
"Sayang, setiap makhluk hidup dan benda di dunia ini punya takdirnya masing-masing. Hal terhebat adalah mampu menerima takdir itu."
Oryza Sativa mencoba membuat putra bungsunya mengerti. Tapi anak itu malah menangis, ia tidak mengerti ucapan mamanya dan mengira kalau Cresen masih berebut tubuh dengannya.
Kepala Suku memutuskan memandikan putranya dan segera menggendongnya pulang. Saat tiba di rumah, Corazòn menjadi anak yang pemurung. Ia masih kesal. Dan tidak mau melakukan apapun.
Oryza Sativa mencoba menghiburnya. Dengan membawa anak itu ke sebuah gubuk yang dipergunakan untuk menyimpan hewan peliharaan Corazòn. Tapi ia lupa akan satu hal, bahwa ia sudah melepas hewan-hewan itu secara tidak langsung. Kini hanya seekor ikan dan satu ulat daun pisang yang masih tersisa di sana. Bahkan keong emas pun telah pergi.
Ada sedikit penyesalan di hati Oryza Sativa, karena membiarkan pintu terbuka semalaman dan membuat hewan-hewan yang ada kabur. Corazòn tidak terlihat bersemangat. Kepala Suku belum menyerah. Dia menggendong putranya dan memanggil burung raja wali miliknya.
Corazòn melihat kenangan Cresen saat pertama kali berada di atas punggung burung raja wali tersebut. Dan ia pun tersenyum. Lalu berkata kalau ia ingin naik. Tentu saja keinginan itu segera dikabulkan.
Mereka berdua akhirnya terbang mengelilingi pulau dengan menunggangi burung raja wali tersebut. Tampak oleh Corazòn pemandangan yang menakjubkan. Dan ia melihat banyak hewan berlarian di hutan.
"Mama... apa kita sedang di kebun binatang?" tanyanya penuh dengan antusias.
"Apa? Kebun binatang? Apa itu?" tanya Oryza Sativa bingung.
"Iya, tempat kita bisa melihat hewan-hewan. Aku pernah melihatnya di televisi."
"Televisi? Apalagi itu?" tanya Oryza Sativa. Ia lupa kalau sudah pernah melihat benda itu saat berada di rumah sakit.
"Yang ada hewan-hewannya. Ada berita juga film." Corazòn menjelaskan seperti yang bisa ia pahami.
Corazòn terus berceloteh. Seolah kejadian yang dialami oleh Cresen dialami sendiri olehnya. Oryza Sativa hanya bisa tersenyum. Dan geleng kepala. Sebab setiap kali ia bertanya, jawaban Corazòn hanya membuatnya makin bingung dan muncul pertanyaan baru di benaknya.
"Mama... lihat... ada orang yang sedang berenang," kata Corazòn menunjukkan ke arah laut.
"Ya, dia sedang mengawasi laut," jawab Oryza Sativa.
"Mama, ayo kita turun," ajak Corazòn. Tanpa menunggu lama mereka pun mendarat di tepi pantai.
__ADS_1
Corazòn tampak sangat senang. Ia lupa akan hal yang sempat membuatnya menangis tadi. Segera ia menginjakkan kakinya ke dalam air. Merasakan air sungai yang mendekati lalu meninggalkannya.
"Airnya maju mundur ya ma. Apa mereka sedang berdansa?"
"Mungkin," jawab Kepala Suku seadanya. Agar anak itu tidak banyak tanya. Yang akan membuatnya sakit kepala.
Corazòn bermain dengan air laut ia mengejarnya ketika surut. Lalu berlari menjauhi air itu ketika pasang.
"Tidak kena...!" ujarnya dengan nada gembira. Seolah ia benar-benar sedang bermain dengan air tersebut.
Seseorang keluar dari air dan menyapa Kepala Suku. Corazòn mendekati orang tersebut. Dan menatapnya seolah ia mengenalnya. Orang itu adalah wanita yang menyelamatkan Cresen saat pertama kali tenggelam di laut.
"Apa anda melihat ikan paus di sana?" tanya Corazòn.
"Tidak, ikan paus tidak berenang ke tepi pantai saat ini. Walau terkadang beberapa di antara mereka terdampar di tepi pantai."
"Apa anda bisa menangkapkannya satu untuk kupelihara?" tanya Corazòn. Perenang itu terpelongo.
"Kenapa tidak? Banyak temanku memeliharanya," sungut Corazòn.
