Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Mencoba untuk bersabar


__ADS_3

Setelah Mama pulang, Reza merangkul Intan untuk masuk kedalam kamar. Wanita itu kembali dirundung resah dan gelisah.


"Sini aku bantuin buka aksesoris kamu, Dek," ucap Reza yang telah berdiri di belakang Intan.


"Eh nggak usah, Bang, aku bisa buka sendiri," jawab Intan sedikit menjarak dari lelaki itu.


"Kenapa, Sayang? Kamu masih takut sama aku?" tanya Reza dengan senyum nakalnya, tangannya sudah tak sabar untuk segera membuka aksesoris yang ada di kerudung sang istri.


"Bang, aku mau mandi dulu boleh nggak?" tanyanya dengan senyum kaku.


"Nanti saja mandinya, Dek, kita mandi bareng," jawab Reza dengan kedipan mata nakalnya.


Intan menjadi semakin dibuat kaku. Tak menyangka ternyata lelaki itu tak sekalem yang ia bayangkan selama ini. Ah, dasar dirinya saja yang terlalu lugu dan polos, mana ada seorang pria dewasa yang akan tenang dan anteng saat sudah menjadi halal seperti ini.


Intan tak protes lagi, dia segera duduk di depan meja hias. Sekilas ia menatap pria itu tersenyum senang melihat dirinya yang tak lagi banyak intrupsi.


Intan mulai membuka satu persatu pernak pernik yang menghiasi kerudungnya. Dan Reza juga tak ingin menganggur begitu saja, dengan cekatan dia ikut melepaskan.


Kini hijab penutup mahkotanya telah terbuka. Intan masih berdiam diri di depan cermin. Sementara itu Reza sudah melepaskan atasan hanya mengenakan kaos dalam saja. Sesaat wanita itu menatap dari pantulan cermin, seketika wajahnya merah merona.


"Sini Dek," seru Reza meminta wanita itu untuk duduk di sisinya. Dengan ragu ia mendekat dan duduk di sampingnya.


Perlahan tangan Pria itu membelai rambut hitam sang istri. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Reza mengecup mahkotanya berulang kali. Kini kedua tangannya sudah membelenggu.


Intan benar-benar tak mampu untuk sekedar bergerak. Dengan perlahan ia menahan wajah Reza yang akan mengabsen leher jenjangnya.


"Bang, bisakah tidak sekarang kita melakukannya? Jujur, aku belum siap," lirihnya menatap Pria itu meminta pengertiannya.


Menikah belum ada cinta bukanlah hal yang mudah untuk beradaptasi. Setidaknya ia sudah bisa membiasakan diri terlebih dahulu saat bersama kekasih halalnya. Intan meminta pengertian lelaki itu untuk bisa bersabar sedikit lagi.


Reza melepaskan pelukannya, ia menatap wajah sang istri yang tampak belum siap. Ia mencoba untuk memahami, karena bercinta dalam keterpaksaan sungguh tak membuatnya bahagia.


"Baiklah, Sayang, aku akan menunggu hingga dirimu siap," ucapnya dengan senyuman. Meskipun sedikit kecewa, namun tak mengurangi kebahagiaannya karena telah berhasil menyunting wanita itu menjadi kekasih halalnya. Setidaknya perkara malam pertama tak serumit perjuangannya selama bertahun-tahun untuk membawanya hingga ke pelaminan.

__ADS_1


"Apakah Abang kecewa?" tanya Intan menatap wajah tampan lelaki yang kini sudah menjadi suaminya.


"Tentu saja tidak. Karena aku sangat mencintai kamu, jadi aku akan selalu sabar menunggu hingga kamu siap," jawab Reza sembari mengusap pipinya dengan lembut.


"Terimakasih ya, Bang." wanita itu tersenyum lega.


"Aku mandi dulu ya," ucap Reza beranjak dari tempat duduknya.


Intan hanya mengangguk membiarkan Reza masuk kedalam kamar mandi. Sepertinya Pria itu perlu berendam untuk membuat pikirannya sedikit lebih segar.


Intan segera menukar pakaiannya dengan piyama rumahan, setelah itu ia kembali keluar untuk membuat minum buat sang suami.


