
Pagi-pagi sekali, Airin sudah bangun terlebih dahulu. Ia melihat suami dan anaknya masih terlelap. Dengan perlahan ia membangunkan Erland untuk melaksanakan shalat subuh.
"Mas, ayo bangun, ayo sholat subuh," ucapnya sembari menggoyangkan lengan Pria itu dengan pelan.
"Hmm... Jam berapa ini, Dek?" tanyanya sembari menggeliat merenggangkan otot-otot.
"Sudah jam setengah lima, kamu ke masjid sama ayah?" tanya Airin segera turun dari ranjang.
"Iya, sediakan pakaian aku, Dek," jawab Erland ikut beranjak dari tempat tidur, lalu menuju kamar mandi untuk ambil wudhu.
"Eh, udah bangun, Nak? Mau ke masjid bareng?" tanya Ayah yang berpapasan dengan menantunya.
"Ah iya, Yah. Aku siap-siap bentar." Erland segera bersiap, lalu kembali keluar telah ditunggu oleh ayah mertua.
Sementara itu, Airin dan Ibu, juga keluarga yang lainnya masih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Keluarga besar itu sarapan bersama dengan anggota keluarga baru. Erland sangat bahagia bisa berada di tengah-tengah keluarga istrinya yang sangat pandai menghargai dan begitu dalam kesederhanaan.
Berbeda dengan keluarga istri pertamanya yang memang notabenenya adalah orang berada semua. Mereka tak sehangat keluarga Airin. Bila sedang berkumpul maka yang mereka bahas tentang harta dan jabatan masing-masing.
Erland menatap mereka yang penuh canda tawa. Baru satu minggu berbaur dengan keluarga Airin, terlihat Zherin sudah begitu akrab dengan mereka semua. Gadis kecil itu benar-benar bahagia dimanja oleh saudara ibu barunya.
***
Setelah dua hari di kampung, maka pagi ini Erland dan anak istrinya harus pulang ke kota. Karena ada tugas yang harus segera ia tangani.
Ibu dan ayah tak bisa menahan, meskipun berat harus berpisah dengan putrinya kembali. Namun, mereka menyadari bahwa anak perempuannya itu sekarang sudah berumah tangga, maka dia harus ikut kemanapun suaminya membawa.
"Bu, Yah, kami pamit dulu ya. Insya Allah nanti jika ada waktu senggang kami akan sering pulang," janji Erland pada mertuanya.
"Iya, kalian hati-hati dijalan ya. Nak Erland, kami titip Airin, jika nanti ada prilakunya yang membuat Nak Erland tak suka, maka berilah nasehat dengan cara lembut agar dia mudah memahami dan segera merubahnya. Tolong maklumi bahwa putri kami masih banyak kekurangan. Dan tolong jangan sesekali berbuat kasar padanya," ujar Ayah memberi pesan pada anak Erland.
Sebagai orangtua, tentu mereka menaruh rasa khawatir, bagaimanapun juga Airin masih terlalu polos dan masih belum punya pengalaman dalam berumah tangga. Bila disandingkan dengan Erland yang sudah pernah menikah, maka wanita itu masih belum ada apa-apanya.
"Bu, Yah, aku pergi dulu." Wanita itu menyalami tangan kedua orangtuanya dengan takzim.
__ADS_1
"Kamu baik-baik ya, harus patuh pada suami," pesan ibu dan ayah.
"Insya Allah, Bu."
"Ami, kakak pergi dulu. Nanti kalau kamu ada waktu libur mainlah bersama ibu dan ayah ketempat Kakak," ucapnya pada sang adik yang baru saja akan memulai kuliah.
"Baik, Kak. Kakak baik-baik disana. Jangan lupa selalu berkabar dengan kami."
"Benar yang diucapkan Airin. Bila Ayah dan Ibu rindu pada Airin, mainlah ketempat kami. Beri kabar aku, nanti akan aku suruh supir untuk menjemput," timpal Erland.
"Baiklah, Nak."
"Ayo Zhe, Salim dulu sama Nenek dan Kakek, juga Tante Ami," titah Erland pada putrinya.
"Kakek, Nenek, Ante Ami, aku pulang dulu ya, nanti kalau aku libur sekolah main lagi kesini, kita naik perahu lagi di danau," celoteh bocah itu sembari menyalami tangan keluarga barunya.
