
Tubuh itu tampak menyusut seiring dengan darah yang sudah mulai menipis.
Pada saat itu Oryza Sativa bahkan tidak mampu, mengunakan kekuatannya demi mengatasi gempa yang juga terjadi di pulaunnya. Tapi firasatnya mengatakan kalau ia harus pergi ke tempat putranya berada.
Saat itu juga ia pergi ke pantai hendak berlayar menemui Musa Paradisiaca. Ia juga tidak menghiraukan Cenayang yang melarangnya untuk pergi.
"Putraku dalam bahaya, Aku harus segera pergi ke sana!" teriak Kepala Suku.
"Anda tidak bisa berbuat seperti itu. Pulau ini akan hancur. Jika pemegang tambuk kekuasaan pergi meninggalkan tempat ini.
"Ini, ambillah. Mulai sekarang kamu yang jadi pemimpinnya!" ujar Oryza Sativa menyodorkan sebuah kalung pada Cenayang.
"Apa anda membuang kami begitu sata demi satu atau dua orang?"
"Cenayang, putraku dalam bahaya! Apa kamu mengerti! Jika kamu jadi Aku, apa kamu akan diam saja?!" tanya Oryza Sativa merasa kesal.
Tanpa menghiraukan siapapun ia pergi menaiki perahu kayu sendirian. Tidak perduli pada badai dan halilitar. Cenayang mundur dari tempatnya berdiri. Seluruh penduduk menatapnya dengan sejuta pertanyaan.
"Apa yang akan terjadi? Benarkah anda kepala suku yang baru?"
Cenayang diam seribu bahasa. "Kita sudah berakhir." Suara lemah keluar dari bibirnya.
"Kepala Suku dipilih oleh alam. Bukan oleh manusia dan bisa dipindahtangankan. Kepala Suku sudah membuang kita. Saatnya bersiap untuk keadaan terburuk yang tidak pernah kalian bayangkan."
Setelah mengatakan hal itu Cenayang menarik tangan putrinya untuk masuk ke rumah. Tapi pada saat itu rumah-rumah rubuh satu persatu di tiup angin. Begitu juga pohon-pohon tumbang.
Orang-orang panik mencoba menghindari pohon-pohon yang tumbang. Hewan-hewan bergerak kesana dan kemari. Mereka ikut merasa tidak tenang. Cenayang menyadari kalau perisai pelindung di pulau itu telah hilang.
Oryza Sativa sudah melewati perisai pelindung lebih dari batas yang boleh dia lewati. Namun ia tidak menemukan pesawat yang ditumpangi oleh Musa Paradisiaca dan lainnya.
"Putraku-putraku.... Suamiku...." ujarnya sedih dan terombang-ambing di laut.
Ia menatap tangannya yang menjadi pasir secara perlahan. Semakin ia menggerakkannya semakin cepat perubahannya. Begitu juga dengan Pantera Tigris. Dia yang berlari menuju gedung laboratorium tempat Cresen berada menjadi pasir setelah tiba di depan gedung tersebut. Lalu akhirnya pasir itu tertiup badai.
Para penduduk pulau juga telah menjadi debu pasir yang hilang tersapu hujan dan badai. Para bayi menangis, tubuh mereka menyusut seperti terkikis. Debu pasir mengalir dari tubuh mereka, hingga ukuran yang pas sebagai bayi sesuai usia mereka. Kini mereka hanya bisa menangis dan merangkak di tanah.
Semua itu terjadi karena perisai pelindung pulau itu telah hilang seutuhnya. Setiap orang yang berumur lebih dari 150 tahun lenyap. Semua mengikuti usia manusia yang umum di muka bumi ini. Bahkan pulau tersebut ikut menyusut.
__ADS_1
Aji yang masih berada di laboratorium terjebak oleh reruntuhan gedung dan tidak bisa keluar. Tanah bergetar dan gedung itu amblas. Tabung tempat kedua orang tua Cresen tertimpa reruntuhan dan mengalami keretakan. Cairan yang ada pun mengalir ke luar.
"Aves kamu mau kemana?" tanya para dokter dan tidak dihiraukan oleh pria itu.
Ia yang sudah berada di luar gedung mengejar gedung yang amblas ke dalam tanah. Berharap bisa menolong orang-orang yang selamat. Tapi di mana-mana tanah retak dan membuatnya berhenti berlari.
Pada saat itu terlihat gedung laboratorium terbakar akibat sebuah ledakan. Ledakan dari tubuh Cresen yang telah mencapai titik akhir.
Aji terpental ke dinding. Dan tabung tempat sebuah tubuh baru terjatuh lebih dahulu tepat di sampingnya. Sebelum langit-langit menimpanya. Berkat tabung itu Aji yang dalam posisi telungkup aman. Karena tabung itu jadi penyangga.
