Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Bertemu Airin


__ADS_3

Erland menghubungi temannya untuk mengamankan Nindi, ia hanya mengamati dari monitor cctv tanpa minat untuk menemui mantan istrinya itu. Rasa tak tega memperlakukan hal seperti ini, namun tingkahnya yang membuat ia harus tega.


"Erland! Keluar kamu! Dasar pengecut, kenapa kamu menyuruh orang untuk melakukan hal ini?!" teriaknya dari luar saat petugas kepolisian mengamankannya ke kantor polisi.


Erland hanya menghela nafas dalam, tak bermaksud untuk menyakiti, ia menyadari seburuk apapun sikap dan perilaku wanita itu, dia adalah orang yang dulu pernah ia cintai dan pernah pula ia perjuangkan untuk mendapatkan cintanya.


Dengan kejadian ini ia berharap Nindi bisa merubah sikapnya dan mendapatkan kebahagiaan dengan sesungguhnya.


"Sayang, Daddy berangkat kerja dulu, kamu sama Bibik dirumah ya, jangan kemana-mana," pesan Erland pada sang putri.


"Baik, Dadd, besok kita jadi ketempat Mama Airin kan, Pa?" tanya bocah itu ingin memastikan sekali lagi.


"Jadi, nanti Daddy akan izin dulu. Yasudah, Daddy pergi sekarang ya." Erland memberi kecupan di seluruh wajah bocah kecil itu sebelum beranjak meninggalkan kediamannya.


Erland segera menuju kantor Polda untuk menyelesaikan tugasnya sebelum ia izin beberapa hari untuk prosesi akad nikahnya yang kedua kalinya.


***


Sore ini Erland keluar dari ruangannya dengan wajah lega dan tak lupa senyuman ia ukirkan untuk menyapa rekan-rekannya. Pasalnya lelaki dewasa itu telah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna dan pengajuan surat izinnya juga telah di tanda tangani.


"Seneng banget kayaknya hari ini, Pak?" tutur salah seorang polwan cantik yang baru saja pergantian sif.


"Ah, kamu bisa aja. Jangan lupa datang di pernikahan saya ya," pesan Erland mengundang secara lisan.


"Wuih, Pak Erland mau mariied masa kita nggak diundang? Wah parah nih!" protes salah seorang lelaki yang berpangkat bripka tak lain adalah bahwahan Erland.


"Sorry ya, soalnya pernikahan saya diadakan di kediaman calon istri, maka dari itu saya mengundang kalian dengan secara lisan. Bagi yang mempunyai kesempatan bisa datang," jelasnya kembali pada mereka.


"Baiklah, kami akan luangkan waktu. Masa iya kami nggak datang di momen penting Pak komisaris, benar kan, temana-teman?"


"Yooii... Kita pasti luangkan waktu, Pak," jawab mereka bersamaan.


"Baiklah, terimakasih sebelumnya. Nanti akan saya share alamatnya di GC ya," ujarnya sebelum meninggalkan kantor Polda.


"Oke, Siip!"


Pria itu segera beranjak menuju kediamannya. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul setengah lima sore, itu tandanya masih ada waktu untuk bertolak ke kampung halaman calon istrinya.

__ADS_1


Ditengah perjalanan Erland menghubungi Bibik untuk menyiapkan Zherin, karena ia sudah memutuskan untuk berangkat sore ini juga ke kampung Airin.


Tak perlu memakan waktu lama Erland sudah rapi dan sangat tampan dengan stelan pakaian casualnya. Sementara itu Zherin sudah rapi dibantu oleh Bibik, mereka segera beranjak meninggalkan kediamannya untuk menuju kampung halaman Airin.


Erland sengaja tak memberi kabar pada gadis itu bahwa sore ini ia bertolak ke kampung halamannya. Ia sengaja ingin memberi kejutan. Entah kenapa perasaannya Erland merasa deg-degan membayangkan saat bertemu dengan calon istrinya.


Pukul setengah delapan malam mobil yang dikendarainya telah terparkir di depan rumah sederhana yang telah dipasang tenda dan dihiasi oleh pelaminan. Rumah tampak ramai oleh petugas pelaminan yang sedang bekerja ekstra karena pihak penyewa memberi kabar dengan waktu yang sangat mepet.


Erland segera turun menggendong putrinya, sepertinya pihak keluarga masih belum ngeh dengan kehadirannya. Mungkin mereka benar-benar sedang sibuk hingga tampak acuh. Bagi sanak saudara yang belum tahu dengan calon suami Airin maka hanya bisa terpana saat melihat ada seorang lelaki tampan mengucapkan salam.


