
"Pak, ayo kita makan sekarang, ayo Nak Erland, bawa gadis kecil itu," ajak Ibu pada kedua lelaki itu.
Erland hanya mengangguk mengikuti ayah menuju ruang tengah sembari menggendong putrinya. Mereka menduduki secara lesehan.
"Maaf ya, Nak, cuma duduk dibawah. Soalnya nggak ada meja makan," ucap ayah dan dibalas anggukan ramah oleh Erland.
"Tidak apa-apa, Pak, ini sudah sama saja," jawab Erland dengan senyuman.
"Mama, aku mau ikan saja, tidak mau ayam," seru Zherin yang membuat Ibu dan ayah mengerutkan dahinya.
"Ah, baiklah," ucap Airin dengan wajah gugup, namun Erland masih tampak santai. Airin segera mengambilkan makan untuk gadis kecil itu sesuai request nya.
"Ayo, ambil Nak, kok bengong?" ucap Ibu pada Erland yang hanya memperhatikan Airin dan Zherin.
"I-iya, Bu." Erland segera mengisi piringnya dan makan dengan tenang.
Ternyata makan dalam kesederhanaan seperti ini sungguh membuatnya menikmati, dan ia kembali mengingat masa kecilnya bersama Intan dalam pengasuhan seorang Ibu.
Erland berasa mendapatkan keluarga baru, tak bisa ditampik bahwa selama ini hidupnya berada dalam kesunyian tanpa keluarga. Erland mendapatkan kembali kehangatan itu di tengah-tengah keluarga Airin yang begitu ramah dan baik padanya.
Selesai makan, mereka kembali duduk di ruang tamu. Erland tampak begitu gugup saat ingin mengutarakan maksud dan tujuannya. Jantungnya berdegup kencang, ini kali kedua ia meminang anak gadis orang. Apakah pinangannya kali ini diterima?
"Pak, Bu, saya sengaja datang kesini karena ada maksud dan tujuan," ucapnya menjeda.
"Apa itu, Nak Erland?" tanya ayah dan ibu tampak serius mendengarkan. Sementara Airin sudah berwajah tegang.
"Saya, saya ingin melamar Airin untuk menjadi istri saya," ucap Erland memantapkan hatinya mengatakan pada ayah dan ibu.
Seketika Ibu dan Ayah saling pandang. Dan tatapan mereka beralih pada Airin. Ayah yang belum tahu status Airin, maka membuatnya bingung.
"Maksud Nak Erland bagaimana ya, bukankah kamu sudah menikah?" tanya ayah tak paham.
"Ah, maaf sebelumnya, karena saya belum memberitahu status saya yang sebenarnya, saya dan ibunya Zherin sudah bercerai setahun belakangan, dan saya ingin Airin menjadi istri saya, karena dia dan Zherin juga sudah begitu dekat," jelasnya kembali.
"Begini Nak Erland, Bapak dan Ibu tidak bisa memutuskan, semua kami kembalikan pada Airin, karena dia yang akan menjalani," ucap ayah dengan bijak.
__ADS_1
"Bagaimana Airin, apakah kamu menerima lamaran Pak Erland?" tanya Ibu pada putrinya yang sedari tadi tampak diam saja.
Erland menatap gadis itu menginginkan jawaban sekarang juga. Namun Airin mengatakan sesuatu yang membuat Erland sakit kepala.
"Aku belum bisa memberikan jawaban sekarang, Bu, karena aku perlu memikirkannya sekali lagi," jawab Airin dengan tegas.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menunggu jawaban kamu sampai besok pagi," timpal Erland yang memberi waktu sedikit pada gadis itu.
"Yasudah, malam ini kamu bisa berpikir dengan matang, setelah dapat jawaban kamu bisa beritahu ibu dan ayah," sambung Ayah pada putrinya.
Airin hanya mengangguk tipis, bagaimana mungkin ia bisa memutuskan dalam waktu sesingkat itu. Ah, duda ini benar-benar meresahkan dirinya.
Setelah selesai bersepakat untuk menunggu keputusan Airin besok, maka Erland sedikit lebih lega karena kedua orangtua itu hanya mengaminkan saja segala keputusan putri mereka, bersyukur tak ada tentangan dari mereka.
