
Ternyata pilihan Aves tidak menanamkan alat peledak di tubuh anak itu adalah pilihan yang tepat. Begitu proses operasi selesai, Aves pun keluar. Maka dua orang pria segera masuk dan membawa anak itu pergi.
Anak itu dikirim kembali ke negara korban penculikan. Agar bekas luka yang ada di tubuh anak itu tidak dicurigai, maka dibuatlah seolah anak itu mengalami kecelakaan. Dan pihak rumah sakit menghubungi keluarga dari anak yang dipalsukan itu. Pihak keluarga yang dihubungi pun datang.
Selanjutnya membayar seorang dokter untuk mengatakan kalau anak itu tidak mengalami luka yang berat. Dan si anak berpura-pura meminta dibawa pulang. Sehingga pihak keluarga akan membawanya pulang.
Setelah anak palsu itu kembali ke rumah orang tua dari anak yang diculik. Tugas selanjutnya adalah menaruh bahan peledak di rumah tersebut. Untuk mengakhiri hidup dari kedua orang tua pemilik asli wajah yang ia miliki sekarang.
"Cepat taruh bahan peledak itu di tempat yang sudah ditentukan dan setelah itu kami akan segera menjemputmu," ujar seseorang mengingatkannya dari sebuah panggilan.
Anak itu berpura-pura menuruti perintah itu. Sebab CCTV di rumah tersebut telah di retas. Ia meletakkan bahan peledak di sudut rumah itu tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Pengawasnya merasa puas akan kerjanya.
Sebelum berangkat, bahan peledak yang akan ditaruh di rumah itu telah di masukkan dalam tasnya. Lalu disimpan di dalam kotak pensil. Agar tidak dicurigai maupun diperiksa saat masuk rumah itu. Terlebih saat ini ia adalah putra dari pemilik rumah tersebut. Tidak akan ada yang curiga kalau ia membawa benda berbahaya.
Penculikan anak itu telah dirancang dengan matang. Kebiasaannya yang suka jarang pulang dan kedua orang tua super sibuk. Membuat ketidakhadiran si anak di rumah tidak terlalu terasa.
Seseorang mendekati anak itu, setelah aksinya selesai. Ia adalah pelayan yang merupakan mata-mata si "Papa" di rumah tersebut.
"Segera keluar. Kita akan segera dijemput," ujarnya.
Anak itu mengangguk. Tapi saat orang itu pergi lebih dulu. Ia memperlambat jalannya. Lalu berpura-pura menyenggol sesuatu, membuat suara bising yang menarik perhatian.
__ADS_1
Sontak penguni rumah datang. Dan mendatangi tempat tersebut. Pelayan yang menyamar menoleh kebelakang. Melihat anak itu berdarah. Ia ingin menarik anak itu untuk membawanya keluar. Tapi orang tua dari anak yang diculik terlanjur datang.
"Dasar tidak berguna, jika kamu tidak keluar tepat waktu, maka kamu akan kehilangan nyawamu!" batin pelayan itu kabur. Di saat semua orang khawatir pada luka anak itu.
Anak itu tidak merasa khawatir meski ia tidak bisa keluar. Karena tidak akan diizinkan pergi begitu saja. Dan para yang menghack kamera pengawas mengumpat kesal. Lalu menunggu saat yang telah ditentukan untuk meledakkan bahan peledak yang telah dipasang di rumah dan ditubuh anak tersebut.
Waktunya pun tiba, tombol untuk meledakkan rumah itu pun ditekan. Kamera CCTV tiba-tiba mati. Para pengawas mengira itu akibat ledakan. Tapi ternyata sambungan CCTV telah dicabut. Sebab anak itu memberitahu kalau CCTV di rumah itu telah dihack.
Karena anak itu dikerubungi banyak orang, pengawasnya tidak tahu kalau saat itu anak tersebut membuat pengakuan. Sebab menurut mereka, tidak mungkin anak itu akan membongkar rahasia. Lalu membahayakan dirinya sendiri.
Tapi mereka bingung. Sebab mereka tidak melihat adanya ledakan apapun di rumah itu. Bahkan pelayan yang merupakan mata-mata kini telah tiba, juga ikut heran.
