Pakpol Itu Cinta Pertamaku

Pakpol Itu Cinta Pertamaku
Ada yang berubah


__ADS_3

"Selamat istirahat, Sayang, semoga mimpi indah," ucap Reza sebelum melepaskan gadis itu untuk keluar dari mobil.


Intan masih terpaku, ia tak tahu bagaimana mengeksprersikan perasaannya saat ini, wajahnya masih tampak merah merona, bahkan lidahnya terasa kelu. Beginikah rasanya saat mendapat First Kiss.


"Hei, kenapa bengong?" tanya Reza sembari merangkum kedua pipi mulus gadis itu.


"Ah, ya. Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu, apakah Abang tidak ingin mampir?" jawab Intan berusaha menguasai perasaannya.


"Tidak, ini sudah malam. Kalau Abang mampir nanti Abang nggak mau pulang, karena selalu dekat denganmu," jawab Reza dengan senyum khasnya.


"Ish, apaan sih Abang, yaudah aku masuk dulu ya. Abang hati-hati mengendara," pesannya mulai tampak perhatian.


"Oke, makasih perhatiannya, Sayang."


Intan kembali tersipu saat panggilan "Sayang" sudah mulai melekat padanya. Ia segera turun untuk segera menormalkan kembali jantungnya yang hampir saja berhenti berdetak dibuatnya.


Malam ini ada yang berbeda bagi Intan, ia sulit menemui mimpi. Kecupan hangat itu masih terasa. Ah, beginilah efek tak pernah merasakan berpacaran, sehingga membuat perasaannya tak menentu saat pertama kali di sentuh.


***


Pagi senin, Intan sudah berada di RS karena hari pertama kembali memulai aktivitas, maka pasienya membludak, sebelum jam praktek dimulai, ia kembali mengunjungi para pasiennya yang menjalani rawat inap untuk memeriksa kondisinya.


Intan mendahului pasien khususnya, yaitu Abang angkatnya itu. Sudah dua hari tak bertemu apa kabarnya Pak Pol?


"Selamat pagi..." Seru gadis itu menghampiri Erland yang tampak sedang duduk sembari memainkan ponselnya.


"Eh, pagi, Dek."


"Tante..." Panggil anak kecil yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Hai, Sayang, kamu nginap disini lagi?" ucap Intan sembari berjongkok dan mengecup kedua pipi cabi bocah itu dengan gemas.


"Iya, Tante kemana saja? kenapa seharian kemaren tidak datang?" celoteh Zherin bergelayut manja pada Intan.


"Oh, kemaren Tante ada urusan, Sayang, maaf ya," ucap Intan kembali mendekap tubuh mungil itu.


Setelah bertegur sapa dengan gadis kecil itu, Intan kembali mendekati bad pasien dimana Erland sedang duduk bersandar.


"Bagaimana keadaan Abang pagi ini?" tanya Intan mengukir senyum lembut.


Erland tak lantas menjawab, namun ia menikmati senyum indah itu dengan netranya. Tak tahu dengan perasaannya saat ini yang mulai tak normal seperti dulu bila berhadapan dengan dokter cantik itu.

__ADS_1


"Bang Erland?" panggil Intan membuyarkan lamunannya.


"Ah, ya. K-kamu bilang apa?" tanya Erland gugup.


"Apaan sih, Bang. Diajakin bicara malah bengong. Ayo berbaring, akan aku periksa sekarang," titah Intan.


Erland hanya mengangguk mengikuti perintah sang dokter. Intan mulai memeriksa dengan teliti. ada yang aneh saat mendengar detak jantung lelaki itu degupnya sedikit memburu.


"Nanti jam sembilan Abang harus keruangan Radiologi ya, Abang harus kembali menjalani Rontgen untuk mengetahui apakah luka dalam sudah benar-benar membaik, agar aku bisa menyimpulkan hasilnya," jelas Intan masih fokus dengan pemeriksaannya.


"Baiklah, makasih ya, Dek," ucap Erland dengan tulus.


"Iya, sama-sama. Semoga saja hasilnya nanti sudah baik semuanya. Kalau begitu aku permisi keluar dulu ya, Bang. Kalau Abang butuh sesuatu bisa beritahu aku," ujar Intan kembali ingin meninggalkan ruangan itu.


"Dek?" panggil Erland menahan langkah Intan.


"Ya?"


