Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
KODE RAHASIA


__ADS_3

Di perpustakaan banyak orang-orang datang. Dan membongkar setiap rak. Terlihat seperti mencari sesuatu. Bahkan kamar tiap orang yang diangkat jadi anak pun diperiksa.


Untuk mendapat jabatan anak bukan hal mudah. Mereka harus menghilangkan seluruh sifat manusiawi mereka. Atau setidaknya bisa menyimpan perasaan mereka. Agar tidak membuat gerakan yang mencurigakan. Hidup seperti robot yang dikendalikan dengan *remote.


011009 sudah tidak pernah terlihat lagi, sejak hari penangkapannya. Dan Aves semakin penasaran tentang catatan yang dimaksud anak itu. Anak jenius yang usianya jauh di bawah Aves. Yang diculik sejak masih bayi*.


"Ini benar-benar membuatku pusing. Sebaiknya aku lupakan saja catatan itu. Lebih baik pikirkan cara keluar dari sini dan membawa mama ke tempat yang aman."


Aves bangki dari duduknya dan tanpa segaja jempol kakinya menendang siku kaki meja. Membuat Aves melihat jempol kakinya yang beedenyut. Lalu perhatiannya teralih ke kuku jempol kakinya. Ia mengernyitkan keningnya seakan ingat sesuatu.


Kembali ia duduk di kursi berpura-pura mengusap jempol kakinya sambil melirik buku terakhir yang dibaca 011009. Ada beberapa bekas goresan kuku di beberapa huruf di sampul itu.


Saat semua huruf yang tergores itu disatukan terbentuklah sebuah kata.


PETA


Jantung Aves berdetak dengan kencang. Ia menyadari telah menemukan catatan 011009 dan memilih untuk tidur. Kemudian esok paginya ia mencoba mencari huruf-huruf yang ditandai. Seolah sedang membuat catatan dibuku tulis.


Ia menyalin semua huruf dan mencatatnya di sebuah buku. Semakin lama, huruf yang ditandai semakin sulit ditemukan. Tapi ia mendapat petunjuk baru. Setelah banyak huruf terkumpul.


PETA HARTA KARUN DUA KEPALA DUA KAKI DUA TANGAN SATU KEPALA SATU TANGAN DIKURANG DUA KAKI


Aves mengingat kalimat itu di kepalanya. Ia mencari petunjuk di ruang biologi. Mencari kepala yang dimaksud. Hampir saja ia ketahuan saat hendak melakukan pembedahan di bagian tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.


"Tidak mungkin, pasti bukan ini maksudnya. Di mana aku bisa menemukan benda itu?" batin Aves. Sambil bertingkah seolah sedang melakukan pembedahan saat menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.


Aves pergi ke perpustakaan dan seseorang menubruknya. Seorang pria menjatuhkan sesuatu seperti kumpulan kabel yang dibentuk acak. Seolah dibuat karena iseng. Tapi Aves menyadari ada yang terlewat, setelah memutar posisi kabel yang ia temukan.

__ADS_1


"Dua kepala, dua tangan, dua kaki," batinnya secara iseng.


"Aku mengerti sekarang!" batinnya lagi. Lalu bergerak ke tong sampah setelah mengubah bentuk kabel itu menjadi bola.


Ia pergi ke ruangan khusus. Di mana di sana berkumpul anak-anak atau orang-orang dengan tubuh tidak normal. Dan ia menemukan pria berkepala dua, bertangan dua dan berkaki dua. Mereka adalah kembar siam.


Saat melihat Aves orang itu menatapnya lalu mengabaikan Aves. Dan Aves bertingkah seperti tidak sedang mencarinya. Seorang anak menarik celananya.


"Tolong naikkan aku ke kursi roda!" serunya.


Anak itu cuma punya satu kepala, satu tangan dan tidak punya kaki. Saat Aves mengangkatnya ke atas kursi roda, Aves merasakan sebuah cakaran di bawah leher belakangnya. Dengan cepat ia melepas anak itu.


"Kena kamu!" ujar anak itu tersenyum licik. Lalu menekan tombol di kursi roda dan kabur.


Aves memilih pergi ke toilet mengambil tisu dan mengelap darah yang keluar dari goresannya. Ia meraba bekas goresan itu dan mendapati kalau bentuk goresan itu berbentuk angka 131.


