Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Bertemu ayah dan ibu


__ADS_3

Erland yang teringat bahwa oleh-oleh tadi belum ia turunkan, maka ia segera keluar untuk menurunkan semua oleh-oleh.


"Dek, ini bahwa kedalam," ucap Erland menyerahkan kantong plastik yang cukup banyak dan Erland juga mengangkat dua kardus minuman yang tadi ia beli juga untuk menyenangkan hati calon mertua.


Sebenarnya tak bisa ditampik bahwa hatinya dilanda gelisah dan sangat takut bila lamarannya di tolak oleh kedua orangtua Airin, sadar sekali bahwa statusnya yang sudah menduda ingin melamar gadis perawan, dan tentu saja akan menjadi pertimbangan bagi kedua orangtua Airin.


"Terimakasih banyak, Bang. Ini banyak sekali," ucap Ami pada lelaki yang belum ia ketahui.


"Mi, ini Pak Erland, dia majikan Kakak," ucap Airin memberi tahu sang adik.


"Oh, maaf, Pak, saya tidak tahu," ucap Ami tersenyum malu.


"Tidak apa-apa, panggil Abang saja sudah pas, karena sebentar lagi saya..."


"Ah, Ami tolong panggil Ibu dan ayah dulu ya," ucap Airin memotong perkataan Pak duda yang sedari tadi sangat PD dengan tindakannya.


"Baiklah, kalau begitu aku ke sawah bentar ya, Kak." Ami segera menggunakan sepeda motor maticnya untuk menjemput ayah dan ibunya yang sedang di sawah.


Kini hanya tinggal pasangan itu yang masih duduk di ruang tamu. Zherin masih glendotan pada Airin, efek masih ngantuk.


"Ehem! Ceritanya calon suami nggak di suguhi minum ya," sindir Erland yang membuat Airin terjingkat, lalu segera ingin beranjak.


"Ah maaf, Pak, saya lupa. Zhe, sama Daddy dulu ya, Mbak mau buat minum untuk Daddy. Zhe mau minum juga?" ucap Airin sebelum meninggalkan ayah dan anak itu.


"Aku pengen minuman kotak tadi, Ma," ucap Zherin yang tadi melihat Daddynya membawa minuman kotak yang berperasa mangga itu.


"Ya baiklah, tunggu sebentar ya."


Airin segera menuju dapur, lalu membuatkan Pria itu secangkir kopi, dan menghidangkan beberapa cemilan yang tadi mereka beli.


"Silahkan diminum, Pak." Airin menyuguhkan diatas meja.


"Ini minum buat Zherin, ayo sini duduk sama Mbak," ucap Airin sembari mengambil gadis kecil itu dari pangkuan Erland.


"Kenapa aku masih panggil Mbak, kata Daddy panggil Mama?" tanya Zherin tampak bingung.


"Ah, t-tapi..."


"Nggak pa-pa, Sayang, mungkin Mama Airin belum terbiasa, nanti kalau Daddy dan Mama sudah menikah pasti tidak malu lagi," jawab Erland yang membuat Airin menatap tak percaya.


"Jadi Mama malu?" tanya bocah itu lagi.


"T-tidak, Sayang. Udah nggak usah dibahas lagi ya, ayo minum dulu," ucap Airin berusaha mengalihkan percakapan.

__ADS_1


Erland hanya tersenyum tipis melihat tingkah wanita yang ada disampingnya. Ia menyesap kopi yang ada dihadapannya, namun tatapannya masih fokus pada kedua wanita yang sedang bercengkrama.


Tak berselang lama terdengar suara motor berhenti di depan rumah, Airin melihat dibalik tirai, ternyata Ibu dan Ayah sudah pulang dengan berbonceng tiga.


"Assalamualaikum....," seru Ibu dan Ayah bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." Airin dan Erland segera berdiri menyongsong kedua orangtuanya yang baru saja pulang.


"Kamu kok nggak kasih kabar kami, Nak?" tanya Ibu sembari memberikan tangannya pada sang putri.


"Maaf, Bu, soalnya mendadak," jawab Airin memang begitu adanya.


"Buk, Pak," ucap Erland juga ikut menyalami dan full senyum kepada kedua orangtua gadis itu.


"Ini Nak Erland?" tanya Ayah yang memang belum pernah bertemu, tapi pernah bicara di telepon beberapa kali saat Airin di tahanan.


"Ya, benar Pak."


"Oh, ayo duduk, Nak. maaf Ibu nggak ada persiapan apa-apa karena Airin tak memberi kabar sama Ibu," celoteh Ibu sembari mempersilahkan anak dan majikan putrinya untuk duduk.


