
Intan terbangun dari tidurnya karena terdengar seruan adzan. Ia memperhatikan sekeliling ruangan, merasa asing, namun ia segera ingat bahwa dirinya sekarang berada di kamar hotel.
Dengan perlahan wanita itu duduk dari baring. Netranya menatap sosok lelaki yang semalam telah menyelamatkannya. Terlihat dia tidur begitu pulas diatas sofa.
Lama ia mengamati wajah tampan yang kini tambah matang. Ia begitu mengagumi segala yang ada pada diri pria itu. Sedari dulu tak pernah berubah sikapnya.
Erland memang selalu menyayanginya, namun dulu hanya sebatas sebagai seorang adik, masih tak percaya saat lelaki itu menyatakan perasaannya yang kini sudah menaruh hati padanya. Intan masih belum yakin dengan ungkapan perasaannya.
"Hei, kamu sudah bangun?" seru Erland yang membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ah, ya. Abang mau sholat?" tanya Intan berusaha tenang.
"Ya, Abang ambil wudhu dulu ya." Erland segera beranjak menuju kamar mandi.
Tak berselang lama Pria itu sudah keluar dengan air wudhu yang masih menetes di wajahnya. Sesaat tatapan mereka bertemu, Intan segera memutusnya. Ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk berbersih dan mengambil wudhu.
Selesai melaksanakan ibadah dua rakaat. Pasangan itu segera berkemas. Karena mereka sengaja mengambil penerbangan pagi.
"Udah siap semuanya? Nggak ada barang yang ketinggalan?" tanya Erland memastikan sebelum mereka check out.
"Udah, nggak ada, Bang," jawab Intan sudah yakin. Karena dia memang tak membawa pakaian ganti selain pakaian yang di badan.
"Dek, kita sarapan dulu ya," ajak Pria itu sebelum menuju bandara.
"Hmm, baiklah."
Saat mereka sedang makan. Ponsel Erland berdering, ternyata Zherin yang menghubungi ayahnya. Gadis kecil itu menggunakan panggilan video.
"Assalamualaikum, Daddy..."
"Wa'alaikumsalam, Sayang, kamu nggak sekolah hari ini?"
"No, Daddy, aku demam," ujar bocah itu dengan suara sedikit serak.
"Loh, sejak kapan kamu demam? kenapa Mbak tidak beri Daddy kabar?" Erland tampak cemas mendengar bahwa putrinya sedang sakit.
"Aku yang larang Mbak, karena aku tidak mau Daddy kepikiran. Daddy tidak perlu cemas, aku sudah minum obat, sekarang suhu tubuh aku sudah tidak terlalu panas," jawab Zherin yang tampak begitu mandiri.
"Lain kali jangan seperti itu lagi ya, Daddy harus tetap tahu keadaan kamu."
__ADS_1
"Oke, Daddy."
"Oya, kamu tahu ada siapa disamping Daddy?" tanya Erland pada putrinya.
"Siapa, Dadd?"
Erland mengarahkan Camera ponselnya pada Intan sehingga gadis kecil itu kegirangan saat melihat ada Tante Dokter.
"Tante Dokter..."
"Hai, Sayang. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Intan menatap gadis kecil itu dengan senyum lembut.
"Aku baik-baik saja, Tante, kok Tante bareng Daddy?"
"Ah, ya. Karena lagi ada urusan," jawab Intan yang sulit untuk menjelaskan.
"Setelah ngobrol cukup dengan Zherin, mereka juga sudah selesai sarapan. Pasangan itu segera menuju bandara karena tiga puluh menit lagi pesawat yang akan mereka tumpangi take off.
Kini pasangan itu sudah mendarat di bandara Sultan Syarif Kasim. Intan segera mengambil mobilnya yang ia titipkan di bandara.
"Abang bawa mobil?" tanya Intan pada Erland yang masih mengikuti langkahnya.
"Hmm, Abang yang nyetir ya." Intan menyerahkan kunci mobilnya pada Erland.
Di perjalanan pulang Intan banyak diam. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Masih kepikiran tentang Reza. Dalam hati kecilnya masih tak percaya dengan segala perubahan sikap Pria itu.
