
Cresen cukup terkejut mendengar hal tersebut. Sebab ia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun anak itu pergi.
"Kakek apa kita bisa bicara?" tanya Cresen melalui sebuah panggilan.
"Tentu," jawab Kakek sangat singkat.
Cresen segera menuju ruangan tempat kakeknya berada.
"Kakek membangun pulau ini demi menghidupkan kedua orang tuaku?" tanya Cresen tanpa basa-basi.
Kakek menghela nafas lalu berkata, "Duduklah dahulu."
Cresen mengikuti permintaan kakeknya. Lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan pria tua tersebut. Tampak sang kakek menghela nafas sebelum akhirnya ia menjawab.
"Ya."
"Untuk apa?"
"Memangnya kamu tidak pernah berpikir untuk bertemu dengan mereka dan kita bisa menjadi keluarga yang utuh. Apa kamu akan tetap tinggal di pulau itu bersama mereka?"
"Kakek, perbandingan keberhasilan itu adalah satu berbanding miliaran. Aku tidak ingin kakek terluka nantinya. Saat menyadari semua itu mustahil."
"Cresen, selama kita masih hidup, tidak ada yang mustahil."
"Tapi berapa usia kakek sekarang. Bagiku bahkan ribuan tahun pun melakukan uji coba, hal itu belum tentu berhasil."
"Setidaknya kakek sudah mencoba," jawab kakek sedih.
Cresen terdiam. Akhirnya ruangan itu terasa sepi. Kakek menepuk pundak Cresen.
"Tinggallah bersama kakek. Ayo kita buat tubuh baru untuk kalian berdua. Dengan begitu kamu tidak perlu lagi kembali ke pulau itu."
"Kakek ... Aku," jawab Cresen ragu-ragu.
"Apa kamu merasa sangat sulit untuk melepaskan mereka? Apakah mereka lebih penting dari kakek?"
Cresen tidak berani menatap mata kakeknya. Ia tidak mampu menjawab. Sebab sulit baginya untuk memilih kata-kata yang tepat.
"Baiklah. Aku akan membantu di laboratorium. Tapi aku ingin mengingatkan sesuatu pada kakek. Sebab segala keputusan memiliki resikonya masing-masing."
Setelah perbincangan itu Cresen kembali ke kamar papanya.
"Panthera Leo... lihat... papa sudah bisa berdiri," ujar Pantera Tigris.
__ADS_1
"Ini berita gembira," balas Cresen.
"Itu artinya kita bisa segera pulang?" tanya Corazòn yang tiba-tiba terbangun.
Panthera Tigris mengangguk. "Ayo kita berpamitan dan segera pulang," ajak Panthera Tigris.
Cresen tercekat, lidahnya terasa kaku. Corazòn tampak bersemangat. Dan mengikuti langkah kaki papanya.
"Hm, tapi di mana kakekmu sekarang? Coba gunakan batu ajaib untuk memanggilnya." Panthera Tigris mengarahkan jari telunjuk ke laptop.
"Ka-kakekku sedang sibuk, bagaimana kalau kita berpamitan setelah dia tidak sibuk," ujar Cresen berbohong.
"Kalau begitu kita pergi saja, tidak usah berpamitan," ajak Corazòn.
"Itu tidak sopan," jawab Panthera Tigris.
"Tapi Aku ingin segera bertemu dengan mama. Aku merindukan mama. Bagaimana kalau kita kirim pesan video saja. Jadi nanti kakek bisa melihatnya kalau dia tidak sibuk. Meskipun kita tidak bertemu, tapi kita sudah meninggalkan pesan." Corazòn masih berharap untuk segera pulang.
Tapi Cresen merasa sangat berat untuk meninggalkan pulau tersebut. Terutama setelah ia berjanji pada kakeknya. Namun ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya belum berniat untuk pulang.
"Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Apa kamu mau berhenti sekolah begitu saja? Kamu tidak ingin jadi juara kelas. Dan memperlihatkan piala yang kamu dapatkan pada mama dan penduduk pulau?"
Cresen mencoba mencari cara untuk mengubah pemikiran Corazòn.
"Tapi... Aku mau pulang...." Corazòn merajuk.
"Tentu, dia teman baruku di sekolah," jawab Corazòn pada Aji.
"Dia murid yang pintar. Dia akan membuatkan tubuh baru untuk kita. Sehingga nantinya kamu dan aku bisa memiliki tubuh masing-masing."
"Hah! Benarkah? Di mana tubuh itu?" tanya Corazòn penasaran.
"Membuat tubuh?" tanya Panthera Tigris ikut penasaran. Cresen menjawab dengan mengangguk.
"Tubuh barunya belum jadi," jawab Cresen pada adiknya.
