
Setelah penantian panjang, akhirnya hari ini adalah hari bahagia bagi kedua pasangan yang berprofesi sebagai Dokter, dan bertugas di RS yang sama. Kini saatnya kedua pasangan itu duduk di depan penghulu untuk mengucapkan kalimat sakral dan mengikat janji suci.
Pasangan Dokter itu terlihat begitu serasi dengan balutan pakaian akad nikah yang bermodel simple, namun elegan. Intan menggunakan kebaya berbahan sutra di couple dengan stelan Reza berwarna abu-abu slimfit.
Semua rekan-rekan mereka sesama tenaga medis datang menghadiri. Reza dan Intan sudah duduk menghadap kepada wali hakim yang akan menikahkan. Sementara itu di samping kanan sudah duduk Mama Eva dan kerabat yang lainnya.
"Apakah kalian sudah siap?" tanya wali hakim.
"Ah, tunggu sebentar Pak," sahut Intan yang sedang menunggu seseorang.
"Apakah masih ada keluarga yang ingin di tunggu?" tanya pak wali.
"Ada, Pak. Saya minta waktunya sebentar lagi menunggu Abang angkat saya," jelasnya.
"Baiklah, saya beri waktu lima belas menit lagi," ucap Pak wali mengulur waktu.
"Tadi kamu sudah hubungi Bang Erland?" tanya Reza berbisik.
"Sudah, Bang. Katanya sudah dekat," jawab Intan yang memang tak ingin melangsungkan akad sebelum kedatangan Erland lelaki yang kini telah ia anggap sebagai seorang Kakak kandung. Jujur saja, bahwa hanya lelaki itu yang dia punya setelah kepergian sang Ibu.
Sementara itu diperjalanan, Erland merasa kesal saat dilanda macet. Ia merutuk tidak jelas sembari memukul stir mobil.
"Ya Allah, kenapa harus ada macet begini!" serunya dengan kesal.
Airin yang duduk disampingnya hanya bisa mencuri-curi pandang memperhatikan wajah kesal Erland. Sedang kesal seperti itu masih menampakkan raut ketampanannya.
Ah, Airin merutuki kebodohannya yang selalu saja mencari kesempatan untuk sekedar menatap wajah tampan penyidik itu. Seketika tatapan mereka bertemu. Airin segera memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu?" tanya Erland menatap heran.
"Ah, nggak pa-pa, Pak."
"Kenapa wajah kamu memerah seperti itu?"
"Ah, mana ada." Airin segera menatap wajahnya melalui spion mobil.
Erland hanya tersenyum tipis sembari fokus mengemudi saat mobil sudah mulai lepas dari kemacetan. Melihat wajah gadis itu seperti mendapat penghiburan baginya.
"Daddy, apakah kita masih jauh?" tanya Zherin yang telah terbangun dari tidurnya.
"Tidak, Sayang, kira-kira tiga puluh menit lagi," jawabnya pada Putri kecilnya.
__ADS_1
"Mbak, aku mau pindah duduk di belakang," ucap Zherin ingin duduk sendiri di kabin belakang agar lebih nyaman.
"Yaudah, Mbak temanai," jawab Airin.
"Pak, bisa berhenti sebentar?" tanya Airin.
"Udah kamu duduk di situ saja, biarkan Zherin duduk di belakang," jawab Erland yang merasa tak punya banyak waktu untuk segera sampai di kediaman adik angkatnya.
Airin tak membantah, ia membiarkan Zherin pindah kebelakang dengan melangkah dari kabin depan. Gadis kecil itu sibuk dengan boneka Barbienya, sementara Airin tak mempunyai kegiatan, ia menatap keluar jendela mobil.
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Erland sudah memasuki halaman rumah sang adik angkat. Terlihat sudah banyak tamu yang memadati kediaman rumah minimalis modern. Nuansa pelaminan tampak begitu netral dengan warna putih.
Erland segera turun dengan menggendong Zherin, Airin hanya ikut berjalan di belakang Pria itu. Kedatangan Erland disambut bahagia oleh Intan.
"Bang Erland, Zherin!" ucap Intan segera berdiri menyongsong tamu spesialnya.
