Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Pengakuan Rusdy


__ADS_3

Erland terkesiap mendengar ucapan Airin, perasaannya mulai tak tenang. Hatinya diliputi kegelisahan.


"Airin, katakan apa yang terjadi. Kamu jangan pernah takut, karena sekarang aku sudah kembali bertugas di sini. Aku janji akan memberi perlindungan padamu," ujar Erland meyakinkan gadis polos itu.


Airin masih diam membisu. Bibirnya terasa sangat berat untuk mengatakan apa yang terjadi padanya selama Erland tak bertugas di kantor Polda itu.


"Airin, kenapa kamu diam saja, ayo katakan!" Erland masih mendesak Airin untuk jujur.


"Mereka, mereka berusaha melecehkan saya, Pak. Dan mereka meminta saya untuk mengikuti keinginan mereka agar saya bisa di bebaskan. Sungguh saya lebih baik mati dipenjara daripada harus mengorbankan kehormatan saya," jelas Airin dengan terisak.


Seketika tangan Erland mengepal kuat dan rahangnya mengeras, giginya gemeletuk gemas mendengar pernyataan Pengasuh putrinya itu.


"Katakan siapa yang melakukan hal itu padamu?" tanya Erland yang sudah tak sabar ingin memberinya pelajaran.


"Saya tidak tahu siapa nama petugas itu, Pak, mereka ada dua orang, dan mereka datang ketahanan saat tengah malam," jelasnya kembali.


"Apakah mereka pihak tahanan?" tanyanya kembali, Erland masih belum tahu siapa sebenarnya pelaku itu.


"Tidak, mereka memakai pakaian dinas seperti Bapak," jawab Airin, ia masih ingat jelas seragam coklat yang digunakan oleh oknum itu. Namun sayangnya ia tak bisa mengenali wajahnya karena mereka menggunakan masker.


"Apakah kamu mengenali wajah mereka?"


"Tidak, Pak, mereka datang selalu menggunakan masker, jadi saya tidak bisa melihat wajahnya."


"Brengsekk! siapa mereka? Awas saja bila aku berhasil mengungkapnya. Akan kubuat kalian menyesal!" Erland bergumam dalam hati dengan kesal.


"Baiklah, sekarang kamu kembalilah ke tahanan, saya akan menyelidiki kasus ini," ujar Erland pada gadis itu.


"Baik, Pak. Tapi bagaimana jika mereka datang lagi, Pak?" ucap Airin dengan tatapan cemas.


"Kamu jangan takut, aku akan menjaga dirimu. Saat mereka datang kamu tetap tenang, percayalah, aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal itu lagi padamu," janji Pria itu pada Airin.


Gadis itu hanya mengangguk dengan perasaan lebih lega. Ia kembali masuk kedalam tahanan. Sementara itu Erland menemui kepala petugas lapas. Ia ingin tahu kenapa itu semua bisa terjadi.


"Sungguh saya tidak tahu soal itu, Pak Erland, karena saya tak mendapat laporan apapun dari petugas yang lainnya," jawab kepala Posuspas.


"Siapa yang bertugas malam? Kenapa mereka membiarkan oknum kep4r4t itu datang, dan melakukan tindakan asusila itu?" tanya Erland kembali


Petugas itu mengatakan siapa oknum yang bertugas malam. Dan Erland meminta bantuan pada petugas itu untuk membantu dirinya.

__ADS_1


"Saya minta kerja sama anda untuk mengungkap kasus ini. Jangan sampai nama tahanan ini menjadi buruk atas kebodohan dari pihak anggota anda."


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Pak?"


"Pasang beberapa titik cctv tersembunyi di tahanan khusus Airin. Dan gunakan metode cloud access P2P. Agar saya bisa memantau dari ponsel saya. Tolong bantu saya untuk hal ini, karena kamu tahu ini bukan hal yang sepele. Airin itu adalah bagian dari keluarga saya, walaupun dia seorang pengasuh, namun saya tidak akan memaafkan orang yang telah berlaku kurang ajar!" Ucap Erland dengan nada berapi-api.


"Baik, Pak. Saya akan membantu. Saya harap Pak Erland bersikap seakan tak mengetahui hal ini. Mari kita bekerja sama!" ucap petugas tahanan yang bernama Arseno itu.


"Baik, saya akan tetap memantau. Tolong lakukan dengan rapi, saya harap kerja sama ini bisa membantu saya."


"Siap, Pak!"