"Loh, gadis cantik ini siapa?" tanya ibu melihat Zherin masih saja glendotan di tangan Airin.


"Dia Zherin, Bu, dialah yang aku kasuh."


"Oh, ini toh gadis comel itu."


Kini pasangan itu sudah duduk kembali, sementara ayah dan ibu pamit sebentar untuk mandi berbersih karena keringatan pulang dari sawah.


"Nak, Erland duduk dulu ya, Bapak mandi sebentar. Kebetulan sebentar lagi waktu sholat Jum'at akan masuk," ucap ayah yang juga ingin ke masjid.


"Ah, iya silahkan, Pak. Nanti kita barengan ke masjid," sahut Erland dengan ramah dan tetap tersenyum manis.


Airin sedikit tak percaya melihat sikapnya yang begitu ramah dan menghormati ayah dan ibunya. Padahal kalau dirumah Pria itu irit sekali bicara.


Kini ayah sudah keluar dari kamar dengan menggunakan baju Koko dan kain sarung, dan Ibu segera menuju dapur memasak untuk makan siang mereka. Ibu menyuruh Ami ke warung untuk membeli perlengkapan masak, rasa sungkan bila tak menjamu tamu yang datang dengan baik.


"Ayo kita ke masjid sekarang, Nak Erland nggak tukar dengan sarung?" tanya Ayah.


"Ah, tidak usah, Pak. Ini saja."


Erland dan Ayah menuju masjid untuk melaksanakan ibadah wajib untuk kaum lelaki di hari Jum'at. Sementara itu Airin menuju dapur untuk membantu ibu menyediakan makan siang menyambut Bapak-bapak pulang jumatan.


"Zhe, main disini dulu ya, Mbak mau bantuin nenek masak," ucapnya pada bocah kecil itu.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku dicariin film kartun dulu, Ma," jawab Zherin yang ternyata sudah melekat dengan panggilan Mama pada Airin.


"Ah, baiklah." Airin segera menukar Chanel TV dengan film kartun. Setelah gadis itu duduk dengan nyaman, ia segera menghampiri sang Ibu yang sedang berkutat dengan peralatan dapur.


"Loh, kamu nggak istirahat?" tanya Ibu melihat putri sulungnya sudah berada di sana.


"Nggak, Bu, lagian nggak capek kok. Oya, ibu mau masak apa?" tanyanya sembari memperhatikan sang adik tengah mencuci ikan dan ayam.


"Ini Ibu bikin gulai kuning dan ayam goreng kampung, kira-kira Nak Erland mau nggak ya?" tanya Ibu meminta pendapat.


"Mau kok, Bu, biasanya Pak Erland tak memilih masakan. Apa yang dimasakin dia makan," jawab Airin.


"Oya, kok kamu sama majikan laki-lakimu saja yang datang kesini? Kenapa istrinya tidak ikut sekalian?" tanya Ibu pemasaran.


"Hmm, Pak Erland dan Buk Nindi sudah berpisah, Bu," jawab Airin dengan jujur.


"Hah! Sejak kapan?" tanya Ibu tak percaya.


"Sudah hampir satu tahun, Bu."


"Oalah... Kenapa bisa pisah?" tanya wanita baya itu masih kepo.


"Mana aku tahu, Bu, udah ah nggak usah bahas itu. Sini aku bantuin pekerjaan ibu biar cepat selesai," ucap Airin seperti sedang menghindari pembahasan itu.


Gadis itu juga tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Ibu nanti saat lelaki itu mengutarakan niatnya datang kesini. Ah, entahlah. Semoga semuanya yang terbaik.


Airin membantu Ami mencuci ikan dan ayam yang sedang dibersihkan. Kakak beradik itu saling ngobrol.


"Bagaimana sekolah kamu, Ami?" tanya Airin pada sang adik.


"Alhamdulillah baik-baik saja, Kak. Dan baru semlam dapat pengumuman lulus," jawab Ami.


"Alhamdulillah, terus kamu yakin ingin kuliah?" tanya Airin.


"Insya Allah, yakin Kak."


"Yaudah, nanti kalau kamu butuh biaya tambahan akan Kakak bantu, Alhamdulillah kakak punya simpanan sedikit."


"Terimakasih ya, Kak."


Kini Airin dan Ami sedang menata hidangan diatas karpet yang dibentangkan, maklum mereka tidak mempunyai meja makan jadi harus lesehan.


Ucapan salam dari ayah dan Erland membuat Airin dan Ami menjawab bersamaan. Erland kembali duduk diruang tamu ngobrol dengan ayah.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2