
Aves membawa Corazòn pulang ke rumahnya. Memberinya vitamin penambah darah. Lalu meminta mamanya untuk memasak bubur kacang hijau.
Sambil menunggu waktu makan Aves pun bertanya tentang keadaan Corazòn. Lalu memeriksa kondisi anak tersebut secara medis.
"Semuanya normal," gumam Aves.
Lalu ia bertanya pada Corazòn, "Sebenarnya seberapa banyak darah yang diambil dari tubuhmu?"
"Aku? Tidak ada." Corazòn menjawab demikian karena mengingat saat pengambilan darah, Cresenlah yang melakukannya.
"Hah? Jadi dokter itu tidak mengambil darahmu?" tanya Aves.
Corazòn menggeleng lemah dan menundukkan kepala.
"Apa yang dilakukan dokter itu? Kenapa dia tidak mengambil darah anak ini?" tanya Aves di dalam hati.
Tapi kemudian Corazòn tampak mengangkat kepala dan menatapnya dengan berbinar.
"Pak Guru, bagaimana kalau anda saja yang mengambil darahku?" tanya Corazòn.
"Hah?" Aves terperangah heran.
Tapi kemudian ia berpikir lagi. Dan menyetujui saran Corazòn. Lalu mengambil sampel darah anak itu sebanyak satu tabung. Setelah pengambilan darah, tampak Corazòn berbinar-binar.
"Aku berhasil jadi anak kuat!" serunya senang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aves pada Corazòn. Anak itu menganguk.
"Lalu kenapa tadi saat masuk ke kelas wajahmu tampak lemas?" tanya Aves.
Corazòn tidak menjawab tapi ia malah memutar manik matanya satu putaran.
"Itu karena... Aku ingin mendapat mendali anak kuat. Tapi karena tadi yang disuntik adalah kakakku. Maka pasti Aku tidak akan mendapat mendali anak hebat tahun ini," jawab Corazòn panjang lebar.
__ADS_1
Aves memijat keningnya. "Kenapa kata-katamu sangat sulit dimengerti dibandingkan rumus kimia?" tanyanya setengah bergumam.
Meski mendengar pertanyaan Aves, Corazòn hanya bisa mengernyitkan keningnya. Sebab ia tidak paham arti pertanyaan Aves.
Dan saat mama Aves mengajak mereka makan, maka keduanya pun segera pergi ke ruang makan tanpa menunda. Lalu makan dengan lahap layaknya sebuah keluarga.
Setelah acara makan Aves dan mamanya mengantar Corazòn ke ruangan Panthera Tigris. Sekalian berkunjung. Saat itu Corazòn pun menjadi penerjemah, percakapan antara Aves, mama Aves dan papanya.
Malam hari pun tiba, Aves mendatangi gedung laboratorium. Ada banyak orang di gedung itu. Di tiap ruangan selalu ada yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Dan dokter Sasip si kembar siam sedang di ruangannya. Bersama beberapa orang.
"Maaf, apa Aku datang terlambat?" tanya Aves sambil meletakkan sebuah koper dengan perlahan.
Kemudian Aves membukanya menggunakan kata sandi. Dan memutar arah koper yang terbuka ke hadapan semua orang. Membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu saling menatap. Lalu dokter kembar siam melakukan hal yang sama.
"Ini sampel darah Corazòn," kata dokter yang mengambil darah Cresen.
"Ini sampel darah Corazòn," kata Aves mengikuti langkah dokter kembar siam.
"Corazòn mengatakan padaku kalau kamu tidak mengambil darahnya," ujar Aves pada dokter kembar siam.
Aves mengernyitkan keningnya. "Anak itu tidak mungkin berbohong padaku," ujarnya kemudian.
"Jadi menurutmu Aku yang berbohong?" Tatap dokter kembar siam dengan tajam ke arah Aves.
Aves terdiam. Semua orang menatap ke arahnya. Menunggu jawaban.
"Semua orang pasti bisa menyaksikan secara langsung, saat Aku mengambil sampel darah Corazòn. Karena ada kamera di ruangan tempat Aku melakukan tugasku." Dokter kembar siam memberikan alibinya.
