
Airin masih menangis di dalam taksi, ia tak tahu bisa seperti ini kejadiannya. Kenapa Nindi tega bicara seperti itu tentang dirinya.
Setibanya dirumah, Airin segera masuk kedalam kamar, dan menumpahkan air matanya.
Sementara itu Erland masih mengurusi putrinya yang belum selesai mengikuti acara lomba puisi. Sebenarnya ia juga merasa malu karena telah menjadi bahan perhatian mereka. Apalagi banyak yang diantaranya adalah sesama anggota kepolisian. Dan tentu saja mereka mengenali siapa dirinya dan apa jabatannya di Polda.
Erland merasa menyesal membawa Nindi, wanita itu selalu saja membuat kekacauan. Andai saja tadi ia menolak saat wanita itu ingin ikut menghadiri acara Zherin, mungkin kejadiannya tidak seperti ini.
Erland menekan rasa malu di dalam hatinya. Ia hanya berfokus dengan Zherin saja. Setelah selesai mengikuti acara dan Zherinlah yang mendapatkan juara satu.
Gadis kecil itu begitu bahagia, dia sudah tak menghiraukan kehadiran Nindi, bahkan ia sudah irit bicara.
"Daddy, ayo kita pulang. Aku mau memberikan piala ini untuk Mama," ucapnya yang mendapatkan tatapan tajam dari Nindi.
"Ya, terus saja kamu sanjung ibu tirimu itu. Ingatlah, Zhe, dia hanya ibu tiri. Mommy yang melahirkan kamu. Tapi kenapa kamu lebih menyayangi dia daripada Mommy?" ujar Nindi masih tak terima dengan sikap putrinya yang terkesan berat sebelah.
"Mommy tidak pernah ada waktu untuk aku. Mommy hanya sibuk dengan diri sendiri. Mommy tidak seperti Mama Airin yang selalu ada waktu untuk aku," jawab bocah kecil itu sembari masuk kedalam pelukan sang ayah.
"Ayo sekarang kita pulang." Erland segera menggendong putrinya untuk membawanya pulang.
"Mas, tunggu!" panggil Nindi mengejar langkah Erland.
"Ada apalagi, Nindi?" ujar Erland menatap malas.
"Aku bareng sama kamu ya."
"Tidak, silahkan kamu cari taksi," tolak Erland, ia tak ingin wanita itu akan menambah masalah lagi.
"Mas, kamu ini gimana sih, apa salahnya aku ikut mobil kamu, kan aku sekalian ingin mengambil mobilku yang ada diruamah kamu." Wanita itu masih bersikeras untuk ikut bersama mantan suaminya.
Erland yang sudah malas ribut, maka membiarkan saja saat Nindi membuka pintu mobil bagiannya.
Setibanya dirumah, Zherin segera berlari masuk kedalam rumahnya tanpa menghiraukan kehadiran Nindi. Ia hanya ingin menemui ibu sambungnya, untuk memberikan piala yang ia dapat dari lomba tadi.
"Mama! Ma...!" panggil Zherin mencari-cari sosok sang Mama.
"Zhe, kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Airin yang baru saja keluar dari kamar.
"Iya. Aku punya sesuatu untuk Mama." Zherin menyerahkan piala itu pada Airin.
Wanita itu kembali tersenyum penuh rasa haru. "Kamu yakin ini buat Mama?" tanyanya tampak ragu.
"Iya, ini buat Mama."
__ADS_1
Airin kembali memeluk gadis kecil itu. Namun, hatinya tetap saja merasa gamang. Ia takut bila nanti Nindi akan berpikiran buruk lagi padanya.
Saat ibu dan anak itu sedang ngobrol mengenai hadiah yang didapat, tetiba terdengar suara bising dari luar. Airin menatap Zherin.
"Daddy bicara dengan siapa di luar, Sayang?" tanya Airin pada Zherin.
"Nggak tahu, mungkin sama Mommy, soalnya tadi Mommy barengan sama kami," jawab Zhe dengan jujur.
"Oh, yaudah, ayo sekarang kamu ganti pakaian dulu ya." Airin segera membawa Zherin masuk kedalam kamarnya, lalu mencarikan pakaian ganti untuknya.
Airin meninggalkan Zherin di kamar, ia berjalan menuju pintu utama, lalu menyingkap tirai yang ada disamping pintu untuk melihat ada kejadian apa diluar, kenapa suaminya sampai meninggikan suaranya?
"Mas, kamu tidak bisa seperti ini! Kenapa kamu melarangku untuk masuk? Kenapa begitu mudah melupakan semua kenangan kita? apakah perasaanmu benar-benar telah hilang untukku?" ujar Nindi dengan kesal.
"Cukup, Nindi! Jangan pernah mengungkit lagi, karena semuanya telah menjadi masalalu. Aku sudah mempunyai kehidupan baru, aku tidak ingin menyakiti perasaan Airin. Sekarang pergilah!" usir Erland dengan lantang.
Nindi menatap Erland dengan tajam. Tanpa diduga wanita itu memeluk Erland dengan erat.
"Nindi, apa yang kamu lakukan? Lepas!" Erland melepaskan diri dari dekapan wanita itu.
"Mas, aku mohon biarkan aku memelukmu sebentar saja. Sungguh aku sangat merindukan kamu. Andai saja kamu memberiku kesempatan, maka kita akan hidup bahagia dengan keluarga yang utuh," ungkap Nindi dengan tangisan.
