
Intan segera beranjak mengambil ponselnya yang ada dikamar. Rasa cemas mulai meliputi rongga hatinya. Kemana perginya sang suami kenapa belum pulang sedari tadi?
Intan segera menghubungi Reza, namun tak dijawab. Ia menghubungi Mama Eva untuk menanyakan keberadaan putranya. Namun Mama bilang bahwa Reza tak ada disana.
Intan terduduk dalam kegelisahan, perutnya yang tadi lapar kini menguap begitu saja. Kenapa Pria itu suka sekali menghilang dengan cara tiba-tiba. Sesaat pikirannya berada pada kejadian beberapa bulan yang lalu.
Apakah Reza kembali mendatangi kota Dewata itu? Dan Intan juga mengingat wanita cantik bersama Reza malam itu. Apakah Reza memang mempunyai hubungan dengan wanita itu di sana? Ah bermacam pertanyaan memenuhi otaknya.
Intan kembali menggunakan pakaian berpergian. Jika benar Reza pergi ke Bali pasti mobilnya dititipkan di bandara. Ia harus melihat kebenaran itu terlebih dahulu sebelum berprasangka buruk.
Intan segera menuju bandara untuk memastikan bahwa firasatnya tidak salah. Setelah sampai ia segera menuju parkir bandara ingin melihat kendaraan suaminya.
Ternyata dugaannya tidak salah, ia melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal telah terparkir apik disana bersama mobil-mobil orang yang lainnya.
Kembali jantung wanita itu berdegup kencang dengan perasaan gelisah. Kenapa Reza tega melakukan hal ini padanya? Apakah benar Pria itu hanya ingin mempermainkan perasaannya.
Intan segera memasuki gedung bandara untuk membeli tiket pesawat dengan tujuan Bali. Kenapa Reza tega melakukan hal itu padanya. Apakah dia kecewa karena belum sepenuhnya memiliki dirinya sehingga dia mencari wanita itu kembali untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
Banyak sekali prasangka dan pertanyaan dalam hati Dokter bedah itu. Setelah mendapatkan tiket pesawat, ia harus menunggu tiga puluh menit lagi untuk keberangkatannya.
Setibanya di Bali, Intan kembali menghubungi nomor sang suami, namun lagi-lagi tak ada jawaban. Pria itu benar-benar ingin mencari huru hara. Tak berpikir panjang Intan segera menuju hotel yang beberapa waktu lalu tempat ia menemui Reza.
Setibanya disana saat ia berada di lobby, suara ponselnya berdering. Intan segera melihat siapa yang menghubunginya. Ia segera menerima panggilan dari Pria yang sedang ia risaukan.
"Halo, Bang, kamu dimana?" tanya Intan tak sabaran hingga ia lupa mengucapkan salam.
"Ah, Abang sedang ada urusan, Dek. Mungkin Abang pulang agak lama," jelasnya diujung sambungan.
"Urusan apa? Katakan saja dimana posisi Abang sekarang?" tanya Intan penuh selidik.
"Abang lagi diluar kota, Dek. Maaf ya Abang benar-benar lupa mengabari kamu," ungkapnya kembali.
"Iya, aku tahu Abang sedang di luar kota. Tapi katakan dimana daerahnya?" tanya Intan mulai sedikit tak sabar.
"Kenapa emangnya? Kamu mau nyusul kesini?" tanya Reza terdengar bercanda.
"Bang, aku tidak ingin bercanda!" tegasnya kembali.
__ADS_1
"Hahaha... Udahlah Sayang, jangan marah dong. Nanti kalau Abang sudah pulang akan cerita padamu ya, sekarang kamu istirahat saja, jangan lupa dandan yang cantik untuk Abang."
Sambunganpun diakhiri oleh Reza tanpa memberi jawaban. Intan kesal sekali ia ingin kembali menghubungi, namun tatapannya terbentur oleh sosok sang suami yang baru saja turun dari mobil dengan seorang wanita cantik yang tak lain adalah wanita yang waktu itu bersamanya.
Intan segera bergeser sedikit bersembunyi di balik tiang besar yang ada di lobby hotel itu. Tatapannya tak terlepas dari mereka. Seketika hatinya terasa terbakar tak menyala kala melihat sang suami tersenyum manis berjalan beriringan dengan wanita lain.
Intan mengikuti langkah mereka yang menuju lantai dua. Ia melihat mereka masuk kedalam sebuah kamar yang ia yakini mereka akan melakukan sesuatu.
Dengan perasaan bercampur aduk, Intan menerobos masuk. Seketika Reza dan wanita itu terkesiap saat melihat kehadirannya.
