Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Hilang Kesadaran


__ADS_3

Satu-satunya cara yang bisa ia pikirkan saat ini hanyalah turun. Dan mereka pun mendarat. Mencari tempat aman. Lalu menyuruh burung raja wali pergi ke tempat Panthera Tigris berada.


Oryza Sativa kembali mencoba menenangkan Cresen. Meski air matanya bercucuran. Rasa sulit untuk memusatkan pikiran. Sampai ia menapar pipinya berulang kali. Dan menghapus air matanya.


Sekali lagi ia mencoba memusatkan pikiran dan ia pun berhasil. Kali ini tidak sekedar menggunakan kekuatan agar Cresen tidak mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Tapi ia membagi rasa sakit yang Cresen rasakan pada tubuhnya sendiri.


Oryza Sativa harus menahan sakit sambil terus berkonsentrasi. Dan hal itu tidak cukup membantu seperti sebelumnya. Justru keadaan Cresen semakin memburuk. Hingga akhirnya ia pasrah. Dan menggunakan mantra khusus. Mantra terlarang yang sudah dilupakan sejak ratusan tahun lalu.


"Sekarang aku hanya bisa berharap padamu suamiku," gumam Oryza Sativa.


Ia hanya bisa berharap suaminya dapat tiba tepat waktu dan menyelamatkan mereka. Atau keduanya akan kehilangan nyawa mereka. Sebab saat ini tidak bisa dipastikan siapa yang akan menemukan mereka terlebih dahulu.


Para pria berseragam hitam atau suaminya, atau malah binatang buas dan memangsa mereka yang tidak berdaya. Saat terikat oleh mantra berbagi nyawa.


Sebab jika orang yang mendapatkan nyawa itu hidup maka keduanya akan hidup. Tapi jika yang mendapat nyawa itu mati maka keduanya akan mati. Dan setelah membaca mantra itu, Oryza Sativa akhirnya tidak sadarkan diri.


Cresen sudah tidak kejang lagi. Darah tidak lagi menetes dari hidung dan mulutnya. Tapi ia juga tidak sadarkan diri. Keduanya tidak bergerak dalam posisi Oryza Sativa memeluk Cresen.


Oryza Sativa sempat memperhitungkan segala kemungkinan terburuk jika keduanya tidak sadarkan diri. Jadi ia memilih posisi tersebut. Seandainya ada binatang buas, maka yang lebih dulu dimangsa adalah dia.


Walau ia tahu jika ia habis dimakan hewan buas, tidak akan ada kesempatan baginya untuk hidup, namun masih ada harapan Cresen akan selamat. Tapi setidaknya itu tidak lebih buruk jika Cresen yang dimangsa terlebih dahulu. Karena jika Cresen dimangsa sebelum keduanya sadar. Maka Oryza Sativa akan mati saat Cresen sudah tiada.


Nasib baik ternyata belum berpihak. Tim dari pihak musuh menemukan Oryza Sativa lebih dahulu. Mereka adalah orang yang turun menggunakan parasut.


Melihat sesuatu dibalut dengan kulit hewan mereka mulanya terkejut. Hampir saja mereka melakukan tembakan. Sebelum akhirnya menyadari kalau sesuatu yang mereka lihat tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


Perlahan-lahan mereka mendekat. Dan saat hendak membuka kulit hewan yang menyelimuti tubuh Oryza Sativa dan Cresen, Panthera Tigris tiba.


"Menjauh dari istriku!" hardik Panthera Tigris yang berada di atas punggung burung raja wali.


Pria berseragam hitam menoleh dan menodongkan senjata pada Panthera Tigris. Segera mereka melakukan penyerangan pada suami Kepala Suku. Dengan cepat Panthera Tigris melompat turun dari atas punggung raja wali.


Burung itu segera terbang. Dan Panthera Tigris melompat dari satu pohon ke pohon lain. Memancing perhatian pria-pria berseragam ke arahnya. Hasilnya mereka menjauhi Oryza Sativa dan Cresen sambil melepaskan serangan ke arah Panthera Tigris.


Mereka yang kesal melepas satu bahan peledak namun mereka gagal melukai Panthera Tigris yang bergerak cepat di antara dahan pohon. Lalu segera suami Oryza Sativa melumpuhkan pria berseragam. Mereka berjumlah tiga orang. Dan Panthera segera melepas anak panah, saat ia mendapat kesempatan.


