
Kini Erland dan Airin sedang ngobrol apik bersama pasangan Dokter itu. Mereka bercengkrama layaknya saudara. Walaupun Intan dan Erland bukan saudara kandung, tapi, mereka sudah bisa menerima satu sama lain untuk menjadi saudara selamanya.
Erland sudah merasa cukup bahagia dengan kehadiran Airin dalam hidupnya, meskipun awalnya tidak mudah, dan harus ada drama hingga perasaan mereka kini semakin klop.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Erland dan Airin memutuskan untuk pulang. Karena memikirkan Erland besok harus tugas pagi, maka mereka tidak bisa menginap di rumah pasangan orangtua baru itu.
"Dek, Abang pamit ya. Semoga kalian sekeluarga sehat selalu. Jika nanti baby boy sudah bisa diajak jalan, datanglah ketempat Abang," ucap Erland pada adiknya.
"Baiklah, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk menjenguk baby aku," jawab Intan.
"Tante besok kalo dedek bayinya sudah gede, bawa main ketempat aku ya," seru Zherin pada Intan.
"Oh tentu, sayang, kamu tenang saja ya. Lagian tidak lama lagi kamu juga mau punya dedek tuh," timpal Intan.
"Do'ain ya, semoga saat aku lahiran nanti diberi kemudahan," ucap Airin pada Intan.
"Tentu saja, Kak. aku akan selalu mendo'akan. Jangan lupa nanti kabari kalau sudah lahir ya," jawab Intan.
"Tentu saja. Kalau begitu kami pamit ya."
"Baiklah, hati-hati dijalan," timpal Reza menyalami Abang dan Kakak ipar mereka.
Kini pasangan itu telah meninggalkan kediaman adiknya. Erland mengarahkan kendaraannya menuju sebuah hotel yang ada di kota itu. Dan tentu saja mendapat pertanyaan dari Airin.
"Loh, Mas, bukannya kita ingin pulang?" tanya Airin yang melupakan janji mereka tadi.
"Besok subuh saja kita pulangnya ya, Dek, kan tadi kita sudah sepakat mau nginep disini," jelasnya sembari memarkirkan kendaraannya dengan apik di basement hotel.
"Kenapa harus tidur di hotel kalau mau nginep, lebih baik kita tidur di rumah Intan saja," ucap Airin yang juga belum ngeh dengan keinginan suaminya itu.
"Kamu ini gimana sih, Dek, mana asyik tidur disana. Kamu melupakan perjanjian kita tadi pagi?" tanya Erland menyorot tajam.
"Ya Allah, ternyata daya ingat kamu sangat tajam kalau soal itu ya," cicit Airin tersenyum gemas.
"Iya dong. Jangan coba-coba menghindar dariku," jawab Erland dengan senyum nakal.
"Daddy, kita bobok di hotel lagi?" tanya Zherin yang membuat kedua orang dewasa itu merubah ekspresi wajah mereka seperti semula.
__ADS_1
"Iya, Sayang, sepertinya Mama perlu istirahat. Kasihan dedeknya kecapean. Besok pagi-pagi kita pulang ya," jawab Erland sembari mengerlingkan matanya pada Airin.
"Hah, dasar lelaki," gumam wanita itu dengan pelan.
Erland segera menggendong putrinya. Entah sejak kapan lelaki itu boking kamar hotel sehingga ia sudah menerima cardlock dari pelayan hotel.
Erland sengaja mengambil kamar yang twin bed. Ia sudah merencanakan sebaik rupa. Sungguh Pria dewasa itu benar-benar meresahkan hati Airin.
"Wah, ranjangnya dua. Asyik..., aku bisa bobok sama Mama disini," ucap Zhe tersenyum sumringah sembari menaiki ranjang empuk itu dan sedikit melompat kegirangan.
Airin dan Erland hanya saling pandang sembari melempar senyum. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.
"Dek biasanya Zhe tidur jama berapa sih?" tanya Erland pada istrinya yang sedang mengambil pakaian ganti di koper kecil bawaannya.
"Jam sembilan, terkadang juga jam sepuluh," jawab Airin menggoda suaminya.
"Kenapa lama sekali?" rengek Pria itu di telinga Airin.
