
Setelah mengklarifikasi dengan warga setempat, maka kini Airin sudah kembali lega. Bermacam tanggapan mereka setelah tahu kejadian yang sebenarnya. Tentu saja mereka memberi apresiasi atas keberanian gadis itu demi menjaga kehormatannya.
Erland juga sudah tenang, kini tinggal menunggu keputusan Airin mengenai bagaimana untuk selanjutnya, apakah ia akan melaporkan Rusdy, atau membiarkan lelaki itu u untuk bebas begitu saja.
Pagi ini Erland sudah rapi dengan pakaian dinasnya. Ia menempati kursi makan untuk menikmati secangkir kopi dan sarapan pagi.
"Pagi Daddy!" seru Zherin yang tampak sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Pagi juga, Sayang, wah sepertinya hari ini semangat banget?" tanya Erland pada putrinya.
"Iya dong, Dadd. Hari ini aku seneng karena kembali di temani Mbak Airin ke sekolah," ucapnya sembari menyantap sarapan bagiannya.
"Daddy masuk kantor hari ini?" tanya bocah itu karena sudah melihat sang Daddy mengenakan pakaian dinasnya.
"Iya, Sayang. Daddy harus kerja. Kamu nggak pa-pa diantar sama Mbak saja ya, soalnya lusa Daddy harus cuti dua hari. Kan kita mau datang ke pernikahan Tante Intan," jelas Erland pada Zherin.
"Benaran, Dadd? Aku sama Mbak ikut 'kan?" tanyanya dengan kegirangan.
"Ya tentu saja."
"Yeee.. Nanti kita sekalian jalan-jalan ke kebun binatang ya, Dadd."
"Baiklah, apa sih yang nggak buat kamu," ucap Erland memenuhi keinginan anaknya.
Selesai sarapan, Erland beranjak meninggalkan kediamannya, sesaat langkahnya terhenti kala berpapasan dengan Airin.
"Airin, aku titip Zherin ya. Oya, nanti kalian pergi naik taksi saja untuk sementara waktu ya," ucap Erland.
"Baik, Pak. Apakah Pak Rusdy masih bekerja disini?" tanyanya dengan wajah cemas.
"Tidak, aku sudah memecatnya. Aku sedang mencari supir baru. Dan mulai sekarang aku akan membuat peraturan baru bahwa supir atupun tukang kebun dilarang masuk bila malam hari. Dan nanti aku akan menyediakan perlengkapan minum di pos Security. Demi menjaga agar kejadian itu tak terulang lagi," jelas Erland yang membuat Airin lega.
"Baik, Pak." Airin mengangguk patuh.
Erland segera meninggalkan kediamannya untuk menuju kantornya.
Jika Erland sudah tenang. Namun berbeda dengan pasangan calon pengantin yang semakin sibuk saat mendekati hari- H.
Hari ini adalah terakhir pasangan itu bertugas setelah mengajukan cuti menikah di RS tempat mereka bertugas. Seperti biasanya Intan tak lagi mengendarai mobilnya, karena selalu pulang diantarkan oleh Reza.
"Dek, kamu mau mahar apa dariku?" tanya Reza pada Intan.
__ADS_1
"Apa sajalah, Bang, asalkan Abang ikhlas memberi," jawabnya tak banyak menuntut.
"Kenapa kamu sesederhana ini? Aku benar-benar bersyukur bisa memiliki wanita seperti dirimu," ujar Reza menatap kagum.
"Benarkah, masa?" seloroh Intan tersenyum menggoda.
"Ish, kenapa kamu bicara seperti itu, padahal aku serius, Dek. Apakah kamu tak merasa bersyukur menikah denganku? Ya, walaupun hanya sedikit saja. Karena aku tahu hatimu masih belum bisa menerima aku seutuhnya," ucap Reza menatap dalam.
"Kenapa mudah sekali menyimpulkan seperti itu? Apakah Abang tidak merasakan bahwa aku sudah mulai nyaman saat bersamamu?" tanya Intan membalas tatapan itu.
"Kamu serius, Dek?" tanya Reza belum yakin.
"Tidak perlu di jelaskan. Jika Abang memang mencintai aku, maka Abang pasti sangat tahu bagaimana hatiku saat ini," balas Intan yang membuat Reza tersenyum bahagia. Memang benar apa yang dia katakan. Ia memang sudah dapat melihat perubahan sikap calon istrinya seiring berjalannya waktu.
