Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Tak ingin gagal lagi


__ADS_3

Airin menatap aneh pada suaminya, entah apa yang dia inginkan. Ia masih fokus menyediakan pakaian ganti untuk Zhe.


"Dek, ayo sini ikut aku," ucap Erland yang membuat Airin harus meninggalkan kamar putrinya.


"Zhe, pakaian gantinya Mama letakkan diatas ranjang ya, Mama tinggal nggak pa-pa 'kan?" tanyanya pada Zhe di depan pintu kamar mandi.


"Iya, Ma, nggak pa-pa, aku bisa pake baju sendiri!" jawab bocah itu dari dalam.


Airin segera mengikuti langkah suaminya menuju kamar utama. Sedikit ragu saat Pria itu memintanya untuk masuk.


"Dek, ayo sini!" titahnya saat melihat sang istri masih berdiri di depan pintu.


Dengan ragu Airin masuk kedalam kamar suaminya. Ada perasaan entah saat memasuki kamar Pria yang kemaren-kemaren masih sebagai majikannya, namun saat ini sudah menjadi imamnya.


Erland segera mengunci pintu kamar. Seketika jantung Airin berasa ingin lompat. Apakah Pria itu ingin mengeksekusi dirinya sekarang juga?


Airin hanya berdiri mematung. Erland mendekat, lalu memegang kedua bahu istrinya.


"Dek, kita mulai sekarang ya?" ajaknya sambil tersenyum penuh arti.


"T-tapi, Mas?" ucap Airin ragu.


"Kenapa, Dek? Kamu masih belum siap?"


"B-bukan, tapi, ini masih sore."


"Nggak pa-pa sore, kita masa percobaan dulu agar bisa beradaptasi satu sama lain," jawabnya begitu enteng.


Airin hanya bisa mengangguk pasrah saat lelaki itu menuntunnya naik keatas ranjang. Dengan perlahan membaringkan, lalu melabuhkan sebuah kecupan hangat di kening, mata, pipi, hingga bibir.


Kembali Airin merasakan luma tan dari lelaki itu. Masih sangat malu untuk menatap wajah tampan yang sedang memberinya sensasi yang luar biasa.


Erland sudah tak sabar, ia segera membuka pakaiannya di hadapan wanita itu. Kini tubuh bagian atasnya telah polos. Kembali ia meneruskan permainan yang memabukkan, tangannya sudah tak bisa diam. Dengan lembut menyentuh aset berharga milik gadis polos yang masih awam dalam hal bercinta.


Erland membuka kancing baju Airin satu persatu. Matanya terpesona menatap indahnya pemandangan yang hampir satu tahun tak pernah ia lihat. Ah, rasanya terlalu bertele-tele bila hanya untuk dipandang saja.


Dengan sigap Pria itu menggarapnya hingga tak ada yang luput dari sentuhan bibirnya. Airin yang tadi masih merasa malu, namun, saat ini sudah mulai terbawa arus gelombang cinta, hingga tak ia sadari telah mengeluarkan suara keramat yang membuat Erland semakin terpacu gairahnya.


Erland sudah tak ingin lagi menunda-nunda, ia segera membuka pakaian bagian bawahnya, rasa tak sabar ingin menuntaskan hasrat yang semakin membara.


"Daddy! Mama!" panggil Zherin yang membuat Pria itu segera mencari pakaian yang entah kemana ia lempar ke sembarang arah.


"Dek, mana punyaku?" tanyanya pada Airin yang tak melihatnya.


"Mama!" panggil bocah itu kembali dengan ketukan yang tak berhenti.

__ADS_1


"Ya, sebentar!" jawab Airin sembari mengenakan pakaiannya begitu rempong.


Dengan tergesa Airin turun dari ranjang. Namun Erland menghentikan langkahnya sesaat.


"Dek, tunggu dulu! Ini masih belum selesai," ucap Pria itu masih grusak grusuk mencari kaos oblong di lemari dan segera menyorong dengan cepat.


Setelah merasa aman, ia memberi kode pada istrinya sudah bisa membuka pintu. Dengan kepala berdenyut, ia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Ah, ini benar-benar sangat menyiksa.


Airin segera membukakan pintu untuk putrinya. Sedikit lega, setidaknya masih bisa bernafas dari rasa takut yang ia bayangkan.


"Mama Kenapa lama sekali buka pintunya?" tanya Zherin sedikit bosan menunggu.


"Ah, maaf ya, Sayang, tadi Mama ketiduran," jawab Airin beralasan.


"Kamu kenapa, Sayang? Apakah pengen sesuatu?" tanya Airin sembari membawa dalam gendongan.


"Ma, aku mau makan. Tapi pengen semur ayam buatan Mama," jawabnya.


"Oh, baiklah. Kalau begitu ayo kita kedapur." Airin pamit pada suaminya terlebih dahulu.


