Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Ternyata benar


__ADS_3

Setelah menjemput Zherin, pasangan itu tak lantas pulang. Mereka ke RS terlebih dahulu untuk memeriksa Airin. Apakah benar wanita itu tengah berbadan dua?


"Mas, kamu yakin kita mau ke dokter Obgyn?" tanya Airin tampak ragu.


"Yakin, Dek," jawab Erland bersemangat.


"Ma, kita mau ngapain ke rumah sakit?" tanya Zherin saat turun dari mobil.


"Kita mau periksa adek bayi," jawab Erland yang memang sudah meyakini bahwa istrinya sedang hamil.


"Apa? Adek bayi? apakah aku akan punya adik Dadd?" tanya Zherin tampak sangat senang.


"Benar, Sayang," jawab Erland meyakinkan.


"Horee! Aku sebentar lagi punya teman. Aku mau Adek bayinya perempuan," ucap gadis itu bersorak senang.


Airin hanya tersenyum mendengar celotehan anaknya. Sedikit kesal pada suaminya yang memandai sekali menyimpulkan. Bagaimana jika nanti dirinya tidak hamil, tentu saja akan membuat Zhe kecewa.


Kini pasangan itu telah duduk mengantri menunggu namanya di panggil. Sementara itu Airin tampak gelisah. Hatinya gamang membayangkan, bagaimana jika nanti benar dirinya sedang hamil. Dan bagaimana pula jika pria itu masih tak bisa mencintainya.


Banyak sekali yang sedang ia pikirkan sehingga Erland menatap kegelisahan dari raut wajahnya.


"Tenanglah, jangan gelisah, semuanya akan baik-baik saja," bisik Erland sembari menggengam tangannya dengan lembut.


Airin menatap mata teduh lelaki yang ia cintai. Bagaimana jika nanti lelaki itu pergi meninggalkannya? Banyak sekali ketakutan dalam hatinya.


"Ibu Airin!" panggil perawat pendamping.


"Ya, saya!"


"Silahkan Bu." Perawat mempersilahkan Airin dan Erland masuk kedalam ruangan Dokter.


"Silahkan duduk," ucap Dokter perempuan itu mempersilahkan pasangan itu untuk duduk.


"Terimakasih Dok." Erland menarik kursi untuk di duduki oleh istrinya.


"Apa keluhannya, Bu?" tanya dokter pada Airin.


"S-saya ingin periksa, karena sudah hampir dua bulan ini tak datang haid," jelas Airin pada sang Dokter.

__ADS_1


"Apakah Ibu mengalami ciri-ciri seperti orang hamil?" tanya Dokter itu memastikan terlebih dahulu.


"Tidak sama sekali, Dok. Tapi suami saya yang mengalami. Sudah dua hari ini dia mual dan pusing, bahkan demam. Apakah benar lelaki bisa mengalaminya disaat Istrinya sedang mengandung?" tanya Airin ingin memastikan.


"Benar sekali, apakah anak pertama Bapak juga pernah mengalami?" tanya dokter itu kembali.


"Ya benar, Dok, dulu waktu istri saya hamil anak saya yang pertama bawaan saya juga seperti sekarang ini," jawab Erland membenarkan.


"Baiklah, kalau begitu mari kita periksa untuk memastikan."


Airin dan Erland menuju bad pasien untuk menjalani USG untuk melihat kebenarannya. Erland dan Zherin masih setia mendampingi wanita itu.


Dokter mengamati dengan teliti di monitor untuk memeriksa rahim wanita itu. Apakah benar sudah ada penghuninya?


"Selamat ya, memang benar saat ini Bu Airin sedang hamil enam minggu," jelas Dokter Obgyn itu.


"Alhamdulillah..." Erland segera mengucapkan syukur dengan raut wajah sumringah.


Lain halnya dengan Airin yang belum bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Apakah ia bahagia? Tapi rasa ketakutan masih menyelimuti hatinya.


Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter memberikan vitamin untuk wanita hamil itu. Erland dan Airin pamit dari ruang Dokter.


"Sayang, yang menentukan perempuan atau laki-laki itu hanya Allah, karena yang memberi kita nafas itu Allah," jelas Airin pada anaknya.


"Oh begitu ya, Ma. Kalau begitu aku berdo'a sama Allah agar di berikan adik perempuan," ucapnya membuat Airin dan Erland tersenyum.