"Mau cari siapa Bang?" tanya salah seorang sepupu Airin dengan senyum malu.


"Hmm, saya mau bertemu Airin, apakah dia ada?" tanya Erland.


"Ada, Bang, tapi tadi baru selesai mandi. Tunggu sebentar saya panggil ya," ucap gadis itu segera menuju kamar Airin.


Setibanya dikamar wanita itu melihat Airin yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya, ia sedikit terkejut saat pintu kamar terbuka.


"Airin, ada seseorang mencari kamu," ucap Kakak sepupunya.


"Siapa Kak?" tanya Airin sedikit mengerutkan keningnya dengan heran.


"Ish, Kak Tika bicara apa sih? Siapa juga yang macam-macam," balas Airin semakin bingung.


"Udah sana kamu temui. Eh, tapi bisa dong nanti kenalin aku sama dia ya," ucapnya dengan senyuman.


"Iya deh, nanti aku kenalin. Yaudah aku temui dulu." Airin segera menemui lelaki yang dimaksud oleh Kakaknya.


Saat ia keluar dan menemui lelaki itu sedang berdiri sembari menggendong Zherin. Seketika jantungnya berasa ingin lompat.


"Mas Erland, Zherin!" serunya dengan wajah terkejut.


"Mama!" Zherin segera menjangkau pada calon ibu sambungnya.


Airin segera meraih tubuh bocah itu dalam gendongannya. "Mama kangen banget, kamu apa kabar, sayang?" tanyanya sembari memberi kecupan seluruh wajahnya dan memeluk dengan erat.


"Mas, kamu kok datang nggak beri aku kabar sih?" tanyanya pada Erland sedikit jengkel karena ia tak ada persiapan apapun untuk menyambut kedatangan calon imamnya. Maklum saja dalam keadaan repot sekarang, jadi mereka tak sempat masak yang spesial kecuali masak seadanya saja yang cepat untuk cepat saji dan makan bersama.

__ADS_1


"Jadi kamu nggak senang lihat aku datang? Yasudah, kalau begitu aku pergi lagi, besok pas hari H saja aku datang," timpal Erland sedikit mendrama ingin pergi, namun Airin segera meraih tangannya.


"Eh eh, apaan sih pake acara pergi-pergi segala," ucapnya sembari menatap wajah tampan, dan mata meneduhkan itu.


"Habisnya kamu tidak bahagia dengan kedatanganku," ujarnya menatap wajah natural calon istrinya tanpa polesan sedikitpun, rasanya membuatnya gemas menatap bibir ranum itu.


"Bukan itu maksud aku, Mas, kamu datang mendadak begini membuat aku tak ada persiapan apapun. Jika ayah dan ibu tahu dia juga pasti akan berpikiran yang sama," timpalnya.


"Dek, aku tidak butuh apapun. Dengan bertemu denganmu saja aku sudah bahagia. Malam ini tak perlu masak apapun, kita akan makan di luar dan semua yang kerja di rumah akan kita belikan makanan di luar. Kita ke pasar lambung saja ya," ucapnya pada calon istrinya itu.


"Kamu yakin, Mas? tapi ini banyak lho," ujar Airin.


"Yakin banget malah, Dek. Oya, ayah dan ibu kemana?" tanya Erland yang tak melihat kehadiran kedua calon mertuanya.


"Lagi mengunjungi Ninik mamak yang ada di desa sebelah. Mungkin nanti sebentar lagi pulang," jawabnya dengan jujur.


"Oh, yaudah sekarang kita pergi ya, takutnya nanti kemalaman."


"Baiklah, kalau begitu aku ganti pakaian dulu ya, Mas."


"Yaudah, tapi jangan dandan ya, cukup seperti ini saja, soalnya kamu cantik banget, alami tanpa pengawet makeup," tuturnya membuat Airin tersenyum malu.


"Baiklah, Zhe sama Daddy sebentar ya, Mama mau ganti pakaian dulu," ujarnya sembari menyerahkan gadis kecil itu kembali pada ayahnya.


Airin segera masuk dan kembali berpapasan dengan Kakak sepupunya yang ternyata sedari tadi sudah mengintip.


"Eh, dia siapa sih? Kok kamu tampak begitu akrab dengan anak kecil itu?" tanyanya.


"Dia adalah calon suami aku Kak," jawab Airin jujur.


"Hah! Kamu serius?" tanya mereka tak percaya.


"Iya, kenapa emangnya Kak?" tanya Airin heran.


Mereka saling pandang dan tersenyum hampa, karena harapan mereka telah terpatahkan setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Bersambung...

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2