
Jika Airin sedang dibuat gamang oleh keinginan Erland yang akan meminang dirinya, berbeda dengan pasangan pengantin yang semakin hari semakin terlihat mesra.
Setelah dua hari libur, kini mereka kembali ke kota asal, karena tak bisa meninggalkan tugas terlalu lama.
Intan bangun lebih awal, ia mendapati tubuhnya masih polos dalam pelukan sang suami. Dua hari di kamar hotel benar-benar tak ada kegiatan selain menikmati indahnya bercinta.
Reza tak pernah absen untuk membuatnya lemah tak berdaya. Pria itu sepertinya tak ada lelah dalam urusan ranjang.
Intan tak lantas duduk, ia menatap wajah tampan yang sedang tertidur pulas. Masih belum percaya bahwa sekarang dirinya benar-benar telah menjadi seorang istri yang seutuhnya untuk Dokter jantung itu.
Intan tersenyum manis sembari mengecup bibir seksi lelaki itu, tangannya mengusap pipinya dengan lembut.
"Bang, bangun yuk, kita harus siap-siap katanya udah ambil penerbangan pagi," ucapnya masih mengusak rambut suaminya dan sesekali mencubit pipinya.
"Masih ngantuk, Dek. Kasih Abang waktu lima menit lagi untuk tidur," gumam Reza masih memejamkan matanya.
Intan merasa tak tega, maka ia memilih mandi terlebih dahulu agar lelaki itu punya waktu tidur sedikit lagi. Saat wanita itu sudah masuk kamar mandi tiba-tiba listrik padam.
"Aaaaakh!!" pekik wanita itu dengan begitu kuat sehingga membuat Reza segera duduk dan menyongsong dimana suara istrinya.
"Dek, kamu dimana?" tanya Reza segera bangkit sembari meraba-raba
Dugh!
"Awwh!"
Reza mengaduh karena menabrak tembok sehingga membuatnya menhan sakit di bagian kepalanya.
"Abang! cepatan kesini, Hiks... Aku takut gelap banget!" pekik wanita itu dengan tangisan.
Reza masih kliyengan merasakan keningnya berdenyut kebas. Ia mengumpat dalam hati kenapa pegawainya lamban sekali untuk menghidupkan Power inverter. Ia ingin sekali kembali mengambil ponselnya untuk menelpon mereka, namun suara tangis Intan membuatnya urung.
Saat Reza sudah masuk kedalam kamar mandi, tiba-tiba listrik kembali hidup. Ia melihat sang istri duduk didalam bathtub sembari menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" serunya sembari menghampiri wanita itu yang nampak ketakutan.
__ADS_1
"Aku takut, gelap banget, Bang. Hiks."
"Hei, sudah sudah, ayo buka mata kamu. Ini sudah hidup kembali lampunya," ucap Reza sembari ikut masuk kedalam bathub dan memeluk istrinya yang masih tampak ketakutan.
Perlahan Intan membuka matanya dan melihat sudah terang seperti semula. Tatapannya beralih pada sang suami yang masih mendekapnya dengan erat.
Cup!
Reza memberi kecupan pada bibirnya dan merangkum kedua pipinya. "Jangan takut ya, Abang disini bersamamu," ujarnya kembali mengecup seluruh wajah cantik.
"Apakah kamu takut gelap?" tanya Reza yang tak tahu.
"Aku takut banget, Bang. Makanya aku kalau dirumah tidur selalu minta ditemani sama Bibik," jelasnya sembari memeluk kembali.
"Itu kening Abang kenapa?" tanyanya menatap benjolan di dahi Pria itu. Ingin tertawa takut dosa.
"Kejedut tembok, Dek. Habisnya kamu jejeritan buat aku spot jantung. Mana gelap banget jadi main hantam kromo aja. Untung nggak kepala ini yang kejedut, bisa-bisa nggak hidup," jelasnya sedikit jengkel.