Lagi-lagi ia merasa kalau ingatan Cresen adalah miliknya. Dan ia tidak tahu perbedaan ikan paus dan ikan koi dalam aquarium milik teman Cresen. Ingatan dan pengetahuan Cresen seperti puzzle yang tidak tersusun rapi dalam penglihatan Corazòn.
Kepala Suku memberikan kode pada perenang itu untuk mengarang sebuah jawaban yang bisa diterima putranya. Dan perenang itu pun tersenyum lalu menjawab dengan santai.
"Baiklah kalau begitu. Nanti jika aku bertemu ikan paus, Aku akan bertanya pada ikan itu, apakah ia mau dipelihara," ujar perenang itu.
"Astaga, kenapa malah menjawab seperti itu, mana mungkin putraku perca_" batin Kepala Suku terhenti.
Corazòn mengangguk, Oryza Sativa bengong. Ia tidak menyangka jawaban bohong itu berhasil. Setelah mendengar jawaban perenang tersebut Corazòn kembali ke air. Lalu ia bermain kejar-kejaran dengan ombak lagi.
Setelah lelah ia pun mencoba membuat istana pasir. Seperti dalam ingatan Cresen. Dengan menumpuk pasir basah seperti gunung, secara berbaris. Ia tampak serius dengan kegiatannya itu.
__ADS_1
Oryza Sativa dan perenang itu pun berbincang-bincang membicarakan tentang Cresen. Sambil memperhatikannya dari jarak beberapa langkah kaki orang dewasa.
Beberapa penduduk pulau muncul dari hutan. Dan melihat Kepala Suku. Lalu memanggil wanita itu. Mereka tampak serius dan seperti membawa sebuah pesan.
"Kepala Suku, Cenayang memerintahkan kami untuk memanggil semua orang yang berada di tepi pantai untuk kembali, sebab badai bisa tiba-tiba datang."
"Tapi cuaca sangat cerah, apa itu masuk akal?" tanya perenang dengan sedikit memicingkan mata melihat ke arah laut.
"Kami hanya menyampaikan pesan. Cenayang juga menyuruh kami agar segera kembali setelah memanggil orang-orang yang berada di tepi pantai."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, Aku akan menyuruh semua orang yang ada di pantai untuk kembali ke perkampungan. Kalian pulanglah. Aku dan putraku bisa lebih cepat menemukan orang yang ada di sekitar pantai dari atas," jawab Kepala Suku. Lalu ia melirik ke arah Cresen tapi anak itu tidak ada.
"Corazòn... Corazòn...!" panggilnya. Tidak ada jawaban. Kepala Suku mendatangi tempat terakhir anak itu berada.
Semua mata memandang ke arah Kepala Suku berjalan. "Ada apa? Apa tadi putra Kepala Suku ada di sini?" tanya mereka yang baru datang.
"Ya, tadi anak itu ada di sana bermain pasir." Perenang ikut menghampiri istana pasir yang dibangun Cresen.
Kepala Suku melihat jejak kaki lalu mengikuti jejak kaki Cresen. Yang ternyata mengarah ke hutan bakau. Kepala Suku mempercepat jalannya. Lalu berhenti. Memanggil burung raja wali dan naik.
"Kalian segeralah keperkampungan. Aku dan putraku akan segera kembali bersama orang-orang yang ada di pantai lainnya!" perintah Oryza Sativa. Dengan cepat ia memacu burung itu terbang.
Para penduduk pulau yang tadi bersamanya, segera berangkat ke perkampungan bersama perenang, seperti pesan Kepala Suku.
"Corazòn...! Corazòn...!" teriaknya dari atas punggung burung raja wali sambil mencari.
Corazòn yang berhasil menangkap kepiting yang ia kejar ke hutan, mendengar teriakan mamanya saat ia kembali ke pantai. Tapi wanita itu cukup jauh darinya. Corazòn berteriak memanggil mamanya. Lalu berpikir untuk menaruh kepiting itu ke dalam istana pasir miliknya terlebih dahulu.
Saat ia pergi ke tepi laut, ia melihat air laut tiba-tiba surut. Dan makin banyak kepiting keluar dari air. Corazòn merasa bersemangat untuk menangkap mereka. Sedangkan beberapa orang yang ada di tepi pantai di bagian lain, dengan alasan tertentu justru berlari menuju hutan.
"Corazòn...! Kembali...!" teriak Oryza Sativa.
__ADS_1