Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Curahan hati Airin untuk Zherin


__ADS_3

Malam selesai acara, Erland dan Airin segera masuk kamar. Sementara Zhe sudah tidur sedari tadi. Mungkin bocah kecil itu juga capek karena seharian ikut repot di acara pernikahan orangtuanya. Walaupun hanya sekedar ikut mercoki saja.


"Dek, pakaian aku mana?" tanya Erland yang ingin mandi terlebih dahulu sebelum istirahat.


"Sebentar, Mas." Airin membuka pernak pernik yang ada di kepalanya.


"Mau aku bantu?" tanya Erland sudah berdiri dibelakangnya.


"Ya, tolong buka yang ini, Mas," sahutnya sembari menunjuk bagian yang akan di buka.


Dengan senang hati Erland membukanya. Setelah selesai, kini hanya hijabnya yang belum terlepas.


"Dibuka saja, Dek," ucap Erland masih menatap dari pantulan cermin.


Airin hanya mengangguk saja, membiarkan tangan kekar lelaki itu membuka kain penutup mahkotanya. Erland terpaku melihat kecantikan istrinya.


Sebuah kecupan ia labuhkan di puncak kepala sang istri. Kembali wajah wanita itu bersemu.


"Sebentar aku sediakan pakaian ganti kamu," ucap Airin menghindari tatapan lapar suaminya.


Erland menerima pakaian ganti dari istrinya, lalu segera keluar menuju kamar mandi yang letaknya di dekat dapur.


Airin duduk di bibir ranjang sembari menatap wajah damai anak sambungnya yang sedang tertidur pulas. Ia membelai wajah tak berdosa itu dan melabuhkan sebuah kecupan di keningnya dengan penuh kasih sayang.


Ada perasaan bersalah dihatinya, sebagai seorang anak pasti dia menginginkan keluarga yang utuh. Airin membuka laci meja yang ada disamping tempat tidurnya.


Sebuah buku diary ia raih, lalu menuliskan serangkai ungkapan isi hatinya untuk putri kecilnya itu. Kelak saat dia sudah dewasa akan memahami segalanya.


Airin masih fokus dengan tulisannya. Menikah dengan seorang duda yang mempunyai anak pasti banyak tanggung jawab besar yang harus ia emban. Yang utama adalah menerima dan menyayangi anaknya bagaimana ia menyayangi ayahnya.

__ADS_1


"Lagi ngapain, Dek?" tanya Erland membuat Airin terjingkat kaget.


"Ah, nggak lagi ngapa-ngapain, Mas. Kamu udah mandinya?" tanya Airin sedikit gugup sembari memasukkan buku diarynya kedalam laci.


"Udah, sana kamu mandi, nanti keburu terlalu malam," jawab Erland sembari merapikan rambutnya yang berantakan setelah mandi.


Airin segera meraih handuk dan mengambil pakaian gantinya. Wanita itu keluar kamar dengan langkah sedikit tergesa menuju kamar mandi.


Sementara itu Erland yang baru saja selesai merapikan penampilannya di depan cermin, sedikit penasaran dengan buku yang tadi ditulis oleh istrinya.


Erland membuka laci meja itu, ia meraih sebuah buku diary. Sepertinya buku itu sudah lama di simpan oleh Airin. Ternyata gadis itu masih nyaman curhat di diary daripada di sosial media.


Sebenarnya ini hal pribadi, terlalu lancang rasanya bila ia membaca tanpa sepengetahuan pemiliknya. Namun, rasa penasarannya begitu besar sehingga ia tak mampu untuk tak membukanya.


Dengan perlahan Erland membuka halaman pertama, tak ada yang aneh, hanya curhat-curhat saat masa sekolah. Ia masih mencari tulisan ditanggal hari ini. Halaman demi halaman ia buka hingga ia temukan. Erland membaca kalimat yang tertuang di kertas putih itu.


*Nak, kamu jangan khawatir aku akan merebut Daddymu ya, dan tak perlu pula risau rasa cinta Daddy padamu akan berkurang setelah Daddy menikahiku. Sebab jauh-jauh hari sebelum kami menikah dia sudah lebih dulu bertanya. "Apakah kamu bisa menerima putriku dan menyayanginya setulus hatimu?"


