Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Airin bebas


__ADS_3

Pagi telah menjelang, terdengar suara adzan berkumandang. Airin yang memang sedari tadi terbangun, ia masih mengamati wajah tampan Pria yang tidur disampingnya.


Erland membuka netranya saat seruan adzan masuk ke Indra pendengarannya. Airin segera mengalihkan pandangannya dan berpura-pura mengabaikan Pria yang ada disampingnya itu.


"Sudah adzan, kamu tidak sholat?" tanya Erland pada hadis itu.


"Saya tidak ada pakaian ganti, karena saya ingin mandi terlebih dahulu," jawabnya yang memang harus membersihkan diri terlebih dahulu untuk melaksanakan ibadah. Dirinya merasa jijik saat mengingat kembali prilaku kedua oknum itu.


"Yasudah, besok saja kalau sudah pulang. Saya ke masjid dulu ya, kamu tunggu disini jangan kemana-mana," pesannya pada gadis itu.


Airin hanya mengangguk patuh. Erland segera beranjak keluar dari ruangannya untuk menuju masjid yang ada di kantor polisi itu.


Selesai berjamaah, Erland kembali ke ruangannya. Tak banyak yang ia lakukan, Erland hanya memeriksa beberapa berkas-berkas perkara yang belum di tindak lanjuti. Sementara itu Airin masih betah duduk di posisi awal.


"Kamu tidak ingin cuci muka biar lebih segar," tawar Erland menatap gadis polos itu yang tak bergerak dari tempat duduknya.


"Iya,tapi saya..."


"Ayo saya temani," ucap Erland yang sudah mengetahui rasa ketakutan Airin.


"Tapi, saya?"


"Apa Airin? Saya hanya menungguimu diluar," potong Erland sedikit gemas melihat tingkah polos wanita itu.


Airin hanya mengangguk dengan wajah tersipu. Ia segera melangkah keluar untuk menuju kamar mandi yang ada di kantor kepolisian itu. Banyak mata yang menatap mereka berdua. Baru kali ini AKBP Erland Aditya yang selama ini begitu tegas dan bersikap dingin, namun kini terlihat begitu perhatian pada seorang tersangka yang sudah mereka ketahui bahwa gadis itu adalah pengasuh putrinya.


Airin segera masuk kedalam kamar mandi, sementara itu Erland menjaga diluar. Erland tak mempedulikan tatapan rekan-rekannya. Dia hanya ingin melindungi gadis itu dari hal-hal yang tidak baik. Apalagi Erland sudah berjanji kepada orangtua Airin untuk menjaga keselamatan putrinya.


Tak begitu lama Airin sudah keluar dari kamar mandi. Gadis itu sudah terlihat lebih fresh. Mereka kembali menuju ruangan penyidik itu.


"Kamu masuklah. Aku akan memesan sarapan dulu di kantin," titahnya meminta Airin untuk masuk terlebih dahulu.


Erland menuju kantin untuk memesan sarapan pagi dan minuman hangat. Setelah itu ia kembali keruangannya menunggu tinggal menunggu pesanannya tiba.


Airin merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah itu ia kembali duduk tenang di Sofa. Erland masuk segera menduduki bangku kerjanya.

__ADS_1


Pria itu tak bicara apapun, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Sedikit merasa aneh ada seorang wanita menemani dalam bertugas, bahkan wanita itu masih menggunakan pakaian tahanan.


Tak berselang lama pesanan Erland datang. Petugas kantin mengantarkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Petugas itu menatap Airin dengan tatapan tidak percaya, baru kali ini ada tahanan yang di perlakukan sangat baik bahkan seorang penyidik senior yang memperhatikan.


"Airin, ayo sarapan dulu," ucap Erland pada gadis itu.


Airin hanya mengangguk menerima piring yang berisi nasi goreng lengkap dengan topingnya.


Mereka makan dengan hening. Selesai makan Erland menghubungi Rusdy agar segera datang ke kantor untuk memberikan pengakuan atas kasus yang kini menjerat Airin.


Sekitar satu jam, akhirnya Rusdy datang dengan di dampingi dua orang pengacaranya. Pria yang berumur empat puluh tahun itu memberi pengakuan atas kejadian malam itu.


Kini Airin sudah dinyatakan bebas dari jeratan hukum. Namun mereka Melakukan mediasi, yaitu pihak keluarga Rusdy memohon agar Airin tak membuat laporan atas kejadian malam itu. Mereka minta berdamai secara kekeluargaan.


