
Kepala Suku akhirnya diam tanpa berbuat apa-apa setelah cukup lama, Cresen tidak memperlihatkan perubahan apapun. Lalu ia menggendong Cresen dan didekap di dadanya. Sambil berjalan pulang ia terus saja mengutuk dirinya.
Sesampainya di perkampungan semua orang menatap Kepala Suku. Lalu mereka saling berbisik.
"Bukankah itu Cresen, kenapa bisa ada di sini?"
"Apa Kepala Suku mengambilnya dari laut karena tidak ingin melepasnya?"
"Apa Kepala Suku membu__"
"Hus! Apa yang kamu bicarakan, itu tidak mungkin!"
Akhirnya mereka cuma bisa diam saja sambil terus menyusun kayu yang ingin diangkut untuk menjadi pagar. Juga mereka ikut bersedih melihat Kepala Suku yang berduka.
Pagar akhirnya selesai dibangun.
Ke esokan harinya matahari bersinar seperti biasa. Suara berisik tidak terdengar seperti biasa. Cresen belum bergerak sama sekali. Pakaiannya sudah diganti. Tubuhnya sudah diseka.
Tidak ada acara penguburan sebab meski tidak menemukan denyut jantung Cresen, tidak ada yang berani menyebutkan kalau anak itu sudah tiada. Bahkan Cenayang sekalipun.
Pagi itu Oryza Sativa membawa Cresen ke puncak gunung tertinggi dan melakukan puasa. Dia memeluk Cresen dan bersumpah tidak akan turun gunung sebelum Cresen hidup kembali. Dan ia membawa Cresen dengan berjalan kaki. Tidak ada yang boleh mengikutinya.
Semakin ia jauh berjalan-semakin kuat detak jantungnya bergerak. Tanpa ia sadari, jantungnya yang berdetak dengan kencang menuntun jantung Cresen yang lemah untuk berdetak lebih cepat.
Cenayang bersedih. Ia merasa sudah melakukan kesalahan besar dan ia pun memutuskan untuk berpuasa. Menutup pintu dan tidak mengizinkan siapapun masuk.
Ternyata hal itu membuat semua orang ikut melakukan hal yang sama. Semua kegiatan di tempat itu berhenti. Seluruh penduduk ikut berpuasa. Bahkan matahari seolah ikut mengurung diri dan menutupi cahayanya dengan awan hitam.
Tepat sore hari Oryza Sativa yang berjalan cepat tiba di puncak gunung. Ia memilih satu pohon untuk tempat beristirahat. Dan ia pun tertidur. Sambil memeluk Cresen.
Saat itu perlahan-lahan Cresen terbangun. Detak jantungnya sudah normal. Ia mendengar detak jantung Oryza Sativa, lalu melirik ke kiri dan ke kanan. Mengatur posisi agar lebih leluasa melihat sekeliling. Tanpa turun dari buaiannya.
"Di mana ini?" batinnya.
Dari tempat ia berada seluruh tepi pulau dapat terlihat. Cresen bergerak lagi dan mencoba melepaskan diri. Tapi hal itu membuat Oryza Sativa terbangun dan menunduk.
"Agk!" Kepala Cresen terkena dagu Oryza Sativa.
Oryza Sativa diam lalu memeluk Cresen ke dadanya dalam posisi semula. Dan menutup matanya kembali.
"Lepaskan aku!" teriak Cresen. Oryza Sativa yang setengah sadar membuka matanya.
__ADS_1
"Kamu tidak dengar? Aku bilang lepaskan!" Cresen meronta.
Oryza Sativa membelalakkan matanya lalu melihat ke arah putranya. Dengan cepat ia mengukir senyum di bibirnya.
"Putraku!" pekiknya.
"Putraku kembali...!" teriaknya senang.
"Hei... telingaku bisa pecah! Kenapa berterik-teriak? Ayo lepakan aku!"
Karena terlalu senang Oryza Sativa mengangkat Cresen dengan ke dua tangannya ke langit. Memamerkan kalau putranya hidup kembali. Sementara tanpa sadar kulit hewan yang membungkus tubuh Cresen terlepas.
"Oryza Sativa...! Aku akan membunuhmu...!" Cresen berteriak kesal, karena merasa malu setengah mati, sambil melipat kakinya. Menutupi bagian tubuh yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Oryza Sativa tidak perduli. Ancaman Cresen tidak membuatnya gentar. Ia pun segera memanggil burung Rajawali miliknya. Barulah mengambil kulit harimau dan membalut tubuh Cresen. Ingin rasanya Cresen menjambak rambut Oryza Sativa kalau bukan karena tangannya terbungkus bersama seluruh tubuhnya kecuali kepala.
