
Setelah mendapatkan nopol kendaraan Reza, Erland segera menghubungi anggotanya dan jajaran yang bertugas di setiap kota. Ia meminta untuk mencari tahu dimana keberadaan mobil itu.
Erland yang masih bertugas di kota yang sama dengan Intan, maka pria itu kembali datang menyambangi kediaman gadis itu. Ia juga ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.
"Mbak, ada tamu," ucap Bibik sembari mengetuk pintu kamar Intan.
"Baik, Bik." Dengan wajah gusar Intan menemui tamunya.
"Bang," sapanya segera duduk dengan wajah di tekuk.
"Dek, apa yang terjadi?" tanya Erland ingin tahu yang sebenarnya.
"Bang Reza pergi, setelah dia mendengar segala pembicaraan kita kemarin," jelas Intan dengan air mata yang sudah jatuh berderai.
"Darimana kamu tahu bahwa dia pergi karena hal itu?"
"Aku melihat rekaman cctv, dia datang bertepatan saat kita sedang bicara," ucapnya masih dengan tangisan. "Hiks, aku tidak tahu harus bagaimana, Bang? Ini semua salah aku yang tidak pernah jujur padanya," ucap Intan menangis sesenggukan.
Erland membawa gadis itu dalam dekapannya. "Sudah sudah, kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Abang tahu, sebenarnya kamu bukan tak ingin jujur, namun kamu tak ingin dia kecewa, bukan? Tenanglah, Abang akan mencari dimana dia berada, dan Abang akan menjelaskan semuanya pada Reza," ucap Erland berusaha menangkan hati wanita itu.
Intan sedikit lebih tenang sembari melerai pelukan lelaki itu. Tak bisa ditampik bahwa hatinya masih saja bergetar saat di peluk olehnya. Namun Intan berusaha untuk menjaga jarak, karena ia sudah memutuskan untuk menikah dengan Reza.
"Bang, aku mohon tolong temui Bang Reza, aku akan jujur padanya. Aku akan tetap menikah dengannya," ujar Intan memohon pertolongan Erland.
"Tenanglah, Secepatnya Abang akan temui dia."
Setelah cukup lama mereka ngobrol. Terdengar suara panggilan masuk di ponsel polisi itu. Ia segera menerima.
"Ya, katakan! Ah, baiklah. Biarkan saja, aku yang akan kesana," ucap Erland pada seseorang di telpon.
"Dek, Aku sudah tahu dimana Reza berada sekarang," ucap Erland yang membuat Intan mengucapkan syukur.
"Alhamdulillah ya Allah, dimana dia sekarang, Bang? Aku akan kesana menemuinya." Intan begitu tak sabar dan segera berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Dek, kamu disini saja, biar Abang yang akan bicara dengannya," ucap Erland menahan wanita itu.
"Tapi, Bang, aku ingin menjelaskan semuanya," ucap Intan tak sabar.
"Abang yang akan menjelaskan!" Sanggah Erland.
"Baiklah, tolong yakinkan dia, Bang. Aku sudah siap menikah dengannya."
"Baiklah, Abang akan pergi sekarang." Erland segera beranjak menuju kota dimana Dokter jantung itu sedang menepi.
Bali, adalah kota tempat Pria itu kunjungi. Reza meninggalkan kota bertuah itu saat hatinya sedang hancur. Ia menitipkan mobilnya di bandara. Polisi mendapatkan informasi dari pihak maskapai penerbangan, dan melihat tujuannya.
Hari itu juga Erland bertolak menuju kota Denpasar itu. Demi memenuhi keinginan wanita yang dicintainya. Meskipun sakit, namun ia harus bisa berkorban untuknya. Cinta yang ia rasakan saat ini tak sesakit cinta Intan yang sudah belasan tahun memendamnya sendiri, meskipun ia sudah berusaha memberitahu tentang perasaannya, tetapi Erland yang saat itu masih dibutakan oleh cinta seorang model yang kini sudah menjadi mantan istrinya.
Setibanya pulau Bali, Erland menuju dimana tempat Reza berada, seperti informasi yang ia dapatkan dari tim gabungannya.
