
Erland melihat Nindi juga berdiri diambang pintu kamarnya. "Kamu kenapa ada disini?" tanya Erland pada wanita itu.
"Ya, aku ingin menemani Zherin untuk tidur dikamar kamu," jawabnya acuh.
"Tidak bisa!" jawab Erland dengan cepat.
"Kenapa? Aku ibunya, jadi aku lebih berhak menemani putriku," balas Nindi tak terima.
"Kamu memang ibunya, tapi kamu dengar sendiri bahwa dia tidak ingin tidur denganmu. Jadi pergilah tidur di kamar sebelah," usir Erland dengan tegas.
"Mas, kamu tidak bisa begini. Aku ingin tidur bersama Zherin, jadi biarkan aku ikut menemaninya tidur disini."
"Tapi aku tidak mengizinkan!"
"Maaf, biar saya dan Zherin kembali ke kamar sebelah saja, Pak," ucap Airin sembari mengambil Zherin dari gendongan Erland.
"Tidak, Airin! Kamu dan Zherin tetap tidur disini!" titah Pria itu tak ingin dibantah.
"Mbak, aku mau ke kamar mandi," rengek gadis kecil itu pada pengasuhnya.
"Ah, baiklah Sayang." Airin segera membawa Zherin ke kamar mandi. Sementara itu Nindi juga tak ingin mengalah. Dia ikut masuk dan merebahkan diri diatas ranjang itu. Erland tak habis pikir melihat tingkah mantan istrinya.
Zherin sudah keluar dari kamar mandi. Gadis kecil itu masih berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu mbaknya.
"Zherin, ayo sini bobok sama Mommy," panggil Nindi membawa anaknya untuk tidur bersamanya.
"No, Momm, aku bobok sama Mbak Airin," jawabnya yang membuat Nindi menatap kesal pada pengasuh putrinya. Entah apa yang diberikan oleh gadis kampung itu sehingga Zherin begitu lengket dengannya.
Erland yang merasa tak nyaman dengan kehadiran Nindi, dia memilih untuk membuka pintu balkon. Pria itu duduk sendiri untuk menghirup udara malam agar otaknya sedikit lebih tenang. Cukup lama ia duduk sendiri sembari membuka MacBooknya.
Erland tak bisa tidur, ia lebih memilih untuk memeriksa email yang masuk dan beberapa laporan yang sudah menunggunya. Saat Erland masih sibuk dengan pekerjaannya, ia merasakan ada tangan seseorang membelenggu tubuhnya.
"Nindi! Apa yang kamu lakukan?" sentak Erland segera melepas pelukan wanita itu.
"Mas, aku tahu kamu masih sangat mencintai aku, bukan?" cicitnya masih memeluk dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Pria itu.
"Nindi, awas!" Erland segera berdiri untuk menghindar dari wanita itu. Namun Nindi tak ingin melepas pelukannya.
"Mas, aku mohon maafkan aku. Aku ingin kita memulainya dari awal, aku janji akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk kamu dan Zherin," lirihnya masih mendekap dengan erat.
"Maaf, aku tidak bisa!" tekan Erland.
"Kenapa Mas? Apa kurangnya aku dari wanita kampung itu?" ucapnya melerai pelukan.
"Karena dia jauh lebih baik darimu. Dia begitu pandai menghormati pasangan, dan selalu bicara dengan penuh lemah lembut. Dia juga mengerti apa yang aku mau," balas Erland cukup ngarang.
__ADS_1
"Tapi kita sudah mempunyai Zherin, tentu saja dia menginginkan keluarga yang utuh. Aku berjanji akan berhenti menjadi model. Aku hanya akan fokus dengan kamu dan Zherin," ungkap Nindi masih bersikukuh.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Airin," jawab Erland sembari mengambil peralatan kerjanya, lalu beranjak meninggalkan Nindi sendiri di sana.
Jika malam ini Erland dilanda kebimbangan hati. Berbeda dengan pasangan pengantin Anyar itu. Malam ini Reza sulit menemui mimpinya. Ia duduk sembari mengusak rambutnya sedikit kasar. Ah, sulit sekali mengendalikan hasrat yang sudah berada di ubun-ubun.
Reza menatap wajah sang istri yang tidur begitu lelap. Apa yang harus ia lakukan. Menatap bibir ranum wanita itu membuat sesuatu mudah sekali menantang.
Reza beranjak dari tempat tidur, lalu menuju kamar mandi. Sepertinya ia perlu mengguyur tubuhnya agar lebih rileks dan tenang. Ini benar-benar ujian cinta. Ingin kesal, tapi udah sayang banget. Ingin marah, tapi udah cinta mati. Maka jalan satu-satunya adalah menanamkan rasa sabar hingga waktu indah itu tiba.
Intan yang mendengar suaminya masuk kamar mandi, ia segera membuka netranya. Mana mungkin ia bisa tidur pulas dalam rasa was-was. Intan sebenarnya merasa kasihan melihat penderitaan Pria itu sedari tadi sore.
Apa yang harus ia lakukan? Kenapa rasanya sulit sekali. Apakah dia berdosa bila telah mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi ia hanya ingin meminta waktu hingga batinnya siap.
Cukup lama pria itu berada di kamar mandi. Mungkin dia sedang berendam disana. Intan merasa kebelet buang air kecil. Namun Reza tak kunjung keluar.
