
Setelah mendapat jawaban dari Airin, kembali ada rundingan yang mereka buat untuk menentukan hari pernikahan pasangan itu. Kedua orangtua Airin ingin akad nikah dilaksanakan di kediaman mereka.
Erland mengikuti kemauan calon mertuanya. Hari pernikahan sudah di tentukan, yaitu akan di laksanakan minggu depan.
Mengingat Erland mempunyai tugas penting yang tidak bisa ditinggalkan, maka ia memutuskan untuk pulang merampungkan tugasnya sebelum ia mengambil cuti.
"Kalau begitu nanti sore saya pulang dulu, karena ada tugas penting yang tak bisa saya abaikan. Sementara Airin dan Zherin biar disini dulu," jelas Erland pada keluarga barunya.
"Baiklah Nak, kalau itu keputusanmu. Kami akan mempersiapkan dari sekarang," ucap Ayah yang mengikuti keputusan calon menantunya.
"Maaf saya tidak bisa membantu, Pak, karena tugas yang tak bisa saya tinggalkan, tapi akan saya usahakan untuk secepatnya menyelesaikan tugas itu, agar bisa datang kesini lebih cepat lagi," ujar Erland merasa sungkan.
"Ah, tidak apa-apa, Nak Erland, kami tahu kesibukan Nak Erland. Biarkan kami yang mempersiapkan segalanya," ujar ayah sangat mengerti. Sebagai seorang polisi tentu saja calon menantunya itu sangat sibuk dalam mengayomi masyarakat dan mengusut kasus yang sedang ditangani.
Sore ini Erland sudah bersiap ingin berangkat ke kota kediamannya untuk tugas negara yang ia emban. Pria itu menghampiri putrinya yang sedang duduk santai dengan calon ibu sambungnya.
"Zhe, Daddy berangkat dulu ya, kamu disini baik-baik, harus nurut dan nggak boleh nakal sama Mama ya," ucapnya memberi wejangan.
"Baik, Dadd, terus aku gimana sekolahnya?" tanya Zherin merasa bingung.
"Nanti Daddy minta izin sama wali kelas kamu."
Erland menggendong putrinya sebentar sembari mengecup seluruh wajahnya. Seminggu berpisah tentu saja membuatnya nanti sangat merindukan bocah itu.
"Ay, aku titip Zherin ya, kamu jaga diri, jangan kemana-mana, karena tidak baik bagi calon pengantin keluyuran menjelang hari-H," pesannya pada calon istri.
"Iya, Bapak juga hati-hati dalam bertugas ya," balas Airin.
"Baiklah, kamu nggak ingin salam dan peluk calon suami dulu?" goda lelaki itu dengan senyuman.
"Ck, nggak usah mulai lagi deh, Pak," jawab Airin malu-malu asam digoda oleh calon suaminya itu.
"Hehe, baiklah. Aku pamit ya. Sampai ketemu lima hari kedepan."
"Iya, hati-hati..."
"Oya, Ay, gunakan kartu ATM itu untuk persiapan pernikahan kita. Jangan sungkan menggunakannya," pesannya pada Airin.
"Tapi, Pak?" tanya Airin ragu dan tentu saja orangtuanya menolak bila mengandalkan uang dari calon menantu mereka.
"Katakan pada ayah dan ibu tidak boleh menolak, jika mereka menolak maka akan dikenakan pasal oleh calon menantu mereka," jawab Erland yang membuat Airin tersenyum gemas mendengar jawabannya.
Erland segera menemui ibu dan ayah untuk berpamitan, dan menitipkan anaknya, berjanji secepatnya akan kembali bila tugasnya sudah selesai.
Kini polisi itu sudah meninggalkan kediaman orangtua calon istrinya, dan di perjalanan ia menghubungi adik angkatnya yang kini sudah bisa ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri setelah hatinya sudah bisa move on dan melabuhkan pada Airin sang pengasuh putrinya.
__ADS_1
Dan tentu saja Intan antusias mendengar kabar bahagia dari sang Kakak. Semoga di pernikahan keduanya ini akan menemukan kebahagiaan untuk selamanya.
"Senang banget, ada apa sih?" tanya Reza sembari tiduran di paha istrinya.
"Coba tebak ada apa?" tanya Intan sembari mengusak rambut suaminya deng lembut.
"Hmm, apakah kamu positif hamil?" tebak Pria itu yang membuat Intan terkekeh gemas.
"Hahaha... Apaan sih, Bang. Bukan itu," jawab Intan mencubit pipi Reza dengan gemas.
"Terus, apa dong?"
"Ini tentang Bang Erland."
"Hah! Emang kenapa Bang Erland? Kok kamu bahagia sekali?" tanya Reza curiga.
