Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Kepergian Nindi


__ADS_3

Erland menatap wajah istrinya, terlihat matanya telah sembab. Hatinya terasa sakit bila melihatnya bersedih seperti itu. Apa yang harus ia lakukan.


"Dek, tolong maafkan aku jika memang semua ini adalah kesalahanku. Aku sama sekali tak ada niat untuk menyakitimu. Aku sangat menyayangi kamu," ucapnya kembali.


"Cukup Mas! Aku tahu semua yang kamu katakan adalah bohong! Jika kamu menyayangi aku, kamu tidak akan pernah mau menyakiti perasaanku. Aku hanya butuh kabar darimu. Hanya itu yang aku mau, Mas. Apakah permintaan aku ini begitu sulit? Hiks... Aku benci sama kamu, Mas!"


Tangis wanita itu kembali pecah. Seketika perutnya terasa nyeri. Airin meringis menahan rasa sakit yang semakin mendera.


"Aaakhh, perut aku sakit sekali," rintihnya menahan rasa sakit.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Erland begitu khawatir. Ia segera mendekat dan mengusap perut buncit Airin dengan lembut.


"Perut aku sakit sekali, Mas," rintihnya sembari mencengkeram tangan Erland dengan kuat.


"Ayo kita ke RS sekarang." Erland segera membawa Airin ke RS.


"Pak, lebih cepat lagi!" titahnya pada sang supir.


"Baik, Pak!" driver itu menambah kecepatan kendaraannya.


"Sayang, kamu sabar ya. Sebentar lagi kita sampai di RS," ucap Erland masih mendekap tubuh istrinya dengan penuh perasaan sayang.


"Sakit banget, Mas," lirih Airin masih mencengkeram tangan Erland dengan kuat.


"Sabar ya, sebentar lagi sampai."


Tak berselang lama mobil sudah berhenti di depan IGD RS swasta. Erland segera meminta pihak RS untuk membantu membawa Airin masuk kedalam.


Setibanya di dalam ruangan IGD, Airin segera di tangani oleh Dokter umum. Mereka terlebih dahulu memberikan suntik penghilang nyeri sebelum membawa Airin ke ruangan Dokter Obgyn untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Silahkan Bapak urus data di bagian pendaftaran dulu," ucap dokter pada Erland.


"Baiklah, tolong segera tangani Istri saya dengan yang terbaik. Saya ingin anak dan istri saya baik-baik saja!" tekan Erland tak peduli dengan tanggapan orang lain.


Setelah mengurus di pendaftaran, Erland segera menuju ruangan Dokter Obgyn yang sedang memeriksa istrinya.


"Bagaimana dengan keadaan istri dan calon anak kami Dok?" tanya Erland tak sabar.

__ADS_1


"Kandungan Bu Airin lemah sehingga membuat plasenta bergeser. Jika tak segera ditangani membuat janin tak bisa di pertahankan," jelas Dokter pada Erland.


Erland beristighfar, ia tahu semua ini dirinyalah penyebabnya. Airin juga menyesal karena hampir saja membahayakan nyawa anaknya. Andai saja ia dapat menahan emosinya, maka tidak akan seperti ini kejadiannya.


"Apakah sekarang kondisinya sudah membaik, Dok?" tanya Erland ingin tahu.


"Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik, karena sudah mendapat penanganan. Tapi Bu Airin harus di rawat disini untuk beberapa hari agar kondisi janin kembali stabil," terang Dokter yang menangani.


Airin sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Erland belum memberitahu kedua mertuanya. Ia tak ingin mereka cemas dengan keadaan Airin.


Pria itu tampak sibuk sehingga dari pagi belum makan apapun. Erland sudah tak memikirkan dirinya sendiri, ia hanya ingin anak dan istrinya baik-baik saja.


"Dek, kamu mau makan sesuatu?" tanya Erland menunggui dengan sabar.


"Tidak," jawab Airin singkat.


Kembali ponsel Erland berdering. Terlihat panggilan dari mertuanya. Pria itu mengabaikan saja, untuk saat ini yang ia pikirkan keselamatan istri dan calon anaknya. Ia tak ingin membuat Airin kembali stress sehingga berdampak buruk terhadap janinnya.


Malam hari Erland menghubungi driver untuk menjemput Zherin di RS, karena besok bocah itu harus sekolah. Sementara ia tak bisa meninggalkan Airin.


"Sayang, ayo kita makan. Tadi aku beli makanan kesukaan kamu. Kamu mau 'kan?" bujuknya sembari membuka kotak makanan itu.


"Ayo buka mulutnya," ucap Erland mengarahkan sendok yang berisi makanan.


"Aku makan sendiri saja, Mas," ucapnya masih enggan terlalu dimanjakan oleh lelaki itu.