"Apakah kamu tidak ingin memberikan nomor ponselmu padaku?" tanya Erland yang merasa sekarang sikap gadis itu sudah berubah.


Intan bingung harus bagaimana, bukan tak ingin memberikan, namun ia hanya takut bila ada komunikasi setelah hubungan antara dokter dan pasien berakhir. Jujur saja, hatinya belum cukup kuat untuk bersikap biasa pada lelaki yang memang masih ada dalam hatinya.


"Dek, kenapa bengong?" tanya Erland membuat Intan segera sadar dari lamunannya.


Erland hanya mengangguk membiarkan gadis itu untuk keluar. Apakah perasaan gadis itu benar-benar telah hilang untuknya? Ah, andai saja dulu ia mampu membalas perasaannya.


Erland menghela nafas dalam. Beginikah sakitnya berharap pada seseorang yang hatinya telah hilang rasa?


"Tante Dokter mau kemana?" tanya Zherin mengejar langkah Intan yang hendak memutar kenop pintu.


"Ah, Tante periksa pasien dulu ya, Sayang, kamu sudah sarapan?" tanya Intan sembari membawa gadis kecil itu dalam gendongannya.


"Belum, nanti Papa yang pesan. Aku ikut ya sama Tante," rengek bocah itu dengan manja.


"Zherin, jangan merecoki Tante Intan," seru Erland pada putrinya.


"Tapi aku bosan disini, Dadd." Bocah itu memberengut.


"Nanti Daddy telpon Mbak biar segera jemput kamu."


"Sudah tidak apa-apa, Bang, biarkan saja Zherin ikut aku," ucap Intan menimpali.

__ADS_1


"Tapi nanti dia merepotkan kamu, Dek."


"Tidak apa-apa, sepertinya dia anaknya anteng. Yasudah, ayo ikut dengan Tante, tapi janji duduk tenang ya," ujar Intan pada gadis kecil itu.


"Oke, Tante, aku janji nggak nakal." Zherin kegirangan segera melonjak senang sembari menggenggam tangan Intan.


Serangkaian pemeriksaan dilakukan oleh Erland. Intan akan menyimpulkan diagnosisnya. Tapi saat ini ia masih sibuk melayani para pasiennya yang sedang rawat jalan.


Jam 12.15. Intan masih memeriksa pasien terakhir. Setelah sang pasien keluar, pintu ruangan itu terbuka. Ia melihat Reza sudah berdiri diambang pintu.


"Eh, Bang, kamu udah selesai praktek?" sapa Intan masih memperbaiki berkas-berkas yang ada diatas mejanya.


"Baru saja selesai, maklumlah kalau sudah hari Senin. Loh, itu siapa, Dek?" tanya Reza sembari menunjuk gadis kecil yang sedang duduk anteng sembari menatap layar tipis yang ada ditangannya.


"Oh, dia Zherin, anaknya Bang Erland," jawab Intan.


"Oh, ternyata mereka sudah punya anak?"


"Sudah, Abang nggak makan siang?" tanya Intan pada Reza.


"Rencananya sekalian mau ajak kamu," jawabnya.


"Aduh, maaf banget ya, Bang, soalnya aku masih ada kerjaan, yaitu membacakan hasil pemeriksaan Bang Erland," jelasnya pada Pria itu.


"Yaudah nggak pa-pa, aku akan tunggu sampai selesai," jelas Reza masih keukuh.


Intan tak bisa menolak. Ia membiarkan saja Pria itu menungguinya di ruangan itu. Sebenarnya merasa sedikit tidak nyaman bila di perhatikan oleh teman sejawatnya yang lain.


"Hai, cantik, nama kamu siapa? Kok dari tadi cuek banget," sapa Reza pada Zherin yang masih asyik dengan gawainya.


"Hai, Om, nama aku Zherin Putri Erland," jawab bocah itu dengan bijak.


"Wah, nama kamu bagus sekali, sama kayak orangnya yang cantik banget."


"Hihi... Oom juga tampan," balasnya dengan terkikik gemas hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih.


"Masya Allah, baru kali ini ada gadis cantik yang bilang Oom tampan," gurau Reza sembari mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut.


Intan hanya geleng-geleng kepala melihat kedua orang itu. Zherin tampak sudah mulai akrab dengan Reza, terkadang kekehan mereka terdengar berisik, sedikit membuyarkan konsentrasi Intan yang sedang membaca hasil pemeriksaan medis Erland.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗


Happy reading 🥰


__ADS_2