"Jangan dibuka ya sayang. Nanti kamu kedinginan!" seru Oryza Sativa sambil menempelkan pipinya yang hangat ke pipi Cresen.
Mereka pun pulang ke perkampungan dan tidak mendapati siapa pun di sana. Sunyi dan semua pintu tertutup. Bahkan perapian yang selalu ada baik siang mau pun malam di tengah perkampungan sudah lama padam.
"Di mana semua orang?" gumam Oryza Sativa.
Tidak ada jawaban.
Oryza Sativa semakin cepat menggedor pintu. Dari celah-celah ia bisa melihat seseorang di dalam. Meskipun saat itu sudah mulai gelap sebab matahari seharusnya telah terbenam. Tapi karena seharian matahari tertutup awan, tidak ada yang tahu kapan matahari terbenam.
"Pergilah! Aku sudah bilang kalau akan berpuasa sampai Oryza Sativa kembali!" ujar Panthera Tigris setelah mendengar suara ketukan pintu berkali-kali.
"Sayang! Ini aku!" teriak Kepala Suku.
"Dan... juga putra kita," katanya lagi.
Panthera Tigris mengernyitkan keningnya. Dan belum beranjak dari duduk bersilanya. Setelah Oryza Sativa berkata berulang-ulang maka dengan cepat ia membuka pintunya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Jangan sedih meskipun ... dia," kata Pantera Tigris melihat Cresen.
Panthera Tigris menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengira penglihatannya sedang tidak beres. Cresen yang ada di dalam pelukan istrinya menatap padanya. Dia pun menepuk-nepuk jidad Cresen pelan dengan jari telunjuknya.
"Hentikan atau aku patahkan jarimu itu!" bentak Cresen.
"Dia, bicara?" Oryza Sativa mengangguk menjawab suaminya.
__ADS_1
"Dia hidup?" tanya Pantera Tigris mencolek-colek pipi Cresen dengan lemput.
"Hei... kamu benar... agk!"
Cresen pun diambil dari pelukan Oryza Sativa. Lalu suami Kepala Suku membawa Cresen ke tengah lapang. Lalu berteriak.
"SEMUA ORANG...! PUTRAKU SUDAH KEMBALI...! DIA HIDUP! PANTHERA LEO HIDUP KEMBALI!" serunya.
Cresen memegangi kulit harimau yang membungkus tubuhnya. Takut kalau seluruh tubuhnya akan terbuka. Tapi untungnya Panthera Tigris tidak mengangkatnya dengan mengangkat tangannya melainkan menggendongnya seperti bayi dengan satu lengan.
"Semua orang...! Keluar...!" teriaknya lagi sambil memukul-mukul sebuah bambu dengan kayu.
Oryza Sativa mengambil putranya kembali dan berdiri agak jauh dari suaminya yang sedang memukul bambu. Orang-orang yang berada di dalam rumah mereka masing-masing perlahan-lahan membuka pintu.
"Ada apa ini?"
"Itu Kepala Suku!"
"Kepala Suku datang!"
Seru mereka senang. Tapi mereka menjadi semakin senang saat Oryza Sativa memerkan putranya pada semua orang. Beberapa orang segera mengambil ranting kayu dan daun kering. Menyalakan api. Mereka ingin melihat dengan jelas wajah putra Kepala Suku.
"Ini luar biasa. Aku Cenayang, memberi hormat pada putra Kepala Suku!" seru Cenayang saat melihat Cresen dengan membungkuk sedikit.
"Semuanya... ayo kita berpesta...! Jangan ada lagi yang berpuasa! Putraku Panthera Leo hidup kembali! Dia kini ada bersama kita!" teriak Pantera Tigris bersorak bersuka cita.
Cresen mendengar semua kata-kata yang mereka ucapkan dan anehnya dia mengerti dengan jelas semuanya. Lalu seorang wanita membawa bayinya dan mendekati Cresen.
"Panthera Leo, letakkan tanganmu di atas kepala putriku. Karena aku berharap putriku juga bisa sekuat dirimu menghadapai kematian. Kamu sudah dua kali melewati jembatan kematian dan berhasil kembali ke dunia ini. Jadi berikat sedikit kekuatan itu padanya," pinta wanita itu menunjukkan bayinya yang pernah menggigit telinga Cresen.
"Bibi bicara apa?" Dan siapa Panthera leo?" tanya Cresen.
Semua yang mendengar Cresen berbicara menoleh.
"Luar biasa, Panthera Leo sudah pandai berbicara!" seru mereka satu sama lain dan tersenyum.
Cresen terdiam lalu membelalakkan matanya.
"Apa ini? Aku jadi sangat mengerti yang mereka katakan. Dan juga lancar berbicara dalam bahasa mereka!" batin Cresen.
Bersambung...
__ADS_1