
Pagi-pagi sekali Erland sudah standby di kantornya untuk menangani kasus yang kini sedang menimpa antar pekerjanya. Bersyukur sekali Pak Rusdy sudah sadar, dan dokter juga mengatakan bahwa kondisinya semakin membaik.
Selama Pak Rusdy belum bisa memberi keterangan, dan selama itu pula Airin ditahan. Pihak keluarga sang supir juga tak ingin Airin dibebaskan begitu saja. Mereka ingin Airin mendapatkan hukuman yang setimpal.
Erland benar-benar dirundung kebimbangan, ia harus menyelesaikan tugasnya di luar kota dalam waktu satu minggu lagi. Dengan berat hati ia menyerahkan kasus itu kepada rekannya yang bertugas mengambil alih posisinya untuk sementara waktu.
Sebelum berangkat Erland kembali menemui Airin di tahanan. Tak terasa sudah tiga hari gadis polos itu mendekam di tahanan. Tampak sekali raut wajah sendu diwajahnya.
"Pak," ucapnya dengan senyum sayu sembari menunduk.
"Duduklah," ucap Erland mempersilahkan.
"Airin, kasus yang menimpa dirimu masih terus berjalan penyelidikannya, dan saya belum bisa meminta keterangan pada Pak Rusdy, jadi kamu tenanglah, jangan takut, saya berjanji akan membebaskan kamu," ujar Erland pada gadis itu.
"Terimakasih, Pak," hanya itu jawaban yang diberikan oleh Airin, ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan atas kebaikan polisi yang tak lain adalah majikannya sendiri, dan ia juga sangat bersyukur karena Erland mempercayai keterangan dirinya. Namun ia belum bisa bersenang hati, karena pihak polisi belum meminta penjelasan dari pihak korban, dan kejadian malam itu begitu cepat, tak ada saksi yang melihat selain Zherin gadis kecil itu, tapi apakah saksi dari seorang anak kecil bisa dipercaya?
"Saya akan menyelesaikan tugas saya diluar kota selama satu minggu ini, kamu tenanglah, jangan takut. Percayalah semua akan baik-baik saja," ujarnya kembali meyakinkan gadis itu.
"Baik, Pak. Sekali lagi terimakasih banyak, dan saya juga memohon, tolong masalah ini jangan sampai di ketahui oleh kedua orangtua saya di kampung," ucapnya dengan suara lirih.
"Kenapa, Airin? Orangtua kamu harus tahu, karena ini kasus besar, kamu hampir dilecehkan, setidaknya mereka bisa menjadi penyemangat untuk kamu," ujar Erland yang masih tak mengerti.
"Jangan, Pak, Ibu saya ada riwayat penyakit jantung. Tolong jangan sampaikan berita ini. Saya takut jantung ibu tidak akan mampu menahan beban pikiran," jelasnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tak pernah terbayangkan olehnya hal ini terjadi, namun demi melindungi dirinya dari kejahatan syahwat lelaki tak bermoral itu, maka ia putuskan untuk ikhlas menerima segala hukuman yang akan menjerat dirinya.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kembalilah ke tahanan. Oya, ini ada titipan dari Zherin untuk kamu." Erland menyerahkan titipan makanan dan beberapa perlengkapan yang diperlukan.
"Sekali lagi terimakasih banyak, Pak. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya, dan katakan pada Zherin bahwa saya baik-baik saja," ucap Airin tersenyum manis menerima titipan itu. Ia juga tahu bahwa Zherin pasti khawatir padanya, Airin tahu sekali bagaimana gadis kecil itu begitu lengket padanya.
__ADS_1
"Ya, saya akan sampaikan," jawab Erland yang ingin segera beranjak.
"Ah, Pak Erland!" panggilnya yang membuat langkah Pria itu terhenti.
"Ya?"
"Ah, s-saya boleh minta tolong sekali lagi, Pak?" tanyanya dengan raut wajah takut.
"Apa?" tanya Erland menatap serius.
