
Merasa terancam Cresen pun melarikan diri. Namun para bayi berlari lebih cepat darinya. Sehingga tepung arang itu berhasil mengubah kulit putihnya menjadi hitam. Cresen yang sudah terlanjur hitam hanya bisa menutupi matanya agar tidak terkena debu arang.
Setelah seluruh tubuh Cresen yang tidak tertutup menjadi hitam barulah para bayi berhenti. Oryza Sativa yang melihat putranya diam, menjadi cemas.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kepala Suku mendekat.
Tapi Cresen bukan menjawab malah mengoleskan lengan hitamnya ke wajah Oryza Sativa. Wanita itu terkejut. Tapi kemudian dia tertawa, saat melihat wajah putranya yang mirip tentara sedang berperang. Maka perang tepung arang berlanjut antara Cresen dan Oryza Sativa.
Pada saat itu penduduk desa yang berburu datang bersama dengan penduduk desa yang kabur saat ada cacar. Cresen dan Oryza Sativa belum menyadari ada tamu tanpa undangan datang ke perkampungan.
"Kepala Suku, ada orang-orang yang membawa banyak bayi," ujar seseorang yang datang tiba-tiba.
"Apa?" tanya Kepala Suku.
Ia belum mendengar dengan jelas. Akhirnya duduk dan membiarkan Cresen mengolesi arang ke wajahnya dengan bebas.
"Ada bayi yang mirip Panthera Leo di sana. Di bawa oleh penduduk yang kabur saat kita terkena kutukan!" jawab orang itu menjelaskan.
Cresen terdiam. Oryza Sativa berdiri dan melangkah menuju tempat yang dimaksud. Cresen mengikutinya dari belakang.
"Lihat itu mereka!" seru pembawa kabar.
Cresen melihat orang-orang berseragam telah berdiri di depan penduduk yang membawa mereka. Betapa terkejutnya dia.
"Oryza Sativa, jangan mendekat!" teriak Cresen.
Kepala Suku yang berada di depannya berhenti dan menoleh pada Cresen. Saat itu orang-orang yang telah berkumpul di lapangan, menoleh pada Cresen.
"Mereka orang jahat!" teriak Cresen memperingatkan.
Cresen teringat saat peristiwa penculikannya. Di mana semua orang memakai seragam yang sama. Kepala Suku bingung dengan ucapan Cresen.
"Mereka masih bayi, memangnya bisa sejahat apa?" tanya Oryza Sativa.
Sebelum Cresen menjawab, salah satu dari anggota tim pencari Cresen memasukkan tangannya ke dalam kantung. Dengan cepat Cresen mengambil kapak batu yang ada di tangan salah satu penduduk.
"Jangan bergerak! Angkat tanganmu!" perintah Cresen dalam bahasa negaranya.
Orang yang berseragam saling menoleh dan kemudian menatap Cresen yang sedang gemetaran.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang membuatmu ketakutan?" tanya Oryza Sativa.
Cresen sebenarnya lebih merasakan marah dari pada takut. Dan ia juga merasa malu di saat bersamaan. Kapak batu yang ia acungkan ke arah pria berseragam itu ternyata sangat berat baginya.
__ADS_1
Untuk mempertahankan posisinya agar tetap mengarah ke pria berseragam, membuat tangannya gemetaran dan akhirnya tubuhnya ikut gemetar. Karena malu, dan menjadi gagal terlihat keren, ia pun membuang kapak itu dan mengambil sebatang kayu.
"Sial, ini kayu mentah, dan ternyata juga berat," gumamnya. Lalu membuang kayu itu dan menggantinya dengan ranting.
Semua orang yang melihatnya hanya bisa diam seolah terhipnotis. Menunggu tindakan Cresen selanjut. Benda apa lagi yang akan dia angkat dan arahkan pada para pria berseragam.
Suasana tiba-tiba sepi. Hanya daun yang tertiup angin yang bergerak. Kemudian pria berseragam menarik tangannya keluar.
"Angkat tangan!" teriak Cresen. Ia berbicara dalam bahasa negaranya, sambil mengarahkan ranting ke wajah pria berseragam.
Jarak mereka sekitar sepuluh kaki. Pria itu mengangkat tangan. Di tangannya ada selembar foto yang telah berlapis plastik. Dan itu adalah foto Cresen.
"Kami datang hanya untuk mencari anak ini!" seru orang itu. Sambil menunjukkan selembar foto, dan memperhatikan lekuk wajah Cresen.