Para dokter yang ada di ruangan itu juga mengangguk menandakan mereka setuju. Aves merasa kini semua orang justru meragukannya.
"Apa kalian tidak yakin dengan apa yang Aku katakan, kalau darah ini sampel darah Corazòn?" Kini Aves balik bertanya.
"Kalau kalian tidak percaya, kalian boleh melihat rekaman CCTV di rumahku. Di ruang tamu, Aku mengambil darah anak tersebut." Aves menjelaskan dan mengatakan fakta untuk membenarkan ucapannya.
__ADS_1
Semua dokter akhirnya saling memandang. Lalu salah satu dari mereka menengahi perdebatan itu.
"Sudahlah, semakin banyak sample, bukankah semakin baik? Sebaiknya kita tidak perlu membuang waktu lagi. Ayo kita coba sample darah anak itu."
Maka mereka pun sepakat, untuk melakukan uji coba pada bahan penelitian mereka. Salah satu dari pada dokter tersebut, menekan sebuah layar dengan telapak tangannya. Lampu menyala dari layar tersebut membentuk garis-garis vertikal. Lalu sebuah pintu terbuka.
Tampak sebuah tabung besar berisi air. Di dalamnya ada satu tubuh manusia yang utuh. Namun tidak bergerak sama sekali. Matanya tertutup. Dan bagian kepala seperti ditutup dengan helm kaca. Memiliki selang yang terhubung dengan tabung oksigen.
Lalu di bagian bawah tabung besar itu ada keyboard dan seseorang pun mengetik sesuatu. "Berikan sampel darahnya," ujar orang tersebut.
Aves dan dokter kembar siam saling memandang. Lalu dokter kembar siam maju dan memberikan sample darah Cresen. Darah itu pun diteteskan pada sebuah piring kaca kecil. Yang keluar dari bagian kecil tabung tersebut. Dan masuk kembali setelah tombol tertentu ditekan.
Tampak reaksi dari tetes darah itu muncul di layar monitor. Namun reaksi perubahan pada sel darah merah itu segera terhenti. Dan semua orang tampak seperti sudah tahu hal itu akan terjadi.
"Meskipun kita memberinya darah dari putranya sendiri. Tubuh ini tetap tidak bereaksi." Salah satu dari mereka pun berujar.
"Menghidupkan orang mati, bukanlah hal mudah. Jika itu memang bisa terjadi," ujar yang lainnya.
"Kita belum menguji pada istrinya, mungkin bisa bereaksi." Yang lain menimpali.
Akhirnya tindakan yang sama dilakukan kembali. Tetap saja, penghuni tabung kedua tidak bereaksi. Dan lagi-lagi sample darah Cresen hanya bereaksi sesaat. Lalu tidak memperlihatkan perubahan apapun lagi.
"Mungkin kita terlalu cepat melakukan hal ini. Seharusnya kita meneliti lebih lanjut lagi. Dengan mencampurkan zat lain pada darah tersebut, sebelum menggunakannya pada kedua orang ini," ujar dokter kembar siam.
"Ya baiklah. Tapi sample kita terbatas. Kita harus bisa memperkecil tingkat kesalahan. Sebab kita, tidak mungkin bisa mengambil sampel darah Corazòn seperti mengambil air dari keran." Dokter lain menimpali.
Layar keyboar pun digunakan kembali, lalu tampak pintu bergerak menutup. Mereka pun sepakat untuk menyimpan sampel darah yang tersisa di sebuah laci khusus.
Keesokan harinya, setelah selesai berperan sebagai guru, Aves kembali ke laboratorium. Dan melakukan uji coba bersama yang lainnya.
Mencampurkan beberapa zat yang ada sebelum meneteskan sample darah. Membuat catatan tentang takaran yang dicampurkan. Lalu masing-masing tabung ditetesi dengan sample darah.
Tabung pertama, seluruh cairan tampak menyatu dengan warna darah. Tabung ke-dua, terlihat cairan mengalami pengentalan. Tabung ke-tiga dan seterusnya, kekentalan semakin terlihat.
__ADS_1
Dan pada tabung terakhir, terlihat asap mengepul setelah cairan mengental, menghitam, lalu mengering. Asap itu pun kemudian terbakar.