Setelah mendapatkan obat dan vitamin. Pasangan itu segera beranjak untuk segera pulang. Airin banyak diam. Ia masih belum percaya akan menjadi ibu sungguhan.


Erland yang melihat perubahan sikap istrinya. Apakah wanita itu tidak bahagia dengan kehadiran janin itu?


"Dek, apakah kamu tidak menginginkan anak dari aku? Apakah kamu tidak bahagia?" tanya Erland sembari fokus nyetir.


"B-bukan, tapi aku..."


"Tapi apa, Dek?"


"Aku hanya takut bila nanti kamu tidak bisa mencintai aku, dan bagaimana jika nanti kita harus berpisah," jawabnya dengan suara tercekat. Entah kenapa wanita itu mudah sekali haru. Mungkin bawaan hamil yang membuat jiwa sensitifnya mudah meronta.


Erland meraih jemari istrinya, lalu mengecup dengan lembut. "Dek, percayalah. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Dan perlu kamu ketahui bahwa sekarang perasaanku semakin tumbuh padamu," ucap Erland meyakinkan hati istrinya yang kini sedang gamang.

__ADS_1


Airin tak menyahut, tetapi hanya bisa menatap manik mata lelaki itu untuk melihat kesungguhannya. Senyum tipis ia ukirkan.


Setibanya dirumah, Airin ingin mengurus putrinya terlebih dahulu, namun, Erland tak mengizinkan.


"Dek, biar aku saja. Kamu istirahat saja. Kamu tadi dengar peringatan dari dokter kan? kamu tidak boleh capek dan lelah. Kalau aku punya waktu luang seperti ini, maka aku yang akan mengurus Zhe, nanti akan aku cari Pengasuh yang baru untuk Zherin," ucap Erland yang membuat Airin tak setuju.


"Tidak, kamu tidak perlu mencari pengasuh lagi. Biarkan anak-anak aku saja yang mengurus. Aku tidak mau ada pengasuh, karena aku masih mampu mengurusnya," jawab Airin yang mendapat tatapan tak mengerti dari Erland.


"Kenapa Dek?" tanya Erland menatap aneh.


"Tidak apa-apa, aku masih mampu mengurusnya," jawab Airin segera berlalu dari hadapan suaminya.


Erland hanya menggeleng tipis. Ia segera membantu putrinya, setelah itu kembali ke kamar, ia melihat Airin sedang menyediakan pakaian ganti untuk dirinya.


"Kenapa tidak istirahat saja, Dek?" tanya Erland sembari menerima pakaian yang diberikan oleh wanita itu.


"Aku tidak capek Mas, yang sakit itu kamu. Jadi harusnya kamu yang istirahat," jawab Airin sembari membantu Pria dewasa itu membuka kancing pakaian dinasnya.


Erland menatap wajah cantik wanita itu dengan seksama. Sebuah kecupan ia labuhkan di bibir ranum yang sudah dua hari ini tak ia sentuh karena ada prahara kecil yang membuat Airin memberi peraturan baru. Mana mungkin ia bisa menhan diri untuk tak menyentuh segala yang ada pada tubuhnya yang kini sudah menjadi candu untuknya.


"Ck, apaan sih Mas," ucap Airin memutar rotasi malasnya.


"Erland merangkum kedua pipi wanita itu sehingga tatapan mereka bertemu. "Dek, aku kangen banget," lirihnya sembari mengulang kecupan di seluruh wajah Airin.


"Mas, nggak usah rusuh. Ini ganti dulu pakaian kamu," balas Airin tak menghiraukan wajah hasrat lelaki itu.


"Dek, nanti aja ganti pakaiannya, nanti setelah kita mandi," jawab Erland masih menyosor pada wajah cantik yang kini sudah mulai memenuhi otaknya.


"Mas, ini masih siang. Nanti Zherin nyariin aku," tolak Airin yang takut putrinya kehilangan, karena bocah itu sudah ketergantungan dengannya.


"Nggak akan, Dek, tadi aku sudah kasih tahu bahwa Mama sedang istirahat nggak boleh di ganggu."


"Tapi kamu yang gangguin aku."


"Tapi tadi kamu bilang tidak capek. Ayolah Sayang," rengek lelaki itu tak bisa dibantah.


Airin hanya bisa pasrah saat Erland memberi sentuhan dan di setiap tubuhnya. Pria itu melakukan sangat hati-hati sekali, ia tak ingin menyakiti janin yang ada dalam rahim Istrinya.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2