Tanpa pikir panjang ia mendatangi kamar itu. Tapi ada banyak penjaga di sana. Lalu ia memilih untuk mengurungkan niatnya. Mencari waktu yang tepat. Malam hari Aves menyelinap dan melihat pria yang kembar siam dibawa ke ruangan itu.


Aves penasaran, apa yang ada di ruangan itu. Tapi ia tidak bisa masuk. Penjaga masih berkeliaran di depan pintu. Aves memilih kembali ke kamar. Menyusun sebuah strategi.


"Jika Aku menulis di buku, pasti akan segera ketahuan. Sebab ketika kamar ditinggalkan, seseorang akan menggeledah kamar dan memeriksanya. Akan aneh jika Aku membawa buku yang sama ke mana pun." Aves berpikir keras.


Akhirnya ia mencari sebuah buku yang tebal di perpustakaan. Dan berniat membuat catatan dengan menandai huruf-huruf menggunakan goresan kukunya. Tapi baru saja ia masuk perpustakaan, ia melihat pria kembar siam mengembalikan sebuah buku.


Aves memilih meminjam buku itu. Dan mencoba mencari petunjuk. Perlahan-lahan ia membuka tiap halaman. Namun tidak ada jejak apapun di sana. Sampai ia tiba di halaman 131. Hampir ia melewatinya.


"Halaman 131," gumamnya lalu mencoba mencari sesuatu.

__ADS_1


Memanfaatkan kemungkinan sekecil apapun itu. Aves menghela nafas lelah. Ia tidak mendapat petunjuk apapun. Tapi kemudian ia mencoba lagi. Dengan membaca halaman itu. Ada sebuah huruf yang terlihat seperti ditusuk benda lancip.


Lalu Aves menemukan huruf berikutnya. Pada akhirnya ia mendapat sebuah kalimat.


RUANG OPERASI SASIP


Sebelum memahami arti kalimat itu, seseorang memanggilnya. Sebab ada tugas yang harus ia kerjakan. Membantu proses operasi pada wajah seorang anak agar mirip dengan wajah anak yang diculik.


Biasanya yang jadi korban adalah anak orang penting di suatu negara. Dengan begitu penyusupan ke rumah orang penting itu jadi lebih mudah. Anak itu akan dijadikan alat untuk mengirim informasi ke markas.


Dan apabila ia ketahuan maka nyawa anak itu akan melayang dalam satu ledakan. Meskipun Aves tahu apa yang akan terjadi pada anak itu, rasa ingin bertemu orang tuanya mengalahkan rasa ibanya.


Meski tidak mendapat pendidikan di sekolah formal dan universitas. Aves mampu melakukan banyak hal dalam bidang operasi. Dan ia bertugas memasang alat peledak di tubuh anak tersebut. Yang bisa dikendalikan dengan sebuah alat khusus.


Tapi sebelum ia melakukan pemasangan dokter yang menangani proses operasi wajah diam-diam membuat sebuah kode untuk Aves. Meski sekilas Aves sempat melihat nomor baju pria itu 1901190916.


Tidak sulit Aves mengingat nomor itu, sebab ia selalu mengingat nomor baju tiap orang dengan huruf. Dan 1901190916 dibaca SASIP. Aves menyadari dia telah menemukan kode rahasia selanjutnya.


Dan saat Aves mendapat giliran untuk menyimpan bahan peledak di tubuh anak yang pingsan itu. Ia merasakan sesuatu yang aneh di bagian tubuh anak itu, seketika ia mengerti itu adalah petunjuk.


Ada bentolan di kulit anak itu. Jika diraba terasa seperti bekas disuntik seraca acak di daerah tersebut. Namun jika diraba dengan benar, akan terasa seperti menyentuh huruf Brailer. Dengan dua huruf berbeda terletak dibagian pungung itu.


N. O.


Sejak Aves mendapat perintah dari 011009 ia selalu jadi lebih waspada dan peka. Begitu mendapat kode itu, Aves melanjutkan tugasnya. Menyematkan sesuatu di tubuh anak tersebut. Tapi ia tidak menyematkan bahan peledak ditubuh anak itu. Melainkan kancing bajunya yang berbentuk sama dengan alat tersebut.


Dan tentu saja dengan mengelabui kamera yang ada di ruangan itu. Sebab ia sadar tindakannya bisa membuat kesempatan kecil untuk bertemu mamanya akan hilang. Tapi mengingat ia sudah berjalan cukup jauh maka tidak ada lagi jalan untuk mundur.

__ADS_1


__ADS_2