"Minggu depan Dia akan menikah dengan Airin."
"Oya? Alhamdulillah... Semoga ini pernikahan terakhir bagi mereka untuk selamanya."
"Aamiin... Kira-kira kita kasih kado apa ya, Bang?" tanya Intan bingung.
"Hmm, apa ya, Dek?" Reza juga tak paham.
"Ya jadilah, nanti sore 'kan?"
"Iya, nanti kira-kira jam empat."
"Oke, kalau begitu mari kita bobok siang dulu. Dek, pijit pinggang aku bentar ya," ucap Reza yang mendapat tatapan curiga dari istrinya.
"Ayo, Sayang. Kok bengong sih kamu?" tanyanya yang melihat Intan tak beranjak dari tempat duduknya.
"Abang modus 'kan?" tudingnya dengan senyum curiga.
"Eh, ini serius Dek, ini pinggang Abang benar-benar kaku," jawabnya tampak serius.
"Kalau begitu disini saja aku pijitnya."
"Disini nggak nyaman, Dek, nggak enak dilihat Bibik," tolaknya.
"Hahaha... Aku nggak percaya, itu hanya alibi kamu saja kan, Bang!" tuding wanita itu dengan tawa tak percaya.
"Hahaha... Abang serius, Dek. Ayo dong, Sayang," bujuknya kembali pada wanita itu.
"Awas kamu kalau modus ya, Bang, kalau kamu ganggu tidur siang aku, maka satu minggu nggak akan aku kasih jatah!" ancam wanita itu tak main-main sehingga membuat nyali Reza ciut.
__ADS_1
"Ish, sadis amad ancamannya, Dek. Iya deh, Abang janji nggak akan ganggu kecuali didasari suka sama suka," jawabnya membuat Intan menatap garang.
"Hehe... Ayo, kita istirahat sekarang." Reza merangkul bahu istrinya dan membawa masuk kedalam kamar.
Ternyata ancaman Intan benar-benar membuat lelaki itu menepati janjinya, sebenarnya memang sudah ada niat terselubung dalam hati, namun terkena warning dari sang istri maka ia harus menjadi lelaki yang amanah.
Setelah memijit punggung dan membalurkan dengan minyak zaitun, Reza tampak sudah tertidur pulas, maka Intan juga ikut merebah disampingnya untuk istirahat sebentar sebelum menghadiri pernikahan rekam mereka yang sesama Dokter.
Sore hari pasaran halal itu sudah rapi dengan stelan yang mereka couple sehingga tampak begitu serasi. Intan dan Reza berangkat untuk menghadiri pesta pernikahan teman mereka yang bertugas di RS yang sama.
"Sayang, kamu sudah tahu dimana kediaman Dokter Maya?" tanya Reza di perjalanan.
"Kenapa kerumahnya, Bang? Kan resepsi pernikahan mereka diadakan di hotel grand Zuri," jawab Intan mengingatkan suaminya yang mendadak lupa.
"Oh iya, baiklah, ayo kita segera kesana."
Setibanya di hotel bintang tiga itu, mereka segera masuk menuju ballroom tempat acara diadakan. Tampak tamu undangan telah memenuhi ruangan terbuka itu.
Intan dan Reza segera menghampiri kedua mempelai tampak sedang sibuk menyalami para tamu-tamu yang datang memberi Do'a restu.
"Hai, kalian kok baru datang sih?" tanya Maya menyambut dengan senang.
"Iya, maaf ya kami ketiduran," jawab Intan sembari menyalami dan cipika-cipiki. Reza juga menyalami dan memberikan Do'a terbaik untuk kedua mempelai.
"Ayo silahkan nikmati dulu hidangannya," ucap pasangan itu mempersilahkan tamunya untuk makan.
Setelah menyapa dan memberikan Do'a, pasangan itu turun kembali dan menuju meja hidangan. Intan mengamati satu persatu hidangan yang tertata rapi. Sepertinya semuanya enak-enak.
"Abang mau makan apa?" tanya Intan pada suaminya yang juga masih bingung ingin cobain yang mana.
"Reza 'kan?" sapa seorang wanita yang berdiri di samping Reza.
"Iya, kamu Keysa?" balas Reza memastikan karena takut salah menebak.
"Yes, tepat sekali. Nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi. Kamu apa kabar?" tanya wanita itu tersenyum sumringah sembari meraih tangan Reza untuk menyalami.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat sekarang," jawab Reza kalem.
"Ya ya, bahkan kamu sekarang tambah tampan," balasnya dengan senyum manis.
"Ehemm! Aku duduk disana dulu ya," potong Intan dengan wajah datar.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1