"Bang, apakah Abang percaya dengan segala perubahan sikap Bang Reza?" tanya Intan tetiba saja.
Erland bingung harus menjawab apa. Apakah ia harus mengatakan yang sejujurnya? Erland hanya diam.
"Bang, kok diam?" gadis itu kembali meminta pendapatnya.
"Ah, Abang tidak tahu soal itu, Dek, lebih baik kamu tanyakan sendiri padanya."
Intan tak lagi menyahut. Ya, memang benar, mana mungkin Bang Erland tahu tentang hal itu. Bila ada waktu yang pas, ia akan coba bicara kembali pada Reza. Tapi apakah Reza masih bertugas di RS yang sama.
Intan mengantarkan Erland terlebih dahulu ke asramanya sebelum ia pulang.
"Abang sudah menetap tugas disini?" tanya Intan saat mobil sudah menepi.
__ADS_1
"Hanya untuk dua bulan kedepan. Kamu tidak mampir dulu?" tanya Erland dengan senyum khasnya.
"Tidak usah, Bang, aku mau langsung balik aja." Intan segera mengambil alih kemudinya.
"Baiklah, kamu hati-hati ya, jangan lupa hubungi Abang bila kamu butuh bantuan. Oya, Dek, apakah hatimu sudah mempunyai pilihan?" tanya Erland sebelum gadis itu menjalankan mobilnya.
"Maaf, aku belum memikirkan hal itu, Bang," jawab Intan yang memang belum bisa mengambil keputusan.
"Baiklah, Abang akan selalu menunggu. Dan Abang siap menerima apapun keputusanmu. Abang hanya ingin melihat kamu bahagia. Pulanglah, Abang masuk dulu ya," Erland mengusap mahkota gadis itu dengan lembut sebelum beranjak.
Intan masih termangu menatap punggung tegap itu menjauh darinya. Tak bisa dipungkiri sentuhan Pria itu selalu membuat hatinya bergetar. Namun rasa bersalah pada Reza masih mengganjal dalam hatinya.
***
Setibanya dirumah, Intan segera masuk kedalam kamarnya. Ia melihat sebuah kotak cincin yang ada di atas meja riasnya. Jika memang Reza tak serius dengannya, tapi kenapa dia mempersiapkan segalanya, hingga persiapan pernikahan sudah rampung tujuh puluh persen.
Hati wanita itu masih tidak percaya. Ia harus menemui Tante Eva untuk meminta penjelasan yang lebih akurat. Jika Reza hanya sekedar penasaran dengan gadis polos seperti dirinya, tapi kenapa orangtuanya mendukung tindakan jahat anaknya itu.
Intan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu ia kembali pamit pada Art untuk keluar sebentar. Ia segera menuju kediaman orangtua Reza.
Sementara itu Reza baru saja pulang. Ia segera menemui sang Mama yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ma!" seru pria itu segera merebah diatas pangkuan sang Mama.
Mama tak bicara apapun, ia hanya mengusap kepala putranya dengan lembut. Ia tahu bahwa anaknya itu sedang bersedih hati. Mama berusaha untuk memberi ketenangan.
"Jika semua terasa berat, kenapa kamu harus lakukan, Nak?" tanya Mama sembari mengusap kepalanya.
"Aku ingin melihat dia bahagia, Ma. Aku tahu bukan aku Pria yang dicintainya. Aku tidak ingin egois," lirih pria itu dalam pangkuan mama.
"Tapi bagaimana dengan dirimu?"
Reza tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala. Untuk saat ini ia tak bisa meyakinkan bahwa hatinya akan baik-baik saja. Namun ia berusaha untuk merelakan.
Intan yang berdiri tak jauh dari ruang keluarga itu hanya bisa terdiam membisu. Apa yang ia dengar membuat hatinya semakin tak mengerti. Intan kembali keluar dari rumah dokter jantung itu.
Lama wanita itu membisu dalam keseorangan. Apa yang ia pikirkan ternyata benar. Ternyata benar bahwa Reza sengaja melakukan hal itu agar dirinya tak ragu untuk kembali pada Erland.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