"Hai, kamu cantik sekali, Dek," ucap Erland menatap adik kecilnya yang dulu begitu manja. Kini dia telah berdiri sebagai seorang gadis dewasa yang cantik dan anggun.
"Terimakasih, Bang. Aku sangat bahagia akhirnya Abang dan Zherin bisa hadir di acara pernikahan aku," ujar Intan tersenyum simpul.
"Ya, Abang juga ikut bahagia. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu. Abang selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu," balas Erland.
"Ayo kita akan mulai acara akadnya." Erland membawa Intan untuk kembali duduk di samping Reza.
"Tentu saja aku datang, karena ini hari spesial untuk kalian berdua," jawab Erland mencoba berlapang dada untuk menyerahkan sang adik dengan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Apakah sudah bisa kita mulai sekarang?" tanya Pak wali hakim.
"Ah, sudah Pak," jawab Intan dengan yakin.
Airin duduk di barisan Ibu-ibu sedikit menjarak dari meja akat dengan memangku Zherin. Gadis kecil itu tampak tersenyum bahagia melihat sang Tante sudah cantik dan akan menikah.
Reza kembali dilanda rasa gugup saat ingin menjabat tangan Pak wali, namun Erland mencoba untuk menyemangati.
"Jangan gugup, tarik nafas dalam lalu lepaskan dengan perlahan. Ayo semangat," ucap Erland.
"Ah, baiklah." Reza berusaha untuk tetap tenang , ia segera menerima uluran tangan Pak wali hakim.
Dengan sekali sentak Reza mengucapkan dengan sangat lancar tanpa hambatan.
"Bagaimana saksi?" tanya wali hakim.
__ADS_1
"Sah!"
"Sah!" seru Erland yang menjadi saksi.
"Alhamdulillah... " Mereka mengucapkan rasa syukur bersama dan di sambung Do'a untuk kedua pasangan pengantin.
Reza menyerahkan mahar yang telah mereka sepakati. Intan terlihat begitu bahagia menerima mahar dari sang suami, dengan takzim menyalami, lalu di balas kecupan hangat oleh Pria itu.
Para kerabat dan sanak saudara memberi ucapan selamat dan Do'a restu untuk kedua pasangan itu.
"Selamat ya, Dek. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Erland menyalami kedua pengantin itu.
"Terimakasih banyak ya, Bang. Semoga Abang segera mendapatkan kebahagiaan," balas Intan tersenyum simpul.
"Tante Intan cantik banget," ucap Zherin menghampiri mereka.
"Hai, terimakasih, Sayang, kamu juga cantik banget. Kamu sama Mbak udah makan?" tanya Intan sembari menggendong bocah kecil itu.
"Belum, tadi aku ajak Mbak, tapi Mbaknya malu," adunya pada mereka.
"Hah, kenapa malu, Mbak? Ayo makanlah jangan sungkan. Kita ini keluarga," ucap Intan pada Airin.
"Ah, iya, Mbak. Nggak malu kok," sahutnya dengan senyum merona.
"Kalau begitu Abang bawa mereka menikmati makan yang tersedia ya," sambung Erland pada pasangan pengantin itu.
"Ayo silahkan makan, Bang. Jangan sungkan," jawab Reza yang telah mengubah panggilannya terhadap Erland.
Erland membawa Zherin dan Airin menuju dimana tempat makan terhidang diatas meja.
"Jadi Mbak Airin malu?" tanya Erland kembali pada putrinya.
"B-bukan, tapi saya hanya tidak enak saja, karena Bapak dan pasangan pengantin belum makan," sambung Airin dengan cepat.
"Jadi kamu pengen makan bareng aku?" tanya Erland lagi yang membuat Airin semakin menjadi salah tingkah.
"Bukan, bukan begitu maksud saya, Pak."
"Yasudah, ayo kita makan sekarang." Erland tak membahas lagi, Pria itu suka sekali membuat Airin salah kaprah.
Akhirnya mereka mengambil makanan yang telah tersedia. Airin mengambilkan untuk Zherin. Erland juga tak mau kalah, ia juga meminta Pengasuh putrinya untuk mengambilkan makanan untuknya.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