"Dasar penghianat!" ujar dua pria pengawas CCTV pada pelayan itu. Lalu mereka membunuhnya.
"Kita ketahuan!" teriaknya.
Lalu mereka memilih kabur dari pintu belakang. Sayangnya tempat tinggal mereka dengan cepat dikepung oleh polisi. Dan akhirnya mereka tertangkap.
Dan di pulau sendiri terjadi kekacauan, akibat pemberontakan. Setelah seluruh anak yang baru diculik berhasil dibawa kabur ke hutan. Lalu anak-anak jenius melancarkan aksi mereka menghancurkan gedung-gedung tempat mereka diperlakukan seperti mainan.
Si Papa sendiri akhirnya memilih kabur bersama para pihak penanam modal. Yang membiayai seluruh pekerjaannya. Mereka adalah para koruptor dan penjahat kelas kakap yang memanfaatkan hasil ciptaan anak-anak jenius yang diculik.
__ADS_1
Mulai dari operasi wajah, pembuatan senjata kimia, serta bahan peledak, dan lainnya.
Meski telah melakukan pengawasan yang sangat ketat. Mereka terlambat mengetahui kalau selama ini anak-anak yang diculik, baik yang masih kecil, remaja bahkan yang telah dewasa, melakukan komunikasi dengan cara yang unik.
Saling bekerja sama, memanfaatkan apapun untuk bisa saling berkomunikasi. Dalam menyusun rencana untuk kabur dari pulau itu. Dan saat kesempatan datang, mereka pun tidak membuang kesempatan itu.
Semua itu telah disusun rapi oleh 011009. Mengganti bahan peledak, yang akan dipasang di rumah orang tua, dari anak yang diculik. Memperhitungkan dengan matang siapa yang bisa diajak bekerja sama. Lalu siapa yang menjadi pelaku dan siapa yang jadi perantara pembawa pesan.
Aves terpilih bukan tanpa alasan. 011009 mengetahui kebiasaan Aves mengingat nomor baju dengan menjadikannya sebuah kata. Ia juga sudah memperkirakan kalau Aves akan menggantikan bahan peledak dengan kancing bajunya.
Dan 011009 sudah memperkirakan kalau Aves akan memutuskan kancing pertama. Maka ia mengganti salah satu dari kancing baju dengan kancing yang telah disisipkan sebuah kartu memori.
Aves punya kebiasaan memakai pakaian sesuai dengan urutannya. Maka 011009 sudah memastikan Aves akan memakai pakaian yang kancing pertamanya telah ditukar.
Masalah bahan peledak yang ada ditangan Aves, juga sudah diperkirakan. Benda itu tidak akan meledak sekali pun remote ditekan. Sebab remote tidak berfungsi jika jaraknya lebih dari 10 kilometer.
Dan bila ketahuan sekalipun bahan peledak itu diganti, tentu saja benda itu sudah tidak di tangan Aves lagi. Seorang pengawas mengetahui kalau kancing baju Aves lepas, dengan segera meminta Aves memperlihatkan kacing baju yang lepas itu.
Aves sangat gugup. Tapi ia mencoba tenang dan berpura-pura merogoh sakunya mengeluarkan kancing baju. Dan tiba-tiba seseorang menyenggolnya dan jatuhlah kancing bajunya yang asli. Dari tangan orang tersebut tanpa diketahui pengawas.
"Maaf, saya sedang buru-buru," ujar orang itu.
__ADS_1
Aves mengutip kancing itu lalu menyerahkan pada pengawas. Kemudian membuka kemejanya lalu menyelipkan bahan peledak ke saku baju itu. Dan diberikan pada pengawas. Baju itupun dibawa begitu saja oleh pengawas dan dibuang. Sebab pengawas merasa kalau putusnya kancing baju itu karena hal yang lain. Bukan karena dengan sengaja diputuskan.
Dan kancing baju palsu Aves telah dikeluarkan dari tubuh anak palsu. Lalu ditemukanlah kartu memori yang menyimpan banyak file tentang pulau tempat mereka berada. Transaksi ilegal serta nama penjahat dan penjabat korup yang memakai jasa yang dijual oleh si "Papa".