"Kalau bisa, tolong bawakan perlengkapan sholat saya, soalnya di dalam saya tidak punya perlengkapan sholat," ujarnya dengan wajah tertunduk.
"Ah, baiklah. Nanti akan saya titipkan pada petugas tahanan."
"Terimakasih, Pak." Lagi-lagi hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Erland hanya mengangguk dan tersenyum tipis, segera berlalu dari hadapan gadis cantik nan polos itu. Erland segera menuju kediamannya untuk bersiap kembali bertugas keluar kota. Namun sebelum pergi ia kembali menyambangi tahanan untuk mengantarkan titipan Airin pada pihak tahanan.
"Dek, mampir kerumah dulu ya, soalnya Mama sudah masak banyak untuk kita makan siang bersama," ucap Reza sembari fokus mengemudi.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa lama ya Bang, soalnya masih banyak urusan," jelas gadis cantik itu.
"Baiklah. Tapi ingat ya, Sayang, jangan terlalu banyak beraktivitas sehingga membuat tubuhmu lelah," ujar Reza memberi peringatan pada calon istrinya.
"Ya gimana nggak banyak beraktivitas, Bang, kan Abang tahu sendiri, aku tinggal hanya berdua dengan Bibik, jadi apapun pekerjaan aku harus melakukannya sendiri. Nungguin kamu yang bantuin selalu saja tidak bisa," jelasnya dengan sindiran.
"Masya Allah, Dek, bukan tidak bisa, tapi kamu tahu sendiri, akhir-akhir ini pasien aku banyak yang akan menjalani operasi. Jadi, aku minta maaf banget bila menjadi lelaki yang tak bisa kamu handalkan," seru Reza merasa tersinggung dengan ucapan gadis itu.
Intan tak menyahut, ia menatap sesaat wajah Pria yang ada disampingnya. Apakah dia marah?
__ADS_1
Reza mengambil ponselnya, lalu menghubungi teman sejawatnya yang satu profesi. Pria itu meminta pada temannya untuk menggantikan pekerjaannya dengan alasan dirinya yang tiba-tiba tak enak badan.
"Yaudah, nanti setelah makan siang kita akan menyelesaikan pekerjaan kamu. Apa saja yang belum dikerjakan, Dek?" tanya Reza dengan tenang.
"Abang marah sama aku?" tanya Intan tak enak hati, karena dirinya Pria itu sudah merepotkan temannya.
"Siapa yang marah, Dek? Aku sengaja meluangkan waktu untuk dirimu," jawab Reza tetap tenang.
"Kenapa Abang harus meminta Dokter Ari yang menghandle pekerjaan Abang?" tanya Intan masih sensi, memang sedari tadi pagi gadis itu mudah sekali baperan, mungkin efek datang tamu bulanannya.
Reza menepikan kendaraannya, sungguh tak mengerti apa mau calon istrinya itu. Kenapa rasanya menjadi serba salah?
"Dek, kamu kenapa sih, kok dari tadi bawaannya marah mulu? Kamu lagi dapet ya?" tanya Reza dengan senyum khasnya.
Intan tak menjawab, karena apa yang ditanyakan lelaki itu tepat sekali. Apakah benar saat ini moodnya sedang bermasalah karena hormonnya yang sedang naik turun.
"Udahlah, ayo sekarang jalan," ujarnya masih mode ngambek.
Reza menghela nafas dalam, ia mencoba untuk mengalah. Tak ingin masalah kecil menjadi besar hanya karena wanita itu sedang bad mood.
Reza kembali menjalankan kendaraannya. Kedatangan Intan disambut baik oleh calon Mama mertua.
"Assalamualaikum...." Pasangan itu mengucap salam bersamaan.
"Wa'alaikumsalam... Hai, kalian kok baru sampai, macet ya?" tanya Mama Eva.
"Ah iya, Ma. Maklumlah jam makan siang," jawab Reza mengiyakan, tak mungkin ia bercerita bahwa calon istrinya sedang tak enak hati.
Intan hanya mengangguk dengan senyum yang dibuat semanis mungkin dihadapan Mama dari calon suaminya itu.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 🥰