Intan duduk menunggu Reza keluar, namun rasanya sudah tak tertahankan. Maka ia memilih untuk ke kamar mandi diluar kamarnya. Saat ia masuk, Reza juga baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe.
"Dek, kamu darimana?" tanya Reza melihat istrinya baru masuk kamar.
"Minum, soalnya tadi lupa bawa air minum. Abang mandi malam?" tanya Intan pura-pura tidak tahu.
"Ah, iya. Gerah soalnya," jawab pria itu berbohong.
"Oh, yaudah. Ayo tidur lagi." Ajak Intan pada sang suami.
***
Kini pasangan itu kembali menjadi ratu dan raja sehari. Pesta yang cukup mewah digelar di kediaman orangtua Dokter jantung itu. Semua kerabat, rekan bisnis, dan juga rekan medis yang satu profesi dengan mereka juga datang menghadiri untuk memberikan Do'a restu.
Erland juga sudah hadir di pesta resepsi pernikahan adik angkatnya. Namun kali ini ada yang berbeda, karena Nindi yang menjadi tamu tak diundang dengan santainya hadir di pesta itu.
"Hai, Intan, selamat ya atas pernikahan kalian. Aku kira kamu tidak bisa move on dari Abang angkatmu," seru wanita itu yang tak pandai mengondisikan mulutnya.
"Ya, tentu saja aku bisa. Karena aku sudah menganggapnya sebagai Abangku sendiri. Tapi aku heran kok kamu bisa hadir disini? Perasaan aku tidak pernah menulis namamu di surat undangan," balas Intan tersenyum santai.
"Tak masalah, sebagai kakak ipar yang baik, maka aku tetap datang memberi Do'a restu," jawabnya dengan santai.
"Kakak ipar? Apakah aku tidak salah dengar? bukankah kamu dan Bang Erland sudah bercerai ya, atau kamu yang gagal move on. Hehe..." Intan tertawa kecil melihat ekspresi wajah Nindi yang begitu tak mengenakan.
Nindi segera beranjak meninggalkan pasangan Dokter itu. Reza melihat sang istri tampak senyum-senyum sendiri.
"Seneng banget lihat orang kesal," ujarnya sembari menyikut pelan istrinya.
"Hahaha... Habisnya dia duluan yang cari gara-gara," jawab Intan masih dengan tawa bahagianya.
__ADS_1
"Jadi dia mantannya Bang Erland?" tanya Reza baru tahu.
"Iya. Dia seorang model terkenal."
"Ya, aku tahu," jawab Reza.
"Abang sering lihat dia?"
"Kan kamu sendiri yang bilang bahwa dia model terkenal dan dia juga selebgram juga kan?" tanya Reza memastikan.
"Iya, udahlah. Nggak usah bahas dia. Nggak penting juga." Intan memalingkan muka dengan wajah sedikit dongkol. Ternyata suaminya itu sering mengikuti sosial media wanita itu.
"Kok cemberut, Dek? Kamu cemburu?" tanya Reza sembari mencolek hidung sang istri.
"Ish, apaan aku cemburu, ya nggaklah!" elaknya acuh.
Reza hanya terkekeh kecil sembari menggelitik pinggang sang istri. Intan kembali tertawa bahagia melihat tingkah suaminya.
"Bang, udah malu ah, dilihat orang," serunya sembari menahan tangan Pria itu.
"Bahagia banget nih. Selamat ya semoga kalian selalu bahagia. Dan segera punya momongan," seru Erland yang sudah berada dihadapan mereka.
"Terimakasih atas segala do'anya ya, Bang. Aku juga berdo'a semoga Abang dan Zherin selalu bahagia," balas Intan menyalami tangan Abang angkatnya itu.
"Za, aku titip Intan ya. Tolong jaga dia, sayangi sepenuh hatimu," pesan Erland pada adik iparnya.
"Siap Bang! Aku akan menyayanginya sepenuh hati dan jiwa ragaku," sambut Reza.
"Kalau begitu Abang pamit sekarang ya, soalnya Abang masih banyak tugas di kantor. Abang tidak bisa lama-lama." Erland pamit undur dari pesta pernikahan pasangan itu.
"Kok cepat banget, Bang? Padahal aku masih ingin main sama Zherin," ucap Intan masih belum rela ditinggal oleh gadis kecil itu. Intan mengambil Zherin dari gendongan Erland.
"Tante Intan cantik sekali. Aku juga ingin jadi pengantin seperti Tante, hihi..." Celoteh bocah itu yang membuat mereka tertawa.
"Kamu nanti pasti jadi pengantin, tapi nanti harus tunggu gede dulu," jelas Intan mencium pipi gemas bocah itu.
Setelah berpamitan dengan kedua pasangan itu, Erland dan Airin segera beranjak meninggalkan kediaman itu untuk kembali ke kota dimana mereka tinggal.
Saat mereka hendak masuk mobil, Nindi kembali membuat repot. Ternyata wanita itu belum juga pergi. Sehingga membuat Erland harus bertindak tegas.
"Mas, aku nebeng pulang bareng kamu ya. Karena Zherin pasti pengen kita lengkap seperti dulu lagi. Benar kan, Sayang?" tanyanya pada Zherin yang masih dalam gendongan Airin.
Bocah itu hanya diam tak menyahut pertanyaan Mommynya. Zherin benar-benar acuh pada ibu kandungnya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy readingš„°