"Baiklah, cantik. Nanti kalau sudah sampai beri kabar Ante ya," ucap Ami sembari menggendong bocah itu sebelum mereka pergi.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu ya."
"Ma, kok nangis? Mama sedih ya ninggalin Nenek?" tanya Zherin yang melihat netra sang Mama berair.
"Hah? Nggak, Mama nggak nangis kok. Ish, kamu sok tahu banget deh," elak Airin sembari memeluk anaknya dengan erat.
"Jangan sedih, aku janji nanti kalau ada waktu senggang, kita akan pulang lagi kesini," timpal Erland sembari fokus mengemudi.
"Aku bukan sedih karena berpisah, tapi aku sedih saat ingat pesan Ibu, bagaimana jika nanti aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan, Mas?" tanya wanita itu menatap sendu pada suaminya.
Erland menatap sebentar, lalu kembali fokus menatap badan jalan. "Ay, aku percaya kamu adalah wanita terbaik untuk aku dan Zherin. Jangan merasa bahwa kamu tidak bisa menjadi seperti yang aku inginkan, tapi bagaimana jika kebalikannya. Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan? Maka dari itu kita harus bisa saling menerima dan melengkapi segala kekurangan di diri masing-masing," tuturnya dengan bijak.
Airin menghela nafas pelan. Selalu berdo'a agar rumah tangga yang mereka bina bisa saling menerima dan saling melengkapi. Meskipun nanti akan ada ujian-ujian yang akan datang, dan semoga mereka mampu melewati dan semakin mempererat jalinan kasih sayang diantara mereka.
"Terimakasih ya, Mas, Semoga kita bisa melaluinya dan akan bahagia," jawabnya mencoba untuk yakin.
"Harus, kita harus bahagia. Tujuan utama kita membina rumah tangga ialah untuk bahagia."
__ADS_1
Airin hanya mengangguk paham dan mengukir senyum manis pada pria itu. Meskipun dalam hati ingin sekali menanyakan prihal perasaannya pada dirinya. Sebab, jika hubungan tanpa ada rasa cinta maka tak akan pernah ada kebahagiaan disana.
Setelah melewati perjalanan cukup jauh, kini pasangan itu sudah sampai di kediaman mereka. Erland meminta pada sequrity untuk menurunkan barang bawaan mereka dari kampung, dan tentu saja bermacam oleh-oleh yang di titipkan oleh mertuanya.
"Eh, Bu Airin dan Pak Erland sudah pulang," sambut Bibik dengan senyum senang.
Airin masih saja sungkan saat Art telah mengubah panggilannya. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan Bibik.
"Bik, panggil aku seperti biasa saja," tegur Airin sembari berjalan masuk bersama Bibik.
"Aduh, Bibik nggak berani, soalnya Pak Erland yang menyuruh," jawab Bibik yang sangat patuh pada majikannya.
Airin hanya diam saja. Ia juga tak berani membantah ucapan suaminya. Wanita itu segera menuju kamar Zherin, tampak gadis kecil itu sudah bermain dengan benda-benda miliknya yang ditinggalkan selama satu minggu. Sepertinya gadis kecil itu sudah merindukannya.
"Sayang, mandi dulu yuk, biar kamu segar. Soalnya udah keringatan," ujarnya menghampiri anaknya.
"Baiklah, Aku mandi sendiri ya, Ma," ucap Zherin sangat patuh.
"Baiklah, Mama akan sediakan pakaian ganti kamu ya. Ayo sana mandi, jangan lupa gosok gigi dan sabunan yang bersih ya," pesannya sebelum bocah itu masuk kedalam kamar mandi.
"Oke, Mama..."
Airin hanya tersenyum menanggapi ucapan anaknya. Ia segera menyediakan pakaian gantinya. Saat sedang mengurus Zherin, Erland memanggilnya.
"Dek!" panggilnya dari luar.
"Ada apa, Mas?" jawab Airin sembari membuka pintu kamar Zherin.
"Disini kamu, aku cariin dari tadi," ucap Erland sembari menatap lekat.
"Iya, lagi temani Zherin. Mas butuh sesuatu?" tanyanya.
"Ah, nggak. Tapi..."
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