
Reza mengendarai mobilnya dengan perasaan tak nyaman menatap wajah istrinya yang tampak tak bersemangat. Apakah wanita itu sedang marah padanya?
"Dek, beneran kita nggak jadi nonton?" tanya Reza memastikan sebelum mengarahkan kendaraannya ke kediaman mereka.
"Iya, kita pulang saja, Bang," jawab Intan singkat.
"Baiklah." Reza juga menjawab singkat. Ia membiarkan wanitanya yang sedang badmood.
Setibanya dirumah, Intan segera berbersih sebelum melaksanakan shalat zhuhur, meskipun sedikit terlewat.
Intan masih teringat dengan wanita yang tadi konsultasi dengan suaminya. Siapa wanita itu? Kenapa dia bicara tidak formal. Dia sepertinya sudah mengenal Reza sejak lama.
Ah, ia tak bisa mendiamkan masalah ini. Ia harus tahu yang sebenarnya. Tapi, sedikit kesal dengan suaminya itu yang tak ada niatan untuk menjelaskan siapa pasien terakhirnya tadi.
Setelah selesai sholat, Intan duduk dibibir ranjang. Tak lama kemudian Reza masuk.
"Kamu sudah sholat?" tanya Reza, ia melihat sang istri masih mengenakan mukena.
"Sudah. Sana Abang sholat," titahnya.
"Baiklah." Reza segera masuk kamar mandi untuk ambil wudhu. Selesai sholat ia menatap Intan yang masih duduk tak beranjak dari bibir ranjang.
"Dek, kok melamun?" tanya Reza membuyarkan lamunannya.
"Ah, nggak." Intan segera melepas mukenanya, lalu menyimpan kembali kedalam lemari, sekalian membereskan peralatan sholat suaminya.
"Bang?" panggil Intan.
"Iya, Sayang?" jawab Reza dengan mesra.
"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Intan sedikit ragu.
"Ya, tentu saja, Dek. Apa itu?" tanyanya menatap heran.
"Wanita yang tadi konsultasi dengan Abang, siapa?"
"Oh, itu. Dia adalah anak teman Papa. Namanya Shela. Dia mengidap jantung bocor. Jadi dia minta tolong Abang untuk mencarikan donor jantung untuknya," jelas Reza dengan jujur.
"Oh, pantas aku lihat kamu dan dia sudah tampak akrab. Apakah kalian sudah lama kenal?" tanya Intan penuh selidik.
"Ya, dia itu teman aku waktu kecil. Dan tentu saja kami sangat akrab. Kenapa, apakah kamu cemburu?" tanya Reza langsung mengenai sasaran.
"Hah? Nggaklah, ngapain juga aku cemburu," elak Intan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Reza hanya tersenyum, ia mendekati istrinya, lalu memeluk dari belakang. "Aku seneng banget lihat kamu yang suka cemburuan begini. Aku tuh sekarang merasa dicintai oleh kamu. Nggak kayak dulu, sikap kamu begitu acuh dan dingin," ucap Reza sembari mengecup dari samping.
"Ya bedalah, dulu kita belum menikah, sekarang kamu itu suami aku, dan aku tidak akan pernah rela bila ada orang lain yang mendekati kamu. Ingat ya, Bang, tidak ada alasan kedekatan kamu beralasan teman," ucap Intan dengan jelas.
"Loh, kenapa, Dek?"
"Ya, berawal memang teman, setelah itu menjadi nyaman. Jadi, aku harap kamu pandai-pandailah menjaga batasan kamu dengan teman perempuan, ingatlah, bila sekali saja kamu berani mengkhianati aku, maka tidak ada kata maaf lagi untukmu," tekan Intan memberi ultimatum.
"Masya Allah, ngeri Amad warningnya, Dek? Baiklah, aku akan ingat pesan Mama muda," jawab Reza sembari mengusap perut datar istrinya.
"Ish, apaan sih, Bang. Ngapain juga panggil Mama muda," sanggahnya tak suka.
"Kan, kemarin kamu bilang sudah telat dua minggu. Mana tahu kamu beneran hamil,"ucap Reza yang membuat Intan membenarkan ucapan suaminya.
"Iya, juga. Sampai sekarang aku belum haid lho, Bang," jawab Intan.
"Mending kita check kedokter, Dek."
"Nggak usah ke Dokter dulu, Bang, kita beli testpack saja," ucap Intan memberi solusi.
"Baiklah, nanti biar Abang yang beli. Sekarang ayo kita istirahat dulu. Lagian kamu udah badmood. Padahal masih bisa kok kita nonton," ucap Reza gemas pada istrinya.
