Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Mengetahui siapa dia


__ADS_3

Intan hanya tersenyum dibalik penutup setengah wajahnya itu saat mendengar candaan polisi itu.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Tolong dibantu Pak Erland bila membutuhkan sesuatu segera panggil petugas kami," ucap Intan, ia tetap saja meninggalkan pesan agar Pria itu tak kepayahan melakukan sesuatu.


"Baiklah Bu dokter cantik..." Mereka berseru bersamaan dengan tawa renyah menggoda gadis itu. Tetapi lain dengan Erland yang hanya menatap Intan begitu dalam. Ia masih sangat penasaran dengan wajah sang dokter yang begitu baik dan rasanya sudah tak asing lagi dengan mata teduhnya.


Intan segera keluar dari ruang rawat itu dan segera menuju parkiran untuk mengambil kendaraannya. Berkat usaha dan kegigihan kini mereka sudah menikmati hasilnya. Mereka sudah tak perlu lagi naik angkot ataupun bis kota untuk pulang pergi. Intan sudah bisa membeli rumah dan kendaraan roda empat.


Dan hatinya juga merasa bahagia melihat keberhasilan Erland menjadi seorang polisi dengan pangkat yang sudah cukup tinggi. Jika soal ekonomi mereka sudah cukup mapan, namun sepertinya soal pasangan hidup mereka belum menemukan kebahagiaan.


***


Pagi ini Erland sudah bangun lebih awal, karena sang putri menemaninya maka ia tak bisa melebihi jam tidurnya.


"Selamat pagi, Pak Erland, izin kami cek tensi dulu ya," seru dua orang perawat yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.


"Ya, silahkan, Suster."


"Apakah saya sudah boleh pulang, Suster?" tanya Erland sudah tak sabar ingin pulang karena ia merasa sudah lebih baik.


"Kalau soal itu nanti Bapak langsung tanya dengan Dokter ya, Pak," jawab suster yang tak bisa mengambil keputusan.


"Oh, Dokter datang jam berapa ya, Sus?"


"Hari Dokter tidak masuk, Pak. Kan hari libur," jelas perawat itu.


"Terus, kapan saya bisa bertemu dengan dokter?"


"Tunggu hari senin, Pak."


Erland hanya terdiam, kalau hari senin, itu artinya ia harus menunggu dua hari lagi. Tapi harus bagaimana lagi karena itu sudah peraturannya.


"Sus, kalau saya boleh tahu siapa nama Dokter yang menangani saya?" tetiba saja Erland menanyakan nama dokter yang selalu menyembunyikan wajahnya di balik masker itu.


"Loh, Bapak tidak tahu nama Dokter yang menangani Bapak selama ini?"

__ADS_1


"Ya, saya belum tahu." Sebenarnya sudah lama ia ingin menanyakan nama Dokter bedah itu, namun ada rasa sungkan dihatinya.


"Baiklah, dokter yang menangani Pak Erland itu, namanya Dr Intan Dewi. Jadi kalau ada yang ingin Bapak tanyakan langsung saja pada beliau, karena beliau orangnya sangat ramah," jelas perawat itu.


Seketika Erland terpaku saat mendengar nama lengkap dokter itu. Hatinya merasa tak karuan. Apakah benar dia adalah orang yang selama ini ia cari? Apakah benar wanita itu Intannya?


Bermacam pertanyaan datang silih berganti di benak Pria yang berumur tiga puluh dua tahun itu. Tapi jika benar dia Intan, kenapa dia tidak mengenali dirinya?


"Kalau begitu kami permisi dulu ya, Pak. Jika Bapak perlu sesuatu jangan sungkan untuk beritahu kami," ujar perawat itu yang memutus lamunan Erland.


"Ah, baiklah. Terimakasih, Sus."


"Sama-sama, Pak." perawat itu tersenyum ramah dan segera keluar dari ruangan.


Erland masih termangu dalam keseorangan. Hatinya masih bertanya dalam kebimbangan.


"Daddy!" panggil Zherin yang baru saja membuka matanya.


"Hei, anak Daddy sudah bangun? Ayo cuci dulu wajahnya. Habis itu Daddy pesan makanan untuk kamu," ujar pria itu sembari membantu sang putri untuk duduk. Zherin memang tidur bersamanya diatas ranjang pasien itu. Karena si Mbak menginap di hotel.