Intan juga tertegun dengan perasaan entah saat melihat wanita itu sedang memangku beberapa berkas yang ingin dia bawa keluar.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Reza, mari Bu!" ucap gadis itu tersenyum ramah dengan atasannya.
Reza yang melihat ekspresi wajah sang istri sedang kesal ia segera berdiri menghampiri.
"Sayang, kamu kenapa sampai menyusul aku kesini? Kamu tahu darimana aku ada disini, Dek?" tanya Reza dengan senyum lembut.
"Intan hanya diam dengan tatapan tak menentu. Sungguh tak tahu apa yang akan ia lakukan bila Pria itu sedang berselingkuh dibelakangnya.
Bagaimana mungkin dia sesantai itu setelah membuat perasaannya menjadi kacau.
"Hei, Sayang, jangan menangis. Aku benar-benar minta maaf. Semuanya datang secara mendadak. Sungguh aku lupa memberimu kabar. Udah ya, sekali lagi maafkan aku," ucap Reza memeluk istrinya sembari meminta maaf.
Intan masih menangis dalam pelukan suaminya. Ia benar-benar tak bisa membayangkan bila nanti lelaki itu diambil wanita lain. "Tidak, aku tidak ingin suamiku diambil oleh pelakor," cicitnya dalam hati.
Intan melerai pelukannya, lalu menatap wajah tampan yang menjadi kekasih halalnya. Tanpa basa-basi ia mengecup bibirnya dengan lembut. Dan tentu saja membuat Reza terkejut namun sangat menikmati. Bahakan Pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia membalas kecupan itu menjadi luma tan.
Entahlah, Intan membalas segala sentuhan Reza. Bahkan ia begitu agresif sehingga membuat Reza semakin bahagia dan hasratnya semakin menggebu-gebu.
"Dek, apakah kamu sadar melakukan hal ini?" tanya Reza masih belum percaya dengan perubahan sikap istrinya yang sedikit menjadi liar.
"Kenapa, apakah kamu tidak suka bila aku melayanimu? Atau jangan-jangan kamu lebih suka dengan sentuhan wanita lain?" tudingnya yang membuat Reza segera melepaskan pelukannya dengan wajah tak bersahabat.
Reza kembali duduk di kursi kerjanya. Hatinya terasa perih bila sang istri melakukan hal itu hanya karena berpikiran negatif padanya. Memangnya dia kira dirinya lelaki apaan.
Intan yang melihat perubahan sikap suaminya, ia segera menjatuhkan tubuhnya diatas pangkuan lelaki itu, dan mengalungkan kedua tangan di lehernya.
__ADS_1
Kembali Reza dibuat tak mengerti dengan kelakuan istrinya. "Dek, awas dulu, Abang mau kerja," ucapnya tampak acuh.
"Abang kenapa berubah cuek seperti ini? Abang tidak suka aku ada disini?" tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan tidak suka. Abang tidak ingin kamu melakukan hal seperti ini hanya karena terpancing emosi dan berpikiran buruk tentang Abang. Jika hatimu tidak siap jangan paksakan, dan jangan berpikiran bahwa Abang ini melakukan hal tercela dengan wanita lain di belakangmu."
Reza mengungkapkan isi hatinya yang tersinggung oleh kata-kata wanita yang ada dipangkunya. Seketika Intan memeluk sang suami dengan air mata yang telah luruh.
"Aku minta maaf, Bang. Hiks, Hiks... Jangan marah dan cuekin aku," rengeknya sembari menyembunyikan wajahnya di pundak suaminya.
Reza membalas pelukan istrinya dan mengusap dengan lembut. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan dengan wanita lain sedangkan pikirannya hanya berpusat pada wanita itu.
"Sudah sudah." Reza merenggangkan pelukannya, lalu menatap wajah cantik yang masih dipenuhi air mata.
"Apakah Abang masih marah padaku?" tanya Intan dengan suara serak.
"Tidak, Sayang, bagaimana mungkin Abang bisa marah lama-lama padamu, karena hanya kamu wanita yang sangat aku cintai."
"Bang, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Intan sedikit ragu.
"Tentu saja, tanyakanlah!"
"Wanita tadi siapa?"
"Namanya, Devi. Dia adalah manajer hotel ini. Dia yang mengurus di sini."
"Terus, apa hubungannya dengan Abang? Dan kenapa Abang ada di ruangan ini?" tanya Intan masih belum paham.
"Karena dia adalah orang yang Abang percayai, dan ruangan ini memang milik Abang."
Intan mengerutkan keningnya sembari berpikir sejenak. "Apakah Abang yang memiliki hotel ini?" tanyanya menebak dengan benar.
"Hm, kamu benar sekali."
Bersambung.....
Happy reading 🥰
__ADS_1