"Habisnya, nggak mau jelasin dari semula, jadinya aku bete banget sama kamu," jawab Intan sembari berjalan menuju tempat tidur.
"Kamu itu nggak ada pekanya dengan perasaan wanita," rutu Intan pada suaminya.
Pasangan itu segera istirahat siang setelah terjadi sidang kecil diantara mereka. Intan sedikit berdebar saat memikirkan bagaimana jika benar ia hamil?
Sore harinya Reza bangun terlebih dahulu dari istrinya yang masih terlelap. Reza segera mandi, setelahnya melaksanakan ibadah empat rakaat. Selesai sholat Reza menuju apotek untuk membeli tes kehamilan untuk istrinya.
Setelah mendapatkan, Reza segera pulang, ia sudah tak sabar ingin tahu hasilnya. Sangat berharap istrinya itu sedang hamil.
"Kamu darimana, Bang?" tanya Intan baru saja selesai mandi.
"Nih, Ayo tes sekarang," ucap Reza memberikan benda penguji kehamilan itu.
Intan menerimanya, sesaat ia termenung. Masih ragu, takut bila nanti terlalu berharap pada akhirnya hasilnya negatif.
"Kok bengong, Dek?" tanya Reza sembari mengusap bahu Intan.
"Eh, hmm, Bang?" panggil pada sang suami.
"Iya, kenapa, Sayang?"
__ADS_1
"Sebaiknya jangan terlalu berharap dulu ya, karena aku takut akan kecewa bila hasilnya negatif," ucap wanita itu.
"Its oke, Sayang, bila hasilnya negatif. Lagian kita belum ada setahun pernikahan. Jadi tidak perlu di pikirkan," balas Reza.
"Baiklah, kalau begitu aku tes dulu ya." Intan segera masuk kembali kedalam kamar mandi. Sementara itu Reza menunggu sedikit berdebar.
"Dek, udah belum?" panggil Reza.
Intan tak menyahut, wanita itu masih mengamati benda penguji kehamilan yang menunjukkan garis dua, yang artinya positif. Ia segera membuka pintu kamar mandi.
"Bagaimana, Dek?" tanya Reza yang sudah tak sabaran.
Intan mengambil telapak tangan Reza, lalu meletakkan benda itu disana. Senyum bahagia membingkai di bibirnya.
Reza mulai mengamati benda pipih itu. Seketika sebuah senyuman bahagia ia ukirkan Sembari mengucapkan rasa syukur tak terkira.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sebentar lagi kita akan mempunyai anak, Sayang," Reza memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Dan berulang kali ia mengecup puncak kepalanya.
"Terimakasih ya, Sayang, aku sangat bahagia," lirihnya dengan rasa haru.
"Aku juga bahagia, Bang." Intan membalas pelukan suaminya tak kalah mesra.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh melakukan apa-apa, kamu harus banyak istirahat. Kalau perlu kamu ambil cuti saja di RS," sarannya yang mendapat gelengan cepat dari wanita itu.
"Nggak perlu segitunya, Bang, aku baik-baik saja. Alhamdulillah tidak ada kendala apapun, jadi nggak ada alasan untuk aku harus cuti," ucapnya meyakinkan Pria itu.
"Kamu beneran baik-baik saja?" tanya Reza begitu takut akan kesehatan istri dan calon anaknya.
"Ya, insya Allah aku baik-baik saja, Bang, kamu tidak perlu cemas ya." Intan masih meyakinkan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi ayah anaknya.
"Baiklah, Sayang, aku hanya ingin kamu dan calon anak kita sehat. Jangan pikirkan keuangan kita, sungguh Abang masih bisa memenuhi segala kebutuhan dan apapun yang kamu inginkan. Jadi kamu tidak perlu takut akan hal itu," jelasnya pada sang istri.
"Iya, Bang, aku percaya suamiku ini adalah suami yang bertanggung jawab penuh pada istrinya. Tapi, untuk saat ini aku masih ingin bekerja. Selagi semuanya baik-baik saja, jadi nggak ada yang perlu kita cemaskan."
Akhirnya Reza mengalah, walau sebenarnya ia menginginkan sang istri fokus dengan kandungannya. Tapi ia menghargai keputusannya selagi itu tak membahayakan kandungannya.
Pasangan itu sedang dirundung kebahagiaan. Reza segera memberi kabar pada sang Mama tentang kehamilan istrinya. Dan tentu saja disambut tak kalah senang oleh wanita baya itu.
Kini kebahagiaan semakin melingkupi pasangan itu. Semoga kedepannya mereka selalu bahagia untuk selamanya.
Bersambung...
Happy reading 🥰
__ADS_1