*Ketahuilah, Nak. Seandainya aku mengatakan tidak, maka Daddymu akan meninggalkan aku dan lebih memilih dirimu. Jadi, sudah jelas bahwa engkau adalah prioritas Daddymu. Percayalah, Nak, kehadiranku tidak akan merubah apa-apa. *


*Nak, barangkali nanti saat kamu telah dewasa dan berpikir mengapa seolah dunia tidak berpihak kepadamu karena telah memisahkan Daddy dan Mommymu. Sehingga kamu harus kehilangan keutuhan keluarga. Namun, ini telah menjadi ketetapan Allah.


*Begitu pula denganku yang entah kenapa mencintai seorang lelaki berstatus duda yang telah memiliki seorang anak. Takdir Allah memang tak ada yang tahu ya, Nak.


*Meski demikian, aku menerima ketetapan itu. Zhe, aku mencintai Daddymu dan itu berarti aku juga mencintaimu. Jangan khawatir perangaiku akan semena-mena seperti kebanyakan cerita tentang ibu tiri. Percayalah, aku akan berusaha untuk menjadi ibu yang baik untukmu, dan akan memberikan cinta dan kasih seperti Daddy menyayangimu*


Erland tak tahu bagaimana mengeksprersikan perasaannya saat membaca curahan hati istrinya itu. Sungguh dia adalah wanita yang begitu mempunyai perasaan halus dan sangat perasa.


Tanpa wanita itu menjelaskan, dirinya sudah dapat melihat bagaimana dia menyayangi putrinya. Ada beberapa kalimat yang menarik perhatiannya, yaitu tentang perasaan wanita itu yang mengatakan telah jatuh cinta pada dirinya.

__ADS_1


Erland kembali menutup buku diary itu, dan menaruh di tempat semula. Ia segera merebah di samping gadis kecilnya sembari memeluk dengan penuh kasih sayang.


Nak, kamu jangan takut akan kekurangan kasih sayang ya, Daddy percaya bahwa Mama Airin adalah ibu yang terbaik untukmu," lirihnya di telinga bocah kecil itu.


Semua anak pasti menginginkan ayah dan ibunya bisa bersama untuk selamanya, namun, ia juga tak bisa mempertahankan bila hubungan itu sudah tak lagi sehat. Berharap pernikahan yang kedua kalinya akan bahagia dan bertahan hingga tua nanti.


Airin masuk dengan rambut masih di balut handuk. Seketika tatapan mereka bertemu. Dan kembali jantung wanita itu tak karuan. Erland menatap begitu lekat, sehingga membuat Airin segera menunduk.


Airin duduk di bangku depan meja rias. Dengan perlahan melepaskan lilitan handuk, lalu menyisir rambutnya yang tebal sebatas pinggang. Erland masih mengamati wanita cantik itu yang dulu sebagai pengasuh putrinya. Namun, kini sudah menjadi istrinya. Terkadang takdir memang selucu ini.


Selesai merapikan rambutnya, ia kembali mengarahkan tatapan pada lelaki itu.


"Mas, kamu ingin makan?" tanyanya dengan tatapan lembut.


Erland segera duduk dan beranjak menghampiri wanita itu. Kini ia telah berdiri dihadapannya. "Jika aku ingin memakan dirimu dulu, bagaimana?" tanyanya yang membuat Airin tak mampu berkata, lidahnya terasa kelu saat tatapan mata lelaki itu menguncinya.


"Mas, b-bukankah kamu capek?" tanyanya tampak cemas dengan debaran jantung tak seirama.


"Kenapa, apakah kamu belum siap?" uca Erland balik bertanya.


Airin menunduk, sebenarnya ia ingin membenarkan pertanyaan Pria itu. Namun, ia tak berani menolak. Ia takut bila suaminya akan kecewa.


"Dek, tatap aku. Kenapa? Apakah kamu ingin kita tak melakukannya?" tanyanya kembali meminta jawaban dari sang istri, ia juga tak ingin bila Airin merasa terpaksa. Ia juga memahami bahwa istrinya itu sangat lelah.


Erland meraih kedua tangan istrinya, lalu menuntun untuk duduk di pinggir ranjang. Kini tatapan mereka bertemu. Kembali jantung Airin berdegup kencang.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2