"Bagaimana, Airin?" tanya Erland pada gadis itu yang tampak hanya diam sedari tadi.


"Saya tidak bisa langsung memutuskan untuk saat ini, Pak. Berikan saya waktu," jawabnya yang memang belum bisa mengambil keputusan, apakah dirinya akan melaporkan supir itu atau memaafkannya dan membiarkan bebas.


"Baiklah, saya akan memberimu waktu. Saya juga akan membantu bila nanti kamu tetap ingin membuat laporan," jawab Erland yang tampak memihak pada gadis itu. Karena dari dirinya pribadi tak ingin Rusdy bebas begitu saja.


Pihak Rusdy tampak kecewa karena Airin belum memberi keputusan. Bisa jadi gadis itu akan melaporkannya. Erland juga tak berpihak sedikitpun pada mereka.


"Pak, saya ingin berhenti. Saya ingin pulang kampung saja," ucap Airin membuka percakapan.


Erland sedikit terkejut mendengar pernyataan Airin. "Kenapa Airin? Kamu sudah tidak betah lagi bekerja dengan saya?" tanyanya tidak mengerti.


"Bukan begitu, Pak. Saya hanya malu, karena para tetangga sudah tahu bahwa saya adalah seseorang yang melakukan tindak kriminal. Dan itu juga tidak baik untuk Zherin," jelasnya merasa sangat malu.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, nanti saya yang akan klarifikasi pada para tetangga dan juga RT setempat. Saya akan membersihkan namamu kembali. Saya minta kamu tetaplah bekerja dengan saya, karena kasihan Zherin yang nanti akan kehilangan kamu," ucap Erland yang membuat Airin tak mampu untuk berkata-kata.


"Terimakasih banyak, Pak. terimakasih atas segala kebaikan Bapak," ucapnya sembari tertunduk.


"Kamu masih mau untuk menjadi pengasuh putri saya 'kan?" tanya Erland memastikan.


"Ya, saya masih mau, Pak."

__ADS_1


Erland hanya tersenyum tipis sembari melajukan kendaraannya untuk segera sampai dikediamannya. Setibanya dirumah mereka disambut kegirangan oleh Zherin.


"Mbak Airin!" pekik Zherin berlari menyongsong wanita yang sudah satu tahun ini mengurus dan menjaganya.


"Zherin!" Airin segera merentangkan kedua tangannya untuk membawa gadis kecil itu masuk kedalam pelukannya. Mereka saling berpelukan untuk melepaskan rasa rindu.


"Aku kangen banget sama Mbak Airin. Apakah Mbak baik-baik saja? Soalnya Daddy nggak ngebolehin aku untuk jenguk Mbak," adu bocah itu pada pengasuhnya.


"Alhamdulillah Mbak baik-baik saja, Sayang. Iya, tentu saja Daddy ngelarang kamu jenguk Mbak, soalnya tempatnya tidak bagus untuk anak-anak. Dan sekarang Mbak sudah kembali jadi kita bisa main lagi," ucap Airin menghibur bocah yang berumur lima tahun itu.


"Syukurlah, aku seneng banget." Zherin menguatkan pelukannya.


"Ayo sini sama Daddy. Biarkan Mbak bersih-bersih dulu ya." Erland membawa putrinya dalam gendongannya.


Airin segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka makan siang bersama. Erland sengaja tidak kembali lagi ke kantor. Erland membuat acara syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Airin kerumah itu kembali.


Dan tentu saja acara itu ia buat untuk mengundang para tetangga dan RT setempat untuk mengklarifikasi atas insiden yang terjadi malam itu, sempat menggegerkan warga setempat.


Acara itu memang kesannya mendadak, namun Erland tak mempunyai waktu banyak, karena mengingat banyaknya kasus yang harus ia tangani, maka ia memanfaatkan waktu yang ada.


"Bik, setelah ini segera pesan menu hidangan untuk nanti sore ya."


"Baik, Tuan. Apakah ada yang perlu Bibik masak Tuan?" tanya Bibik


"Tidak usah, Bik, semuanya katering saja. Bibik cuma perlu beli buah-buahan dan makanan ringan untuk hidangan penutup," titahnya pada Art itu.


"Baik, Tuan."


Bersambung....


Happy reading 🥰


Hai, mampir juga di novel BESTie aku yuk. dijamin mengharu biru 🤗


Author: Vita Zao

__ADS_1


Judul: Penyesalan Kakak Angkat



__ADS_2