"Mas, aku masakin buat Zhe dulu ya, kamu mau aku buatin sesuatu?" tanya Airin pada suaminya yang tampak berwajah kusut.


Erland tak menjawab, ia duduk sembari membelenggu pinggang Airin dengan kedua tangannya. "Aku tidak ingin makan apapun untuk saat ini, Dek, aku hanya ingin kamu," lirihnya terdengar manja.


"Sabar ya, kan tadi aku sudah katakan bahwa waktunya masih belum tepat. Udah sana mandi dulu biar lebih segar dan rileks," ucap wanita itu menenangkan jiwa suaminya yang sedang kesal.


Airin hanya tersenyum sembari mengusap rambut suaminya dengan lembut. Ada perasaan entah. Ternyata Pria yang selama ini begitu tegas dan cuek, kini begitu manja. Apakah karena sesuatu yang belum berhasil ia dapatkan?


Dengan berat hati Erland melepaskan istrinya keluar dari kamar. Ya, beginilah bila sudah mempunyai anak, maka ia harus menanamkan rasa sabar.


Airin membuatkan permintaan putrinya dengan senang hati. Zherin juga tak beranjak menunggui sang Mama yang sedang sibuk memenuhi keinginannya.


Setelah masak, Airin menyajikan diatas meja, dan sekalian mengisi piringnya.


"Wah, enak banget kayaknya ini, Ma," celotehnya tersenyum girang melihat masakan Ibu sambungnya.


"Enak dong, ayo sekarang makan. Mama temani kamu ya," ucap Airin sembari duduk di depan gadis kecil itu.


Erland datang menghampiri anak dan istrinya. Pria itu sudah tampak rapi dengan rambut yang masih basah.


"Wih, enak kayaknya nih. Aaa, Daddy dong!" serunya sembari membuka mulut menghadap pada Putri kecilnya.


"Sini aku suapin," ujar Zherin sembari mengarahkan sendok yang berisi makanan ke mulut Daddynya.


"Enak kan, Dadd?"

__ADS_1


"Enak dong, masakan Mama tentu saja yang paling enak, benar nggak?" jawabnya.


"Benar banget."


Airin hanya tersenyum melihat kedua orang yang kini sangat berarti dalam hidupnya.


"Kok senyum-senyum? Lagi mikirin yang tadi ya?" goda Erland membuat wajah Airin bersemu.


"Apaan sih, Mas. Siapa juga yang mikirin itu. Kamu mau makan?" tanya Airin mengalihkan topik pembahasan.


"Nggak, kayaknya kopi lebih mantap, Dek."


"Baiklah, tunggu sebentar ya." Airin segera beranjak untuk menyeduh secangkir kopi untuk menemani sore Pria itu.


Malam ini seperti biasanya, Airin masih menemani Zherin belajar di kamarnya. Sementara Erland baru saja selesai memboking sebuah kamar hotel melalui aplikasinya.


Malam ini lelaki itu tak ingin gagal lagi. Ia harus menyelesaikan misi yang tadi sempat tertunda. Dengan sabar ia menunggu sang istri.


Sudah satu jam lebih ia menunggu. Namun, wanita itu tak kunjung menyambangi kamarnya. Jangan-jangan dia sudah terlelap bersama putrinya.


Pria yang berusia tiga puluh lima tahun itu berjalan mondar mandir dengan kegelisahan dalam menunggu.


Cklekk!


Pintu kamar terbuka. Seketika Erland menemui wanita yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya.


"Dek, ayo bersiap sekarang, kita akan pergi," titah Erland yang membuat Airin menatap tak mengerti. Mau kemana Pria itu membawanya di jam sudah hampir tengah malam.


"Pergi, pergi kemana,Mas?" tanyanya tak paham.


"Aku sudah boking kamar hotel," jawabnya enteng.


"Untuk apa, Mas?" tanya Airin bingung sendiri.


"Untuk malam pertama kita, Dek, aku tidak mau harus gagal lagi. Sudah, ayo bersiap sekarang. Aku tunggu lima belas menit selesai," titahnya tak bisa di bantah.


Airin hanya menghela nafas dalam. Sepertinya malam ini ia harus menjadi istri seutuhnya untuk lelaki itu.


Tak sampai lima belas menit, Airin sudah keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian biasa saja. Ia juga berdandan seadanya saja. Lagian untuk apa berdandan cantik-cantik jika hanya untuk pergi tidur saja.


"Sudah?" Tanya Erland tersenyum sumringah menatap wajah natural istrinya.


"Sudah, tapi bagaimana jika nanti Zhe bangun nyariin kita, Ma?" tanya Airin cemas.


"Tak apa, aku sudah minta Bibik untuk menemani Zherin di kamarnya."

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2