
Intan mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Tante Eva. Ia kembali melajukan kendaraannya menuju kediamannya.
Intan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Kembali percakapan Reza dan Mama terngiang di telinganya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Gadis itu benar-benar berada dalam dilema.
Lama ia memikirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk selanjutnya, merasa tak mendapatkan solusi maka ia memutuskan untuk tidur agar sedikit mengurangi beban dalam pikirannya.
Pagi ini Intan kembali bertugas di RS setelah dua hari izin, Intan mempercepat langkahnya untuk segera sampai di ruang praktek, ia sedikit terlambat karena tadi bangun agak kesiangan. Banyaknya beban pikiran membuatnya mager hingga kembali tidur setelah shalat subuh.
BRUGH!
Intan menabrak seseorang karena terlalu buru-buru. Gadis itu segera berjongkok untuk membantu membereskan berkas-berkas orang itu yang jatuh berserakan.
"Maaf, Mas..." Seketika ucapannya terhenti saat melihat Pria yang ditabraknya adalah Reza.
"Bang Reza!" ucap Intan menatap lelaki itu dengan perasaan entah.
"Lain kali gunakan matamu!" sahut Reza dengan nada ketus.
Intan hanya diam, tak ada rasa kesal dihatinya saat Pria itu bicara dengan nada ketus. Ia tahu apa yang diucapkannya sengaja untuk membuatnya semakin menjauh.
"Abang sudah kembali tugas?" tanya Intan dengan senyum manis.
"Bukan urusanmu!" jawab Reza segera berlalu. Intan yang tak menghiraukan ia kembali mengejar lelaki itu.
"Bang, tunggu aku!" Intan meraih tangan Pria itu dan menghalangi langkahnya.
"Intan, kamu apa-apaan sih? Awas, aku sudah terlambat!" seru Reza menatap kesal.
"Biarkan saja. Aku juga sudah terlambat!" jawab Intan acuh.
Reza menatap kesal. "Awas!"
"Nggak!" Wanita itu masih merentangkan tangannya.
"Kamu nggak malu bahan tontonan orang?"
__ADS_1
"Nggak tuh!" jawabnya acuh.
"Minggir, Intan!" Reza sedikit mendorong tubuh Intan agar menepi, namun gadis itu mendrama sengaja menjatuhkan tubuhnya
"Awwh! Sakit banget!" ringis gadis itu
"Dek, kamu tidak apa-apa?" tanya Reza yang seketika meraih tangan Intan dengan rasa cemas.
"Hehe... Nggak pa-pa, Bang," jawab Intan sembari nyengir kuda.
"Ck, apaan sih kamu." Reza kembali meneruskan langkahnya. Ternyata memang susah berlagak cuek padahal sebenarnya hatinya benar-benar sangat mencintai gadis itu. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri yang begitu mudah terpancing. Ya, harus bagaimana lagi, namanya juga terlanjur sayang.
Intan hanya menggelengkan kepala sembari melangkah menuju ruang prakteknya. Setibanya, ternyata para pasien sudah penuh antri menunggu panggilan.
Intan berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaannya, sebagai seorang Dokter ia dengan sabar mendengarkan segala keluhan dan mengambil tindakan pada pasien-pasiennya.
Sementara itu Reza yang sudah beberapa hari menghilang tanpa kabar, dan tentu saja mendapatkan teguran dan peringatan dari pihak RS. Tak banyak yang bisa dilakukan dokter jantung itu selain menerima segala teguran itu, karena ia memang mengakui kesalahannya.
Jam 12.30 itu menandakan jadwal praktek dokter telah selesai untuk hari ini. Intan kembali menemui Dokter jantung itu, ia ingin bicara sekali lagi agar tak ada lagi perselisihan diantara mereka.
"Intan, kamu kenapa ikut masuk?" tanya Reza tak mengerti.
"Mau nebeng sama Abang," jawabnya santai sembari mengukir senyum.
"Apaan sih kamu? Bukannya kamu bawa mobil sendiri?" tanya Reza menatap aneh.
"Bawa, tapi hari ini aku lagi malas nyetir."
"Turun, Intan."
"Nggak!"