"Aku mau mandi, Dadd, gerah sekali," celotehnya.


"No, Dadd, aku gerah, aku bisa mandi sendiri."


"Sayang, bisa dengerin papa 'kan?" ucap Erland menatap tegas.


"Baiklah, Dadd, tapi mbaknya lama..." Gadis kecil itu merengek manja, namun tetap patuh dengan ucapan sang Daddy.


"Nanti papa telepon Mbak suruh datang cepat ya, udah sana kamu cuci muka dulu," titahnya yang di dibalas anggukan patuh oleh Zherin.


Saat Zherin ke kamar mandi, Erland meraih ponselnya yang ada diatas meja. Tak ada notifikasi apapun dari sang istri. Kembali ia harus menelan kekecewaan. Namun sesaat ingatannya kembali pada dokter itu. Erland membuka galeri ponselnya ia membuka foto Intan yang sengaja ia privasi.


"Daddy, pengen jajan," seru Zherin saat keluar dari kamar mandi.


"Nanti ya, sebentar lagi Mbak datang. Ayo sini." Erland membawa putrinya untuk kembali naik keatas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Dadd, telpon Mommy, aku mau bicara sama mommy," pinta Zherin sembari menatap layar ponsel sang Daddy.


"Tante Dokter! Kok Daddy ada foto Tante dokter?" tanya Zherin membuat Erland terkesiap.


"Apakah kamu yakin dia Tante dokter yang semalam?" tanya Erland ingin memastikan bahwa putrinya tidak salah melihat.


"Yes, Dad. Dia Tante dokter cantik itu."


"Intan, ternyata benar kamu adalah Intanku. Tapi kenapa kamu sengaja bersembunyi dariku, Dek? Apakah kamu masih membenciku?" ujar pria itu dalam hati. Sebenci itukah sehingga gadis itu tak ingin menjalin silaturahmi dengannya? Padahal selama ini ia masih berusaha untuk mencari keberadaannya.


Erland menghela nafas berat. Ia tak tahu menggambarkan suasana hatinya saat ini. Apakah ia bahagia? Atau sedihkah, karena intan tak ingin mengenal dirinya, gadis itu sengaja menutup identitas darinya.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan. Aku harus tahu apa penyebabnya kenapa selama ini dia menghilang dan tak ingin mengenalku lagi." Pria itu bergumam sendiri.


"Daddy kenapa?" tanya Zherin menatap aneh pada sang Daddy yang bicara sendiri.


"Ah, tidak apa-apa, Sayang. Oya, kamu mau sarapan apa?" tanya Erland mengalihkan pembicaraan.


Erland segera memesan makanan untuk Zherin, dan tak berselang lama Mbak pengasuh sudah datang diantar oleh driver pribadi mereka. Karena berada diluar kota maka Mbak dan driver harus menginap di hotel.


Sementara itu di sebuah rumah minimalis dengan tipe modern, Intan baru saja terbangun, karena hari weekend maka ia sengaja bangun lebih siang. Tak banyak yang dilakukan oleh gadis cantik itu saat libur. Ia hanya menghabiskan waktu dikamar. Karena Intan memang tidak suka keluyuran, mungkin sudah kebiasaan. Ia akan keluar bila ada keperluan yang penting.


"Mbak Intan?" panggil bibik sembari mengetuk pintu kamarnya.


"Ya, Bik!"


"Sarapannya sudah siap, Mbak."


"Baiklah, sebentar lagi aku keluar." Intan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah rapi ia keluar untuk sarapan.


Selesai sarapan Intan masih duduk disana belum beranjak dari ruang makan itu. Seperti biasanya ia berbincang-bincang dengan Art yang selama satu tahu belakangan telah menemaninya.


Tak ada kegiatan apapun, Intan beranjak kembali ke kamarnya. Namun ia menerima telpon dari RS bahwa ada pasien yang sedang kritis membutuhkan pertolongannya, dan yang membuat jantung intan berasa ingin copot saat petugas RS menyebutkan nama Erland.


"Baiklah, saya akan segera ke RS."

__ADS_1


Bersambung.....


Happy reading 🥰


__ADS_2