"Kalau belum jadi buat apa? Ayo kita pulang saja." Corazòn menarik tangan papanya.
Tapi Panthera Tigris merasa tertarik pada hal yang baru saja disampaikan oleh Cresen.
"Tunggu dulu. Bukankah itu hal yang bagus. Kalian bisa memiliki tubuh masing-masing. Kalian juga bisa melakukan hal yang kalian suka kapan saja. Tanpa harus terganggu."
"Tapi kakak tidak pernah menggangguku saat sekolah, makan bubur atau pun bermain dengan laptop," kata Corazòn.
__ADS_1
"Kakakmu memang tidak mengganggumu. Tapi apa kamu tahu kalau kakakmu terganggu. Apalagi kebanyakan yang menggunakan tubuh ini adalah kamu."
"Itu karena kakak lebih banyak tidur daripada Aku. Dia lebih mudah kelelahan. Sedangkan Aku ini kuat dan pintar. Dan suka berbagi bedak pada teman-teman sekolahku."
"Mereka pasti sedih. Sebab esok dan seterusnya tidak ada lagi yang membawakan bedak untuk mereka," ujar Cresen yang tiba-tiba mendapatkan ide.
"Mereka bisa membawa sendiri," jawab Corazòn.
"Ya baiklah. Sepertinya tuan Aves harus pasrah karena muridnya yang paling baik, dan pintar tidak melanjutkan sekolahnya sampai tamat dan mungkin sekolah itu akan segera tutup." Cresen bergumam sambil melangkah ke luar ruangan Panthera Tigris.
"Memangnya berapa lama waktunya untuk selesai sekolah?" tanya Panthera Tigris.
"Tidak terlalu lama. Kira-kira cukup selama tiga purnama turun dan naik."
Cresen memperhitungkan waktu yang ia bisa gunakan untuk membantu di laboratorium. Ia sebenarnya merasa tidak yakin. Tapi jika mengatakan waktunya lebih lama, khawatir Corazòn akan tetap memilih pulang.
"Ternyata waktunya sangat singkat. Bagaimana kalau kita bicarakan hal ini pada mamamu," ujar Panthera Tigris.
Pria besar itu penasaran seperti apa jadinya nanti, jika kedua putranya bisa memiliki tubuh masing-masing. Setelah melihat hal-hal yang membuatnya takjub dan merasa seperti sedang berada di dunia sihir. Ia juga yakin jika penduduk pulau pasti akan berhasil membuat tubuh baru.
"Mama... papa mau berbicara hal penting dengan mama," ujar Corazòn setelah panggilan video terhubung dan wajah-wajah para penduduk berpakaian primitif muncul.
"Sayang... kamu ingin membicarakan apa? Bagaimana keadaanmu?" tanya Oryza Sativa pada suaminya.
Ia merasa sangat merindukan ketiga orang yang paling ia sayang. Walau mereka sering bertatap muka.
"Corazòn bagaimana sekolahmu? Kenapa kamu tidak menunjukkan pada mereka kalau kamu lebih kuat. Mereka pasti akan takut padamu, jika kamu mengangkat sebuah batu yang sangat besar." Penduduk pulau ikut berbicara.
"Ya, seharusnya kamu memperlihatkan kalau kamu bisa menangkap seekor ular besar sendirian," kata yang pernah melihat Corazòn membunuh seekor ular besar tanpa menyadarinya.
"Untuk apa aku mengangkat batu? Mereka mengangkat kursi karena sedang dihukum. Aku ini anak baik dan pintar. Mana mungkin dihukum oleh guruku."
"Ah... kamu takutkan pada para bayi di sana? Memangnya mereka sekuat apa? Mana ada hukuman mengangkat kursi. Seharusnya hukuman itu dengan mengambil benda kesayangan," kata penduduk pulau berdebat dengan Corazòn.
Mereka mengingat kalau hukuman yang diberikan pada mereka saat kecil. Dan mendengar hal itu membuat Corazón merasa sangat jengkel.
"Kalian tidak pernah sekolah. Oleh karena itu kalian tidak tahu peraturan," kata Corazòn berapi-api.
Tapi para penduduk pulau justru tertawa.
"Peraturan? Peraturan apa? Bukannya sekolah itu bermain tepung. Memangnya hal semacam itu juga butuh peraturan. Dasar para bayi. Mereka aneh-aneh saja. Lucu sekali... hahaha...." Penduduk pulau semakin membuat Corazòn kesal.
Melihat hal itu Orysa Sativa segera mengambil alih.
__ADS_1
"Sayang... jangan dengarkan mereka," kata Oryza Sativa pada Corazòn.
"Dan ada hal penting apa yang ingin dibicarankan pada mama?"