"Mbak Intan, nanti mau Bibik masakin apa untuk makan malam?" tanya Bibik sembari membereskan barang-barang dapur yang tadi digunakan.


"Nanti aku tanya Bang Reza dulu ya, Bik, mana tahu dia punya request," jawabnya sembari mengaduk kopi ginseng asli tanpa gula untuk Dr. jantung itu.


Intan menaruh dua cangkir minuman itu di teras belakang yang berdampingan dengan kolam ikan mini. Sepertinya duduk santai sembari minum kopi dan di suguhkan pemandangan ikan hias akan membuat sejuk pikiran.


"Dek, darimana?" tanya Reza sudah terlihat rapi dan tampan, pria itu sedang merapikan rambutnya di depan cermin.


"Dari dapur, aku baru saja selesai buat minum," jawabnya melangkah menghampiri suaminya.


"Mana minumannya, Dek?" tanya Reza tak melihat wanita itu membawa minuman.


"Aku taruh di teras belakang. Kita ngobrol sambil minum kopi yuk," ajaknya dengan senyum manis.


Reza tersenyum sembari menangkup kedua pipi wanita itu, lalu mengecup keningnya dengan dalam. Hanya hal itu yang berani ia lakukan untuk saat ini. Ia tak ingin membuat Intan menjadi tak nyaman.


"Ayo kita nyantai." Reza merangkul bahu Intan berjalan keluar kamar. "Kira-kira apa yang harus kita bahas? Apakah kita rencanakan berapa anak yang ingin kita proses?" ucapnya yang membuat Intan mencubit pinggangnya dengan gemas.


"Ck... Apaan sih, Bang!"


"Hahaha.... Kenapa marah, Dek, hal yang wajar bukan, bila pasangan yang baru menikah membahas soal anak, biar kita bisa memprediksi dari sekarang, apa saja yang akan kita persiapkan untuk mereka kelak," ujarnya dengan kekehan.

__ADS_1


Intan hanya diam, masih terasa entah saat membahas tentang anak. Namun ia akan tetap mencoba untuk menjadi istri yang utuh buat lelaki itu. Ia harus belajar dari sekarang.


Pasangan itu duduk santai sembari ngobrol yang ringan-ringan saja untuk dibahas.


"Oya, Abang mau dimasakin apa?" tanyanya mengingat pertanyaan sang Bibik.


"Aku mau dimasakin tauco udang, apakah bisa request?" tanya Reza.


"Bisa banget, Abang tunggu bentar ya, aku kasih tahu Bibik dulu. Untuk malam ini nggak pa-pa dimasakin Bibik ya, soalnya aku capek banget. Janji besok-besok aku yang akan menyiapkan makan untuk Abang," ucapnya dengan serius.


"Wih, terimakasih banyak istriku sayang. Kamu perhatian banget sih."


"Biasa aja, Bang, karena itu sudah kewajiban aku sebagai seorang istri untuk melayani kamu."


Reza tersenyum menatap kagum. Bibirnya kembali mengucapkan rasa terima kasih atas segala perhatian wanita itu.


Jika Reza dan Intan masih berusaha untuk saling mengerti dan beradaptasi satu sama lain, berbeda dengan Erland yang malam ini hanya duduk melamun seorang diri di balkon kamar hotel yang ia tempati.


Pria yang berusia tiga puluh lima tahun itu menatap indahnya pijar rembulan. Mendadak hatinya terasa galau. Namun tak tahu apa yang sedang membuat hatinya sedemikian.


Saat sedang melamun dering ponselnya mengalihkan perhatiannya kepada benda pipih yang ada di saku celananya. Erland segera merogohnya, terlihat nomor baru.


"Halo, selamat malam," seru pria itu.


"Mas, ini aku Nindi. Kamu dimana? Kenapa rumah sepi?" tanya wanita itu di ujung sambungan.


"Aku sedang diluar kota. Untuk apa kamu menghubungi aku?" tanya Erland datar.


"Tentu saja aku ingin menanyakan Zherin. Aku ingin bertemu dengannya."


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2