Gadis itu sudah terbiasa dengan kehadirannya, bahkan Intan membalas sentuhan yang pernah ia berikan. Reza hanya tersenyum paham apa yang dimaksud oleh sang kekasih hati.
"Dek, kita mampir dulu ke toko perhiasan ya," ucap Reza segera mengarahkan kendaraannya menuju sebuah mall.
"Untuk apa perhiasan, Bang?" tanya Intan tak paham.
"Untuk mahar kamu. Aku ingin memberikan yang terbaik sebagai pengikat cinta kita."
Intan tak menyahut, dia hanya tersenyum tipis. Tak ingin membantah. Apapun yang diberikan oleh calon suaminya maka dia akan ikhlas menerima.
Reza menggandeng tangan calon istrinya untuk menuju sebuah toko perhiasan yang cukup besar. Bermacam perhiasan dunia terpampang indah di etalase kaca.
Intan mengamati satu persatu yang terpajang indah. Sebagai seorang wanita, bohong bila ia tak mengagumi perhiasan yang cantik berbinar bila dipandang mata.
"Dek, apakah kamu mempunyai pilihan?" tanya Reza pada calon istrinya.
"Bang, yang itu sepertinya cantik banget," ucap Intan sembari menunjuk salah satu kalung dengan model Bright love pendant Perhiasan itu terbuat dari emas putih dan liontinnya dari diamond.
"Kamu suka itu?" tanya Reza.
"Hmm, bisa lihat dulu nggak?" pinta Intan ingin mematut di depan kaca.
Reza segera meminta pada pemilik toko perhiasan itu untuk mengambilkan. Ia segera memasangkan pada gadis cantik itu. Terlihat begitu cocok dileher jenjangnya.
"Cantik banget, Dek," ucap Reza tersenyum manis menatap pemandangan itu.
"Serius, Bang?" tanya Intan meyakinkan.
__ADS_1
"Benar, Mbak. Cantik banget," sambung pemilik toko itu.
"Yaudah, kalau begitu aku mau yang ini saja ya, Bang. Boleh kan request. Atau Abang punya pilihan tersendiri," jelas Intan memikirkan keinginan calon suaminya.
"Tentu saja aku senang bila kamu mau memilih, Dek. Jadi aku merasa bahagia bisa memberikan sesuatu yang kamu inginkan," balas Reza begitu menyayangi gadis itu.
Intan hanya tersenyum bahagia mendengar Jawaban Reza yang begitu penuh pengertian.
"Tapi mahal, nggak Bang?" bisik Intan tersenyum pada Pria itu.
"Nggak pa-pa mahal asalkan kamu suka."
"Wih, royal banget calon suami aku ini," ujarnya menggoda.
"Jangan menggodaku begitu, Dek, bisa-bisa aku borong semuanya," ujar Reza terkekeh.
"Emang cukup uang Abang?"
"Cukup, kalau kurang pake uang kamu dulu," sambungnya yang membuat Intan terkekeh gemas.
"Berapa ini, Mbak?" tanya Reza pada pemilik perhiasan.
"Empat puluh delapan juta, Mas," jawab wanita itu.
"Yasudah, saya ambil ini saja." Reza segera mengeluarkan debit card, lalu menyerahkan pada wanita itu untuk melunasi pembayaran.
"Mahal, Bang," bisik Intan masih menggoda calon suaminya.
"Nggak pa-pa, besok kalau kita sudah nikah, kalau uang Abang limit, kan bisa pake uang kamu dulu," balas Reza menggoda calon istrinya. "Kan, uang istri uang suami juga," ucapnya kembali.
"No no, uang suami uang istri, tapi uang istri ya uang istri," jawab Intan dengan cepat.
"Hahaha... Parah amat, Dek. Padahal gaji kamu itu lebih gede dari aku lho," ujar Reza dengan kekehan.
"Eh, siapa bilang? Spesialis jantung itu lebih besar tahu."
"Yah, dia lupa bahwa gaji Dokter itu yang paling ngena itu ya ahli bedah dong." Reza tak mau kalah.
"Alah beda sepuluh ribu kok, Bang."
"Hahaha... Pintar Banget ngelesnya. Tapi jujur, Abang ikhlas memberikan perhiasan ini sebagai mahar untuk kamu. Jangan pikirkan keuangan Abang, insyaallah jika kamu berhenti bekerja pun, Abang masih mampu memenuhi kebutuhan kamu dan juga anak-anak kita nanti," jelas Pria mapan itu. Intan yang belum tahu apa usaha calon suaminya selain menjadi seorang dokter.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