Ia sudah mengetahui tentang kekuatan tiap senjata para pria berseragam hitam itu. Maka sebelum mereka mengeluarkan senjata mematikan, Panthera Tigris lebih dulu melumpuhkan mereka. Dengan tepat membidik kaki dan tangan mereka.


Lalu mendekati para pria berseragam dan mengambil senjata-senjata mereka. Kemudian melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh pria berseragam itu. Menodongkan senjata api, tapi tidak menarik pelatuknya.


Mereka kesakitan akibat panah yang masih menancap di tangan dan kaki mereka. Tapi merasa sedikit lega karena Panthera Tigris tidak segera menghabisi mereka.


"Kenapa dia menatap kita terus. Sepertinya kita bisa menghabisi orang besar ini," kata yang lain.


"Kalian! Pergi segera dari dunia kami. Atau aku akan membuat kalian terluka lebih parah!" ancam Panthera Tigris. Sambil melihat senjata api ditangannya yang tidak bereaksi sama sekali.


"Kenapa tongkat ini tidak melakukan apapun? Apa ini tongkat sihir yang hanya bisa digunakan oleh pemiliknya? Terserahlah, asal tidak kembali ke tangan mereka maka tongkat sihir ini tidak akan menyakiti pendudukku!" batin Panthera Tigris.


Tiga orang yang terluka saling pandang. Mereka tidak paham kata-kata Panthera Tigris. Tapi mereka kini sama-sama tahu apa yang harus mereka perbuat. Melihat Panthera Tigris yang tidak memegang senjata api itu dengan benar.


"Serang dia secara bersama-sama, lalu rampas kembali senjata kita dan habisi dia secepatnya," ujar salah satu dari pria asing itu.

__ADS_1


Mereka pun mematahkan panah yang menancap di kaki dan tangan mereka agar tidak menjadi penghalang saat menyerang Panthera Tigris. Tapi mereka juga tidak mencabutnya agar darah tidak mengalir lebih deras dari luka mereka.


"Siap, satu... dua... tiga...!" Mereka pun menyerang Panthera Tigris bersama.


Tapi hal itu membuat Panthera Tigris kalap dan tanpa segaja menarik pelatuk senjata yang ada di tangan kanannya. Dan satu timah panas keluar lalu mengenai salah satu dari pria asing tersebut. Tepat di bagian perut.


Pria asing yang tadi penuh percaya diri menyerang tiba-tiba mundur. Ketika Panthera Tigris kini menyeringai. Suami Oryza Sativa membenahi caranya memegang senjata dan dengan cepat melakukan serangan ke arah pria-pria asing tersebut.


"Pergi... sebelum aku memutuskan kaki dan tangan kalian. Lalu membiarkan kalian di makan binatang liar!" kata Panthera Tigris.


Tiga pria asing pun berlari tertatih-tatih. Panthera Tigris segera menghampiri istri dan putra angkatnya. Saat membuka kulit harimau yang menutupi tubuh keduanya ia pun menyadari satu hal.


"Gawat... ini masalah besar," gumamnya mengusap wajahnya.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki. Panthera Tigris menoleh ke arah suara. Ternyata ketiga pria asing yang terluka tadi menunjukkan lokasi Panthera Tigris pada rekannya.


Tiga pria yang diserang oleh Panthera Tigris bertemu anggota lainnya saat kabur. Para anggota tersebut telah mengenakan masker khusus sejak turun dari pesawat. Dan kini mereka mengikuti dua dari tiga yang terluka tadi ke tempat Panthera Tigris berada.


Sementara satu yang terkena tembakan dibagian perut harus menghembuskan nyawa. Setelah urat nadinya putus akibat senjata tajam milik kelompoknya sendiri. Agar tidak menjadi penghalang dalam misi.


"Lihat tubuh berototnya itu. Aku rasa serangan dengan senjata api tidak akan melumpuhkannya," kata seseorang pada pria tua yang menggunakan masker.


"Kalau begitu kita gunakan bahan peledak saja!" seru yang lain pada pria tua tersebut.


"Jangan pakai bahan peledak. Aku penasaran dengan yang ia lindungi di belakangnya tersebut. Siapa mereka? Masih hidup atau sudah tiada? Dan sepertinya akan menarik jika kita bisa melumpuhkannya tanpa membunuh penjaga tersebut," gumam pria tua yang merupakan dalang penculikan Cresen.

__ADS_1


__ADS_2