"Wajah anak ini mirip seperti anak yang sedang kami cari. Hanya saja kulitnya lebih hitam. Apa mungkin karena dekil akibat tidak pernah mandi?" batin pria itu dan rekan-rekannya.
Penduduk desa yang berada di dekat pria yang memegang foto Cresen terkejut.
"Hah, Panthera Leo ada dua!" serunya.
Lalu mengambil foto itu dan menyerahkannya pada Kepala Suku. Oryza Sativa terkejut. Ia mengira kalau foto Cresen adalah bayi yang mungil.
"Bayi ini kecil sekali, apa dia belum pernah mandi di sumur ajaib sejak lahir?" Oryza Sativa melihat ke arah Cenayang.
"Panthera Leo, kamu tidak boleh kasar pada bayi yang lebih kecil darimu. Kasihan dia, tubuhnya saja tidak utuh," kata Oryza Sativa cemas.
"Ini bukan bayi, ini hanyalah fotoku!" seru Cresen.
"Foto? Apa itu foto?" tanya Oryza Sativa.
"Foto itu gambar yang dibuat dengan alat khusus!" jawab Cresen sekenanya.
"Dan kalau aku sudah tiba di kota, maka benda sebayak ini bisa aku buat sampai ribuan lembar dalam sekejap," lanjut Cresen.
Tapi kemudian ia teringat lagi dengan para pria berseragam.
"Kalian, tetap anggkat tangan!" kata Cresen lagi pada mereka yang sebenarnya masih mengangkat tangan.
Lalu Cresen menyuruh beberapa penduduk desa, untuk mengeluarkan apa saja yang ada di saku pria berseragam. Tampak banyak senjata yang mereka sembunyikan.
Cresen mengambil senjata api yang menurutnya lebih ringan. Lalu menyuruh penduduk desa untuk mengambil sisanya. Tapi sebelum senjata itu disentuh, ia menyuruh mereka berhenti.
"Kalian ambil yang ini, ini dan ini serta yang itu saja!" katanya kemudian.
__ADS_1
Penduduk desa melakukan sesuai perintahnya. Dan menyuruh mereka untuk mengikat para pria berseragam.
"Kenapa mereka harus diikat?" tanya Oryza Sativa.
"Karena mereka orang jahat!" kata Cresen.
"Sejahat apa? Kalau mereka nakal, akan aku hukum mereka!"
"Memangnya apa hukumannya? Mereka membiusku, menculikku dan membuangku ke laut."
"Menculik? Membius?" Oryza Sativa masih kebingungan.
"Ia dia menculikku, mengambilku secara paksa dan membiusku. Kamu tahu apa itu obat bius? Itu obat yang membuatku tertidur!"
"Kalau begitu aku mau obat bius itu!"
"Hah? Untuk apa?"
"Jika kamu kesulitan tidur, atau tidak bisa diam aku tinggal memberimu obat bius," jawab Oryza Sativa dengan lugu.
Seluruh penduduk pulau mendengarkan Cresen dan Oryza Sativa berdebat.
"Lalu bagaimana? Mereka diikat atau dibius?" tanya penduduk desa yang dari tadi mendengarkan.
Cresen menepuk jidadnya.
"Ikat mereka, ikat yang kuat dan jangan sampai lepas. Satu lagi. Mereka itu bukan bayi!" Cresen pun mengambil senjata lainnya dan menaruh di keranjang
"Bawakan benda-benda ini, tapi jangan sampai menyentuh bagian ini." Cresen menjelaskan pada Oryza Sativa agar ia tidak menarik pelatuk secara tidak sengaja saat mengangkat senjata api laras panjang tersebut.
"Hei, Nak! Apa kamu Cresen. Kalau ia, maka kakekmu sudah menunggumu di lau!" seru seorang pria berseragam.
Cresen yang tadinya ingin pergi, akhirnya berpaling.
"Percayalah padaku. Dia ada di sini sekarang." Pria berseragam mencoba untuk menebak kalau anak yang hitam itu adalah Cresen.
Ia merasa anak itu berbeda dari yang lain, meski kini ia sama hitamnya dengan penduduk pulau. Tapi perbedaan yang sangat mencolok, terutama dalam hal kepintaran. Membuat ia yakin kalau anak itu adalah Cresen.
"Kalau tidak percaya, kamu bisa lihat sendiri. Tapi salah satu dari kami harus ikut. Sebab saat ini, tuan ada di dalam pesawat," kata pria berseragam itu lagi.
Semua pria berseragam juga berusaha untuk meyakinkan Cresen.
"Kalian pikir aku akan percaya pada kalian?"
__ADS_1