"Pppffftt Hahaha... Biasa aja kali, Bang. Kalau dia yang insiden nggak pa-pa biar aku bisa jeda sebentar dari terkaman dia," jawab Intan dengan tawa terbahak.
Pasangan itu kembali melakukannya di pagi buta dengan tempat yang berbeda, dan tentu saja sensasinya sangat berbeda.
Reza tersenyum puas setelah melihat sang istri tak berdaya dibawah kungkungannya. Sungguh inilah yang disebut sengsara membawa nikmat.
"Mandi, sayang, atau mau nambah lagi?" ucapnya dengan senyum nakal.
"Nggak banget deh, Bang. Nggak ada capek-capeknya kamu ini," jawab Intan sembari mencubit perut Pria itu dengan gemas.
Balada mati lampu membuat cerita tersendiri bagi pasangan itu. Sungguh mereka bahagia dalam balutan cinta yang saling mengasihi dan menyayangi.
Kini pasangan itu telah selesai melaksanakan ritual mandi wajib. Mereka keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe.
Reza menatap wajahnya di cermin. "Masya Allah ini bisa benjol kek gini, Dek? Ini memar namanya," celoteh lelaki itu sembari mengamati dahinya yang tampak biru kemerahan.
"Iya, kan aku sudah bilang bahwa itu memar, Bang. Bentar, sepertinya aku ada bawa salep memar di tas." Intan segera merogoh tasnya untuk mencari obat memar yang biasa ia bawa untuk jaga-jaga.
__ADS_1
"Sini aku oleskan, Abang duduk sini." ucapnya berdiri dihadapan sang suami, lalu mengoleskan dengan pelan. Sementara itu Reza memeluk pinggang istrinya dan mengusak wajahnya di dada wanita itu.
"Bang, tenang dulu, nanti nggak merata," intrupsi wanita itu pada suaminya yang sangat super aktif. Reza membiarkan istrinya mengobati dengan benar.
"Sudah, Bang. Ayo pake baju habis itu sholat subuh," titah intan, namun ucapannya tak dihiraukan oleh lelaki yang memang sedang bucin plus plus itu.
Reza semakin menguatkan pelukannya dan mengecup perut datar sang istri. "Semoga kamu cepat tumbuh disini. Sudah tak sabar menunggu hasil dari usaha keras Papa setiap hari," ucapnya dengan pelan.
Intan hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya. Dengan pelan ia mengusap rambut hitam legam itu lalu mengecup dengan sayang.
"Ayo sekarang kenakan pakaian kamu, Bang. Selak habis waktu subuh. Calon Papa itu harus jadi imam yang baik untuk istri dan anak-anaknya kelak," ujar Intan yang mendapat senyum semangat pria itu.
"Siap Bu dokter! Ayo kita sholat sekarang.
Intan hanya terkekeh kecil melihat tingkah suaminya. Mereka segera mengenakan pakaian dan mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah dua rakaat sebelum mereka bersiap untuk terbang ke kota bertuah.
"Sayang, mau sarapan dulu?" tanya Reza setelah bersiap.
"Nanti saja kita sarapan di bandara, takutnya nanti macet dijalan," jawab intan memberi solusi.
"Hmm, baiklah. Ayo kita berangkat sekarang."
Reza menemui manajer hotel yang sempat di cemburui oleh istrinya, setelah memberi wejangan dan tugas-tugas yang lainnya, maka pasangan itu segera menuju bandara dengan diantarkan oleh mobil transportasi hotel.
Sesampainya di bandara, masih ada waktu tiga puluh menit menunggu keberangkatan, maka mereka pergunakan untuk sarapan terlebih dahulu.
"Makan yang banyak, Sayang, biar nanti ada stok tenaga sampai disana," ucap Reza yang mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Ya Allah, kenapa suamiku semakin hari semakin mesum aja. Apakah tidak puas selama dua hari menggempur diriku," cicit wanita itu menatap malas.
"Haha... Habisnya kamu itu bikin aku begitu candu," jawabnya membuat Intan menggelengkan kepala
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1