
Intan segera mengambil pakaian ganti Reza yang ada di mobilnya. Perasaan wanita itu masih tak karuan, rasanya enggan sekali untuk berhadapan kembali dengan calon suaminya yang mendadak jadi rusuh itu.
"Mana, Dek?" tanya Pria itu yang ternyata menunggui di depan pintu.
"Nih," ucapnya sembari menyerahkan tas ransel kecil milik Pria itu.
"Kok wajahnya di tekuk begitu, ayo sini temani Abang mengenakan pakaian," ujar Reza dengan tawa tertahan melihat ekspresi wajah sang kekasih hati.
"Ish, apaan sih Bang. Nggak usah mesum deh!" Intan segera berlalu dari hadapannya. Reza hanya terkekeh melihat tingkah gadis itu.
Intan kembali meneruskan pekerjaan, dua cangkir minuman hangat sudah terhidang diatas meja, lengkap dengan cemilan sore untuk menemani ngobrol mereka.
"Wih, kayaknya enak nih," ucap Reza yang tampak begitu tampan dengan stelan casualnya.
Intan menatap penampilan Pria itu yang bisanya indentik dengan kemeja dan Snelli dokternya. Namun saat ini dia terlihat sangat tampan membuatnya terpukau.
"Kenapa menatapku seperti itu, Dek? Terpesona ya?" tanya Reza dengan senyum khasnya.
"Aiih, apaan sih, Bang. Ayo duduk." Intan menyerahkan secangkir kopi hitam dengan sebungkus gula jagung.
"Kok nggak langsung di seduh gulanya, Dek?"
"Nggak tahu ukurannya. Nanti kemanisan," jawabnya sembari menyeruput teh hijau bagian dirinya.
"Kalau ada kamu, nggak pake gula juga nggak pa-pa, karena dengan memandang wajahmu saja sudah membuat semua terasa manis," sahut Reza yang membuat Intan menggelengkan kepala.
"Lebay, nih cobain pisang gorengnya. mana tahu terasa pahit, biar kamu tahu juga dalam hubungan itu tak selalu manis, terkadang ada pahitnya, yaitu kenyataan," balas Intan.
"Kamu nyindir aku?"
"Eh, apaan, siapa yang nyindir, Bang?" elak Intan dengan menahan senyum.
"Ngeles lagi, iya aku tahu. Semoga kenyataan pahit itu tak lagi aku rasakan. Aku berharap akan selalu manis bersamamu," sambung Reza sembari mengubah posisi duduknya yang kini semakin berdempetan.
__ADS_1
"Ya Allah, Bang, kenapa duduknya dempet begini? Geser Bang, nanti dilihat Bibik," ucap Intan merasa tidak nyaman karena calon suaminya semakin rusuh.
"Nggak pa-pa, Dek. Habisnya dingin," jawabnya asal.
"Bang, nggak usah aneh-aneh deh. Ya Allah, gini amat punya calon suami rusuhnya minta ampun," omel gadis itu berdiri, namun Reza segera menarik tangannya sehingga membuatnya jatuh terduduk di pangkuan Pria itu.
"Ssshhtt.... Diam, Dek. Aku hanya ingin peluk kamu sebentar saja," ujarnya sembari menenggelamkan wajahnya di punggung wanita itu.
Intan hanya diam terpaku, tak tahu harus bertindak apa. Ia membiarkan pria itu meresapi suasana hatinya yang mungkin begitu sangat mencintai dirinya.
Reza menepati janjinya, tak ada hal yang menyimpang, ia melepaskan gadis itu untuk kembali duduk nyaman disampingnya.
"Dek, tidak ada lagi hal yang kamu tutupi dariku 'kan?" tanya Reza menatap sendu. Ia takut ada lagi hal yang tidak ia ketahui tentang wanita itu.
"Nggak ada, Bang. Rasanya hanya itu saja. Abang percaya sama aku, tolong jangan curiga, karena itu tidak baik untuk hubungan kita."
"Baiklah, Sayang, aku percaya dengan semua kata-kata kamu," ujar Reza sembari menggengam tangan Intan dengan erat.