"Intan, aku bilang turun!" sentak Reza yang membuat gadis itu terjingkat sembari menatap tajam padanya.
"Bang, aku ingin bicara untuk kali ini saja. Aku tahu Abang berusaha untuk menghindari aku, Abang tidak perlu melakukan hal itu bila hati Abang sakit sendiri," ucap Intan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Reza membuang tatapannya. Memang benar adanya. Sebenarnya hatinya tak tega bila bicara kasar seperti itu. Namun sepertinya gadis itu sudah tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Intan, apalagi yang ingin kamu bicarakan? Semuanya sudah jelas. Kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Aku sudah mengikhlaskan kamu untuk orang yang kamu cintai. Sekarang pergilah."
"Bagaimana dengan hati Abang? Apakah Abang yakin akan baik-baik saja?" tanya Intan menatap sedih.
"Tentu saja aku baik-baik saja. Karena aku tidak mencintai kamu. Jadi tak ada yang harus aku sesali."
Intan menatap dengan dalam. Perlahan ia menggenggam tangan Pria itu. "Bang, kenapa Abang membohongi perasaan Abang sendiri? Toh nyatanya Abang akan menderita, dan jika benar Abang tidak mencintai aku, lalu bagaimana persiapan pernikahan kita yang sudah rampung tujuh puluh persen?"
Reza hanya terdiam. Ia tak tahu harus bicara apalagi dengan gadis itu. Rasanya sakit sekali bila berurusan dengan hati. Reza menatap tangan Intan yang masih menggenggam tangannya. Tak bisa ia tahan perasaan itu, tanpa diminta ia membalas genggaman tangan itu.
"Dek, jika kamu sudah tahu semua alasannya, maka biarkan Abang mencoba untuk ikhlas menerima takdir ini. Menikahlah dengan orang yang kamu cintai. Jangan hiraukan perasaan Abang, percayalah. Suatu saat Abang pasti akan menemukan kebahagiaan Abang sendiri," ucap Reza mencoba untuk ikhlas.
"Bang, semua persiapan pernikahan kita hampir selesai, jika Abang benar-benar tulus mencintaiku, maka biarkan aku berkorban untuk Abang. Aku masih yakin dengan kata-kata Abang saat melamar diriku, bukankah Abang sendiri meyakinkan aku, bahwa cinta akan datang sendiri saat kita sudah menikah," ujar wanita itu meyakinkan hatinya.
Reza terdiam sejenak. Ia bingung harus bagaimana. Apakah dia harus tetap maju meneruskan niatnya yang dari awal. Tapi bagaimana dengan Erland.
"Dek, bagaimana dengan Erland?" tanya Reza masih penuh dengan pertimbangan.
"Bang Erland sudah katakan, dia akan menerima segala keputusanku. Tolong jangan gagalkan pernikahan kita yang sudah kita rencanakan dari semula. Biarkan hatiku tetap yakin dengan keputusan yang telah aku ambil," jawab Intan dengan hati yang teguh.
"Apakah kamu sudah yakin dengan hatimu? Apakah nanti kamu tidak akan menyesal?" tanya Reza meyakinkan sekali lagi.
"Aku sudah yakin dengan keputusanku, Bang."
"Baiklah, kalau begitu mari kita teruskan rencana pernikahan kita ini." Akhirnya Reza menerima permintaan Intan yang tetap keukuh dengan keputusannya.
Intan tersenyum lega. Dengan mengucapkan bismillah, ia luruskan kembali niatnya yang akan membina rumah tangga dengan lelaki yang sangat mencintainya. Ia harus mengubur cintanya pada Erland, mungkin memang sudah takdir mereka tak dipersatukan. Ia akan tetap menganggap Erland sebagai seorang kakak.
Pasangan itu saling melempar senyum, Reza mengecup punggung tangan gadis itu dengan hati yang bahagia. Dan tak henti-hentinya mengucapkan rasa terima kasih karena tetap memilih dia.
Bersambung....
NB. Maaf ya, jika ada yang tak setuju bila pada akhirnya mereka harus menikah 😊 Biarkan Bang Erland menemukan jodohnya dengan yang lain.🙏🤗
__ADS_1
Happy reading🥰