Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Hewan Peliharaan


__ADS_3

"Gawat, ini buruk. Aku harus menghentikan Corazòn atau dia akan membuat masalah menjadi lebih besar. Tapi bagaimana cara menghentikannya?"


Cresen mencoba mengumpulkan data yang ia dapatkan tentang mereka berdua. Salah satu penyebab dari tindakan Corazòn adalah ingatan Cresen sendiri. Namun sudut pandang Corazòn adalah hasil dari pikiran anak itu sendiri.


Sama seperti dua orang yang membaca buku novel yang sama, dan menghasilkan dua pendapat yang berbeda. Cresen ingat sering mendengar teman-temannya membahas ataupun berkomentar tentang sebuah novel on line yang berjudul PEMBALASAN DENDAM SEORANG ISTRI karya AMY DOANK. Juga novel yang berjudul JEBAKAN CINTA ASISTEN GESREK karya Reina aka dian.


Meski membaca karya yang sama, tapi pendapat mereka berbeda. Dan hal itulah yang terjadi pada Corazòn saat ini.


"Bagian mana yang kamu sukai tentang sekolah?" batin Cresen.


Ia mencoba bertanya pada Corazòn. Tapi yang ditanya tidak menjawab. Cresen akhirnya mendapat satu ide.


"Mungkin ia tertarik ke sekolah karena melihat kenangan indah saat di sekolah pada ingatanku. Kalau begitu aku akan memikirkan hal buruk yang terjadi di sekolahku. Agar ia mengurungkan niatnya untuk bersekolah."


Cresen mencoba menggali ingatannya tentang sekolah. Dan ingin memperlihatkannya pada Corazòn. Mencari ingatan buruk selama berada di sekolah.


Tapi ia justru kesulitan untuk mencari hal itu. Sebab tidak ada kenangan buruk yang ia alami saat di sekolah. Ia tidak pernah berkelahi dengan teman sekelasnya. Tidak pernah dihukum.


"Coba aku ingat-ingat lagi. Mungkin ada saat paling menyedihkan terjadi saat di sekolah. Mungkin saat aku dihukum akibar telat masuk sekolah. Atau dihukum karena tidak mengerjakan tugas."


Cresen menepuk jidadnya. Ia berhasil menguasai tangan kanannya. Lalu bergumam.


"Ya ampun, aku lupa. Aku tidak pernah dihukum walau aku datang telat sampai melewatkan dua bahkan empat jam mata pelajaran. Aku juga tidak pernah dihukum walau tidak menyelesaikan tugas. Karena asal aku datang ke sekolah guru-guru pasti akan memujiku," gumamnya. Ia pun teringat kata-kata mereka setiap kali Cresen melakukan kesalahan.


"Cresen kamu sudah datang? Silahkan masuk! Kalau kamu lelah, bilang pada Bu Guru ya, jangan dipaksakan!"


"Cresen tidak mengerjakan tugas ya hari ini? Tidak apa... nanti pak guru bantu mengerjakannya."


Cresen terbengong mengenang masa di sekolah. Dia adalah anak emas di mana pun dia sekolah. Bahkan teman-temannya pun tidak ada yang berani mencoba mengusilinya. Tapi itu juga yang membuat ia tidak memiliki teman dekat.


Semua takut dekat dengannya. Seolah takut menyenggolnya tanpa sengaja lalu membuatnya terluka.

__ADS_1


"Hei, bukankah kalau dipikir-pikir tinggal di pulau jauh lebih menyenangkan? Corazòn... apa kamu dengar aku?" gumam Cresen sambil menepuk pipinya.


Tiba-tiba pengasuh Cresen menyentuh kedua pipinya. Tanpa Lalu menyembur wajah Cresen tanpa peringatan dengan air.


*Brurrr!


"Panthera Leo, apa kamu sudah sadar?" tanya pengasuhnya kemudian. Cresen terpelongo. Kejadian lalu terualang kembali.


Dengan kesal dia mendorong pengasuhnya dan wanita itu tertawa.


"Maafkan aku. Dari tadi kamu bicara seperti seperti orang yang kerasukan. Aku jadi pusing mendengar ocehanmu," adunya.


"Sudahlah, tidak apa-apa," jawab Cresen kemudian. Dan saat ini ia menguasai tubuh itu seutuhnya.


Siang hari pun tiba. Panthera Tigris tiba dengan seekor hewan buruannya bersama para pria lainnya. Cresen tidak tertarik melihatnya. Apalagi melihat proses memasak hewan buruan itu.


