Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Meyakinkan hati


__ADS_3

Erland hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Intan yang membuat hatinya merasa entah, ia mencoba untuk berdamai dengan hatinya yang mulai tak normal seperti dulu lagi saat dekat dengan gadis cantik itu. Namun mendengar pernyataan Intan membuatnya tak ingin mengusik kebahagiaannya.


"Bang, aku pamit pulang dulu ya, jika Abang butuh sesuatu, bisa panggil perawat. Oya, Nindi kemana?" tanya gadis itu sedikit penasaran dengan keberadaan wanita itu.


"Istirahat di hotel," jawab Erland singkat.


"Oh, yasudah, aku pamit ya. Ingat, Abang harus banyak istirahat, dan jangan telat makan," pesan gadis itu sebelum beranjak.


Erland hanya mengangguk pelan. Ada rasa tak rela saat ditinggalkan olehnya, namun sadar sekali bahwa dirinya bukanlah prioritasnya. Mungkin gadis itu sekarang sudah sangat bahagia dengan lelaki yang dicintainya.


Intan segera beranjak meninggalkan ruangan itu. Kini hanya tinggal Erland sendiri disana. Ia kembali berbaring untuk menghilangkan segala beban pikiran walau untuk sesaat.


Sesuai janji, Intan pulang diantarkan oleh Reza. Reza tampak begitu perhatian dengan gadis itu. Ia tak lantas membawa Intan pulang. Melainkan menuju sebuah mall yang ada di kota itu.


"Loh, kok kita ke mall, Bang?" tanyanya heran.


"Mumpung ini hari libur, jadi Abang ingin ajak kamu nonton bareng," jelas Reza.


"Tapi aku lagi nggak mood, Bang. Kenapa Abang suka sekali ambil keputusan sendiri sih," ujar Intan merasa tidak nyaman.


"Ah, kalau begitu Abang minta maaf, yasudah, kita pulang sekarang ya." Reza mencoba mengalah. Bukan mencoba, namun akan selalu mengalah menghadapi sikap wanita yang hatinya belum terbuka untuknya. Ia akan mengikuti senyamannya saja.


"Bang, dari pada nonton mending kita ke taman, atau ke kebun binatang," ujar gadis itu memberi solusi.


"Kamu yakin?"


"Yakinlah, kalau di kebun binatang bisa lihat-lihat bermacam hewan yang lucu-lucu," jawab Intan dengan senyuman.


"Kayak buaya gitu?" ucap Reza ikut nimbrung.


"Ish, itu bukan lucu. Aku tidak suka buaya, apalagi buaya darat," balasnya dengan sinis.


"Terus sukanya apa?"


"Ya, hewan yang lucu dong, contohnya kelinci."

__ADS_1


"Tapi kelinci itu playboy lho. Ayo, gimana?"


"Nggak pa-pa, tapi kan imut. Daripada buaya, udah jelek serem lagi," celoteh gadis itu yang disambut kekehan oleh Reza.


"Baiklah baiklah, ayo kita pergi sekarang. Jangan lupa beli pisang sama wortel dulu," ujar Reza sembari fokus mengemudi.


"Buat apa?" tanya Intan tidak paham.


"Ya buat berbagi dengan mereka yang kamu bilang imut tadi."


"Oh, Hehe, aku lupa. Yaudah kita cari pisang dulu buat saudara Abang."


"Hush, sembarangan. Dikata Abang monyet."


"Hahaha... Canda, Bang. Ya nggak mungkinlah ada monyet setampan Abang," seloroh gadis itu dengan kekehannya.


"Kalau Abang monyet, berarti kamu sejenisnya dong."


"Apa? Simpanse gitu?"


Pasangan itu menghabiskan waktu libur mengunjungi tempat dimana yang di inginkan oleh Intan, Reza tak sedikitpun keberatan, dengan sabar ia mengikuti dan tentu saja ia bahagia dimanapun tempatnya asalkan selalu bersama gadis cantik itu.


"Bang, aku capek. Kita pulang yuk," ajak Intan saat duduk bersantai dibawah pohon rindang yang ada disebuah taman.


"Oke, kita pulang sekarang." Reza menuruti dan kasihan melihat wajah lelah kekasihnya.