Pasangan itu ngobrol santai di ruang keluarga, banyak hal yang mereka bahas. Intan yang sudah mulai nyaman saat berada disamping Pria itu seakan tak rela saat melepaskannya untuk beranjak pulang.
"Nanti dulu, Bang. Disini dulu," ucapnya dengan senyum malu.
"Tumben banget kamu manja minta ditemani, kalau seperti ini membuat aku semakin tidak sabar untuk segera menghalalkan kamu," ungkap Reza dengan senyum menggoda.
"Apa sih, Bang. Aku tuh masih pengen ngobrol, masih banyak hal untuk kita bahas."
"Sabar Sayang, tinggal tujuh hari lagi, setelah itu kita akan ngobrol sepuasnya hingga pagi."
Intan tersenyum malu. Kembali tatapan mereka bertemu. Entah siapa yang memulai sehingga kini bibir mereka sudah menyatu. Intan benar-benar tidak tahu, hati ingin menolak, namun tubuhnya merespon dengan baik sehingga pergumulan lidah itu terjadi di sore hari yang syahdu.
"Abang pulang dulu ya, Sayang, sampai ketemu besok. Jangan lupa kabari Abang bila kamu butuh sesuatu," ucap Reza setelah mengakhiri ciuman sesaat mereka.
"Baiklah, terimakasih untuk waktu hari ini. Abang hati-hati ya," balas Intan yang ikut beranjak mengantarkan calon suaminya hingga depan pintu.
__ADS_1
Reza meninggalkan rumah itu dengan perasaan hati yang berbunga-bunga. Sekian purnama menunggu respon terbaik wanita itu saat duduk bersamanya. Dan ia merasakan bahwa dihati calon istrinya itu sudah mulai ada rasa meskipun belum seutuhnya.
***
Bila Intan dan Reza tengah berbahagia menunggu hari pernikahan mereka, berbeda dengan Erland, hari ini adalah hari terakhirnya bertugas di kota itu. Ia segera bersiap untuk berangkat sore ini juga.
Erland masih memantau perkembangan kasus yang menjerat pengasuh putrinya itu. Dari kabar yang dia terima bahwa Pak Rusdy tak ingin berdamai secara kekeluargaan. Mereka tetap ingin menuntut agar Airin mendapatkan hukuman sesuai pasal yang berlaku.
Setibanya di kota kediamannya, Erland segera menuju kantor polisi untuk meminta penjelasan kepada rekannya yang menangani kasus itu. Erland memang menyerahkan pada temannya agar tak terjadi pelanggaran, karena dia adalah seorang penyidik, maka tak diperbolehkan dirinya secara langsung menangani kasus yang menimpa keluarganya.
Setelah mendapatkan keterangan, ia segera menemui Airin di tahanan. Terlihat gadis itu semakin lusuh dan wajahnya tampak pucat.
"Pak Erland, apakah orangtua saya menghubungi Bapak?" tanya Airin saat bertemu dengannya.
"Iya, tapi saya hanya katakan bahwa saya sedang diluar kota. Mereka menanyakan kenapa nomor ponsel kamu tak bisa dihubungi," jelasnya menatap iba.
"Terus, Bapak jawab apa?" tanyanya kembali. Ia takut bila kedua orangtuanya merasa cemas dan datang menemuinya ke kota.
"Saya cuma katakan ponsel kamu sedang rusak, tapi kamu jangan khawatir, karena saya sudah meyakinkan mereka bahwa kamu baik-baik saja.
"Terimakasih, Pak." Gadis itu hanya menunduk.
"Airin, apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan pada saya?" tanya Erland, ia melihat seperti ada yang disimpan dalam hati gadis itu.
"Ah, tidak ada apa-apa, Pak," jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Apakah mereka memperlakukan kamu dengan baik?"
Airin hanya diam. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Pria itu. Apakah dia harus jujur apa yang sebenarnya terjadi selama Erland tak bertugas disana.
"Airin, katakan pada saya, karena saya tahu bahwa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari saya." Erland masih berusaha untuk membujuk gadis itu untuk berkata jujur.
"Pak, saya ingin bicara sesuatu, tapi saya takut," lirihnya yang sudah menjatuhkan air mata.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