"Kenapa protes sama aku, kamu tanya aja sendiri sama anaknya," Airin tersenyum datar.
Erland mendengus kesal sembari menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Zhe tak ingin kalah, ia ikut naik keatas ranjang sang Daddy.
"Hah? Nggak, Daddy nggak marah, Sayang. Daddy hanya ingin mandi. Kamu disini dulu nonton TV ya, Daddy mandi sebentar," ucap Erland sembari mengecup puncak kepala putrinya dengan sayang.
"Baiklah, tapi Mama masih di kamar mandi," celotehnya.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi Mama selesai. Daddy udah nggak tahan, gerah banget." Pria itu menyerahkan remote tv pada Zherin. Ia melihat gadis kecil itu tengah asyik menonton film kartun kesukaannya.
Erland segera menuju kamar mandi, dengan pelan ia masuk. Pria itu mendapati sang istri sedang berendam di bathtub membelakangi.
Erland membuka pakaiannya dengan pelan, setelah polos ia iku masuk. Dan tentu saja membuat Airin terkesiap melihat kehadiran suaminya yang sudah duduk tenang di belakangnya.
"Mas, kamu kenapa ikut masuk? Nanti Zhe nyariin gimana?" tanya Airin yang hendak segera menyudahi mandinya.
"Eh eh, mau kemana?" tanya Erland meraih tangan istrinya.
"Aku udahan mandinya, Mas," Jawa Airin. Namun, tangannya kembali diraih oleh Erland sehingga dirinya terduduk di atas pangkuannya. Airin merasakan ada sesuatu yang telah berdiri menantang dibawah sana.
__ADS_1
"Mas!" serunya menatap tajam.
"Ayolah, Sayang, aku benar-benar sudah tak tahan," rengek Erland sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang, dan tangannya sudah merusuh di tubuh sensitif wanita itu.
Tak bisa ditampik, hampir dua bulan mereka tak melakukannya, maka membuat pasangan itu sama-sama sudah dirundung hasrat. Dengan sangat mudah membuat mereka larut dalam permainan memabukkan itu.
"Erland menyentuh bibir Airin dan melu matnya dengan penuh hasrat. Airin tak kuasa menahan segala sensasi yang diberikan suaminya. Tanpa sadar Airin mengeluarkan desa han dari bibir seksinya.
"Sayang, disini saja ya?" tanya Hanan dengan wajah mata sayu.
"Pelan-pelan ya, Mas," ucap Airin dengan nafas sudah tak teratur.
"Baiklah, kalau begitu kamu yang pegang kemudi ya," pinta Erland yang mulai akan melakukan penyatuan.
Airin hanya mengangguk, ia mencobanya dengan perlahan merasakan sensasi yang luar biasa. Wanita itu tak mampu menahan erangan yang saling bersahutan dari suaminya. Erland benar-benar menikmati permainan percintaan itu.
Cukup lama mereka bermain manis di dalam bathtub, sehingga keduanya mencapai pelepasan dengan penuh bahagia. Airin jatuh terkulai di dalam pelukan suaminya.
"Nikma banget, sayang," bisik Erland dengan nafas masih belum teratur.
"Mama! Daddy!" panggil Zhe sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Mas, Zhe manggil," ucap Airin sembari beranjak dari tubuh suaminya.
"Udah, kamu duduk saja dulu, biar aku yang menemuinya," Erland meraih handuk, lalu melilitkan di pinggangnya. Ia segera membukakan pintu menemui Zhe.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya pada gadis kecil itu.
"Daddy sama Mama kenapa lama sekali mandi. Aku sudah lapar," ujar bocah itu sedikit merengek.
"Oh kamu sudah lapar, sebentar ya. Daddy dan Mama akan segera selesai mandinya. Soalnya tadi Mama sakit perut, jadi Daddy bantuin Mama sebentar," ujar Erland jelas berbohong.
"Oh, apakah dedek bayinya rewel ya, Dadd?" tanya bocah itu begitu polos.
"Ya ya, dedek bayi sedikit rewel. Tapi sekarang sudah baik-baik saja. Yaudah, Daddy selesaikan mandi sebentar sama Mama ya," ucap Erland yang mendapat anggukan dari putrinya.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