
Selesai ritual mandi wajib, pasangan halal itu segera keluar yang telah mengenakan pakaian ganti sedari kamar mandi. Zherin segera menghampiri Mamanya.
"Mama sakit perut ya?" tanya Zherin dengan polos.
Airin sedikit bengong saat mendengar pertanyaan putrinya, namun Erland segera menyenggol lengannya sebagai isyarat agar istrinya membenarkan kebohongan yang ia ciptakan pada bocah itu.
"Ah, i-iya Sayang, tadi perut Mama kurang nyaman. Maaf ya, kamu sudah lapar ya," ucap Airin sedikit gugup.
"Iya, aku lapar banget," jawabnya sedikit merengek manja.
"Baiklah, kalau begitu Mama bersiap sebentar ya, habis itu kita cari makan," ucap Intan meminta waktu sedikit lagi pada gadis kecilnya.
"Oke Mama," sahutnya kembali fokus mengamati televisi.
Airin segera duduk di depan meja rias. Ia menyisir rambutnya yang panjang sepinggang.
"Mau aku bantu?" tanya Erland yang sudah berdiri dibelakang istrinya. Sebuah senyum kepuasan ia ukirkan.
"Kenapa harus bohong?" tanya Airin pada suaminya.
"Terus, kamu mau aku mengatakan yang sebenarnya dengan Zherin atas apa yang telah kita lakukan di kamar mandi?" jawab Erland dengan kekehan kecil sembari mencuri kecupan di pipi wanita itu.
"Bukan begitu Mas, tapi..."
__ADS_1
"Sudah tidak usah pikirkan. Berbohong demi kebaikan tidak apa-apa, Sayang," potong Erland, kembali ia mencuri kecupan. Kini wajah Pria dewasa itu sudah kembali ceria setelah mendapatkan servis dari sang istri.
"Done, kamu cantik sekali, kita berangkat sekarang?" tanya Erland sembari memperbaiki penampilannya di depan cermin.
Airin menatap suaminya yang terlihat begitu tampan. Tubuhnya yang tinggi, hidung mancung, bibir tipis, bola mata hitam kecoklatan. Ah, benar-benar nyaris sempurna.
"Jangan menatapku terlalu lama, Sayang, nanti setelah Zherin tidur kita akan melakukannya kembali," ucap Erland menatap istrinya dari pantulan cermin.
Seketika wajah Airin merah merona. Dan jangan lupakan cubitan kecil mendarat di pinggang lelakinya itu.
"Awh! Sakit, Sayang. Kenapa kamu tega sekali," lirihnya sembari mengusap bekas cubitan wanitanya.
"Biarin, kenapa mesum sekali," rutu Airin menatap malas.
"Udah ah. Ayo kita pergi sekarang. Lihat putriku sudah kelaparan karena ulah kamu," ucap Airin menyalahkan suaminya.
"Tapi kamu juga menikmati 'kan?" goda Erland mengedipkan matanya.
"Mas!" cicit Airin geram.
"Hahaha... Oke oke, ayo kita jalan sekarang."
Kini keluarga kecil itu meninggalkan kamar hotel untuk berkuliner malam di daerah yang dulu pernah mereka kunjungi sebelum menikah. Erland mengikuti segala keinginan anak dan istrinya.
__ADS_1
"Sudah kenyang? Ada yang ingin dibeli lagi?" tawar Erland sebelum kembali menjalankan kendaraannya menuju hotel tempat mereka menginap.
"Aku sudah kenyang Daddy, aku sudah ngantuk," jawab Zherin yang sudah menyandarkan kepalanya pada dada Airin.
"Baiklah, kalau Mama gimana?" tanya Erland pada istrinya.
"Aku pengen sesuatu Mas, tapi kayaknya disini nggak ada," jawab Airin.
"Apa itu Dek? Katakan?"
"Jagung bakar, tapi dari tadi nggak ada," jawab Airin jujur. Sedari tadi ia mengamati semua pedagang yang mereka lewati, namun tak ada yang menjual jagung bakar.
"Baiklah, kalau begitu kita cari di tempat lain saja. Zhe, kalau udah ngantuk bobok di bangku belakang dulu ya, kita cari keinginan dedek bayi sebentar," ucap Erland pada putrinya.
"Emang adek bayi pengen banget ya, Ma?" tanya Zhe.
"Iya, dedek pengen banget. kamu tidak apa-apa kan, Sayang?" tanya Airin takut putrinya keberatan.
"Baiklah Mama, adek tenang saja. Kakak temani kamu cari jagung bakar, adek mau yang rasa apa? Kalau kak Zhe suka rasa keju," celoteh bocah itu di depan perut buncit sang Mama membawa adiknya bicara.
Erland dan Zherin hanya tersenyum melihat tingkah putri sulung mereka. Erland mengusap rambut anak dan istrinya dengan lembut. "Kalian adalah kebahagiaanku. Tetaplah sehat agar Daddy selalu bisa melihat senyum di bibir kalian," ucap Erland dengan haru, rasanya ia begitu bahagia.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