***
Disebuah kamar hotel yang terletak di pinggir pantai yang ada disana. Reza sedang duduk di balkon kamar itu sembari menatap laut lepas. Matahari sudah mulai terbenam, kicauan burung laut terdengar riuh. Namun hatinya masih saja sepi.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunannya, siap yang datang saat ingin magrib begini? Apakah petugas, tapi ia tak memesan apapun. Dengan langkah malas Pria itu membukanya.
"Kamu?" Ucapnya sangat terkejut.
"Za, kita perlu bicara," ucap Erland masih berdiri diambang pintu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Kamu ingin meminta Intan dariku? Ya, tentu saja, karena aku tahu kebahagiaannya hanya bersamamu," ucap Reza terdengar sinis.
"Ya, Intan memang masih mencintaiku. Tapi, dia sudah memutuskan untuk menikah denganmu. Karena dia sudah siap untuk memberikan hidupnya padamu, dan berharap cinta itu akan segera tumbuh setelah kalian menikah," jelas Erland.
"Apakah kamu juga mencintainya?" tanya Reza yang ingin tahu hati Pria itu. Erland tampak tergagap untuk menanggapi pertanyaan Reza.
__ADS_1
"A-aku..."
"Hng! Kalian saling mencintai, bukan? Untuk apa kalian buang-buang waktu untuk memintaku menikahi Intan. Pergilah sekarang. Menikahlah dengannya!" ucap Reza sembari ingin menutup pintu kamar itu kembali.
"Za, tunggu!" Erland menahan pintu kamar itu dengan setengah badannya.
"Kamu mau apalagi? Aku sudah merelakan dia untukmu!" sanggah Reza.
"Reza, apakah kamu selama ini tidak mengenali bagaimana sikap Intan? Dia tidak akan mau menikah denganku, karena dia sudah berjanji padamu. Kamu tahu gadis itu rela mengorbankan kebahagiannya demi orang lain! Jadi, tolong. Menikahlah dengannya!"
"Untuk apa? Untuk apa dia melakukan hal itu? Katakan padanya aku tidak akan mau menikah dengannya!" Reza masih keukuh dengan pendiriannya.
"Za, tolong jangan membuatnya menjadi merasa bersalah seperti ini," mohon Erland sekali lagi, namun dokter itu sudah terlanjur kecewa hingga tak lagi menghiraukan permintaan polisi yang berpangkat dua melati itu.
Erland tak tahu harus berbuat apa padanya, ini bukan masalah kriminal, namun masalah hati, tak ada wewenang baginya untuk memaksa, ia terpaksa pulang dengan tangan kosong tanpa berhasil membawa Reza. Ia tak tahu harus bicara apa pada gadis itu.
***
"Bang, apakah Abang sudah bertemu dengan Bang Reza?" tanya Intan tak sabar.
"Ya, Abang sudah bertemu, tetapi dia tak ingin pulang," jawab Erland datar.
"Apakah Abang sudah menjelaskan semuanya? Apakah sudah Abang katakan bahwa aku bersedia menikah dengannya?" tanya Intan beruntun.
"Sudah, Abang sudah jelaskan semuanya. Namun dia tidak ingin mendengarkan. Reza tidak ingin menikah," jawab Erland dengan jujur.
Seketika gadis itu kembali menjatuhkan air matanya. "Berikan alamatnya padaku, Bang. Aku yang akan bicara padanya," ucap Intan yang ingin menemui dokter jantung itu.
"Tapi, Dek..."
"Berikan padaku alamatnya sekarang, Bang!" sentak Intan yang tak bisa lagi ditahan.
Dengan terpaksa Erland memberikan alamat Reza. Intan yang telah mendapatkan alamat dari Erland, maka siang itu juga memesan tiket pesawat. Ia harus bicara dengan Reza, Reza harus tahu ia sudah siap berkorban demi ingin merajut asa dengannya. Ia sangat berharap bahwa cinta itu akan datang setelah mereka menikah. Tapi kenapa sekarang Reza dengan semudah itu menyerah?
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