Ia justru lebih memilih berkeliling mencari tanaman obat bersama pengasuhnya. Berharap bisa menemukan kenangan indah di pulau itu yang bisa membuat Corazòn tertarik.


Saat sedang asik mengumpulkan tanaman obat, ia dikejutkan oleh seekor laba-laba yang jatuh dari atas pohon. Dan hal itu membuat Corazòn kembali menguasai tubuh itu.


Saat ia hendak mendekati serangga itu, pengasuhnya melarang untuk mendekat. Cresen yang dikuasai oleh Corazòn mematuhi perkataan pengasuhnya dan melanjutkan kegiatan mereka.


Tapi saat pengasuh itu memalingkan wajahnya, Corazòn sudah melarikan diri. Mengikuti laba-laba tersebut. Saat ia sedang asik mengejar laba-laba, melompatlah seekor katak. Corazòn pun mengikuti katak itu.


Ia ingin menaiki punggung katak tersebut. Tapi katak itu melompat lebih cepat. Corazòn berlari makin cepat pula dan akhirnya berhasil menangkap katak itu. Lalu ia naik ke punggung katak tersebut.


Baru sebentar ia menaikinya. Katak itu melompat dan ia pun terjungkal. Saat katak melompat, seekor ular menangkapnya. Lalu menelan katak itu. Corazòn terperangah melihat ular besar itu.


"Cacing besar..." gumamnya.


Corazòn yang melihat ingatan dan pengetahuan Cresen tidak selalu mengartikannya dengan benar. Seperti saat ini. Ia tidak bisa membedakan ular dan cacing. Sebab ia hanya melihatnya dalam sebuah ingatan.

__ADS_1


Pengasuh Cresen yang sempat kehilangan dia khawatir saat melihat Cresen diam di depan ular yang sedang mengulum seekor katak. Dan katak itu berteriak.


"Gawat... Panthera Leo dalam bahaya!" serunya.


Segera ia berlari sambil melempar batu yang ia temui. Dan hal itu membuat ular terkejut. Lalu melarikan diri bersama katak dalam mulutnya. Melihat ular itu pergi, Corazòn mengejarnya.


"Hei, cacing besar... lepaskan katakku...!" katanya sambil mengejar ular tersebut.


"Panthera Leo... kembali...!" teriak pengasuh berlari makin kencang.


Corazòn memanjat pohon dan melakukan seperti yang dilakukan penduduk pulau dalam ingatan Cresen. Melompat dari dahan ke dahan dengan cepat. Lalu mendarat di tubuh ular tersebut.


Dia berhasil mendarat di kepala ular itu. Dan matanya menatap mata ular itu. Kemudian ia memukul mata ular itu dengan tinjunya.


"Lepaskan katak itu, cacing nakal!" teriaknya.


Ular itu melepaskan katak tersebut. Lalu melarikan diri. Tapi Corazòn masih mengejarnya.


"Tunggu cacing besar... aku akan memeliharamu...!" katanya.


Ia suka akan corak ular itu dan warna kuning sisiknya. Keinginannya memelihara hewan itu tidak lepas dari ingatan Cresen yang pernah menginginkan memiliki seekor kelinci untuk di pelihara. Namun dokter melarangnya.


"Kenapa susah sekali menangkapnya?" tanya Corazòn saat beberapa kali ia gagal memegangi ular besar itu.


Ular itu kesal dan akhirnya melilitnya. Kejadian itu di saksikan oleh pengasuhnya dan juga beberapa orang penduduk pulau yang kebetulan berada di hutan tersebut.


"Cepat... tolong anak itu...!" teriak salah satu dari mereka.


Penduduk pulau melempari ular itu dengan batu. Tapi ular itu tidak melepaskan lilitannya. Penduduk pulau menyalakan api dan mencoba menakuti ular itu. Tapi hal itu membuat ular tersebut melarikan diri setelah menelan setengah tubuh Cresen.


Tapi setelah beberapa menit ular itu berhenti lalu menggelepar seperti kesakitan. Dan ternyata Corazòn yang sedang menguasai tubuh Cresen memukuli ular itu dari dalam. Setelah ular itu berhenti melawan barulah ia keluar dari mulut ular itu. Penduduk pulau mendekat lalu bergantian memukuli ular.

__ADS_1


"Berhenti memukuli hewan peliharaanku!" teriak Corazòn yang berdiri di dekat kepala ular tersebut. Pengasuh Cresen segera menariknya menjauh dari ular itu.


"Apa, hewan peliharaan? Apa itu hewan peliharaan?" tanya penduduk pulau yang bingung. Sebab mereka tidak pernah mendengar istilah itu.


__ADS_2