saat Corazòn memberi isyarat untuk diam.
"Jam pelajaran sudah dimulai," bisik Corazòn.
Aves melirik ke arah Aji lalu membelalakkan matanya seolah bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan?"
Dan anak itu membalas dengan menggerakkan dagunya sedikit ke arah Corazòn. "Anak itu yang melakukkannya," jawab Aji dengan gerakan mata melotot ke arah Corazòn.
Sedangkan Corazòn dengan tenang duduk manis di kursinya. Layaknya murid teladan yang menantikan pelajaran hari ini. Aves menggelengkan kepala lalu mengeluarkan sebuah buku.
"Pak Guru!" teriak Corazòn.
"Ada murid baru di kelas kita," jawab Corazòn.
Semua anak menatap Corazòn termasuk Aji. Aves segera menyadari apa yang hendak disampaikan oleh Corazòn, maka dengan cepat ia meminta Aji untuk memperkenalkan diri.
"Apa Aku harus melakukannya? Bukankah semua sudah mengenalku?"
"Tentu saja, lagi pula kamu baru saja masuk. Jadi tetap harus melakukan perkenalan diri," ujar Corazòn pada Aji.
Aji pun memperkenalkan diri, setelah Aves memberi kode dengan batuk kecil.
"Baiklah murid-muridku yang baik. Hari ini kita belajar mengenai golongan darah. Fungsi darah pada tubuh. Juga hal-hal yang berkaitan dengan darah." Aves memulai kelasnya dengan santai.
Lalu membagikan seluruh buku yang telah ia persiapkan sebelum masuk ke kelas. Seluruh murid membuka buku itu lalu membalikkan setiap halamannya hingga halaman terakhir. Lalu menutup buku tersebut.
Anak-anak menguap berkali-kali mendengar penuturan Aves yang terasa membosankan. Dari buku yang baru saja dicetak tadi malam. Dengan tujuan untuk memancing Corazòn pada tujuan yang sebenarnya.
Selesai ia menjelaskan isi buku, para muridnya sudah menjadikan buku mereka sebagai bantal. Mereka tertidur. Dengan kesal Aves memukul meja membuat semua orang terbangun karena terkejut.
Tapi para penonton yang berada di laut justru bersorak senang. "Lihat bayi itu, dia tidak bisa mengalahkan putra kepala suku. Ia tidak bisa membuat sihir dan membagi meja menjadi dua. Pasti pertarungan kali ini dimenangkan oleh putra kepala suku lagi."
__ADS_1
"Ya kamu benar. Bayi terkuat itu adalah Corazòn. Jangankan melawan Corazòn, adu kekuatan dengan para bayi yang ada di pulau kita saja, mereka pasti tidak akan mampu."
"Setuju... Corazòn hebat...!" seru mereka bertepuk tangan.
Lalu mereka menatap layar laptop dengan serius kembali.
"Tapi kenapa Corazòn tidak melakukan hal yang sama? Padahal anak-anak lain sudah memperlihatkan kekuatan mereka dengan mengangkat tempat duduk mereka masing-masing?"
Para penduduk tidak mengerti kalau mengangkat kursi adalah hukuman yang diberikan Aves pada muridnya. Yang tidur di kelas, pada saat ia sedang menjelaskan banyak hal tentang darah.
Sedangkan murid-murid menggerutu, "Kenapa kami harus dihukum mengangkat kursi?"
"Karena kalian tidur pada saat jam belajar," jawab Aves.
"Apa yang salah dengan tidur?" tanya para murid.
"Corazòn... kamu adalah murid paling normal di kelas ini kan? Kamu juga murid paling pintar. Jadi... coba kamu jelaskan pada mereka, apakah di kelas boleh tidur saat guru menerangkan atau tidak?" tanya Aves sambil tersenyum dengan licik.
"Tentu saja tidak boleh," jawab Corazòn tanpa ragu.
"Corazòn memamg hebat. Benar-benar murid normal..." ujar Aves memuji Corazòn.
Semua itu ia lakukan dengan maksud menyindir murid yang mengatakan kalau ia tidak mungkin sekolah sebagai murid normal. Murid itu pun cemberut dan Aves tersenyum dengan puas.
"Baiklah semuanya, karena saya sudah menjelaskan tentang darah, maka ada satu hal yang penting dari semua itu. Yaitu tentang mendonorkan darah untuk mencukupi pasokan darah di bank darah. Jadi adakah yang bersedia menjadi pendonor?"
Aves menatap ke arah Corazòn. Anak itu masih diam. Yang lain masih kesal karena sedang menjalani hukuman. Lalu Aves melanjutkan rencananya.
"Pihak sekolah menyiapkan hadiah untuk setiap murid yang bersedia mendonorkan darahnya. Bagaimana, ada yang tertarik?"
Corazòn tampak berpikir keras. Mencoba menebak hadiah yang akan dia dapatkan seandainya ia bersedia.
"Memangnya ada hadiahnya? Sejak kapan?" tanya satu murid yang tidak tahu akan rencana Aves.
"Sejak hari ini..." jawab Aves dengan mata melotot pada anak yang bertanya itu.
"Bagaimana? Apa Corazòn setuju? Hadiahnya adala-" ujarnya terputus sebab Corazòn menyela.
"Apakah Aku akan mendapatkan semangkuk bubur?" tanya Corazòn mengingat saat ia memakan bubur di rumah Aves.
"Ya, dan bukan hanya satu mangkuk. Kamu juga boleh makan sepuasnya. Se-ti-ap ha-ri. Selain itu kamu juga akan mendapatkan sari toples besar permen coklat," jawab Aves.
"Aku mau!" seru Corazòn tanpa ragu.
Aves tersenyum lalu menatap ke arah kamera. Para dokter yang bekerjasama dengannya dalam satu pronyek mengangkat kedua tangan, dalam keadaan tapak tangan dikepalkan sambil berseru.
__ADS_1
"Berhasil...!"