Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Memberitahu Erland


__ADS_3

"Kita mau kemana, Dek?" tanya Reza di perjalanan.


"Ke Butik Kak Sinta, Bang. Kita kan belum jadi fitting baju untuk akad," jawab Intan.


"Hmm, baiklah. Tapi apakah Kak Sinta sudah tahu tentang masalah yang terjadi?" tanya Reza merasa malu jika semua orang sudah mengetahui tentang hampirnya gagal pernikahan mereka.


"Nggak ada yang tahu, Bang, aku hanya bilang sama Kak Sinta bahwa kita sedang ada tugas yang tak bisa di tinggalkan. Jadi aku minta waktu untuk melanjutkan fitting baju pengantin," jelas Intan memang begitu adanya.


Reza kembali menatap gadis yang ada disampingnya itu. "Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Reza dengan perasaan haru.


"Karena hati kecilku yakin bahwa Abang masih sangat mencintai aku. Dan hatiku juga sudah yakin memilih Abang sebagai imamku."


"Dek, terimakasih ya. Abang benar-benar bahagia. Beri Abang waktu untuk membuatmu jatuh cinta dan bahagia."


Intan hanya mengangguk tersenyum mendengar ucapan calon suaminya. Tak bisa ditampik bahwa dihatinya sudah mulai merasa nyaman saat bersamanya.


Pasangan itu akhirnya merampungkan rencana mereka yang kemarin sempat tertunda. Setelah selesai fitting baju, Intan membawa Reza untuk bertemu dengan Erland.


"Bang, kita jumpai Bang Erland ya, kita harus bicara padanya. Aku merasa tidak enak, bagaimanapun dia akan tetap menjadi kakakku," ucap Intan yang ingin memberitahukan kepada Erland bahwa mereka akan tetap menikah.


"Baiklah, Abang juga ingin bicara padanya." Reza menyetujui agar tak ada lagi yang mengganjal dihatinya.


Setibanya di kantor Polda, pasangan itu tak langsung menemui, merasa sungkan karena Erland sedang bertugas. Intan terlebih dahulu menghubungi polisi yang berpangkat dua melati itu.


Erland yang mendapat telpon dari Intan tentu saja membuat hatinya bahagia. Ia segera keluar untuk menemuinya. Namun sesaat Pria yang berumur tiga puluh lima tahun itu terpaku saat melihat kehadiran Reza disamping gadis itu.


"Intan, Reza, kalian?" tanya Erland masih tak percaya.


"Iya, Bang, kami kesini ingin bicara, apakah Abang ada waktu?" tanya Intan


"Ya, ayo kita ngobrol di kantin saja," jawab Erland membawa pasangan itu untuk ngobrol di kantin yang ada di kantornya. Perasaannya merasa tak enak, apalagi ia melihat bagaimana sikap Reza pada Intan yang tampak begitu perhatian dan mesra.


Erland berusaha menekan perasaannya untuk baik-baik saja. Apapun yang akan mereka bicarakan, maka ia harus legowo menerimanya. Ia sudah tak ingin membuat gadis itu bersedih. Sudah saatnya Intan bahagia dengan pilihannya sendiri.

__ADS_1


Erland memesan minuman untuk mereka bertiga. Sesaat suasana hening. Meski sulit, namun aku Intan harus mengatakan yang sebenarnya.


"Bang Erland, aku dan Bang Reza datang kesini ingin menyampaikan bahwa kami akan tetap menikah dua minggu kedepan," ucap Intan sembari menunduk, entah kenapa ia tak berani menatap wajah teduh itu.


Erland berusaha untuk menghilangkan rasa terkejut dalam hatinya. Ia berusaha memperlihatkan wajah wibawanya sebagai seorang kakak. Meskipun terasa pahit kenyataan ini, namun ia harus bisa ikhlas demi kebahagiaan Intan.


"Ah, benarkah? Selamat ya, Abang ikut senang mendengarnya," jawab Erland berusaha mengukir senyum dibibirnya.


"Erland, aku juga ingin minta maaf padamu atas sikapku yang mungkin beberapa hari ini tidak baik, dan telah membuat Intan kecewa," ujar Reza dengan tulus.


"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan. Sekarang aku ingin kamu menjaga Intan dengan baik, tolong jangan pernah menyakitinya. Ingatlah, jika kamu berani menyakitinya, maka kamu akan berurusan denganku!" tekan Erland tampak serius.