Gempa bumi bergerak lebih lambat. Hujan mulai reda dan kilat mulai menghilang. Aji mencoba mencari laptopnya di antara reruntuhan. Tapi tiba-tiba Aves menariknya dari belakang.
"Ayo kita pergi dari sini!" teriaknya.
Aji menolak tapi Aves lebih kuat menariknya keluar dari reruntuhan. Saat anak itu melawan ia pun memukul tengkuknya agar pingsan. Lalu membawanya keluar, dan dibantu beberapa orang yang datang menolong.
"Di mana Cresen?" tanya mereka.
Baru saja menanyakan hal itu, tanda-tanda gedung akan jatuh lebih dalam pun datang. Membuat mereka terpaksa berlari ke arah atap dan beruntung mereka masih sempat keluar sebelum gedung itu amblas seutuhnya.
Malam itu menjadi saat yang tidak bisa terlupakan bagi siapa saja.
Di pagi hari di pulau tempat tinggal Oryza Sativa, Musa Paradisiaca beserta para kru hanya mendapatkan para bayi yang tertidur di tanah. Tampak ketakutan saat disentuh. Mereka menangis begitu saja. Membuat para pria yang berseragam itu kebingungan.
"Di mana semua orang? Kenapa hanya ada para bayi di sini?"
"Apa benar ini pulau yang kita cari?"
Mereka membawa para bayi mengelilingi pulau yang ukurannya sudah tinggal beberapa kilo meter luasnya. Sebagian susah tenggelam dan menyusut. Tidak ada lagi tanda kehidupan para penduduk bertubuh besar di sana.
Seseorang menemukan sebuah kulit kayu di tepi pulau. Basah oleh air. Tapi sebuah tulisan masih tampak jelas di sana.
AKU SAYANG KALIAN
"Ini tulisan wanita itu," tebak Musa Paradisiaca.
Setelah pencarian mereka tetap tidak menemukan apapun. Lalu memutuskan untuk kembali ke pulau tempat para anak jenius berada. Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi pulau itu.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau gempa bumi juga terjadi di sini," ujar Musa Paradisiaca.
Lalu ia dan para anak buahnya menyerahkan para bayi pada para perawat.
"Di mana tuan besar? Aku harus segera melaporkan kalau pulau tempat orang tua angkat tuan muda tenggelam. Dan hancur. Para penduduk yang dewasa telah hilang tanpa jejak."
"Tuan besar tidak ingin menemui siapapun."
"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Musa Paradisiaca pada pria pengawal kakek.
"Cucunya telah tiada. Tertimbun di dalam tanah beserta gedung laboratorium. Kami sudah berhasil menggalinya. Namun tidak menemukan keberadaan anak itu."
Musa Paradisiaca hanya bisa membisu dan mundur beberapa langkah.
"Lalu bagaimana dengan Panthera Tigris?
"Dia juga menghilang."
Semua menjadi hening. Sampai seseorang melapor kalau mereka berhasil menemukan tabung tempat tubuh kedua orang tua Cresen. Dan tanpa menunda pengawal kakek menerobos masuk ke kamarnya.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?" tanya Kakek.
"Tuan besar, ada kabar terbaru. Tabung tempat Putra dan Menantu anda telah ditemukan."
Kakek mengernyitkan keningnya. Ia merasa malas untuk menanggapi hal itu. Tapi ia tertegun lalu bangkit dari tidurnya.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Kakek.
"Di sebuah ruangan dan diperiksa oleh para dokter," ujar pembawa berita.
Maka kakek segera bergegas ke sana menggunakan kursi roda.
Sedangkan saat itu Aji hanya bisa diam saja. Seluruh hasil kerja kerasnya telah tertimbun. Meski penggalian masih dilakukan untuk menemukan seseorang atau sesuatu yang masih berguna.
Tapi setelah mendengar, kalau tabung orang tua Cresen berhasil dikeluarkan, ia pun keluar dari tendanya. Lalu melihat kedua orang itu berbaring di atas tempat tidur. Lalu alat mendeteksi denyut jantung membuktikan kalau keduanya hidup.
"Cresen, Corazòn, kalian berhasil," gumamnya.
__ADS_1
Ia sangat sedih dan menangis untuk pertama kalinya. Setelah ia tidak pernah lagi menangis sejak ia menginjak usia lima tahun sampai sekarang.
Bumi bergerak lagi. Tubuh baru dan virus yang berhasil diciptakan oleh Aji makin terhisap ke dasar bumi. Penggalian dihentikan untuk menghindari jatuhnya korban.