Reza segera mengantarkan Intan pulang. Intan yang merasa sangat mengantuk sehingga tak mampu menahan beratnya kelopak mata yang ingin tertutup. Gadis itu terlelap di perjalanan pulang.


"Dek, nggak ingin beli sesuatu?" tanya Reza tanpa mengalihkan tatapannya dari badan jalan.


"Yaelah, udah tidur aja. Mudah banget terlelap." Pria itu tersenyum sembari mengusap mahkota gadis itu dengan sayang.


Setibanya di kediaman Intan, Reza tak sampai hati untuk membangun maka ia membopong tubuh ramping itu untuk membawanya masuk.


"Bik, tolong buka pintu kamar," titah Reza pada Art yang selama ini selalu setia menemani Dokter muda itu.

__ADS_1


"Baik, Mas." Bibik segera membuka pintu kamar Intan.


Dengan perlahan Reza membaringkan Intan diatas ranjang, lalu menyelimuti agar kekasihnya tidur dengan nyaman. Sesaat Pria itu menatap wajah cantik gadis yang berumur genap dua puluh enam tahun itu.


Dengan perlahan tangannya membelai rambut hitam yang panjang sebahu itu. Sebuah kecupan hangat singgah di keningnya.


"Selamat istirahat, Sayang, love you more." Reza segera beranjak keluar dari kamar kekasihnya.


"Bik, saya pamit pulang ya, kalau Intan tanya, bilang saya sudah pulang karena masih ada urusan," pesan Reza pada Bibik.


"Baik, Mas, nanti Bibik sampaikan."


Pukul setengah enam sore Intan terbangun dari tidurnya. Ia menilik jam dinding yang ada di kamar. Sedikit heran karena sudah berada di ranjang ternyaman miliknya.


"Ya Allah, aku kok bisa tidur kebablasan begini." gumamnya segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan tak lupa menunaikan kewajiban empat rakaat, meskipun telat, tak apalah daripada tidak sama sekali.


Selesai sholat ashar, Intan keluar dari kamar untuk menemui sang Bibik. Yakin sekali yang membawanya ke kamar adalah Pria yang saat ini berusaha ia perjuangkan membuka hati untuknya.


"Bik, Bang Reza mana?" tanya Intan sembari celingukan mencari sosok lelaki itu.


"Oh, Mas Reza sudah pulang, Mbak. Tadi beliau pesan suruh sampaikan oleh Bibik, karena beliau masih ada urusan," jelas Bibik pada gadis itu.


"Oh, yasudah." Intan memilih duduk di sofa yang ada diruang keluarga. Untuk menunggu waktu magrib Intan memainkan ponselnya, beberapa pesan telah menantinya, tentu saja dari Reza.


"Assalamualaikum... Sudah bangunkah?"


Intan membalas pesan Pria itu. Dan ada ajakan untuk keluar, karena ini malam minggu Reza ingin membawa gadis itu untuk jalan-jalan sembari menikmati kuliner yang ada di kota bertuah itu.


Sebenarnya Intan tidak mood mau kemana-mana, namun merasa tak enak menolak ajakan lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya, meskipun masih mode belajar mencintai, namun tentu saja harus banyak waktu bersama.


"Baiklah Intan, kamu harus bisa mencintai lelaki itu. Jadi sekarang berikan waktumu untuknya. Ayo semangat!" Gadis itu menyemangati diri sendiri.


Intan menerima ajakan Reza untuk keluar malam ini. Dengan niat yang teguh ia akan mencoba menyingkirkan nama Erland dalam hatinya. Meski berat, namun ia harus bisa. Jika dulu saja ia tak ingin merusak kebahagiaan Erland, apalagi sekarang dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak yang harus mempunyai keluarga yang utuh tanpa ada gangguan dari orang ketiga.


"Ya, aku pasti bisa. Aku tidak akan lagi mengusik kebahagiaanmu, Bang. Aku hanya ingin selalu melihatmu bahagia dengan orang yang kamu cintai." Intan masih berusaha meyakinkan dirinya agar tak lagi berharap pada Pria yang telah beristri itu.

__ADS_1


__ADS_2