Erland bingung harus berbuat apa. Ia hanya terdiam membiarkan wanita itu memeluknya, namun, ia tak bisa menyakiti perasaan Airin. Maka dengan cepat melerai pelukan mantan istrinya.
"Sudah, Nindi, cukup! Sekarang pergilah. Ada hati yang sedang kujaga."
Erland tak tahu dengan perasaannya saat ini. Yang jelas ia tak ingin menyakiti perasaan Airin. Ia segera menjauhkan tubuh Nindi.
"Sekarang pulanglah, Nindi, bagaimanapun juga hubungan kita telah usai. Aku hanya akan berfokus dengan Airin. Mungkin benar saat ini aku belum ada cinta untuknya, tetapi, aku akan berusaha untuk memberikan cinta dan kasih sayangku."
Erland segera meninggalkan Nindi yang masih berdiri di halaman rumah mewah itu. Sementara Airin yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka, maka memilih untuk masuk kedalam kamar.
Erland masuk kamar dengan wajah gusar. Sesaat tatapan mereka bertemu. Airin berusaha untuk tersenyum, meskipun hatinya terasa perih saat mendengar pengakuan suaminya yang belum bisa mencintainya.
"Mas, sudah makan?" tanya Airin berusaha bersikap seperti biasanya.
"Nanti saja," jawab Erland singkat. Ia segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah menunaikan shalat zhuhur, Pria itu sudah kembali bersiap untuk berangkat ke kantor. Airin segera menyediakan makan siang untuk pria itu.
Erland sebenarnya ingin buru-buru, namun, merasa tak enak saat istrinya telah bersusah payah menyediakan makan siang untuknya. Maka ia harus makan terlebih dahulu.
"Cukup, Dek," ucap Erland menahan tangan istrinya saat ingin menambah isi dalam piringnya.
__ADS_1
Airin segera mengisi lengkap dengan lauknya. Mereka makan dalam hening, sedangkan Zherin sudah terlelap setelah berganti pakaian, sepertinya gadis kecil itu kelelahan.
"Berangkat ya, Dek," ucap Erland bergegas karena telah dikejar waktu.
"Ya, hati-hati." Airin mengantarkan hingga depan.
Kini kendaraan yang membawa suaminya telah hilang dibalik gerbang. Airin menghela nafas pelan. Hatinya masih entah saat mengingat kejadian hari ini.
Benarkah Erland masih sangat mencintai mantan istrinya? Karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda lelaki itu menaruh hati padanya, selain hanya memenuhi tanggung jawab saja sebagai seorang suami.
Airin masih melamun berdiri di depan pintu. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Selain bersabar ia juga harus berusaha untuk mendapatkan hati Pria itu.
Airin segera masuk kedalam kamar ia duduk di kursi meja rias. Menatap wajahnya dengan seksama. Apakah wajah dan tubuhnya tidak menarik didepan suaminya?
Sesaat ia berpikir untuk mempercantik penampilan dan perawatan wajah, agar Pria itu tertarik padanya. Airin segera bersiap untuk berangkat ke klinik kecantikan.
"Bik, titip Zherin sebentar ya, aku mau keluar sebentar," ucap Airin pada sang Bibik.
"Baik, Bu."
Airin segera menemui supir baru yang ditugaskan oleh suaminya untuk mengantarkan dirinya dan Zherin bila keluar rumah. Sesampainya di klinik kecantikan, Airin segera di sambut dengan ramah oleh pegawai klinik.
"Selamat siang, Ibu, apakah bisa kami bantu?" tanya petugas kecantikan itu dengan senyum ramah.
"Ya, saya ingin merubah sedikit penampilan, biar terlihat lebih fresh," jelas Airin pada petugas wanita itu.
"Baiklah, mari ikut saya kedalam, Bu." wanita itu membawa Airin kedalam ruangan.
Airin hanya meminta treatment kecantikan. Tanpa ada yang di ubah dari wajahnya. Perawatan hanya melalui kosmetik, non bedah. Ia hanya ingin kulit wajah terlihat lebih fresh dan agar lebih baik lagi.
Cukup lama wanita itu berada di klinik, hingga memakan waktu lebih kurang tiga jam. Demi mendapatkan hati Pria itu, ia rela melakukan apapun. Entah kenapa ia merasa takut kehilangannya.
Airin berhak atas suaminya. Ia tidak akan membiarkan Nindi atau wanita lain mendapatkan hati Pria itu.
Sementara itu Erland baru saja menyelesaikan tugasnya untuk hari ini. Rencananya ia ingin membawa anak dan istrinya untuk nonton bareng. Mungkin selama dua bulan ini ia begitu sibuk, sehingga waktu luang untuk kebersamaan sangat minim.
Saat lelaki itu ingin masuk kedalam mobil, ada notif masuk dari Bank. Ia memeriksa tarik tunai yang keluar dari rekening yang pernah ia berikan pada Airin jauh sebelum mereka menikah.
Sedikit heran, ini kali pertama Airin menggunakan uang di ATM itu, dan jumlahnya juga cukup besar. Sebenarnya dia tidak marah, namun, ada rasa penasaran saja, ingin tahu apakah ada sesuatu yang terjadi?
Erland segera mengendarai mobilnya untuk segera pulang. Ia tak ingin berpikiran yang macam-macam. Lagipula itu haknya untuk menggunakan uang pemberian darinya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰
Bersambung...