Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Bertemu putrinya Erland


__ADS_3

Reza terpaku mendengar ucapan gadis cantik itu. Apakah dirinya memang telah salah berucap? Ah, seharusnya ia memang tak sepantasnya menaruh rasa curiga, dan yang pastinya adalah cemburu. Siapa dirinya sebenarnya? Ia hanya lelaki yang berulang kali ditolak cintanya oleh wanita itu.


"Ah, Abang minta maaf, tolong jangan marah ya." Reza masih berusaha membujuk gadis yang telah rusak moodnya.


Intan tak menjawab, ia segera berjalan mendahului Pria itu. Hatinya masih sedikit jengkel oleh sikap posesifnya.


"Dek, udah dong marahnya. Please!" seru Reza sembari mensejajarkan langkahnya.


"Yaudah, ayo sekarang kita sarapan," jawab Intan tak lagi tampak kesal.


"Alhamdulillah, gitu dong jangan marah-marah." Reza mengucap syukur dan bernafas lega.


Kedua insan itu segera menuju kantin RS untuk sarapan bersama. Reza tampak begitu perhatian terhadap gadis itu. Tak tahu entah sampai kapan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan ini akan terbalaskan. Baginya tak mengapa saat ini Intan tak bisa menerima perasaannya, ia selalu berharap suatu saat nanti hati gadis itu bisa terbuka untuknya.


"Mau minum apa?" tanya Reza sembari menaruh piring yang berisi makanan itu dihadapan Intan.


"Seperti biasanya, Bang, coklat hangat saja," jawab gadis itu sembari menerima makanan itu dan mencicipinya.


Reza segera memesan minuman kesukaan wanita yang dicintainya itu. Mereka segera makan dengan tenang. Sesekali tawa kecil keluar dari bibir mereka saat Reza bercerita konyol.


"Dek, boleh Abang tanya sesuatu?" tanya Reza sedikit ragu.


"Ya, tanya aja, Bang."


"Emangnya siapa lelaki itu?" tanyanya begitu penasaran dengan pasien Intan yang berprofesi sebagai seorang polisi itu.


"Siapa?" tanya Intan tidak paham arah pertanyaan Reza.


"Pasien yang tadi kamu suapi makan."


Seketika Intan menghentikan sendok yang akan masuk kedalam mulutnya untuk mengantar makanan. "Bukan siapa-siapa," jawabnya datar.


"Tapi yang lain bilang dialah pasien yang kamu tangisi di meja operasi saat itu. Apakah dia adalah orang masa lalumu?" tanya Reza membuat Intan susah untuk bicara. Memang benar tebakan lelaki itu.


"Bukan," jawabnya masih mengelak.


"Oke, ayo dihabiskan makanannya." Reza tak meneruskan pertanyaannya. Sepertinya gadis itu enggan untuk bercerita dengannya.


Seketika selera rasanya sirna saat itu juga. Intan tak lagi meneruskan makannya. Intan menyudahi dan segera pamit terlebih dahulu dari lelaki itu.


"Bang, aku duluan ya, soalnya masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."

__ADS_1


"Ah, baiklah." Reza berusaha bersikap sewajarnya meskipun rasa kecewa selalu menghujam hatinya, namun ia tidak ingin menampakkan hal itu dihadapan Intan.


Seusai jam praktek Intan bersiap untuk segera pulang, meskipun hati kecilnya masih ingin menyambangi kamar dimana Erland dirawat. Ia ingin memastikan bahwa lelaki itu sudah makan siang, namun kembali lagi otaknya tak sejalan dengan hatinya. Ia tak ingin lagi menaruh perhatian pada lelaki yang telah beristri itu.


Intan tak ingin kembali larut dalam perasaan. Itu bukan urusannya, biarkan istri dan kerabatnya yang lain memberi perhatian. Intan segera menyusuri lorong RS untuk menuju lobby. Namun langkahnya terhenti saat seorang anak kecil menabraknya.


Brugh!


"Awh!" pekik gadis kecil itu sembari mengusap keningnya.


"Eh, Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Intan ikut memperhatikan kening gadis kecil itu.


"Non Zherin, Mbak sudah bilang jangan lari-lari," seru seorang wanita yang tampak cemas.


"Hihi, aku tidak apa-apa, Mbak. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Daddy," balas gadis kecil itu tersenyum tak menampakkan ada hal yang serius.