"Baiklah, hati-hati ya, jangan terlalu banyak gerak, nanti infusnya nggak jalan." Erland menyerahkan kotak makanan itu.


Mereka makan dengan hening. Erland masih berusaha untuk membawa Airin bicara. Kembali suara ponselnya berdering, masih orang yang sama menghubunginya.


Erland mengabaikan saja. Meskipun ia sedikit khawatir dengan keadaan Nindi. Ia berharap wanita itu cepat pulih dari depresinya. Bagaimanapun juga ia harus mempertahankan keutuhan rumah tangganya.


[Erland, Mami ingin memberi kabar bahwa Nindi sudah meninggal dunia] Mami


Erland membaca pesan dari mantan mertuanya. Seketika ia tersedak.


Uhuk! Uhuk!

__ADS_1


Pria itu segera menghentikan makannya. Dan membaca Innailaihi. Seketika Airin terkesiap mendengarnya.


"Siapa yang meninggal Mas?" tanya Airin penasaran.


"Nindi," jawab Erland dengan suara tercekat. Seketika hati pria itu menjadi perih dan rasa sedih. Tak terasa ada rembesan di netranya. Bagaimanapun juga wanita itu pernah hadir dalam hidupnya, bahkan dialah orang pertama yang menghuni ruang di hatinya.


Airin ikut membaca istirja' ada rasa bersalah dalam hatinya. Apakah semua ini kesalahannya? Apakah salah bila mempertahankan keutuhan rumah tangganya? Seandainya ia membiarkan Erland menemaninya maka akan membuat Nindi semakin menaruh harapan.


Erland hanya terduduk berdiam diri di sofa yang ada diruangan itu. Sesaat kemenangan masalalu bersama wanita itu berputar dalam benaknya. Kenapa hatinya sesedih ini. Apakah benar dalam hatinya yang paling dalam masih menyimpan nama wanita itu?


Erland mengusap wajahnya dengan pelan. Ia menatap Airin untuk meminta izin datang ke pemakaman ibu dari anaknya.


"Apakah aku boleh menghadiri pemakamannya?" tanya Erland dengan nada datar. Entahlah, apakah hatinya merasa kecewa atas sikap Airin yang tak bisa memahami dirinya.


"Ya, pergilah," jawab Airin melepas dengan rela. Tak ada lagi alasan dirinya untuk menahan. Dan ia tak mungkin cemburu pada orang yang telah meninggal dunia.


Erland tak bicara apapun. Ia segera keluar dari ruang rawat inap itu untuk menghadiri acara pemakaman mantan istrinya yang akan diselenggarakan malam ini juga.


Setibanya disana, Erland melihat Zherin menangis histeris di samping jenazah Mommynya. Gadis kecil itu tampak begitu kehilangan. Dalam hati kecilnya sangat menyayanginya. Tapi sikap Mommy yang begitu acuh membuatnya mencari sandaran pada wanita lain yang bisa menyayanginya.


"Zhe," ucap Erland meraih tubuh anaknya masuk kedalam pelukannya.


"Huuu... Daddy, Mommy meninggalkan dunia. Mommy pergi tinggalkan aku. Hiks Hiks.." Tangis gadis kecil pecah dalam dekapan sang Daddy.


"Ssshhtt... Kamu sabar ya, ikhlaskan Mommy ya, semoga mommy diampuni segala salah dan dosanya oleh Allah SWT," ucap Erland menenangkan putrinya.


Erland membuka kain penutup jenazah Nindi. Kembali hatinya sedih. Dialah wanita yang dulu memenuhi hatinya, dialah cinta pertamanya, namun kini wanita itu telah pergi untuk selamanya. Jauh dalam lubuk hatinya selalu mendo'akan agar wanita itu mendapatkan kebahagiaannya, tetapi kini wanita itu sudah terbujur kaku.


Lima tahun membina biduk rumah tangga dengannya. Tentu saja bukan hal yang sebentar. Banyak kenangan suka maupun duka, kini ia harus merelakan kepergiannya dengan takdir yang telah Tuhan tentukan.


"Selamat jalan, Dek, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu. Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu." batin Pria itu mengucapkan Do'a dan memaafkan segala kesalahannya.


Erland mendekat pada Mami yang duduk tak berapa jauh dari jenazah. Ia belum tahu apa penyebab meninggalnya wanita itu.


"Ma, apa penyebab meninggalnya Airin?" tanya Erland.


"Nindi menyakiti dirinya sendiri saat Mami dan Zherin pulang sebentar. Dan tanpa sepengetahuan perawat dia membuka jarum infus, lalu menusuk di beberapa tubuhnya sehingga infeksi di saluran pembuluh darah," jelasa Mami dengan isakan.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2