Erland segera beranjak meninggalkan tahanan itu. Kini ia harus menemui sang supir yang ingin bermain-main dengannya. Emang siapa dia berani sekali untuk menuntut Airin. Seharusnya dia yang meminta maaf atas prilakunya yang tidak bermoral itu.


"Saya ingin bertemu dengan Pak Rusdy," ucapnya pada keluarga itu.


"Tapi suami saya sedang istirahat, Pak," jawab istrinya tampak keberatan.


"Kalau begitu biarkan saya menemuinya di kamar, karena saya ingin meminta penjelasan."


"Tapi bukankah pihak penyidik sudah meminta penjelasan beberapa kali dengan suami saya, Pak."


"Itu bukan saya, sekarang saya ingin langsung meminta penjelasan." Erland tak lagi menghiraukan ucapan wanita itu. Ia segera melesat masuk kedalam kamar sang supir.


"Ya, bagaimana keadaan Pak Rusdy?" tanya Erland masih bersikap tenang.


"Sudah mulai membaik, Pak."


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang coba jelaskan pada saya kronologinya?"


"Malam itu saya ingin minta tolong dibuatkan kopi pada Airin."


"Kenapa Bapak minta tolong pada Airin? Bukankah Bapak tahu bahwa itu bukanlah pekerjaannya?" sahut Erland


"Awalnya saya ingin minta tolong pada Bibik, tapi karena Bibik sudah tidur, maka saya minta tolong pada Airin," jawab Pria itu masih membela diri.


"Selanjutnya apa yang terjadi?" tanya Erland kembali.


"Saya meminta Airin untuk membuatkan kopi, tapi tiba-tiba dia marah kepada saya, kami sempat cekcok mulut sebentar, dan kejadian itu begitu cepat sehingga dengan spontan dia mengambil pisau buah dan menghujamkan kepada saya sebanyak dua kali," jelas Pria yang diperkirakan empat puluh tahun itu.

__ADS_1


Erland diam sejenak, kenapa pengakuan lelaki itu sangat jauh berbeda dengan keterangan Airin. Siapa sebenarnya yang berbohong. Erland menatap wajahnya dengan lekat untuk membaca mimik wajahnya.


"Benarkah begitu?"


"Benar, Pak."


"Apakah anda tidak ingin jujur dengan saya?"


"Saya sudah jujur, Pak."


"Bagaimana jika saya menemui bukti bahwa keterangan anda ini adalah bohong?"


"Sungguh saya sudah bicara jujur, Pak. Memang begitulah kejadian yang sebenarnya," jawabnya masih berbohong.


"Tapi dari keterangan putri saya, anda menyakiti Airin. Apakah anak kecil bisa berbohong?" tanya Erland penuh selidik.


"Ah, mu-mungkin Non Zherin tidak melihat kronologi yang sebenarnya, karena saat saya datang dia sedang tertidur," elaknya.


"Benarkah? Kalau begitu saya akan mencari bukti yang akurat untuk membuktikan bahwa ucapan Airin tidaklah berbohong. Akan saya periksa cctv yang ada di kamar itu," jelas Erland yang seketika membuat tubuh Rusdy menjadi kaku.


"Ingatlah, jika ucapan anda berbohong. Maka saya akan menjerat anda dengan pasal 285 KUHP, Yaitu tentang kekerasan sek sual dengan hukuman penjara dua belas tahun penjara!" Ancam Erland dengan tegas.


Rusdy hanya diam membisu, entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah dia harus jujur dan meminta belas kasih penyidik itu?


"Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga lekas pulih." Erland segera ingin beranjak, namun langkahnya terhenti saat suara lelaki itu memanggilnya.


"Pak Erland, tunggu!"


Erland menghentikan langkahnya, lalu kembali menghadap padanya. "Ada apa, Pak?"


"Pak, s-saya i-ingin jujur," ujarnya dengan gugup.


Erland kembali menghampirinya. "Sekarang katakan!"


Akhirnya Rusdy mengakui perbuatannya. Ia menceritakan kronologi yang sesungguhnya. Dia memohon agar Erland tak memberinya hukuman.


"Pak, mohon tolong maafkan saya, saat itu saya benar-benar khilaf," ucapnya memohon.


"Datanglah besok ke kantor polisi, dan berikan pengakuan yang sebenarnya. Memohon maaflah pada Airin. Jika gadis itu berbaik hati, maka mari selesaikan dengan kekeluargaan!" Jelas Erland tak langsung memberi keputusan.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2