"Siap, komandan! Aku berjanji akan membuatnya selalu bahagia," janji Reza pada Erland dengan senyum khasnya.


Erland hanya tersenyum dengan gelengan kepala. Semoga saja Reza adalah lelaki yang tepat untuk Intan.


"Abang pasti datang 'kan, di pernikahan kami?" tanya Intan berharap.


"Tentu saja, Dek. Kalau begitu Abang balik ke kantor ya, karena masih banyak kasus laporan yang harus Abang tangani." Erland menyudahi pembicaraan mereka.


Mereka saling bersalaman sebelum Erland kembali masuk ke dalam kantor kepolisian itu. Intan dan Reza sudah merasa lebih tenang setelah bicara dengan Erland. Namun berbeda dengan Erland yang masih terasa entah.


Sepertinya ia juga harus butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Namun biarlah hanya ia sendiri yang merasakan bagaimana hatinya yang sedang bersedih melepaskan wanita yang ia cintai untuk lelaki lain.


Erland tetap menjalankan tugasnya yang tinggal beberapa minggu lagi di kota itu. Awalnya ia begitu semangat saat di tugaskan disana, namun setelah menerima kenyataan yang ada, maka semangat itu memudar begitu saja. Bahkan jika bisa ia ingin segera pergi dari kota itu.


Malam ini Erland pulang dengan wajah lesu, entah kenapa hatinya masih enggan berdamai dengan kenyataan bahwa Intan lebih memilih Reza daripada dirinya. Erland terduduk sembari menatap lurus kedepan, kini harapannya kembali hilang diterpa takdir yang memang belum menginginkan dirinya untuk bahagia.


Suara vibrasi ponselnya membuyarkan lamunannya. Erland menerima panggilan yang ia ketahui dari rumahnya.


"Ya, halo."


"Tuan, ini saya Bibik," ucap Art yang terdengar dengan suara bergetar. Dan lebih membuat Erland tersentak karena mendengar suara tangisan Zherin dengan keras.

__ADS_1


"Bik, ada apa? Katakan!"


"Daddy... Mbak Airin di tangkap polisi... Huuu... Hiks..," tangis gadis kecil itu pecah seketika.


"Mbak ditangkap polisi? Apa yang terjadi?" tanya Erland tak mengerti kenapa Pengasuh putrinya ditangkap polisi.


"Tuan, apakah Tuan bisa pulang sekarang? Karena Airin dan Pak Rusdy terlibat perkelahian, Airin melukai Pak Rusdy," jelas Bibik yang membuat Erland segera mengakhiri sambungan ponselnya.


Malam itu juga penyidik itu bertolak ke kota kediamannya. Tak habis pikir kenapa ini bisa terjadi, kenapa antara pekerja dirumahnya terlibat perkelahian. Erland juga tak menyangka Airin yang selama ini tampak begitu kalem dan sangat lugu tapi bisa melukai seseorang.


Setibanya, Erland segera menuju kediamannya untuk meminta keterangan lebih detail pada Bibik dan Zherin. Ia juga sudah mendapatkan telpon berulang kali dari anggota jajarannya yang bertugas di Polda.


"Zherin!" Panggil Erland saat masuk


"Tuan, sudah pulang," sambut Bibik.


"Mana Zherin, Bik?"


"Non Zherin, sudah tidur, Tuan."


"Apa yang terjadi, Bik? Coba jelaskan!" tanya Erland ingin tahu


"Bibik, tidak tahu persis kejadian seperti apa, Tuan, karena sore Bibik ketiduran. Bibik terbangun saat Non Zherin sudah menangis histeris, lalu Bibik melihat Airin sudah memegang pis au dan dilantai Bibik lihat Pak Rusdy sudah terkapar berlumuran d4r4h," jelas Bibik.


"Jadi sekarang bagaimana keadaan Pak Rusdy?" tanya Erland yang masih bingung dengan penjelasan sang Bibik.


"Pak Rusdy masih kritis di RS."


"Baiklah, kalau begitu aku ke kantor polisi dulu. Tolong jaga Zherin, Bik."


"Baik, Tuan."


Erland segera menuju kantor dimana ia bertugas, dan disana juga Airin sang pengasuh di tahan.

__ADS_1


Bersambung.....


Happy reading 🥰


__ADS_2