Sore hari, Airin baru saja selesai memandikan Zherin. Sedikit penasaran kemana perginya lelaki itu yang tadi istirahat di ruang tamu.
"Ma, Daddy mana?" tanya Zherin tak melihat ayahnya disana.
"Mungkin lagi diluar, Sayang, kamu mau Mbak masakin apa?" tanya Airin pada gadis kecil itu yang terbiasa makan setelah mandi sore.
"Aku masih kenyang. Ma, kita jalan-jalan di pinggir danau yuk," ajak Zherin sambil menunjuk dari jendela kamar yang menghadap pada danau.
"Iya, Zhe pergi sama kak Ami dulu ya, Mbak mau mandi sebentar, habis itu nyusul kesana ya," ucap Airin pada sang bocah.
"Hihi... Baiklah, ayo kita pergi." Zherin tampak begitu senang dan tertawa senang.
Setelah Ami dan Zherin pergi, Airin segera mengambil pakaian ganti dan handuk untuk dibawa ke kamar mandi yang posisinya di dapur.
"Mau mandi?" tanya Erland berpapasan dengannya.
"Ah, iya. Apakah Bapak ingin mandi duluan?" tanya Airin ingin mengalah.
"Nggak, kamu saja dulu. Atau kita mandi bareng gimana?" ucapnya dengan senyum nakal.
Seketika wajah Airin berubah warna. "Pak, apaan sih ngomong begitu? Didengar Ibu gimana!" kesalnya pada Pria itu.
__ADS_1
"Hehe... Ya, nggak apa-apa, biar kamu nggak pake mikir lagi. Biar kita segera dinikahkan," jawab Erland dengan santai.
"Ck, apaan sih!" Airin segera beranjak meninggalkan Erland yang masih tersenyum melihat ekspresi wajah calon istrinya.
Setelah mandi Airin diminta ayah untuk membuatkan kopi untuk teman ngobrol mereka. Gadis itu sudah terlihat cantik dengan pakaian rumahannya.
Cukup lama mereka ngobrol, Erland pamit untuk mandi. Ia menghampiri Airin yang sedang sibuk membantu ibu di dapur.
"Ay, pakaian aku mana?" tanya Erland minta disiapkan pakaian ganti.
"Ah, ada di kamar, sebentar saya ambilkan," jawab Airin segera menuju kamarnya untuk mengambil koper pria itu, lalu menyerahkan padanya, namun, kembali lagi Erland bertingkah.
"Tolong sediakan pakaian ganti aku," ucapnya yang membuat Airin menatap tak percaya.
"Pak, tapi?" tanya gadis itu menggantung. Bagaimana mungkin ia harus membuka koper itu, dan tidak mungkin juga ia harus memegang pakaian Kramat milik lelaki itu.
"Kenapa? Pasti pikiran kamu jorok ya," ujar Erland membuat wajah Arini kembali bersemu.
"Ish, apaan sih! Udah ambil aja sendiri!" sanggahnya meninggalkan Erland yang masih berdiri di depan pintu kamar. Ia kembali tersenyum. Senang sekali melihat wajah malu gadis itu.
"Kenapa kamu kok mukanya kesal begitu?" tanya Ibu melihat putrinya tampak uring-uringan.
"Hah? Nggak pa-pa kok, Bu. Mana yang bisa aku bantu," ucapnya kembali fokus membantu sang ibu.
"Lagi masak, Bu?" sapa Erland yang sudah menyandang handuk dan mengapit pakaian ganti.
"Eh, iya, Nak. Mau mandi?" sahut Ibu tersenyum ramah, berbeda dengan Airin tampak acuh.
"Iya, Bu." Erland menatap wajah cantik gadis itu yang masih kesal karena kejahilannya.
"Bu, aku nyusul Ami dulu ya, soalnya dari tadi mereka pergi," ucap Airin yang merasa cemas karena takut jika terjadi sesuatu pada adik dan anak asuhnya itu. Apalagi mereka menggunakan sepeda motor.
Airin masuk ke kamar sebentar untuk merapikan rambutnya sedikit kusut, lalu meraih dompetnya segera keluar ingin mencari adiknya.
"Mau kemana?" tanya Erland melihat calon istrinya sudah rapi dan tampak bergegas.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