"Aduh, saya minta maaf ya, Bu," ucap wanita yang di perkirakan adalah pengasuh gadis kecil itu.


"Ah, iya tidak apa-apa, Mbak. Kamu benaran tidak apa-apa, Sayang?" tanya Intan pada anak kecil itu.


"Benar Tante, apakah Tante ini seorang dokter?" tanyanya sembari menatap penampilan Intan yang masih menggunakan Snelli dokternya.


"Kalau begitu Tante pasti tahu dimana Daddy dirawat?"


"Emangnya Daddy kamu sakit apa?"


"Daddy aku terluka terkena peluru, Daddy seorang polisi. Apakah Tante tahu?"


Seketika Intan terpaku mendengar pernyataan gadis kecil itu, ternyata dialah putrinya Erland. Intan mengusap kepala gadis itu dengan lembut dan mengecup pipinya dengan sayang.


"Baiklah, Tante tahu dimana kamar rawat Daddy kamu. Ayo Tante antar."


"Yeeee... Terimakasih, Tante cantik," ucapnya tersenyum kegirangan.


"Terimakasih, Dok. Maaf kami sudah merepotkan," ujar Mbak pengasuh pada Intan.


"Ah tidak apa-apa, Mbak. Ayo saya antar ke kamar Pak Erland," ajak Intan segera melangkah kembali memutar arah.


"Kok Tante tahu nama Daddy?" tanya gadis kecil yang bernama Zherin itu.


"Ya tahu dong, karena Daddy kamu itu pasien Tante."

__ADS_1


"Benarkah?" tanyanya sangat senang karena sang Papa di tangani oleh dokter baik seperti Tante itu.


Intan membawa kedua wanita itu ke kamar Erland. Saat pintu terbuka Intan melihat ada beberapa kerabat Erland yang masih membesuknya.


"Daddy..." Zherin berlari menghampiri sang Daddy yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Hai, Sayang. Kamu sudah datang? Siapa yang nganterin kamu kesini?" tanya Erland sembari menggapai putrinya yang berada dalam gendongan sang pengasuh.


"Dianterin Pak Dadang," jawab gadis itu sembari memeluk sang Daddy dan mengecup kedua pipinya.


"Kok kamu sudah tahu Daddy ada diruangan ini? Kenapa tidak telpon dulu?" tanya Erland sedikit penasaran.


"No, Daddy, tadi aku ketemu Tante Dokter cantik itu, Tante Dokter yang membawa kami kesini," jelasnya.


Erland menatap arah tunjuk putrinya, ia melihat Intan masih berdiri diambang pintu. Ada sedikit perasaan gugup saat ditatap oleh Pria itu. Intan segera mendekat dan beralasan memeriksa kondisinya untuk membuang rasa gugup dalam hati.


"Bagaimana dengan keadaan Pak Erland hari ini?" tanya Intan berusaha tenang dan bersikap sewajarnya.


"Ah, Alhamdulillah sudah lebih baik, Dok."


"Syukurlah, kalau begitu saya cek sedikit ya, Pak. Bisa Bapak berbaring sebentar?"


"Ah, ya." Erland segera berbaring


Dengan teliti Intan mendengarkan denyut jantung lelaki itu melalui alat stetoskop yang tadi mengalung di lehernya.


"Alhamdulillah semakin membaik, Bapak hanya butuh waktu istirahat yang cukup. Usahakan makan tepat waktu, jangan banyak pikiran," pesannya pada lelaki itu.


"Baik, Dok, terimakasih."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Hai, cantik Tante pergi dulu ya, besok kita ketemu lagi," ucap Intan pada Zherin yang sedang duduk di pangkuan seorang lelaki yang masih menggunakan pakaian polisi. Mungkin kerabat Daddynya.


"Baiklah, sampai ketemu besok, Tante dokter yang cantik," seru gadis kecil itu dengan senyum khasnya.


"Masa sih Tante itu cantik? Kok Oom tidak pernah lihat wajahnya?" tanya Pria yang memangku Zherin itu sembari tersenyum menggoda Dokter muda itu.


"Benar, Om, Tante itu sangat cantik karena tadi aku lihat sendiri saat ya Tante tak menggunakan masker," jawab Zherin.


Bersambung.....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2